Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
sepasang monster melahirkan monster


__ADS_3

"Jadi apa rencana Senior berikutnya, apakah senior akan mencarinya atau memiliki rencana lain?" tanya Ho Chen.


"Mencarinya adalah hal yang mustahil, namun aku tetap akan berusaha menemukannya dan akan menghentikannya, namun semua itu tidak akan mudah karena kekuatan Zhi Yin sama dengan kekuatanku!" jawab Zhi Shan.


"Owh iya saya baru ingat, maaf senior saya ingin bertanya sesuatu pada senior?"


"Apa yang ingin kamu tayangkan?"


"Senior, sebenarnya kekuatan senior dan Energi Hitam berada di tahap apa?" tanya Ho Chen yang sejak awal penasaran.


"Tahap kekuatan kami? Kekuatan kami masih belum terlalu tinggi jika di bandingkan dengan kekuatan Buddha, namun setidaknya kami masih bisa mengendalikan ruang dan waktu dengan kekuatan kami!" jawab Zhi Shan.


"Apakah maksud Senior menghentikan waktu?" tanya Ho Chen.


Jika hanya menghentikan waktu, Ho Chen juga bisa melakukannya, karena itu dia beranggapan jika maksud Zhi Shan pasti bukan seperti itu.


"Tidak bukan yang seperti itu, kekuatan kami tidak hanya bisa memanipulasi waktu, bahkan kami bisa menjelajah waktu, kami bisa mengarungi waktu dan menjelajah masa lalu serta masa depan!" jawab Zhi Shan.


"Menjelajah waktu? Apa memang ada cara seperti itu?" tanya Ho Chen.


"Tentu saja ada, namun semua itu hanya bisa dilakukan jika kamu memiliki kekuatan di tahap Rana Ilahi!" jawabnya.


Ho Chen terkejut mendengar Zhi Shan mengatakan tahap Rana Ilahi, ini baru pertama kalinya dia tahu jika ternyata masih ada tahapan yang melebihi tahap Rana Agung yang di yakini sebagai tahapan paling tertinggi dan sangat sulit untuk bisa dicapai.


"Ra..Rana Ilahi? Jadi benar masih ada tahapan yang lebih tinggi dari Rana Agung? Ini sungguh mengejutkan sekali!" kata Ho Chen.


"Tidak perlu se terkejut itu Dewa Ho Chen, itu wajar karena memang tidak pernah ada mahluk lain salain kami yang memiliki kekuatan Rana Ilahi kecuali sang Buddha dan...!"


"Dan..? Siapa lagi senior?" tanya Ho Chen.


"Untuk saat ini selain sang Buddha, hanya kami berdua saja yang memiliki kemampuan di tahap Rana Ilahi, namun tidak lama lagi atau tepatnya di masa depan dan di mulai dari hari ini, akan ada tiga orang lagi yang akan mampu mencapainya!" kata Zhi Shan.


"Tiga Orang dan masa depan?" Ho Chen semakin dibuat penasaran.


"Aku tidak akan memberitahukanmu akan siapa saja tiga orang itu, namun karena kamu sudah terlanjur mengetahuinya, aku akan membocorkan salah satunya saja, dan salah satu orang tersebut tidak lain adalah murid mu saat ini!" kata Zhi Shan.


"Tian..! Jadi dia akan bisa mencapai tahap Rana Ilahi di masa depan? Bagaimana senior bisa seyakin itu?" tanya Ho Chen.


"Bukankah sudah aku bilang jika aku bisa menjelajah waktu, karena itu aku tahu akan apa yang akan terjadi di masa depan, hanya saja aku tidak bisa memberitahukanmu akan apa yang akan terjadi di masa depan!" kata Zhi Shan.


Ho Chen hanya tersenyum kecut karena dia juga tahu jika tidak ada yang tahu akan apa yang akan terjadi di masa depan, jika memang Zhi Shan tahu, dia pasti akan merahasiakannya.


"Dewa Ho Chen, aku akan membantumu agar bisa mencapai puncak Rana Agung, namun bukan sekarang, nanti aku akan mendatangimu sendiri dan akan mengajakmu ke suatu tempat, jadi sekarang kamu kembali!" kata Zhi Shan.


Ho Chen merasa senang mendengarnya, siapa yang tidak ingin memiliki kekuatan puncak Rana Agung, kekuatan yang tidak semua para Dewa miliki, dan sekarang Ho Chen memiliki harapan untuk bisa mencapai Puncak Rana Agung.


"Baik senior, saya sangat berterima kasih atas keinginan senior yang ingin membantu saya yang lemah ini!" kata Ho Chen sembari menangkupkan tangan kepada Zhi Shan.


"Iya..iya! Sekarang kembalilah kamu ke dunia bawah," kata Zhi Shan.


Ho Chen mengangguk kemudian dia berpamitan lalu menggunakan sihir ruang waktunya untuk kembali ke dunia bawah dan meninggalkan Zhi Shan sendirian di luar angkasa.


Zhi Shan tersenyum setelah Ho Chen menghilang kemudian bergumam, "Sebenarnya kamu salah satu dari tiga orang itu Ho Chen!" gumamnya lalu tubuh Zhi Shan kembali bercahaya kemudian pecah menjadi butiran cahaya halus dan menghilang.


***

__ADS_1


Tian Feng mondar-mandir seperti setrika di dalam rumah Ho Chen, dia sangat menghawatirkan gurunya yang sudah seminggu pergi menyusul Azura, namun selama itu juga tidak ada kabar apapun mengenai mereka sekarang.


Andai tidak karena dilarang pergi oleh Lie Yie, Chie Xie, dan Alice, tentu saja Tian Feng akan pergi menyusul Ho Chen, terlebih lagi Kaisar Langit tidak mengijinkan para Dewa untuk turun menyusul Ho Chen, hal ini membuat Tian Feng semakin merasa khawatir.


Alasan Kaisar Langit tidak mengijinkan para Dewa untuk turun karena akan ada masalah yang lebih besar di kahyangan jika sampai para dewa turun menyusul Ho Chen.


Tentu semua para Dewa dan Tian Feng sangat penasaran, namun jika Kaisar Langit sudah berkata demikian, mungkin saja itu benar.


"Ayah...!"


Xihua dan Chie Xie yang baru selesai bermain di luar masuk kedalam dan kemudian Xihua terbang kearah Tian Feng dan Tian Feng langsung menggendong Xihua.


"Apakah yang Putri ayah pelajari bersama bibi Xie Xie?" tanya Tian Feng yang sudah menggendong Xihua.


"Bibi Xie Xie tadi mengajariku cara membekukan air!" jawab Xihua dengan polosnya.


"Membekukan air?" Tian Feng mengerutkan dahinya.


"He em!" Xihua mengangguk.


Tian Feng dengan terpaksa tersenyum, namun dia merasa khawatir, Tian Feng khawatir jika Xihua memiliki energi Yin, jika memang Xihua memiliki energi Yin, maka betapa malangnya nanti masa depan putrinya yang pasti akan seperti Chie Xie, yaitu akan sangat sulit menemukan jodoh.


"Apakah kamu bisa melakukannya?" tanya Tian Feng.


Lagi-lagi Xihua menjawab dengan anggukan yang lebih bersemangat sehingga Tian Feng menoleh kearah Chie Xie yang juga mengangguk.


Tian Feng langsung tersenyum pahit, namun dia tetap berusaha menunjukkan senyuman hangat kepada Xihua lalu berkata, "Coba kamu tunjukkan kepada ayah!" kata Tian Feng.


Xihua segera turun lalu dia berjalan kearah teko air yang berada di atas meja. Xihua menuangkan air teko tersebut ke cangkir ayahnya.


Air dari teko yang sudah keluar langsung membeku, namun tidak seperti cara Chie Xie membekukan air menjadi es, cara yang Xihua lakukan sedikit unik dimana air yang sudah membeku menjadi es itu nyatanya tetap mengalir.


Air tersebut beku diluar namun tidak di bagian dalam air, saat air terus mengalir maka setiap pinggirannya akan membeku kemudian setelah menyentuh cangkir keramik itu, cangkir tersebut juga membeku.


"Dia bisa memanipulasi kekuatannya sehingga bisa mengatur suhu energi es yang ia keluarkan, kamu sungguh hebat Xie Xie bisa mengajari Xihua seperti itu!" kata Tian Feng yang merasa takjub dengan Xihua yang bisa mengendalikan energinya.


"Sebenarnya aku tidak mengajarinya apa-apa, dia hanya melihatku berlatih lalu menirunya sendiri dengan apa yang sudah dia lihat!" jawab Chie Xie.


"Benarkah?"


Tian Feng sedikit terkejut mendengarnya, memang beberapa orang memiliki keahlian meniru suatu gerakan orang lain hanya dengan melihatnya saja, masalahnya yang di tiru oleh Xihua adalah cara menggunakan energi serta mengendalikannya, tentu semua itu harus memiliki dasar pemahaman karena semua itu berhubungan dengan energi.


Menggunakan energi serta mengendalikannya sangat berisiko tinggi, jika salah dalam menggunakannya, bisa-bisa akan mencelakai diri sendiri dan juga orang-orang yang terdekat, salah satu contohnya saat Tian Feng pertama kali menggunakan ilmu tahap akhir dari Kitab Iblis Neraka dimana dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya serta hampir mencelakai Wei Fang dan beberapa pendekar lainnya.


"Xihua, coba kamu perhatikan ayah!" kata Tian Feng.


Xihua segera melihat kearah Tian Feng yang mengangkat satu jarinya kemudian muncul Api dari ujung jari Tian Feng.


Tian Feng menggerakkan api tersebut dengan sebelah tangannya lalu memainkan api tersebut seperti seorang akrobat yang bermain antraksinya di depan orang.


Tian Feng hanya ingin memastikan apakah benar Xihua bisa meniru seperti yang Chie Xie jelaskan, dan juga Tian Feng ingin memastikan jika Xihua tidak hanya memiliki satu energi Yin saja.


Dan setelah cukup lama, Tian Feng segera menyelesaikan antraksinya dengan api tersebut kemudian melihat kearah Xihua.


Chie Xie dan Tian Feng sama-sama menunggu Xihua, apakah Xihua bisa menirunya atau tidak, mengingat Tian Feng yang menggunakan Energi Yan, pastinya akan sangat mustahil bagi Xihua.

__ADS_1


Sebelumnya Tian Feng sudah memeriksa Xihua, dia tidak menemukan energi Yin dan Yan di dalam tubuh Xihua, karena itu Tian Feng terkejut saat Xihua bisa menggunakan Energi Yin.


Xihua yang diam sesaat kini melihat ke jarinya, dan entah bagiamana caranya, Xihua ternyata bisa mengeluarkan api seperti Tian Feng dimana jari telunjuk Xihua mengeluarkan Api.


Chie Xie dan Tian Feng sama-sama saling berpandangan karena terkejut melihat Xihua yang ternyata juga memiliki energi Yan, dengan demikian Xihua sudah memiliki dua energi alam Yin dan Yan di dalam tubuhnya.


"Benar-benar luar biasa, jika Xihua di usian dini saja sudah bisa mengendalikan energinya, aku tidak bisa membayangkan akan sekuat apa nantinya jika dia sudah remaja nanti!" gumam Tian Feng.


Chie Xie juga memiliki pemikiran yang sama seperti Tian Feng, sudah bisa terlihat sangat jelas jika Xihua memiliki bakat yang tidak di miliki oleh orang lain.


"Dia memiliki bakat luar biasa sepertimu gege, lagi pula kakak ipar dulunya juga bukan pendekar biasa, bisa dibilang sepasang monster melahirkan monster, memang seperti itu seharusnya?" kata Chie Xie.


"Kamu menganggap aku dan kakak ipar mu sebagai monster? Dasar adik kurang ajar, akan aku tarik telingamu!" kata Tian Feng dengan nada kesal karena Chie Xie menganggap dirinya sebagai monster.


"Emang iya...!" jawab Chie Xie namun dia segera lari kedalam kamarnya.


"Xie Xie...! Kembali dan minta maaf padaku sekarang..!" kata Tian Feng.


"Tidak mau.. Kalau memang bisa tangkap aku..!" jawab Chie Xie sambil tertawa mengejek dari dalam kamar.


Chie Xie segera menutup pintu lalu menguncinya dari dalam agar Tian Feng tidak bisa masuk, dengan sisa tawanya dia jalan mundur sambil menatap kearah pintu.


Namun baru saja mundur tiga langkah, Tian Feng ternyata sudah berada di belakangnya lalu segera meraih pinggang Chie Xie dan mendekapnya dengan erat lalu menggelitik Chie Xie.


Chie Xie sama sekali tidak bisa bergerak karena dekapan Tian Feng terlalu kuat sehingga dia hanya bisa tertawa karena terus di gelitik oleh Tian Feng hingga mata Chie Xie berair karena tidak tahan dengan rasa geli.


"Ayo kamu mau minta maaf atau tidak? Jika tidak aku akan pindah menggelitik telapak kakimu!" kata Tian Feng.


"Ampun gege ampun, aku tidak kuat lagi..!" kata Chie Xie yang masih ada sisa tawanya.


"Minta maaf dulu!" kata Tian Feng.


"Iya baik-baik, aku minta maaf!" kata Chie Xie.


"Adik pintar!" kata Tian Feng kemudian melepaskan dekapannya sehingga Chie Xie bisa bergerak kembali.


"Gege curang menggunakan sihir ruang waktu untuk menangkap ku!" kata Chie Xie.


"Iya salah kamu sendiri!" kata Tian Feng.


"Dasar monster!" Chie Xie kembali ngeledek.


"Kamu...!" Tian Feng kembali menoleh namun Chie Xie sudah tidak ada.


Chie Xie langsung menggunakan sihir ruang Waktunya setelah kembali meledek Tian Feng dan Chie Xie berpindah ke samping Xihua dimana Alice, Naomi, Qiao Lin dan Lie Yie juga baru tiba.


Tian Feng segera muncul untuk memberi hukuman kepada adiknya, namun dia mengurungkannya karena keberadaan mereka semua.


"Coba kalau berani lakukan lagi!" kata Chie Xie.


"Awas kamu!" Tian Feng hanya bisa bergumam dengan nada geram, namun walau demikian dia tidak benar-benar geram terhadap adiknya.


"Tian, gurumu sudah datang, dia sekarang sudah berada di Istana!" kata Qiao Lin.


"Owh benarkah? Kalau begitu aku akan keistana!" kata Tian Feng kemudian dia segera keluar untuk menemui Ho Chen.

__ADS_1


__ADS_2