
"Panglima Gerbang Selatan, kau yang memaksaku melakukan ini! Karena kalian sudah jauh-jauh datang ke sini, maka kalian akan tetap berada disini hidup atau mati!" kata Yun Yun dalam wujud Naga Hitam.
Panglima Gerbang Selatan menelan ludahnya saat Yun Yun menatap dirinya dengan tatapan mata naga yang sangat menyeramkan, tidak ada lagi Yun Yun yang cantik atau pun Dewa Hitam yang tampan, saat ini yang ada dihadapan Panglima Gerbang Selatan adalah seekor Naga yang memiliki kemampuan melebihi puncak Dewa Agung.
Panglima Gerbang Utara, Panglima Gerbang Timur dan Cambuk Petir Hitam juga muncul di samping Panglima Gerbang Selatan, mereka sudah tidak lagi bertarung dengan para Raja Naga.
Para Raja Naga yang memilih berhenti bertarung karena terkejut saat melihat Yun Yun yang berubah menjadi Naga Hitam, hal itu dijadikan kesempatan oleh ketiga lawan mereka untuk menjauh.
"Ini semakin gawat, sepertinya kita tidak akan pernah bisa kembali!" kata Panglima Gerbang Utara.
Panglima Gerbang Selatan diam membisu mendengar perkataan Panglima Gerbang Utara, dia melihat Yun Yun kemudian berbalik menatap ke tiga rekannya dengan tersenyum membuat ketiga rekannya keheranan.
"Bersiaplah kalian untuk mati!"
Yun Yun mengepakkan sayapnya kemudian dia melepaskan energi Petir Api Hitam serta Petir Api Merah. Awan hitam berubah berwarna merah dan hembusan amukan angin kencang membuat lautan juga ikut beriak hingga menciptakan gelombang laut yang sangat banyak.
"Tahan dulu Dewa Hitam! Aku tahu kamu sudah tidak sabar ingin membunuhku, hanya saja aku ingin menantangmu secara pribadi!" kata Panglima Gerbang Selatan sehingga membuat Yun Yun menatapnya dengan keheranan.
"Panglima apa maksudmu?" tanya Cambuk Petir Hitam.
Panglima Gerbang Selatan menoleh ke arah ketiga rekannya kemudian dia menyampaikan maksud rencananya kepada mereka sehingga membuat ketiga rekannya terkejut.
"Aku akan menghadapinya sendirian, dan selama aku bertarung dengannya nanti, kalian harus segera pergi sebelum terlambat," kata Panglima Gerbang Selatan.
"Apa Panglima sadar, Dewa Hitam bukanlah lawan yang bisa dilawan sendirian, dan...!"
"Aku yang mengetahui seberapa kuat dia itu, walau aku tidak akan mungkin menang, namun yang terpenting kalian harus bisa kembali ke Istana Kegelapan, jika kita semua mati disini, maka siapa yang akan mengawal Yang Mulia nanti? Sudahlah jangan membantah lagi, jika kita terus berdebat begini, bisa-bisa Dewa Hitam mengetahui rencana ini, jika sampai dia tahu, bisa-bisa nanti tidak ada satupun dari kita yang bisa kembali!" kata Panglima Gerbang Selatan.
"Apa maksudmu Panglima Gerbang Selatan?" tanya Yun Yun yang masih dengan tubuh Naga yang di penuhi dengan energi Petir Api Hitam dan Merah.
__ADS_1
"Dewa Hitam, sudah sejak lama sekali aku ingin menantangmu bertarung, aku ingin membuktikan jika sebenarnya akulah yang layak menduduki posisi pertama dari pada kamu, dan hal itu akan aku capai jika aku melawanmu satu lawan satu!" kata Panglima Gerbang Selatan.
"Owh, jadi kamu ingin merebut posisiku? Kalau begitu ambil saja, aku sudah tidak menginginkannya lagi!" kata Yun Yun.
"Kamu sudah tidak menginginkannya lagi? Tapi aku akan tetap menantang mu dan kita akan bertarung sampai salah satu dari kita mati, bagaiamana apakah kamu berani menerima tantanganku?"
"Kenapa aku harus takut menerima tantangan dari Pengawal yang posisinya jauh di bawahku? Kamu benar-benar tidak mau menyadari batas kemampuanmu sendiri, tapi baiklah jika itu yang kamu mau, ayo kita bertarung satu lawan satu!" kata Yun Yun.
Panglima Gerbang Selatan menoleh ke bawah melihat keempat Raja Naga yang memperhatikan dari bawah kemudian berkata kepada Panglima Gerbang Timur, "Aku akan membuat sihir debu hitam untuk mengalihkan pandangan mereka, setelah itu cepat pergi dari sini!" kata Panglima Gerbang Selatan.
Panglima Gerbang Timur hanya bisa mengangguk dan akan mengikuti rencana Panglima Gerbang Selatan.
Panglima Gerbang Selatan terbang menghampiri Yun Yun dan kemudian dia berada tepat dihadapan wajah Yun Yun lalu dia mengarahkan tangan kanannya ke bawah dan muncul kayu melingkar membentuk sebilah pedang kayu panjang, walau terbuat dari elemen kayu, namun pedang tersebut sangat keras seperti baja.
"Lawanlah aku dengan wujud normal mu Dewa Hitam!" kata Panglima Gerbang Selatan.
Tubuh Yun Yun mengeluarkan uap hitam dan menyusut kemudian kembali ke wujud yang sebenarnya.
Panglima Gerbang Selatan menaikkan alisnya melihat wujud Yun Yun, sejak dia kenal Yun Yun dalam wujud Dewa Hitam, baru kali ini dia melihat wujud asli Yun Yun.
Wujud asli Yun Yun dalam bentuk biasa tidak seperti sebelumnya yang memiliki tubuh manusia dan berparas cantik, sekarang wujudnya mirip manusia dengan ekor hitam dan dua cabang tanduk di kepalanya.
Wujud Yun Yun seperti setengah manusia dan setengah lagi adalah Naga, hanya saja paras cantiknya masih bisa terlihat walau tanduk di kepalanya yang membuat kecantikan Yun Yun menjadi menyeramkan.
Yun Yun juga mengarahkan tangan kanannya dan kemudian sebuah pedang panjang muncul ditangannya.
"Majulah Panglima, kerahkan seluruh kemampuanmu!" kata Yun Yun.
Panglima Gerbang Selatan langsung melepaskan energinya yang besar dan kemudian dia mulai maju menyerang Yun Yun dengan pedang kayunya.
__ADS_1
Saat menyerang, diam-diam Panglima Gerbang Selatan membuat segel tangan dari tangan kirinya dan kemudian debu hitam mulia menyebar ke segala arah membuat pandangan semua yang ada disana kesulitan untuk melihat.
Panglima Gerbang Utara, Timur dan Cambuk Petir Hitam segera menggunakan sihir ruang waktu mereka setelah debu hitam menutupi seluruh wilayah tersebut, kepergian mereka tidak di ketahui oleh siapapun karena semuanya masih terlalu fokus kepada Yun Yun dan Panglima Gerbang Selatan sekaligus berusaha menyingkirkan debu hitam yang menghalangi pandangan mereka semua.
"Tebasan Akar Kematian."
Panglima Gerbang Selatan melepaskan satu tebasan pedang kayunya dan kemudian pedang kayu tersebut menyebar menjadi akar hidup dan melesat ke arah Yun Yun.
Yun Yun hanya tersenyum tipis kemudian dia mengalirkan energi Petir Api Hitam ke pedangnya lalu melapaskan tebasan kearah akar yang tercipta dari pedang kayu.
"Petir Api Membakar Langit."
Energi pedang Petir Hitam segera melesat dan memotong-motong akar yang datang dengan sangat mudah, bahkan energi pedang tersebut terus maju dan menyerang balik ke arah Panglima Gerbang Selatan.
"Kelopak Bunga Hitam."
Panglima Gerbang Selatan langsung membuat sihir lainnya dan menciptakan kelopak bunga yang sangat besar untuk menahan serangan energi pedang yang datang padanya.
Melihat Panglima Gerbang Selatan yang membuat pelindung dan bersembunyi di belakang kelopak bunga hitam tersebut, Yun Yun kembali melepaskan tebasan pedangnya secara berurutan.
Suara benturan dan ledakan beruntun di langit menggema ke segala arah, dan asap dari ledakan tersebut semakin membuat langit semakin menjadi gelap.
Sihir Kelopak Bunga Hitam tidak mampu menahan serangan beruntun dari Yun Yun membuat Panglima Gerbang Selatan mulai terseret mundur namun tetap dalam posisi bertahan.
Setelah terkena serangan beruntun dari Yun Yun, pertahanan Panglima Gerbang Selatan akhirnya hancur dan energi pedang secara mulus mengenai tubuh Panglima Gerbang Selatan.
Panglima Gerbang Selatan berusaha sebisa mungkin menggunakan Energinya untuk melindungi tubuhnya dari energi pedang Yun Yun, namun energi pedang itu terlalu kuat sehingga membuat Panglima Gerbang Selatan terhempas dan jubah hitamnya sedikit terbakar, dan kulit Panglima Gerbang Selatan juga terluka, namun lukanya seperti terkena Pedang yang panas.
"Pertarungan mereka itu berat sebelah, jika begini yang akan keluar sebagai pemenang adalah Yun'er!" kata o Run yang melihat pertarungan tersebut.
__ADS_1
Walau pandangan mereka sedikit kesulitan untuk melihat pertarungan di atas karena debu hitam yang menggangu, namun mereka masih sedikit bisa melihat serta mengamati secara seksama, dan dari yang terlihat pertarungan tersebut adalah pertarungan berat sebelah, dimana Yun Yun lebih unggul dari para Panglima Gerbang Selatan.
"Hei..! Kemana perginya ketiga sosok tadi?" o Guang yang teringat akan tiga musuh lainnya segera melihat kearah tempat keberadaan mereka bertiga sebelumnya, namun ketiga sosok itu sudah tidak ada di tempatnya.