
Tian Feng dan Yuan Xia tiba di ruang keluarga, di sana sudah ada Lie Yie merapikan beberapa barang.
"Sebaiknya kamu jangan muncul dulu, berdirilah di belakang itu terlebih dahulu, kita akan memberikan kejutan istimewa untuk ibumu!" kata Yuan Xia.
Tian Feng mengerti akan maksud Yuan Xia, dia segera membelakangi pintu sedangkan Yuan Xia masuk dan berbicara kepada Lie Yie.
"Yie'er ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," kata Yuan Xia tanpa menyebut nama Tian Feng.
Lie yang baru saja merapikan sebuah guci kecil dan meletakkan guci tersebut di atas meja bertanya kepada Yuan Xia.
"Seseorang, memangnya siapa orang itu?" tanya Lie Yie.
"Entahlah aku juga lupa menanyakan namanya," jawab Yuan Xia.
"Dia laki-laki atau perempuan?" tanya lagi Lie Yie.
"Laki-laki! Sudah hentikan dulu kegiatan mu dan segera temui orang itu!" kata Yuan Xia.
Lie Yie segera menghentikan aktifitasnya dan kemudian berjalan keluar untuk menuju ke ruang tamu, namun begitu sudah melewati pintu, dia terkejut saat melihat ada orang yang sedang berdiri di belakang pintu dengan wajah yang sebagian di tutup dengan topeng hitam.
"Siapa ka...!" Lie Yie ingin bertanya namun suaranya terhenti di tenggorokan dan matanya yang awalnya terkejut dengan melotot berubah menjadi berkaca-kaca.
"Kau...! Kau Tian putraku?"
Tian Feng tersenyum dan merasa terharu karena Lie Yie masih bisa mengenalinya walau sudah sangat lama tidak bertemu, di samping tubuhnya yang sudah tinggi, wajahnya sebagian tertutup oleh topeng hitamnya.
Namun semua itu ternyata tidak berpengaruh pada Lie Yie, dia justru langsung mengenalinya dalam sekali lihat saja.
"Ibu, aku sudah kembali!" kata Tian Feng dengan tersenyum lembut dan senyumannya masih bisa di lihat di bibir yang terlihat separuh dari topeng hitamnya.
Yuan Xia sendiri juga terkejut saat melihat Lie Yie yang mengenali Tian Feng hanya dalam sekali lihat, padahal dirinya saja butuh beberapa waktu untuk bisa mengenali Tian Feng.
Lie Yie melangkah perlahan ke hadapan Tian Feng Kemudian tangannya secara perlahan menyentuh wajah Tian Feng yang tidak tertutupi oleh topeng.
"Tian..! Benarkah kamu ini Tian Putraku? Atau aku saat ini sedang bermimpi?"
Suara Lie Yie sedikit bergetar dan tidak lama air matanya mulai mengalir di pipinya, dia masih terlihat tidak percaya jika pemuda bertopeng itu adalah Tian Feng.
Tian Feng menjawab dengan anggukan serta tersenyum lembut, hatinya serasa tersentuh dan juga merasa tidak menduga jika Lie Yie masih bisa mengenalinya walau dirinya masih mengenakan topeng.
Tian Feng melepas topengnya sehingga terlihat wajahnya yang tampan serta bersih, bahkan tidak terlihat ada bintik-bintik sedikitpun di wajahnya.
Bibir Lie Yie mulai bergetar karena menahan tangis, setelah itu tangisnya pecah sekaligus dengan cepat memeluk tubuh Tian Feng.
"Anakku..!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Lie Yie sedangkan sisanya hanya tangisan Lie Yie saja yang terdengar.
Tian Feng membalas pelukan Lie Yie yang penuh dengan kerinduan dan kasih sayang itu, tanpa Tian Feng sadari air matanya juga ikut keluar.
Yuan Xia merasa terharu melihat Lie Yie yang melepaskan rasa kerinduan terhadap Tian Feng, menurutnya sikap Lie Yie itu wajar.
__ADS_1
Sudah lama sekali Lie Yie bertahan demi bisa bertemu lagi Tian Feng yang di kira sudah mati oleh para penduduk terdekat.
Bahkan Lie Yie hampir saja bunuh diri andai Yuan Xia tidak segera mengetahuinya, dengan berbagai cara sudah Yuan Xia lakukan agar istrinya tidak bunuh diri dengan meyakinkan Lie Yie jika Tian Feng pasti masih hidup.
Selama itu juga Lie Yie hidup dalam kesedihan dan juga berusaha bertahan hanya demi meyakini jika Tian Feng pasti akan kembali.
Kini semua harapan Lie Yie sudah jadi kenyataan sehingga Tangisan bahagia Lie Yie pecah sambil memeluk putra angkat kesayangan nya.
Lie Yie sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya terhadap Tian Feng, padahal sudah agak lama dia memeluknya.
Lie Yie merasa takut untuk melepaskan pelukannya, dia takut jika di lepas Tian Feng akan kembali menghilang.
"Yie'er, Tian baru saja sampai, biarkanlah dia duduk dulu, siapa tahu dia kelelahan!" kata Yuan Xia.
Lie Yie baru melepaskan pelukannya ketika Yuan Xia berkata seperti itu, dia menatap wajah Tian Feng sebelum berbicara padanya.
"Tian, apakah kamu sudah makan? Apakah kamu mau ibu buatin Jahe hangat? Kamu mau makan apa biar ibu buatkan?" Lie Yie bertanya dengan perasaan yang masih takut kehilangan Tian Feng lagi untuk ke-dua kalinya, karena itu pandangan tidak mau lepas kepada Tian Feng.
"Ibu, aku tidak lapar! Sebaiknya ibu duduk saja dan tidak perlu melakukan apapun untuk ku!" kata Tian Feng.
"Tidak-tidak! Ibu tidak ingin kamu sakit atau apapun!"
"Ibu..! Percayalah padaku, aku saat ini tidak mau apa-apa darimu, yang ku mau sekarang hanyalah melihat kalian semuanya baik-baik saja!" kata Tian Feng yang menenangkan Lie Yie.
"Yie'er, aku tahu kamu sangat merindukan Tian, namun kamu juga harus mengerti keadaan Tian saat ini, biarkan dia duduk sebentar!" kata Yuan Xia.
Lie Yie memang sudah diam, namun dia tidak mau melepas pandangan nya kepada Tian Feng.
"Hamba Tuan!" penjaga tersebut segera menghampiri Yuan Xia kemudian dia berlutut.
"Pergilah kerumah Guru Zang! Sampaikan kabar Guru Zang jika Tian sudah ada pulang!" kata Yuan Xia.
"Baik Tuan!" kata Penjaga tersebut kemudian dia segera keluar.
Lie Yie sendiri sedang berbicara dengan Tian Feng, dia memegang telapak tangan Tian Feng sambil berbicara.
"Tian! Kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu saat itu pergi dari rumah? Apakah kamu kecewa pada ibu karena tidak memperhatikan dirimu yang sedang terluka saat itu?.Jika benar maka ibu minta maaf, silahkan kamu salahkan ibu, namun ibu minta jangan pernah lagi pergi dari rumah!" kata Lie Yie.
Tian Feng tersenyum hangat kepada Lie Yie kemudian dia menggenggam telapak tangan Lie Yie.
"Ibu jangan salah sangka, Tian sama sekali tidak menyalahkan Ibu! Alasan Tian pergi dulu karena tidak mau merepotkan Ibu, dan Tian tidak ingin ibu menjadi khawatir saat tahu jika waktu itu Tian sedang terluka!" kata Tian Feng.
"Dengar! Aku ini adalah ibumu, sudah seharusnya bagi seorang ibu untuk membagi rasa sakit dengan anaknya, jika aku khawatir jika kamu terluka, itu wajar karena ibu sangat menyayangimu!" kata Lie Yie.
"Ibumu berkata benar! Kamu pergi karena tidak mau jika nanti ibumu khawatir jika sampai tahu jika waktu itu kamu terluka, namun kamu tidak berpikir jika tindakan mu saat sudah membuat ibumu lebih khawatir, bahkan dulu ibumu hampir bunuh diri karena mengira kamu sudah tiada!" kata Yuan Xia.
"Apa? Apakah itu benar ibu?" tanya Tian Feng yang terkejut saat tahu jika Lie Yie sangat nekad karena rasa sayang nya pada dirinya.
"Ibu pikir saat itu kamu sudah tiada, karena itu ibu berniat menyusulmu! Namun beruntung ayahmu menyelematkan ku, andai saja dia terlambat lebih sedikit saja, mungkin ibu sudah tidak duduk seperti saat ini disini bersama mu! Tapi ibu sekarang sangat bahagia karena kamu sudah berada di sini lagi bersamaku," kata Lie Yie kemudian dia memeluk kembali Tian Feng.
Tian Feng benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang ia rasa hanya rasa haru karena tidak menyangka jika Lie Yie benar-benar sangat tulus menganggap dirinya sebagai anaknya.
__ADS_1
"Maafkan Tian karena sudah membuat Ibu khawatir!" kata Tian Feng yang membalas pelukan Lie Yie dengan kasih sayang seperti pelukan Lie Yie.
"Berjanjilah pada ibu jika kamu tidak akan mengulanginya lagi! Jika tidak kamu akan benar-benar tidak akan bisa melihat ibu lagi," kata Lie Yie.
Tian Feng tidak menjawab, dia tidak yakin apakah suatu hari akan pergi lagi atau tidak, namun untuk saat ini dia masih harus membalas Budi semua kebaikan Keluarga Yuan yang telah memberi kasih sayang tak terbatas yang belum pernah ia dapatkan dari dulu.
Yuan Xia juga datang dan merangkul ke-dua nya, dia merasa kebahagiaan keluarganya sudah kembali sempurna dengan kedatangan Tian Feng ke dalam anggota keluarga nya.
"Owh iya, dimana Xie'er? Kenapa aku tidak melihatnya? pasti dia sudah besar bukan?" Tian Feng baru ingat kepada Chie Xie.
Lie Yie segera mengelap air matanya kemudian dia melihat kearah Yuan Xia, "Biar ayahmu yang menjelaskan padamu!" kata Lie Yie.
Tian Feng segera menatap kearah Yuan Xia yang tersenyum saat di tatap oleh Tian Feng.
"Xie'er saat ini berada di rumah Gurumu, dia belajar ilmu beladiri disana sekaligus mendapatkan bimbingan dari Nenek Chi!" kata Yuan Xia.
"Jadi Xie'er berada di perguruan Singa Emas?"
"Tidak..! Gurumu sudah keluar dari perguruan itu, dia sekarang menetap dan tinggal di kota ini, mungkin nanti malam dia dan Xie'er akan datang karena aku sudah mengutus seseorang untuk memberi kabar kedatangan mu kesana!" kata Yuan Xia.
"Tian, sejak kamu pergi dari rumah, tidak satu orang pun yang ibu ijinkan masuk ke dalam kamarmu, jadi semua barang-barang kamu yang mungkin masih berada di sana pasti masih ada, karena para pelayan hanya membersihkan kemar mu saja, jadi tempati lah kamar mu kembali!" kata Lie Yie.
Tian Feng hanya mengangguk, sebenarnya sudah tidak ada lagi barang penting yang ia tinggal di kamarnya kecuali buku-buku bekas ia belajar saja.
"Tian, ayah ingin bertanya pada mu! Apakah kamu pernah bertemu dengan Tuan Hiroshi dari Toakai?" tanya Yuan Xia.
"Tuan Hiroshi? Iya tapi itu beberapa tahun yang lalu, memang ada apa ayah?" tanya Tian Feng.
"Tidak, aku hanya bertanya karena Tuan Hiroshi pernah datang kesini. Dia bercerita jika dirinya pernah bertemu dan melakukan perjalanan bersama dengan seorang anak yang memakai penutup wajah, anak itu bernama Tian Feng!
Aku yakin jika itu pasti kamu, namun pernyataan saat kalian berpisah di Desa Xinyi, kemana saat itu kamu pergi? Katanya kamu akan kembali kesini, tapi sudah Lima tahun berlalu kamu tidak juga datang!"
"Yang di katakan Tuan Hiroshi memang benar, namun setelah aku berpisah dengan mereka, aku bertemu dengan seorang Pendekar yang mengajari ku ilmu bela diri yang hebat!" kata Tian Feng, namun dia tidak menjelaskan akan siapa pendekar yang ia temui itu.
"Lalu kenapa kamu mengenakan penutup wajah? Sekarang kamu malah mengenakan topeng! Apakah kamu bersembunyi dari seseorang?" tanya lagi Yuan Xia.
"Xia, Apakah kamu tidak menyadari nya juga? Apa kamu tidak sadar jika wajah putra kita ini sangat tampan, aku yakin itu alasan Putraku mengenakan penutup wajah, bukan begitu Tian?" kata Lie Yie yang di jawab dengan anggukan pelan oleh Tian Feng.
"Kau ini selalu saja mengetahui akan apa yang tidak aku ketahui, bahkan kamu bisa tahu jika dia itu Putra kita hanya dengan sekali lihat, jadi bagaimana caramu bisa yakin jika dia adalah putra kita?"
Lie Yie mendekatkan wajahnya tepat di depan Yuan Xia kemudian dia menjawabnya, "Karena aku ini ibunya, aku bisa mengetahuinya karena ada ikatan kasih sayang antara kami, tidak seperti kamu yang hampir mencelakai nya!" kaya Lie Yie.
Yuan Xia hanya bisa tersenyum canggung kemudian dia mengalihkan pembicaraan, "Tian, sebaiknya kita ngobrol di sana saja sambil minum teh," ajak Yuan Xia.
"Tian tidak akan menemanimu, dia akan istirahat di kamarnya dan aku akan memasakkan sendiri makanan buat dia, sedangkan kamu pergi sendiri dan minum sendirian saja disana! Ayo Tian ibu bawa kamu ke kamar mu, hari ini kamu tidak perlu menemani Ayahmu!" kata Lie Yie.
"Tapi Xie'er..!"
Yuan Xia berhenti bicara saat Lie Yie menatap dirinya dengan tatapan dingin, dia tidak lagi berani bicara lagi dan memilih diam karena dia tidak mau mendengar Lie Yie yang akan membacakan kitab Omelan jika ia masih memaksa Tian Feng untuk menemaninya ngobrol.
Tian Feng sendiri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sejak awal dia tidak pernah melihat Lie Yie semengerikan seperti itu, "Apakah semua ibu itu akan seperti ini sikapnya?" batin Tian Feng kemudian dia pergi ke kamarnya dengan di temani oleh Lie Yie.
__ADS_1