Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Kakek aneh


__ADS_3

***


Tian Feng berlari tanpa henti saat siang hari, dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya kembali.


Saat sudah sampai setengah dari perjalanannya, Tian Feng tiba-tiba saja melihat ada seorang kakek-kakek tua sedang berjalan sendirian dengan sangat pelan.


Memang lokasinya bukan di tengah hutan, namun tetap saja melihat seorang kakek-kakek tua berjalan sendirian di jalanan setapak yang kecil sangat ganjil bagi Tian Feng.


Tian Feng segera menyusul kakek tersebut dan kemudian berjalan di belakangnya sambil menyapanya, "Maaf kakek, kenapa kakek berjalan sendirian, dan kakek ini sebenar mau kemana?" tanya Tian Feng.


Kakek tua itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Tian Feng, dia tetap berjalan dengan sangat pelan seperti tidak menyadari jika di belakangnya ada Tian Feng.


Tian Feng mengira jika kakek itu pasti tuli karena itu Tian Feng berniat menyentuh pundak si kakek tersebut.


Saat tangan Tian Feng hampir menyentuh pundak si Kakek, tiba-tiba saja waktu langsung berhenti, bahkan rumput yang bergoyang karena di terpa angin pun juga tidak bergerak.


Tian Feng yang kebingungan melihat ke sekelilingnya yang tiba-tiba saja tidak ada pergerakan dari benda apapun, dia mulai mundur dua langkah, apa lagi hanya dia dan si kakek saja yang bisa bergerak membuat dia semakin kebingungan serta semakin waspada.


"Kau memanggilku kakek? Lalu aku harus memanggilmu apa? Apakah anak muda atau anak muda yang jiwanya juga seorang kakek tua?"


Pertanyaan kakek tua itu mengagetkan Tian Feng, di tambah lagi dengan waktu yang tiba-tiba saja terhenti membuat Tian Feng semakin kebingungan.


"Si...siapa kamu?" tanya Tian Feng sekaligus menjadi lebih waspada.


"Kamu tidak perlu tahu akan siapa diriku ini, aku sengaja datang dari jauh hanya demi menemui!" kata si kakek kemudian dia menoleh kearah Tian Feng.


"Kakek sengaja datang dari jauh hanya untuk menemuiku? Apakah kakek berasal dari Kerajaan Xia?" tanya Tian Feng.


Kakek tersebut tertawa kecil kemudian kembali berkata, "Kamu masih saja memanggil ku kakek, sudah berhentilah bersandiwara di hadapan ku!" kata Sang kakek kemudian dia menunjuk kearah Langit.


"Aku berasal dari atas sana, dan sekarang aku datang hanya untuk memberikan mu dua benda ini!" kata si Kekek kemudian dia mengarahkan telapak tangannya yang kosong kearah Tian Feng.


Tian Feng memandangi telapak tangan Kakek tersebut dengan kebingungan karena dia tidak melihat apapun selain kulit telapak tangannya saja yang keriput.


Namun tidak lama kemudian muncul dua benda aneh dari telapak tangan si kakek tersebut seperti terlihat muncul dari ruang kosong.


Jelas saja Tian Feng terkejut melihat hal itu, dia tidak pernah mendengar ada benda yang tiba-tiba muncul begitu saja, kecuali seorang pesulap yang sedang memamerkan trik tipuannya.


"Apakah kakek ini seorang pesulap?" tanya Tian Feng.


"Pesulap matamu! Aku ini bukan pesulap melainkan hanya pembawa pesan! Sudahlah lupakan saja, sekarang ambil mata tombak dan Cincin Langit Malam ini, simpanlah kedua benda ini dan yang paling utama adalah Mata Tombak ini!"


Tian Feng jelas kebingungan karena si Kekek tua tidak memberikan penjelasan apapun, "Mata tombak ini untuk apa? Lalu Cincin apa ini? Cincin ini gunanya buat apa?" tanya Tian Feng.


"Akan aku jelas semuanya, jadi dengarkanlah baik-baik dan jangan pernah kamu memotong penjelasan ku, mengerti?"


Tian Feng hanya bisa mengangguk tanpa bisa membantah lagi, namun sebenarnya dia masih penasaran akan identitas kakek tersebut.


"Mata Tombak ini adalah pecahan dari tiga pusaka dari Nirwana, kamu sendiri sudah memiliki garis takdir untuk menyatukan ketiga pusaka ini agar bisa menjadi tombak yang sempurna.


Suatu saat nanti akan tiba masanya dimana seluruh alam semesta akan jatuh ke alam kegelapan, banyak manusia dan mahluk hidup lainnya yang akan terjerumus ke dalam kegelapan, dan hanya kamu nantinya yang bisa menyelamatkan semua mahluk hidup yang ada di seluruh alam semesta."


Kakek tersebut berjalan mendekati Tian Feng yang masih mendengarkan penjelasan kakek tua tanpa berani memotong ceritanya.


"Cincin Langit Malam itu adalah sebuah benda pusaka langit yang bisa menyimpan benda mati apapun kedalam cincin itu, jadi kamu bisa mempergunakan cincin itu untuk menyimpan semua barang-barang mu kedalam nya tanpa perlu repot-repot membawa buntilan kain lusuh yang kamu bawa itu," kata Kakek tua itu sekaligus menyelesaikan penjelasan singkatnya.


Tian Feng memperhatikan ke-dua benda itu dengan sedikit bingung, "Pusaka dari Nirwana? Kamu bilang aku memiliki garis takdir untuk menyatukan ke-tiga pusaka ini membentuk sebuah tombak yang sempurna? Tapi aku sama sekali tidak menguasai jurus tombak apapun, mungkin kamu salah orang!" kata Tian Feng.


Kakek itu terkekeh kemudian kembali berkata, "Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya akan penjelasanku ini, akan tetapi aku tidak pernah salah dalam memilih orang yang akan menjadi Kesatria pelindung alam semesta ini!" kata Kakek tersebut.


Tian Feng memperhatikan mata tombak yang seperti terbuat dari emas itu, dia masih belum mengerti sepenuhnya sehingga masih ragu untuk menerima ke-dua benda tersebut.


"Sudahlah, suatu saat nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, dan entah kapan itu akan terjadi nanti salah satu pusaka akan bisa kamu temukan sendiri, dan satu lagi akan di bawa oleh Dewa Pelindung Alam Semesta yang akan datang menemui mu, jadi sampai hari itu tiba, simpanlah baik-baik mata Tombak itu dan jangan sampai orang lain mengambilnya," kata Sang Kakek.

__ADS_1


"Dewa Pelindung Alam Semesta? Sebenarnya apa yang kakek tua ini bicarakan? Apakah dia sedang mabuk?" batin Tian Feng karena merasa kakek tak di kenal itu seperti sedang bicara ngelantur.


Kini pandangan Tian Feng tertuju kerah cincin Langit Malam itu, dia juga penasaran dan juga tidak percaya jika cincin sekecil itu bisa menyimpan benda di dalamnya.


"Lalu bagaimana dengan Cincin ini?' tanya Tian Feng.


"Sepertinya yang sudah aku jelaskan tadi," jawab kakek itu dengan singkat.


"I..iya aku tahu! Tapi bagaimana cara menggunakan cincin ini? Lihatlah bahkan barang ku saja tidak bisa aku masukkan kedalam Cincin ini!" kata Tian Feng sekaligus menempelkan berlian hitam yang ada di cincin itu ke buntilan kain milik nya.


"Kau ini bodoh atau apa? Tunggu dulu dan biarkan aku menjelaskan cara menggunakan cincin itu!' kata kakek tersebut.


"Cara menggunakan cincin itu sangat mudah, kau hanya perlu memberinya energi berupa Qi atau energi yang kamu miliki saat ini, nanti cincin itu akan bisa menyerap semua benda mati sesuai dengan yang kamu inginkan! Jadi silahkan kamu coba!" kata Kakek tersebut.


Tian Feng mendengar hal itu langsung mencobanya, dia mengalirkan Chi ke Cincin tersebut, dan dalam beberapa saat saja, muncul titik kecil berwarna putih di tengah-tengah berlian hitam tersebut.


"Tidak sulit bukan? Sekarang kamu arahkan berlian itu ke arah kain menyedihkan mu itu!" kata Kakek tersebut.


Walau sangat sulit untuk percaya, namun Tian Feng segera menurut dan kemudian dia mengarahkan nya ke buntilan kain milik nya.


Ternyata perkataan kakek tersebut memang benar, saat Tian Feng mengarahkan berlian hitam tersebut, terlihat sesuatu keluar seperti pusaran angin, namun pusaran tidak bisa dilihat karena Tian Feng hanya bisa merasakannya saja.


Kain buntilan milik Tian Feng dalam waktu singkat menghilang dari hadapan nya, "Sungguh ajaib dan tidak masuk akal!" batin Tian Feng.


"Sekarang keluarkan lagi barang mu itu lewat pikiranmu!" kata si kakek tua tersebut.


Tian Feng segera mengikutinya dan mengeluarkan kain dari dalam cincin tersebut.


"Menarik," kata Tian Feng.


Saat masih terkagum-kagum dengan keunikan Cincin Langit Malam, tiba-tiba saja kakek tua itu memegang tangan Tian Feng sehingga membuat Tian Feng terkejut, Tian Feng ingin menepisnya namun mendadak tubuhnya tiba-tiba saja tidak bisa di gerakkan.


"Hem.. Menyedihkan sekali! Manusia yang memiliki takdir sebagai penyelamat alam semesta ternyata sangat selemah ini!" kata Kakek tua itu dan kemudian dia melepaskan genggaman tangannya dari lengan Tian Feng.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Penyelamat alam semesta mana yang kamu maksud, apakah Kerajaan Wu atau seluruh dunia ini?" tanya Tian Feng.


"Aku tahu ini terdengar sangat aneh bagimu, namun suatu hari nanti kamu akan secepatnya mendapatkan semua jawabannya! Untuk saat ini aku hanya bisa menyampaikan pesan sekaligus menyerahkan mata Tombak ini padamu! Owh iya dengan kekuatanmu saat ini kamu tidak akan bisa menjaga pusaka itu, jadi biar aku memberikan sedikit tambahan energi padamu!" kata sang Kakek.


"Tambahan Energi? Apa maksudmu mau membantu menambahkan lingkaran Chi ku?" tanya Tian Feng.


"Anggap saja demikian! Apa kamu pikir kamu akan mampu bertahan jika ada mahluk lain yang ingin merebut Pusaka itu dari mu?"


"Mahluk apa? Jika untuk para Pendekar selama mereka bukan Pendekar yang berada di tingkat Pendekar Cahaya Tahap 3, aku masih mampu untuk melawannya!" jawab Tian Feng dengan sangat yakin.


"Owh benarkah, bagiamana jika yang akan merebut pusaka memiliki Kekuatan setidaknya dibawah diriku?" tanya Kakek tua tersebut.


Tian Feng menyipitkan matanya, sejak awal dia sama sekali tidak merasakan kekuatan dari kakek tersebut, namun pastinya kakek itu bukanlah manusia biasa, semua itu terlihat oleh waktu yang bisa berhenti dan juga bisa mengeluarkan benda dari ruang hampa.


"Jangan ragu, sekarang coba kamu serang aku dengan seluruh kemampuan mu!" kata Kakek tersebut.


"Aku tidak mau menyerang seorang kakek tua sepertimu, apa lagi jika sampai aku menggunakan kekauatan penuh, bisa-bisa kamu akan terluka hanya dengan satu jurus saja!" kata Tian Feng.


Kakek tua itu terkekeh mendengar perkataan Tian Feng, "Hahaha...! Kalau begitu ayo buktikan ucapan mu itu," kata si kakek kemudian dia meletakkan Ke-dua tangannya di belakang pinggang.


Tanpa ragu lagi Tian Feng mulai menyerang si kakek itu dengan jurus Singa Suci. Tian Feng yakin bisa mengalahkan kakek tua itu dengan sekali serang.


"Kuku Singa Marah."


Tian Feng menyerang kakek tersebut dengan cakaran Singa, gerakannya sangat cepat, namun sayang serangan Tian Feng sama sekali tidak bisa mengenai kakek tua itu.


"Mustahil! Kenapa aku merasa dia seperti mengetahui gerakan ku?" batin Tian Feng kemudian kembali menyerang kakek itu dengan jurus Singa Suci lainnya.


Namun sayang semua jurus Singa Suci bisa di hindari dengan mudah, bahkan kakek itu sama sekali tidak melepaskan ke-dua tangan yang masih berada di belakang pinggang.

__ADS_1


"Taring Iblis."


"Tapak Raja Iblis Neraka."


Tian Feng kini mengganti jurusnya dengan jurus andalannya, kali ini tingkat kecepatan dan serangan Jurus Iblis Neraka lebih kuat dari sebelumnya.


"Apakah hanya segini saja kemampuan mu?" tanya si Kakek tersebut sambil menguap.


Tian Feng merasa keheranan, padahal Jurus Iblis Neraka tidak pernah gagal dalam membunuh lawannya, namun kali ini sungguh tidak masuk akal.


"Ketahuilah aku bisa mengalahkan mu hanya dengan satu ketukan jari saja, apa kamu mau mencobanya?" tanya si Kakek.


"Kau belum melihat semua jurus-jurusku, sekarang lihat jurus baru yang aku miliki," Tian Feng kini merubah gerakannya menjadi lebih lentur.


"Hahaha... Kau sungguh sangat lucu sekali, tanpa meminum apapun yang beralkohol tiba-tiba saja kamu bergerak seperti orang yang sedang mabuk!" kata si Kakek sambil tertawa geli.


Tian Feng memang mengubah gerakannya dan menggunakan jurus mabuk yang baru ia kuasai.


Pada dasarnya jurus mabuk adalah jurus yang terlihat seperti tidak terarah dan sangat sulit untuk di baca gerakannya, namun bagi si Kakek semua itu sangat mudah baginya untuk di hindari.


"Kau masih belum mau menyerah juga? Baiklah kalau begitu!" kata si kakek kemudian dia menahan serangan Tinju Mabuk milik Tian Feng dengan satu tangan saja.


Tian Feng kesulitan untuk melepaskan tangannya yang seperti sedang di ikat oleh tali yang sangat kuat.


Si kakek tua itu mengangkat satu jarinya kemudian dia mengarahkan jari tersebut ke arah dada Tian Feng yang masih kesulitan melapaskan diri.


Kakek tersebut tersenyum tipis kemudian dengan gerakan pelan dia memberi serangan ketukan jari yang sangat pelan sekali.


Tubuh Tian Feng terlempar sangat jauh sekali saat terkena serangan satu ketukan pelan tersebut.


Tian Feng jatuh berguling di atas tanah, dia memegang dadanya yang terasa sangat sakit sekali.


"Apa yang barusan dia lakukan?" gumam Tian Feng sambil meringis menahan rasa sakit di dadanya.


"Bagaimana apakah kamu masih yakin dengan kemampuan mu yang lemah itu?" suara si kakek terdengar sangat dekat.


Tian Feng buru-buru bangkit dan memasang kuda-kuda, dia melihat kesekelilingnya namun tidak menemukan keberadaan kakek tersebut.


"Siapa yang kamu cari?" tanya Kakek tersebut.


Tian Feng menoleh ke atas dan terkejut saat melihat si kakek tua itu sedang mengambang di udara seolah-olah kakek itu menginjak udara.


Tian Feng mengusap-usap matanya berkali-kali, dia merasa tidak percaya melihat semua itu, "Dia tidak mungkin terbang bukan? Mana ada manusia bisa terbang, bahkan Pendekar Cahaya Tahap 3 sekalipun tidak akan bisa melayang seperti itu!" gumam Tian Feng.


Sekarang Tian Feng jadi diam mematung saat melihat si kakek itu turun secara perlahan-lahan dan mendarat dengan sangat pelan di hadapannya.


"Si.. siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu ini hantu atau siluman jadi-jadian?" tanya Tian Feng.


"Aku akan menjawab pertanyaan mu saat kita bertemu lagi untuk yang ke-dua kalinya nanti, sekarang aku hanya ingin memberimu tambahan kekuatan agar kamu bisa melindungi pusaka itu hingga Dewa Pelindung Alam Semesta datang menemui mu," kata si Kakek kemudian dia memegang tangan Tian Feng.


"Energi mu akan aku tambah, jadi tahanlah saat energi ini masuk ke dalam dirimu," kata si Kekek.


"Tunggu dulu! Apa yang akan terjadi jika aku tidak bisa menahan energi atau Chi yang akan kamu berikan padaku?" tanya Tian Feng yang ragu.


"Tidak ada, hanya saja kamu akan merasakan tubuh mu di penuhi oleh energi, dan nanti saat kamu sudah selesai menerima energi ini, kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan, dan kamu nanti juga bisa melayang di udara seperti diriku walau ilmu mu masih belum sempurna," kata kakek tersebut kemudian dia mulai mengalirkan energinya kepada Tian Feng.


Tian Feng merasa ada sesuatu yang sangat hangat memasuki tubuhnya, semakin lama tubuh Tian Feng semakin bergetar karena dia merasa Chi nya yang semakin bertambah.


Tubuh Tian Feng serasa mau meledak hingga Tian Feng berteriak sangat keras, kakek tua itu melapaskan tangannya dan kemudian Tian Feng jatuh berlutut karena tubuhnya serasa sangat berat sekali.


"Sekarang kekuatanmu sudah bertambah, jadi gunakanlah kekuatan mu itu untuk belajar cara menggunakan tombak agar nanti saat tombak Nirwana sudah terbentuk dengan sempurna, kamu sudah bisa menggunakannya!" kata kakek tersebut sambil menepuk pundak Tian Feng yang masih berlutut.


"Lima tahun lagi temuilah aku di puncak gunung Api, disana aku akan mengajarkanmu cara mencapai kekauatan tingkat Dewa, ingat Lima Tahun lagi aku akan menunggumu di sana!" kata kekek tersebut kemudian dia menjentikkan jarinya dan waktu yang sejak tadi berhenti kembali berjalan normal.

__ADS_1


Tian Feng mengangkat wajahnya dan melihat kearah kakek itu, namun ternyata kakek aneh itu sudah menghilang seperti tidak pernah ada.


__ADS_2