Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Pertarungan Aura


__ADS_3

Tian Feng masih ingat jika Perguruan Pedang Matahari diisukan sedikit berbeda, walau Perguruan Pedang Matahari disebut sebagai Perguruan Aliran Suci, namun kinerja dan tugas mereka sedikit melenceng dari aliran Suci.


Perguruan Pedang Matahari adalah salah satu dari sekian banyak perguruan yang melenceng dari garis jalurnya, walau tidak terlalu mencolok, namun perbuatan tiga murid Perguruan Pedang Matahari di hadapan Tian Feng sudah menjawab jika isu itu memang benar adanya.


Ketiga murid Perguruan Pedang Matahari yang berdiri dihadapan Tian Feng dan Ho Chen sama-sama menarik pedang mereka dengan tatapan marah.


"Beraninya kamu menyebut nama Guru Bao He dengan namanya, apakah kamu sudah bosan hidup?" pria berkumis tipis yang sudah merasa baikan juga memungut kembali pedangnya dan menunjuk wajah Tian Feng dengan sedikit takut.


Kedua rekannya juga sama-sama menghunuskan pedang, tatapan marah kepada Tian Feng yang sudah berani menyebut nama guru mereka seakan-akan menghinanya secara terbuka.


Ditambah lagi melihat usia kedua pria itu dimana Tian Feng terlihat berusia dua puluh tahun dan yang satu terlihat berusia dua puluh lima tahun, itu sudah terdengar sangat menghina guru serta perguruan mereka.


"Lalu aku harus memanggil pria tua itu dengan apa? Bukankah namanya memang Bao He?" Tian Feng justru melontarkan pernyataan yang membuat ketiga serasa diprovokasi.


"Mati saja kau!" seru pria yang rambutnya diikat sangat rapi kemudian dia menyerang Tian Feng yang masih duduk santai bersama Ho Chen yang sejak tadi hanya diam.


Pedang pria itu dengan cepatnya maju lurus tanpa hambatan ke arah Tian Feng, namun saat melewati tubuh Ho Chen, ada siluit gerakan aneh melesat melewati pria tersebut.


Pria tersebut langsung berhenti menyerang karena terkejut dan juga bingung, dia menoleh kesamping dimana tadi disitu ada satu pria lagi sedang duduk, namun sekarang justru tinggal kursinya saja.


"Nona bangunlah, jangan takut kami tidak berniat buruk!"


Semua tatapan orang-orang disana termasuk pria yang ingin menyerang Tian Feng dan dua rekannya sama-sama menoleh kearah pemuda yang sudah muncul di dekat gadis yang masih ketakutan meringkuk di samping kursi dengan lengan bajunya yang sudah robek.


"Bagiamana dia bisa pindah kesana?"


Pertanyaan itu mulai terdengar dari gumaman banyak orang, cara yang Ho Chen lakukan seperti seorang pendekar yang berkemampuan sangat tinggi.


Pria yang ingin menyerang Tian Feng menarik kembali pedangnya hanya untuk mundur kembali bersama kedua rekannya.


"Kakak, pemuda itu sepertinya seorang Pendekar berilmu tinggi, mungkin seorang Pendekar Cahaya! Sebaiknya kita kembali saja dan melaporkan penghinaan ini kepada para guru!" kata Pria berambut sangat rapi itu.


"Kamu benar adik, melihat cara dia bergerak tanpa terlihat setidaknya dia berada di tahap dua atau tiga, ini bukan tandingan kita!" kata pria yang tadi kemasukan tulang ikan.


"Kembali dan menangislah kepada guru kalian, katakan kepada Bao He si Pendekar Pedang Tumpul itu, bilang jika tidak bisa merubah sifat kerja perguruan kalian, suruh keluar dari aliran Suci!" kata Tian Feng kemudian dia mengibaskan tangannya dan energi angin keluar mendorong ketiga murid tua itu hingga mundur.


Ketiga murid itu terkejut bukan main, sampai disini mereka juga baru sadar jika Tian Feng juga seorang Pendekar Cahaya terlepas dari usianya yang masih muda.


"Kami pasti akan kembali, setelah semua guru kami datang, kalian berdua pasti akan menerima akibatnya!" setelah berkata seperti itu, ketiga murid tersebut bergegas pergi.


Gadis yang tadi dilecehkan mulai sedikit tenang, setelah itu dia menatap Ho Chen dan Tian Feng secara bergantian sebelum akhirnya gadis itu bersujud untuk berterima kasih.


"Terima kasih atas bantuan dua Tuan Muda!" ucapnya yang mau bersujud.


Ho Chen buru-buru meraih gadis tersebut kemudian membantunya berdiri, "Tidak perlu bersujud seperti itu Nona!" kata Ho Chen.


Gadis tersebut membungkukkan pelan sebelum akhirnya dia pamit untuk masuk mengganti pakaiannya.


"Kenapa kamu tadi harus menghina gurunya juga? Dengan memberikan mereka pelajaran jera saja seharusnya sudah cukup!" kata Ho Chen.


"Perguruan yang melenceng dari aliran seperti itu tidak pantas untuk mendapatkan pujian atau penghormatan!" jawab Tian Feng.


Semua orang-orang yang masih berada disana satu-persatu mulai keluar karena takut, mereka yakin tidak lama lagi anggota Perguruan Pedang Matahari pasti akan datang, dan tempat itu pasti akan menjadi tempat pertarungan.


"Tuan Muda! Kenapa Tuan Muda berani menyinggung Perguruan Pedang Matahari? Mereka pasti tidak terima dengan penghinaan ini dan pasti akan mencari kalian kesini," kata wanita yang rambutnya mulia memutih.

__ADS_1


"Aku hanya mau menolong gadis yang mau dilecehkan itu saja!" jawab Tian Feng kemudian bangkit.


"Tunggu Tuan Muda, saya tahu niat tuan baik, tapi alangkah baiknya jika tidak ikut campur, sekarang mereka pasti akan menuju kesini, dan jika mereka tidak menemukan kalian disini, rumah makan saya ini pasti akan di acak-acak!" kata wanita tersebut kepada Tian Feng yang terlihat mau pergi.


Tian Feng yang tidak jadi melangkahkan kakinya menoleh kearah wanita itu dengan alis mengkerut, "Apa maksud nyonya? Apakah ketiga pria berumur 30 tahunan itu akan dibiarkan saja melecehkan seorang gadis di hadapan banyak orang?" tanya Tian Feng.


Wanita tersebut tersenyum kecut dengan wajah tak berdaya sekaligus menjawab pertanyaan Tian Feng.


"Kejadian ini bukan yang pertama kalinya terjadi Tuan Muda, ketiga orang dari Perguruan Pedang Matahari itu sudah sering melecehkan para gadis-gadis di desa kami ini, bahkan secara terang-terangan memperkosa mereka secara bergilir di keramaian tanpa ada orang yang berani menolong para korban, pada akhirnya para gadis yang menjadi korban mati gantung diri karena kehormatan mereka sudah direnggut!" kata wanita tersebut yang menjelaskan akan ulah para orang-orang dari Perguruan Pedang Matahari.


"Biadap! Kenapa mereka bisa di bilang dari aliran Suci, padahal tingkah mereka lebih mirip binatang!" kata Ho Chen yang pada akhirnya ikut geram.


"Lalu apa pendapat guru, apakah perguruan sekaligus guru mereka masih tidak pantas untuk dihina?" tanya Tian Feng dengan tersenyum penuh makna.


Wanita tersebut tertegun saat Tian Feng memanggil Ho Chen dengan panggilan Guru, padahal umur mereka terlihat tidak terpaut terlalu jauh.


"Kali ini iya? Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan terhadap mereka nanti!" jawab Ho Chen yang membuang muka.


"Kalau begitu aku akan menunggu mereka diluar saja!" kata Tian Feng kemudian dia melangkah keluar dari rumah makan.


Wajah Ho Chen juga terlihat suram, dia memang tidak suka jika ada orang-orang yang berkelakuan bejat dan melewati batas perikemanusiaan.


***


Tian Feng duduk di kursi penjual permen yang berada di depan rumah makan tersebut. Ho Chen juga terlihat keluar dari rumah makan kemudian dia menghampiri Tian Feng.


"Apakah para Dewa seperti guru tidak suka membunuh?" Tian Feng bertanya karena dia melihat sifat gurunya yang lembut, namun terkadang menyeramkan saat sedang marah.


"Tidak juga! Aku membunuh jika merasa musuhku pantas untuk dibunuh," jawab Ho Chen.


"Beri dulu mereka pelajaran dan beri peringatan, jika mereka menurut dan mau berubah, maka beri mereka kesempatan, namun tetap berada dibawah pengawasan, jika memang tidak mau dan keras kepala, itu artinya hati mereka sudah tertutup, dan kamu pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan!" kata Ho Chen.


Senyum Tian Feng melebar mendengar hal itu, karena saat ini semua gerakannya sudah berada di bawah bimbingan dan pengawasan Ho Chen, tentu Tian Feng tidak bisa berbuat sesuka hati lagi seperti dulu.


Dia harus meminta ijin dulu sebelum bertindak, jika tidak Tian Feng tidak mau menerima ketukan jari lagi dari Ho Chen.


Jalan yang cukup ramai dengan orang yang berlalu-lalang mulai meminggir saat segerombolan orang mengenakan baju putih datang dengan membawa pedang.


Mereka berjumlah sekitar 20 orang, dua diantaranya memiliki kemampuan Pendekar Cahaya, dan yang lain berada di Tingkat Tengah dan Atas.


"Itu mereka guru..!" kata pria berkumis tipis menunjuk kearah Tian Feng dan Ho Chen.


Seorang pria sedikit sepuh yang masih berjalan segera menatap kearah keduanya, sedangkan wanita tua yang berada di samping pria sepuh juga menatap Tian Feng dan Ho Chen dengan tatapan tidak percaya.


Setelah tiba di depan Tian Feng dan Ho Chen pria sepuh mulia melemparkan pertanyaan dengan tatapan acuh tak acuh.


"Siapa diantara kalian yang sudah berani menghina Senior Bao He dan juga menyerang murid Pedang Matahari?" tanya Pria sepuh tersebut.


Tian Feng dan Ho Chen sama-sama bangun dengan tenang kemudian Ho Chen lebih dulu menyapa mereka dengan lembut.


"Senior! Semua ini terjadi karena murid itu berbuat tindakan pelecehan terhadap seorang gadis, karena itu kami mencegahnya!" jawab Ho Chen.


"Siapa yang peduli akan apa yang sudah murid kami ini lakukan tadi? Yang aku tanyakan siapa yang berani menghina Senior Bao He?" pria sepuh membentak Ho Chen.


"Aku yang menghina si Tua Bao He! Kenapa?" Tian Feng yang kesal karena bentakan pria tua itu kepada Ho Chen balik menjawab dengan nada dingin.

__ADS_1


"Hahaha.. Anak muda jaman sekarang sungguh tidak tahu bagaimana cara berbicara kepada orang yang lebih tua! Aku dengar tadi kalian berdua adalah seorang Pendekar Cahaya, tapi sepertinya kalian tidak lebih dari seekor anak kambing yang berteriak dikandang Srigala!" Wanita Tua yang sejak tadi hanya memperhatikan juga ikut angkat suara.


"Guru tidak perlu menjawab, biar aku saja yang menjawab dan mengurus mereka!" kata Tian Feng saat Ho Chen mau membuka mulutnya.


"Omong kosong! Mana ada seorang guru dan murid memiliki umur hampir segenerasi?" pria tua itu tersenyum mengejek saat Tian Feng memanggil Ho Chen dengan panggilan 'Guru.'


"Urusan kalian adalah denganku, jadi berhentilah berbicara! Sekarang kalian sudah tahu bukan kalau aku yang sudah menghina Bao He, lalu kemana si Tua itu, apakah dia menyembunyikan pantatnya dan tidak berani datang sendiri kesini?" kata Tian Feng.


Jalan yang awalnya banyak orang menonton perdebatan segera menjauh karena mereka mencium aroma pertarungan dan mereka menjauh sejauh mungkin agar tidak menjadi sasaran serangan buta.


"Mulut tajam mu ini sungguh tidak pernah di ajari sopan-santun, baik aku yang tua ini ingin tahu apakah nyalimu sama seperti ucapanmu!" kata Pria tua itu kemudian dia melepaskan Aura yang tidak asing di mata Tian Feng.


"Aura Pedangmu cukup lumayan dengan tingkat kekuatanmu yang berada di Tingkat Cahaya Tahap 1, tapi...!"


Ho Chen melepaskan Aura Kematian nya yang cukup untuk membuat para murid di belakang kedua orang tua itu berkeringat dingin, bahkan kedua orang tua itu juga sama-sama terkejut saat merasakan dampak dari aura asing berwarna kemerahan itu.


"Aura apa ini? Tekanannya lebih mengerikan dari Aura Pedangku!" kata Pria sepuh tersebut namun dia tetap mempertahankan Aura Pedang nya.


Wanita tua disampingnya juga merasa tidak nyaman dengan Aura yang dikeluarkan oleh Tian Feng, dia melihat aura itu seperti Dewa Kematian yang akan mencabut nyawanya.


Wanita tua itu akhirnya juga melepas Aura Pedangnya untuk menekan balik Aura Pembunuh milik Tian Feng sehingga dua warna Aura merah dan putih saling menekan.


Pertarungan Aura yang berbenturan itu menyebar membuat getaran kecil di sekitar tempat itu, bahkan air didalam kendi ikut beriak sebelum akhirnya pecah berserakan.


Kedua Pendekar dari Pedang Matahari mencabut pedang mereka kemudian mulai mengayunkannya menyerang Tian Feng, sedangkan Tian Feng mengeraskan kelima jarinya.


"Pedang Sinar Langit."


Kedua Pendekar Cahaya tersebut menyerang dengan pedang yang sama-sama dialiri Chi dan memberikan satu serangan tebasan kuat dari depan dan samping.


"Kuku Singa Marah."


Kedua pedang yang hampir sampai ketubuh Tian Feng langsung ditahan dengan jari-jari yang berbentuk cakaran.


Wajah kedua Pendekar tersebut menjadi buruk saat melihat jurus yang di gunakan oleh Tian Feng.


"Singa Emas! Pemuda ini dari Perguruan Singa Emas!" Wanita Tua itu tidak menyembunyikan keterkejutannya.


Semua murid yang ada di belakang juga terkejut setelah guru mereka menyebutkan asal jurus yang di gunakan oleh Tian Feng.


Kedua Pendekar tersebut segera melompat mundur dan menjaga jarak dari Tian Feng namun wajah mereka masih menegang.


"Sejak kapan Perguruan Singa Emas memiliki Penderkar Cahaya yang masih sangat muda?" tanya Pria tua itu.


"Entahlah, mungkin dia salah satu kekuatan yang disembunyikan yang mampu merubah bentuk tubuh menjadi muda seperti Panglima Dewa Perang Wei Fang!" jawab Wanita itu.


"Ini buruk, jika sampai Perguruan Singa Emas mengetahui ini, maka Perguruan Singa Emas pasti akan datang mengetuk pintu Perguruan kita!"


Setelah berkata demikian kedua pendekar itu saling berpandangan sebelum akhirnya menurunkan pedang mereka dan menarik Aura Pedang masing-masing kemudian berusaha berbicara sopan kepada Tian Feng.


"Ah Pendekar Muda, maafkan semua ini memang salah paham! Kami yang tua ini sungguh tidak bisa melihat dengan jelas," kata Pria tua itu yang mencoba untuk berdamai setelah tahu kekuatan yang ada di belakang Tian Feng.


Tian Feng yang sejak tadi hanya tenang setelah berhasil menahan satu serangan keduanya memasang wajah dingin, dia belum manarik seluruh Aura Kematian nya sehingga kedua Pendekar tersebut masih merasa tidak nyaman.


"Iya mungkin ini salah paham, tapi perbuatan murid kalian itu bukanlah sebuah kesalah pahaman semata, melainkan adalah kesengajaan, lagi pula kalian sendiri juga bilang jika kalian tidak peduli akan apa yang sudah murid-murid kalian lakukan bukan? Itu bukan lagi salah paham, namun kesalahan fatal!" kata Tian Feng.

__ADS_1


Kedua orang itu saling berpandangan sekali lagi, melihat cara bicara Tian Feng, sepertinya masalah ini tidak mungkin bisa di damaikan dengan mudah.


__ADS_2