Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Ambisi Carolus


__ADS_3

Qian He kebingungan saat melihat ada kilatan-kilatan cahaya yang bergerak secara acak, gerakan kilatan cahaya itu tidak tentu arah itu juga sangat sulit untuk di lihat dengan mata, bahkan Qian He yang berada di tahap Dewa Bumi sekalipun juga tidak bisa melihat gerakan kilatan cahaya tersebut.


"Jangan bermain-main denganku manusia bodoh!"


Qian He melebarkan sayapnya kemudian melepaskan gelombang kejut dari energi yang ia miliki untuk menghentikan gerakan kilatan cahaya tersebut. Gelombang kejut yang sangat kuat serta memiliki daya dorong tinggi nyatanya tidak mampu menghentikan gerakan Kilatan cahaya tersebut.


Setalah bergerak secara acak, dengan kecepatan kilat cahaya tersebut tiba-tiba saja melesat tanpa diketahui oleh Qian He sehingga cahaya tersebut tiba-tiba saja menghantam tubuh Qian He dari arah samping.


Udara tiba-tiba seperti di tarik keatas sebelum akhirnya terdorong kembali saat ledakan besar tercipta dari kilatan cahaya aneh yang membentur tubuh Qian He dari samping.


Bomm...!!!


Ledakan super dahsyat tercipta tepat ketika kilatan cahaya itu membentur tubuh Qian He, bahkan Qian He sendiri tidak sempat membuat pelindung energi untuk tubuhnya sehingga ledakan besar itu secara langsung menelan tubuhnya.


Yang terdengar hanya suara ledakan besar saja yang membuat banyak retakan dari tanah saat bergetar, bahkan langit pun seolah-olah akan retak karena besarnya ledakan tersebut.


Suara teriakan Qian He sekalipun yang berada di dalam ledakan juga tidak bisa didengar oleh siapapun sehingga langit seperti malam hari karena tertutup oleh asap tebal yang menyebar ke penjuru langit.


Ho Chen juga terkejut melihat ledakan besar tersebut, sepintas dia bisa merasakan ada gabungan tiga energi elemen yang terkandung dari kilatan cahaya tersebut, energi tersebut adalah gabungan dari Air, Tanah, dan Api.


"Tian mempelajari ilmu mengerikan ini dari siapa?" gumam Ho Chen, dia sendiri sempat membayangkan jika dirinya sendiri yang berada di posisi Qian He pasti akan mengalami luka jika terkena ledakan besar itu secara langsung.


Semua mata orang yang tertegun melihat ledakan dahsyat dan menunggu hasil akhir dari bekas ledakan tersebut, anehnya tubuh Tian Feng yang sebelumnya seperti tubuh ilusi kini kembali bisa bergerak.


"Sebesar inikah ledakannya?"


Tian Feng sendiri selaku pencipta ilmu tersebut juga terkejut melihat hasil ilmu gabungan ciptaannya sendiri. Saat menciptakan ilmu dari gabungan energi tiga jurus yang ia miliki di Dunia dimensi dalam, saat itu dia baru mencapai tahap Dewa biasa, namun saat mencapai tahap Dewa Bumi, ledakannya tiga energi gabungan tersebut lebih menakutkan, kemungkinan besar ledakan itu akan mampu membuat seseorang yang memiliki kemampuan di tahap Dewa Langit sekalipun akan terluka parah.


Kepulan asap hitam yang perlahan-lahan semakin menipis kini memunculkan sosok manusia dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Bulu sayapnya habis terbakar, dan seluruh bajunya hampir hilang dan digantikan oleh kulit yang sudah terkelupas seperti hanya tersisa daging merah.


Tubuh Qian He benar-benar terlihat sangat menyedihkan, seluruh kulitnya terkelupas dengan warna daging merah dengan darah yang menutupi sekujur tubuhnya.


Tian Feng sama sekali tidak terlihat kasihan atau apapun, yang ada hanya ingin secepatnya membunuh Qian He, dengan demikian Aura Kematian yang akan ia dapatkan pasti akan jauh lebih besar mengingat Qian He yang memiliki kekuatan Dewa Bumi.


Tian Feng mengeluarkan Pil pemulihannya dan menelannya sekali lagi, setelah energinya sedikit terisi, dia segera mengeluarkan Tombak Nirwana nya kembali kemudian menatap tubuh Qian He yang mulai jatuh kebawah.


"Dengan ini selesai sudah pertempuran ini!" seru Tian Feng kemudian petir merah segera muncul dari tombaknya.


Mata Qian He yang hampir menutup sempat melihat Tian Feng yang mulai diselimuti oleh petir merahnya, Qian He tidak bisa berbuat apa-apa karena energinya benar-benar sudah tidak ada, terlebih lagi seluruh tubuhnya yang hanya tinggal daging membuat dirinya semakin tidak berdaya. Qian He hanya tinggal menunggu kematiannya saja.


Dengan Tombak Nirwana nya yang sudah diselimuti petir merahnya, Tian Feng melesat dengan mengarahkan ujung tombaknya ke tubuh Qian He.

__ADS_1


"Matilah burung jelek!" seru Tian Feng.


Tanpa bisa melakukan perlawanan sama sekali, mata tombak segera menghujam ketubuh Qian He yang meluncur ke bawah, dengan tanpa belas kasihan sedikitpun, Tian Feng menusuk jantung Qian He hingga mata Tombaknya tembus kebagian belakang.


Qian He sempat mengeluarkan suara erangan kesakitan, namun suaranya sangat lemah dan pada akhirnya Qian He mati dengan tubuh masih berada di tombak Tian Feng dan petir merah segera menyebar keseluruh tubuh Qian He.


Setelah Aura Merah samar-samar memasuki tubuh Tian Feng, tubuh Qian He langsung hancur menjadi debu, bahkan Spritual Qian He sekalipun ikut lenyap karena petir merah dari Tombak Nirwana.


Melihat Tian Feng membunuh Qian He dengan sangat sadis hingga tidak ada sedikit tubuh pun yang tersisa, Ho Chen sama sekali tidak berkomentar, dia hanya tersenyum tipis kepada Tian Feng.


Menurutnya Apa yang dilakukan oleh Tian peng adalah hal yang wajar, sebab makhluk sekejam Qian He tidak pantas untuk tetap dibiarkan hidup lebih lama lagi, sebab jika tetap dibiarkan hidup kelak di masa depan Qian He akan menjadi ancaman besar berikutnya, bisa jadi sebagai pengganti Sao Lao Cin.


Tian Feng turun secara perlahan ke arah Ho Chen, setibanya di tempat Ho Chen Tian Feng hanya tersenyum canggung, "Guru..!" sapa Tian Feng.


"Tian kenapa apa kamu masih berada di tahap Dewa bumi? Apakah kamu tidak pernah berlatih


semenjak aku pergi?" tanya Ho Chen.


"Guru, mana bisa aku sanggup naik ketahap yang lebih tinggi dalam waktu dua bulan saja, bisa mencapai ketahap Dewa Bumi saja masih untung, jika tanpa Api Teratai Buddha Emas pemberian guru Yao Shan, mana bisa aku akan mencapai tahap Dewa Bumi!" jawab Tian Feng.


Ho Chen tersenyum lembut kemudian berkata, "Aku hanya bercanda! Baiklah karena pertempuran disini sudah selesai, aku akan menyusul Senior Lio Long dulu, kamu bantu para pendekar yang membutuhkan bantuan disini!" kata Ho Chen kemudian dia menjentikkan jarinya tanpa menunggu jawaban Tian Feng.


"Eh..! Alice bagaiamana?" Tian Feng teringat akan Alice yang sebelumnya memancing kakeknya agar kakeknya tidak ikut mati dalam pembantaian masal Api Teratai Buddha Emas.


Tian Feng segera memeriksa keberadaan Alice dan Luois, namun dia tidak bisa merasakan keberadaan Alice sehingga Tian Feng menggunakan Mata Dewa nya untuk mencari Alice.


Setelah melihat kesegala penjuru, Tian Feng berhasil menemukan keberadaan Alice yang berada di tempat yang sangat jauh. Tian Feng mengerut alisnya saat melihat Alice dan Louis terlihat tidak bertarung, mereka terlihat seperti mengobrol layaknya keluarga dan seperti tidak ada permusuhan sama sekali.


"Aneh!" gumam Tian Feng kemudian dia menggunakan Sihir Ruang Waktu untuk pindah ketempat Alice berada.


***


Alice yang terbang menjauhi wilayah reruntuhan kuno di kejar oleh Louis, mereka berdua saling kejar-kejaran di udara hingga akhirnya Louis menggunakan Sihir Ruang Waktunya untuk berpindah di hadapan Alice.


"Alice berhenti..!" kata Louis yang sudah berada di hadapan Alice.


"Kakek! jika kakek masih ingin membawaku pulang, aku akan menolak dan akan melawan kakek!" kata Alice.


"Alice dengarkan aku dulu!" kata Louis berusaha berbicara kepada Alice.


Alice segera melepaskan energinya kemudian bersiap untuk bertarung melawan Louis, namun Louis sama sekali tidak melepaskan energinya dan terlihat tidak ingin bertarung melawan Alice.

__ADS_1


"Alice, aku tahu kamu masih mencurigaiku dan menganggap jika aku mengejarmu karena ingin menangkapmu, akan tetapi sungguh aku tidak berniat untuk melakukan semua itu!" kata Louis.


"Apakah aku harus percaya, sebelumnya Hikari dan dua orang lainnya untuk menangkapku hidup atau mati. Lalu sekarang kakek tiba-tiba ingin bersikap baik agar aku terkena jebakan mu? Itu tidak akan pernah terjadi!" kata Alice.


Louis menatap Alice dengan tatapan yang mengandung kasih sayang, dia benar-benar tidak ingin mencelakai cucu satu-satunya yang sudah ia rawat sejak kecil, "Alice, semua itu bukanlah atas perintahku, melainkan perintah leluhur!" jawab Louis kemudian dia mendekati Alice yang masih sangat waspada padanya.


"Aku mengejarmu karena ingin memberitahukanmu agar kamu sebisa mungkin bersembunyi untuk sementara waktu, sebab Leluhur kita saat ini benar-benar sangat marah saat Arthur memberikannya kabar akan penghianatanmu kepada Leluhur, sejak saat itu dia mulai memberikan perintah agar menangkapmu hidup atau mati!" kata Louis.


"Lalu apa tanggapan kakek? Apakah kakek juga berusaha ingin menangkapku juga?" tanya Alice.


Louis tersenyum kemudian dia menggelengkan kepalanya seraya menjawab, "Aku sama sekali tidak ingin melakukan itu, aku sendiri sebenarnya juga tidak berdaya sehingga hanya bisa menuruti akan apa yang leluhur perintahkan!" kata Louis.


Alice menaikkan alisnya seperti tidak bingung antara percaya atau tidak, dia ingin mengatakan sesuatu namun tiba-tiba saja sebuah getaran kuat serta suara ledakan dilangit terdengar dan terasa hingga ketempat Alice berada.


Louis juga sama terkejutnya, walau dia tidak tahu apa yang telah terjadi, namun Loius tetap berusaha untuk berbicara kepada Alice.


"Alice! Kakek hanya ingin mengatakan padamu jika bisa kamu bersembunyi, saat ini leluhur Carolus akan turun tangan akan mencarimu sendiri!"


Loius berkata jika Carolus saat ini benar-benar berbeda dengan Carolus terdahulu, saat ini Carolus benar-benar tidak peduli akan garis keturunan keluarga semenjak Carolus keluar dari latihannya. Ambisi Carolus ingin mendapatkan kekuatan yang sangat tinggi membutakan akal dan pikirannya sehingga dia tidak peduli akan keturunan terakhir keluarganya.


Jangankan untuk melanjutkan garis keturunan terakhirnya untuk tetap hidup, bahkan Carolus juga sudah menganggap Louis seperti bukan keluarganya lagi. Semenjak Pengawal Penjaga Gerbang Utara dan Setan Api Hitam membawa sosok lain dari dunia lain, sejak itulah Carolus berubah.


Louis tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Carolus berubah, yang ia tahu saat ini Carolus benar-benar sudah menjadi orang lain, apakah karena keserakahannya akan kekuatan atau hal lain, yang jelas Carolus akan memburu Alice yang memiliki kekuatan pelepasan Tanda Segel Kesetiaan.


Mendengar cerita tersebut, Alice perlahan-lahan kembali menarik energi kembali, Alice turun dan kemudian disusul oleh Louis.


"Jadi itu alasan yang sebenarnya?" tanya Alice yang dijawab dengan anggukan oleh Louis.


"Mungkin setelah leluhur berhasil mengambil kekuatanmu, setelah itu mungkin adalah giliranku karena manusia yang memiliki kekuatan Pelepasan Tanda Segel Kesetiaan hanya leluhur, aku dan kamu! Jika kita tetap dibiarkan hidup, mungkin leluhur dan para Pengawal Yang Mulia Dewa Kegelapan takut jika nanti kita berbalik dan melepaskan semua Tanda Segel Kesetiaan di setiap orang!" kata Louis.


"Lalu kenapa kakek tidak keluar saja dan pergi dari organisasi ini?" tanya Alice.


Loius tersenyum lembut kemudian dia mengusap kepala Alice, "Aku tetap bertahan agar bisa menjagamu dari rencana leluhur, jika kamu sudah berhasil selamat, mungkin leluhur akan menargetkan diriku! Aku tidak akan pernah takut karena yang paling penting adalah keselamatan dirimu!" kata Louis.


Mata Alice serasa lembab mendengar kata-kata Louis, dia tidak menduga jika Louis diam-diam melindungi dirinya dari jauh, sekarang dia sendiri merasa tidak tenang jika pada akhirnya Louis harus berakhir ditangan Carolus yang sejak dulu sudah mereka hormati.


Alice ingin mengucapkan sesuatu, namun tiba-tiba saja ada yang muncul di atas mereka. Alice dan Louis sama-sama menoleh ke udara dan mereka melihat seperti pria mengenakan penutup kepala dengan wajah yang juga ditutup oleh kain.


"Alice apakah kamu baik-baik saja?" tanya pria tersebut yang tidak lain adalah Tian Feng.


"Aku baik-baik saja Tian!" jawab Alice sedangkan Louis langsung menjadi waspada.

__ADS_1


__ADS_2