
Ho Chen setuju akan usul Azura yang ingin menangkap salah satu dari dua Panglima yang masih bertahan dari serangan Gaozu dan Qinpi.
Azura tidak mengulur waktu lagi, dia dengan cepat berpindah tempat untuk membunuh salah satu dari Pengawal Dua Pedang dan akan menangkap salah satu dari mereka untuk mengorek informasi.
Setelah Azura turun tangan sendiri, Ho Chen yang masih penasaran akan sosok yang ditakuti oleh Energi Hitam kini menatap kelangit.
"Apakah sosok yang ditakuti oleh Energi Hitam itu berada disini?" batin Ho Chen dengan menatap langit.
Awalnya Ho Chen mengira jika Energi Hitam takut ketahuan oleh sang Buddha, namun Ho Chen sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehadiran sang Buddha.
"Apakah yang di takuti adalah Tian? Tapi itu tidak mungkin sebab kekuatannya masih berada dibawah An Huang Yi!"
Mustahil rasanya jika Energi Hitam yang memiliki kemampuan misterius itu harus takut terhadap Tian Feng, sebab An Huang Yi saja yang berada di puncak Rana Agung juga tidak berdaya saat Energi Hitam itu menekan semuanya dengan jarinya.
Karena keduanya tidak ada yang meyakinkan Ho Chen, dia akhirnya pindah ke pada Xihua Putri Tian Feng dan Alice, sebab Xihua juga memiliki kekuatan kegelepan yang murni, namun setelah itu Ho Chen menggelengkan kepalanya.
"Tidak bukan anak itu!" gumam Ho Chen yang menepis anggapannya sendiri.
Ho Chen ingin menyusul Wang Dunrui yang sudah bergabung bersama yang lainnya menyerang Pasukan Hewan Iblis Ajaib, namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, Ho Chen merasakan ada sesuatu di balik awan sehingga secara refleks dia menoleh keatas.
"Cahaya apa tadi itu..!?"
Ho Chen melihat ada cahaya yang melesat keluar dari balik awan, namun dia hanya bisa melihat sekilas saja karena cahaya itu terlalu cepat, bahkan mata dewa nya sekalipun tidak mampu melihat cahaya tersebut.
Karena rasa penasarannya, Ho Chen langsung terbang melesat mengejar Cahaya misterius itu, dengan kecepatan Kuasa Rana Agung kecepatan Ho Chen mampu melampaui kecepatan kilatan cahaya.
Anehnya dengan kecepatan seperti itu, nyatanya Ho Chen tidak bisa menyusul Cahaya misterius yang melesat ke ruang angkasa.
Setelah Ho Chen berada di luar angkasa, Ho Chen kembali menggunakan mata Dewanya untuk melihat pergerakan cahaya yang tadi dia lihat di seluruh Alam Semesta.
__ADS_1
"Secepat itukah dia pergi? Tapi ini aneh sekali, apakah ada tahap yang lebih tinggi dari tahap Rana Agung?"
Ho Chen jelas merasa seperti bodoh jika menganggap masih ada tahapan yang lebih tinggi dari tahap Rana Agung, sebab sepanjang yang ia tahu, tahap Rana Agung adalah tahap puncak tertinggi dari seluruh tahapan Dewa, jadi mustahil rasanya jika masih ada tahapan yang lebih tinggi lagi.
Hanya saja Ho Chen tidak bisa melupakan kekuatan Energi Hitam yang mampu menekan dirinya, Azura dan An Huang Yi yang jelas-jelas sama-sama berada di tahap Rana Agung, hal itu membuat kepala Ho Chen terasa sakit.
Ho Chen akhirnya memilih menyerah untuk terus mengejar Cahaya misterius yang sulit untuk di lacak bahkan tidak bisa terkejar oleh dirinya sehingga Ho Chen berniat untuk kembali ketempat Azura.
Saat akan berbalik tiba-tiba saja ada suara sepuh terdengar oleh Ho Chen, walau suara itu seperti suara pria sepuh, namun suaranya sangat halus.
"Dewa Pelindung Alam Semesta Ho Chen, sudah sangat lama aku selalu memantau dirimu, sejak dirimu berhasil mengalahkan tiga Raja Iblis dan Ratu Sihir hingga sekarang aku juga terus mengamatimu dan juga muridmu yang menikah di Alam Dewa!" kata suara sepuh tersebut.
Ho Chen berbalik, namun dia tidak bisa menemukan siapapun selain selain cahaya planet. "Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya, atau baru kali ini senior menyapa saya?" tanya Ho Chen namun dia tetap tidak bisa menemukan sosok pemilik suara tersebut.
"Hahaha...! Ini memang untuk pertama kalinya kita saling berkomunikasi, jika untuk pernah bertemu atau tidak, jawabannya adalah Iya, sebelumnya kita pernah bertemu, namun saat itu kamu masih remaja dan belum memiliki kekuatan Dewa!" jawab suara tersebut.
"Benarkah? Tapi saya lupa jika pernah bertemu dengan senior!" kata Ho Chen dan berusaha mengingat-ingat kapan dia pernah bertemu dengan sosok yang tidak terlihat seperti itu.
Ho Chen tidak bisa mengingat akan hal itu karena itu sudah sangat lama sekali berlalu, jadi wajar saja jika Ho Chen tidak mengingatnya sama sekali.
"Maaf senior, jika boleh saya minta, tolong muncullah dan kita bisa bicara dengan leluasa!" kata Ho Chen yang merasa tidak nyaman jika harus berbicara dengan suara yang tidak terlihat wujudnya.
"Maafkan aku, baik aku akan menampakkan diriku!" jawab suara sepuh tersebut dan kemudian butiran cahaya sekecil pasir yang tak terhitung jumlahnya mulai berdatangan dari berbagai arah.
Cahaya-cahaya halus tersebut berkumpul di satu titik dan menyatu sehingga menjadi cahaya yang berukuran sedang hingga membesar.
Ho Chen terpana melihat kemunculan Cahaya tersebut yang semakin lama semakin membesar hingga keseluruh butiran cahaya itu menyatu seluruhnya dan cahaya tersebut kini membentuk sosok tubuh manusia yang sangat menyilaukan mata.
"Jika aku menampakkan wujudku seperti ini, maka kamu pasti akan kesulitan untuk melihatku jadi aku menampakkan wujudku ke bentuk wujud hampa!" kata suara tersebut.
__ADS_1
Ho Chen sama sekali tidak mengerti akan apa itu wujud hampa, yang dia tahu hampa itu adalah kekosongan.
Setelah beberapa saat sosok Cahaya tersebut mulai meredup dan kemudian menghilang lalu memunculkan sesosok bertubuh transparan.
Seluruh tubuh seperti sebuah kaca bening yang bisa melihat ke sebelah kaca itu, dan wajah serta mata sosok tersebut juga sangat sulit untuk bisa dilihat.
"Segini saja sepertinya sudah cukup!" kata sosok tersebut.
Ho Chen tidak berani meminta sosok tersebut untuk membuat tubuhnya seperti tubuh dirinya agar enak untuk dilihat serta agar Ho Chen bisa mengenalinya, namun Ho Chen tidak melakukannya dan memilih untuk menyapanya seraya memberi hormat.
"Terima kasih karena senior telah menyempatkan diri untuk memenuhi permintaan saya, jika boleh saya tahu, siapakah senior ini, dan ada maksud apa senior selalu mengamati saya?" tanya Ho Chen.
"Namaku adalah Huan Zhi Shan, atau kamu bisa memanggilku dengan Energi Putih, aku datang ke dunia bawah karena aku merasakan kekuatan Zhi Yin!" kata sosok tersebut yang bernama Huan Zhi Shan sang Energi Putih.
"Huan Zhi Shan Energi Putih? Kenapa aku tidak pernah mendengar jika ada Energi Putih?" batin Ho Chen dengan alis yang naik turun.
"Maaf Senior Huan, jika boleh tahu siapa yang anda maksud dengan Zhi Yin?" tanya Ho Chen.
"Zhi Yin adalah wanita berhati gelap dan dia di kenal dengan nama Energi Hitam! Zhi Yin memiliki nama lengkap Huan Zhi Yin, dia adalah wujud Kegelapan murni yang sama-sama tercipta dengan diriku, anggap saja kami ini saudara berlawanan!" jawab Huan Zhi Shan.
"Wanita? Tapi yang saya dengar tadi suara Energi Hitam seperti suara laki-laki!"
"Tidak! Dia adalah wanita yang bisa merubah dirinya menjadi apapun dan siapapun, bahkan juga bisa merubah suaranya!" jawab Huan Zhi Shan.
"Lalu kenapa senior selalu mengamati saya, apakah sejak saya masih kecil?" tanya lagi Ho Chen.
"Aku mengamati dirimu karena aku tahu jika nanti kamu akan bertarung melawan Ratu Sihir, di sisi lain aku hanya ingin menyampaikan jika sebenarnya Zhi Yin lah yang berada dibalik semua bencana yang ada, mulai sejak di segelnya She Long bersama dengan para mahluk Akasa lainnya hingga Ratu Sihir yang kamu hadapi itu sebenarnya adalah perbuatan Zhi Yin!" kata Zhi Shan.
Ho Chen jelas terkejut mendengarnya, dia tidak menduga jika semua masalah yang dulu pernah dihadapinya adalah ulah Energi Hitam, itu artinya Energi Hitam adalah dalang dari semua itu.
__ADS_1
"Lalu kenapa senior tidak mengejarnya dan menangkapnya? Bukankah sudah jelas tadi Energi Hitam itu ada dunia bawah?"
"Sebenarnya aku juga datang terlambat karena Zhi Yin telah mengetahui akan kedatangan ku ini!" jawabnya.