Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Menerima tantangan


__ADS_3

Cakram Matahari membelah diri menjadi sembilan Cakram yang mampu melepaskan cahaya terang, cahaya kesembilan Cakram itu juga melepaskan hawa panasnya dan kemudian bergerak menyerang kearah Ho Chen secara bersamaan.


"Bukankah Diyu Hu sudah di keluar dari Cakram itu, kenapa cakram itu masih memiliki kekuatan api sebesar ini?" pikir Ho Chen.


Diyu Hu adalah seekor mahluk yang berasal dari Neraka, dulunya dia adalah mahluk peliharaan Raja Neraka lalu di beri tugas untuk menjadi roh pelindung pusaka yang berbentuk Cakram, namun dulu seluruh pusaka milik Chinmi dan Ho Chen sudah disucikan sehingga Roh Penjaga Pusaka pun kembali ke tempat asal mereka masing-masing.


Ho Chen menekuk kari tengahnya dan kemudian menahannya dengan ibu jarinya, "Api Neraka hanya bisa lawan oleh Air Suci Surgawi," kata Ho Chen kemudian dia meletakkan tangannya yang sudah membentuk Matra lalu kemudian serpihan air mulai berkumpul di hadapannya.


"Sihir Air Suci - Burung Air Surgawi."


Air yang berkumpul di hadapan Ho Chen berubah bentuk menjadi seekor burung biru yang cukup besar dan memiliki ekor panjang berkilauan, setiap sayapnya mengeluarkan serpihan air yang sangat halus yang menyirami bekuan es yang ada dibawah seperti gerimis hujan yang sangat halus.


Burung air berteriak keras sehingga suaranya menciptakan badai topan yang sangat besar. Burung air langsung maju dan menghadang kesembilan Cakram yang berputar ke arahnya.


Kesembilan Cakram bercahaya putih itu berputar dan secara bergantian menghujamkan diri ke tubuh burung air, tentu saja burung air juga memberikan perlawanan dengan menangkap setiap Cakram yang datang dengan paruhnya kemudian melemparkan Cakram itu kearah yang jauh.


Cakram yang terlempar tetap akan kembali lagi dan menyerang burung air tanpa ada satupun yang terlihat akan kalah, semua itu terjadi berkali-kali di udara, bahkan sesekali Cakram dan Burung Air akan melepaskan energi masing-masing yang menyebabkan suara bergemuruh di langit.


Ho Chen dan Chinmi juga mulai maju dan bertarung dengan serangan jarak dekat membuat banyak fenomena aneh yang belum pernah terlihat oleh orang awam.


Hanya dalam waktu singkat saja, desa yang tidak terlalu besar itu langsung porak poranda akibat terkena imbas pertarungan Ho Chen dan Chinmi.


Ketika melihat Chinmi yang mulai teralihkan oleh Ho Chen, Wang Dunrui menggunakan kesempatan tersebut untuk memindahkan semua orang yang berlindung di dalam Pelindung energi milik Wang Dunrui.


"Semuanya cepat saling bergandengan tangan!" seru Wang Dunrui yang mulai fokus mengaktifkan Ilmu Sihir Lingkaran Waktunya.


Naomi, Hiroshi dan semua pengawalnya serta semua orang segera berpegangan tangan, sekitar lebih tiga ratus orang yang berkumpul di satu tempat membuat Wang Dunrui sedikit mengalami kesulitan untuk menggunakan Sihir nya.


Bukan hal yang mudah untuk memindahkan orang sebanyak itu dalam satu kali gerakan, butuh konsentrasi dan energi yang besar untuk bisa melakukannya, karena itu Wang Dunrui sebisa mungkin menggunakan seluruh energi yang ia miliki, sampai-sampai darah keluar dari hidung dan mulutnya.


"Guru..! Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Naomi yang merasa khawatir melihat kondisi Wang Dunrui yang memaksakan diri.

__ADS_1


Wang Dunrui hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun karena dia masih harus berkonsentrasi, belum lagi suara gemuruh dari pertarungan Cakram dan Burung Air serta getaran keras dari pertarungan Ho Chen dan Chinmi membuat Wang Dunrui sulit untuk berkonsentrasi.


Setelah berusaha cukup lama, sebuah lingkaran api biru langsung terbentuk dan melingkari semua orang. Nafas Wang Dunrui sedikit memburu dan dia membersihkan darah dari hidung serta mulutnya, "Sungguh tugas yang sangat berat!" gumam Wang Dunrui kemudian dia menatap dua cahaya di langit yang saling beradu.


"Ayo kita mulai pindah dari sini!" seru Wang Dunrui kemudian dia menekan sebelah telapak tangan kanannya diatas tanah.


Lingkaran api biru segera membesar kemudian menutupi semua orang, walau berada di dalam kurungan api, nyatanya di dalam tidak ada rasa panas, namun semua orang agak takut melihat api biru yang mengurung tubuh mereka semua kecuali Naomi.


Kurungan Api biru yang menyala besar itu disadari oleh Chinmi yang masih bertarung dengan sengit melawan Ho Chen. Chinmi menggertakkan giginya kemudian mengepalkan kedua tangannya dan memberikan serangan pukulan yang membentuk sebuah kepalan tangan raksasa kearah Ho Chen.


"Pukulan Dewa Petir."


Kepalan tangan raksasa itu di selimuti oleh petir biru kemudian dengan cepat menghantam tubuh Ho Chen.


Ho Chen menarik tangan kanannya kesamping kemudian telapak tangannya yang sudah di selimuti energi berwarna keemasan segera arahkan ke kepalan tangan raksasa milik Chinmi.


"Tapak Suci Buddha."


Energi ke emasan yang di dorong oleh Ho Chen langsung berubah bentuk menjadi tapak raksasa emas lalu menahan kepalan tangan raksasa itu sehingga menimbulkan suara dentuman keras serta gelombang kejut yang sangat dahsyat.


Disaat yang sama Wang Dunrui sudah selesai menyelesaikan mantra sihirnya kemudian matanya berubah menjadi hitam dan aura tiga warna terpancar dari tubuhnya.


"Sihir Lingkaran Waktu Api Biru Dibuka."


Lingkaran api biru yang mengurung mereka seketika itu juga membesar seperti sebuah Api yang membakar satu desa dengan nyala yang membara, namun nyala api biru tersebut hanya berlangsung sebentar kemudian api biru yang sangat besar itu lenyap begitu saja seperti tidak pernah ada, yang ada hanyalah sebuah lingkaran hitam bekas dari api biru tersebut.


"Bajingan kalian! Kau Dewa Pelindung Alam Semesta, kamu harus merasakan kemarahanku karena sudah mengacaukan rencana Kaisar Kegelapan!" kata Chinmi yang sangat marah kepada Wang Dunrui dan berniat menggunakan seluruh energinya untuk mengalahkan Ho Chen.


Ho Chen bernafas lega, sejak awal dia sudah menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan penuhnya karena khawatir jika menggunakan kekuatan penuh, dunia saat ini dia berada tidak akan kuat menahannya.


"Kalau kamu memang marah padaku, mari kita lanjutkan pertarungan kita di luar dunia ini!" kata Ho Chen.

__ADS_1


"Baik aku akan merima tantangan ini" jawab Chinmi kemudian dia dan Ho Chen segera menghilang dan disusul oleh Burung Air yang menyusul Tuan nya serta Cakram Matahari yang juga keluar menyusul Chinmi.


Chinmi dan Ho Chen muncul di ruang angkasa yang jauh dari dunia tempat mereka bertarung sebelumnya.


"Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk mencari cara membuka segel An Huang Yi yang mengikat jiwa Chinmi!" batin Ho Chen.


"Dewa Pelindung Alam Semesta, kamu akan merasakan seperti apa kekuatan kami jika sudah marah!" kata Chinmi kemudian dia mengambil Cakram kembali dan menggantinya dengan sebilah pedang hitam yang memiliki ketajaman dua sisi.


"Pedang Kuasa Kaisar Penghancur Bintang."


Chinmi mengarahkan ujung pedangnya kepada Ho Chen kemudian muncul banyak pedang hitam di sekeliling Chinmi, bahkan jumlahnya sediri akan sulit untuk dihitung, yang ada hanyalah pedang hitam seperti sebuah lautan pedang yang tak terhitung jumlahnya.


"Ilmu sihir jenis apa yang seperti ini? Pedang ditangan Chinmi ini sepertinya sangat berbahaya dan juga memiliki kekuatan besar yang mampu melenyapkan Dewa!" kata Ho Chen yang mengamati lautan pedang itu.


Bahkan sikap setenang Ho Chen saja sudah mulai khawatir saat melihat kemampuan pedang yang Chinmi miliki.


"Dewa Pelindung Alam Semesta! Terimalah ini," kata Chinmi kemudian dia menggerakkan tangannya.


Pedang hitam yang tak terhitung jumlahnya itu bergerak maju secara bersamaan dan kemudian mulai berubah menjadi pusaran pedang yang sangat menakutkan.


"Sihir Logam Merah."


Ho Chen merentangkan kedua tangannya dan kemudian serbuk logam dari berbagai arah berkumpul di dihadapan Ho Chen dan mulai membentuk sebuah tameng besar.


Saat masih membentuk tameng dari sihir logamnya, Burung Air maju untuk memperlambat gerakan pedang itu, namun pusaran pedang itu terlalu kuat sehingga Burung Air tidak mampu menahan cukup lama.


Burung air langsung lenyap setelah tubuhnya di tembus oleh Pusaran pedang yang semuanya memiliki energi hitam yang sangat kuat.


Setelah berhasil membentuk tameng logam merah, Ho Chen segera menahannya di depan tepat ketika pusaran pedang itu sudah sampai di depannya.


Kemampuan pedang itu ternyata sangat kuat sampai-sampai Ho Chen sedikit kesulitan untuk bertahan, namun Ho Chen berusaha mencari celah yang baik, sedangkan Chinmi tetap menyerangnya dan membagi bentuk pedang menjadi lima pusaran pedang yang bergerak kearah Ho Chen dari arah yang berbeda.

__ADS_1


***


Apakah kalian kecewa karena aku hanya update sedikit dari biasa? Aku yakin ia karena aku sendiri tidak berniat untuk update sedikit, namun karena kurang enak badan akhirnya saya hanya menulis segini saja 🙏


__ADS_2