Kesatria Tombak Nirwana

Kesatria Tombak Nirwana
Kematian Damon


__ADS_3

***


"Apakah masih jauh rumah keluarga Dewa Sesat itu Sunoriki?"


"Sudah dekat!"


Hedelles, Qeyzya, Patrick, Damon dan Sunoriki tiba di pelabuhan Kerajaan Wu dan segera pergi menuju ke rumah Tuan Xia.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai disana!" kata Damon.


Qeyzya hanya tersenyum tipis mendengarnya, sedangkan Hedelles masih merasa jika Tian Feng belum mati.


Dengan kecepatan terbang Qeyzya dan Hedelles seharusnya tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke rumah Yuan Xia, namun karena yang mengetahui rumah Yuan Xia adalah Sunoriki, mereka akhirnya terbang mengimbangi kecepatan Sunoriki.


"Setelah Hutan ini, kita akan tiba Kota Xanhuo!" kata Sunoriki.


"Kalau begitu tambah kecepatan terbang mu Sunoriki! Aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan rumah serta keluarga Dewa Seat!" kata Patrick.


"Tunggu dulu! Sepertinya ada yang datang menghampiri kita?" kata Hedelles.


Qeyzya juga menyadarinya jika ada seseorang yang terbang menuju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.


"Kamu bilang jika di Kerajaan ini hanya si Dewa Sesat saja yang bisa terbang! Lalu siapa orang yang sedang menuju ke arah kita?" Damon bertanya kepada Sunoriki.


"Memang benar! Selain Dewa Sesat tidak ada lagi orang disini yang bisa terbang, mengenai siapa yang akan datang ini aku juga tidak tahu," jawab Sunoriki.


Mereka berlima segera berhenti dan melayang di udara sekaligus menunggu orang yang sedang menuju kearah mereka.


Hedelles sendiri mulai curiga jika kemungkinan orang yang datang itu si Dewa Sesat itu sendiri karena firasatnya yang meyakini jika dia masih hidup.


Tidak butuh waktu lama orang yang mereka tunggu itu datang dan dia segera berhenti dalam jarak kurang dari Lima Meter.


Semuanya terperangah melihat sosok tersebut dan merasa tidak percaya terhadap yang mereka lihat.


"Kau..! Kau masih hidup?" tanya Patrick sambil menunjuk ke arah sosok tersebut yang tidak lain adalah Tian Feng.


"Kamu pikir aku sudah mati dalam ledakan kecil itu?" tanya Tian Feng kemudian dia menatap kearah Qeyzya.


Qeyzya sendiri juga merasa tidak percaya kemudian dia menatap kearah Hedelles seraya berkata kepadanya.


"Firasat mu selalu saja benar Hedelles! Aku tidak menduga jika dia bisa selamat dari ledakan sihir ku!" kata Qeyzya.


Selama ini yang bisa mematahkan sihir nya hanya Armando saja, sedangkan yang bisa selamat dari ledakan dahsyat itu hanya Zan Zan, Hikari, Xu Yian, Alice dan Louis saja karena mereka sama-sama berada di puncak Raja Alam.


Namun Tian Feng yang menurutnya saat itu masih berada di Tahap Raja Bumi ternyata juga bisa selamat dan itu seperti tidak masuk akal.


"Kenapa wajah kalian seperti melihat hantu? Apakah kalian datang kesini hanya untuk jalan-jalan saja atau kalian ingin berkunjung ke rumahku?" tanya Tian Feng.


"Kau masih terlalu percaya diri Dewa Sesat! Baik mungkin saat itu adalah keberuntungan mu bisa selamat dari maut, namun kali ini kami akan menyerang mu secara bersamaan, jadi tidak mungkin kamu akan mampu menghadapi kami berlima sekaligus," kata Qeyzya yang menyadari kesalahannya jika menyerang Tian Feng seorang diri adalah sebuah kesalahan besar.


"Owh! Jadi kalian jauh-jauh datang kesini karena ingin melanjutkan pertarungan kita? Baik jika kalian ingin bertarung dan berniat mengalahkan ku, aku akan melayani kalian, dan aku harap kalian tidak menyesali kunjungan kalian kesini!" kata Tian Feng.


"Baik.. Serang..!" seru Qeyzya.


Mereka berlima secara bersamaan mengeluarkan kekuatan mereka sehingga menciptakan gelombang angin yang besar yang hampir menumbangkan banyak pohon di hutan itu.


Tian Feng sempat melihat ke sekelilingnya dan berpikir untuk mencari tempat yang lebih jauh lagi agar dampak pertarungan nanti tidak sampai ke Xanhuo.


Tian Feng tersenyum lebar kemudian dia segera terbang ke arah Kuburan Seribu Pedang.


"Sialan dia malah lari! Ayo kejar jangan sampai dia lolos!" seru Qeyzya yang mengira jika Tian Feng mau kabur.


Mereka segera terbang mengejar Tian Feng dengan kecepatan masing-masing, dan tentu saja Damon, Patrick dan Sunoriki tertinggal di belakang.

__ADS_1


"Mau kemana kamu Tian?" tanya Xian yang berada di dalam dirinya.


"Aku mau membawa mereka jauh dari pemukiman!" jawab Tian Feng.


"Apakah ada tempat yang tidak ada penghuninya?"


"Di Gurun Pasir sana tidak ada penghuninya, jadi sangat aman untuk bertarung melawan mereka!" jawab Tian Feng.


"Kalau kamu merasa tidak mampu saat menghadapi lawan yang berat, kamu sudah bisa menggunakan Tombak Nirwana, namun jika serasa mampu, maka kamu tidak perlu menggunakannya."


"Aku mengerti!" jawab Tian Feng.


Qeyzya dan Hedelles merasa kesal karena tidak mampu menyusul Tian Feng sehingga keduanya mulai menyerang Tian Feng dengan energi Pasir dan Angin ke arah Tian Feng.


Tian Feng mengetahui serangan mereka sehingga dapat menghindari serangan energi yang dilepaskan ke arahnya seperti peluru namun kuat.


"Sepertinya disini saja aku menghadapi mereka!" gumam Tian Feng sekaligus melihat banyak sekali batu tinggi yang ada di permukaan Padang Pasir.


Tian Feng melihat ke arah awan hitam dan kemudian dia menggunakan hentakan energi di kakinya untuk menembus awan hitam itu.


Dalam satu kali hentakan saja, Tian Feng langsung melesat dengan kecepatan tinggi sehingga hanya menyisakan belas anginnya saja.


"Cepat sekali..!" kata Hedelles begitu juga dengan Qeyzya.


Mereka berdua tidak bisa meniru cara terbang seperti Tian Feng sehingga hanya bisa terbang dengan kemampuan mereka untuk menembus Awan hitam tersebut.


Saat hampir mendekati Awan hitam, tiba-tiba saja Tian Feng muncul lagi dengan kepalan tangan yang siap menyerang sekaligus mengagetkan mereka berdua.


"Rasakan ini...!" seru Tian Feng yang mendadak muncul di hadapan Hedelles.


Hedelles yang terkejut tentu tidak siap dan pukulan kepalan tangan Tian Feng langsung mendarat di wajahnya.


"Urghh!!"


Hedelles langsung terhempas kebawah hingga menabrak beberapa batu besar hingga batu itu hancur.


Qeyzya yang terkejut meneriaki Hedelles yang terhempas ke bawah dengan kecepatan tinggi.


"Kau...!"


Qeyzya terlihat kesal serta marah kemudian dia mengalirkan Chi ke telapak tangannya dan menyerang Tian Feng.


Tian Feng juga melapisi tangannya dengan Chi kemudian menyambut serangan Qeyzya.


"Sarangan Tapak Pasir Merah."


"Tapak Raja Iblis Neraka."


Keduanya sama-sama mengadu jurus tapak mereka dan hasilnya membuat gelombang kejut yang sangat besar hingga Patrick dan dua lainnya yang hampir sampai terdorong oleh gelombang kejut tersebut.


"Owh luar biasa!" batin Tian Feng.


Dia tidak menduga jika serang jurus Tapak Raja Iblis Neraka sangat kuat ketika di gunakan di tahap Raja Langit.


Tian Feng semakin penasaran sedahsyat apa Tapak Raja Iblis Neraka jika dirinya menggunakannya di tahap Raja Alam.


Karena Qeyzya berada di Tahap Raja Langit, Tian Feng pun juga mengimbanginya dengan menggunakan energinya di tahap Raja Langit.


"Ternyata kamu menyembunyikan kekuatan waktu itu! Tapi aku ingin lihat apakah kamu sanggup menghadapi serangan kami berempat," kata Qeyzya.


Patrick dan dua lainnya juga sampai disana, sedang Hedelles yang juga kembali ke atas namun dengan wajah memar karena terkena pukulan Tian Feng yang sangat kuat.


"Kau tidak akan aku ampuni.!" seru Hedelles yang marah kemudian mereka berlima langsung maju secara bersamaan dengan tubuh masing-masing yang sudah di lapisi Chi.

__ADS_1


Tian Feng tersenyum tipis kemudian dia juga melapisi tubuhnya dengan Chi nya dan mengaktifkan Tubuh Raja Iblis nya.


Sunoriki menyerang dengan menggunakan dua pisaunya, namun serangan juga mengandung energi Angin saat ditembakan ke arah Tian Feng.


Begitu juga dengan Damon yang menyerang dengan menggunakan dua besi pendeknya dimana setiap serangannya melepaskan energi Api.


Patrick menggunakan Dua pedang panjang dan setiap serangannya mampu melepaskan butiran besi yang mampu menghancurkan apapun yang dikenainya.


Hedelles dan Qeyzya juga menggunakan senjata mereka, yaitu sama-sama sabit unik berwarna hitam, dan tebasan keduanya juga melepaskan beberapa energi yang menyerupai beberapa Elemen dari pasir, angin dan air.


Setiap serangan dahsyat mereka dapat di tepis dan ditahan oleh Tian Feng dengan tangan kosong saja.


Setiap serangan yang ditepis akan jatuh dan mengenai beberapa batu hingga hancur, dan ada juga yang meledak di udara.


Setelah bertukar beberapa puluh serangan, nafas mereka mulai memburu sedangkan Nafas Tian Feng masih stabil.


"Apakah kalian sudah kehabisan energi kalian? Jadi hanya segini saja kemampuan kalian?" Tian Feng bertanya dengan setengah mengejek sedangkan asap di tubuhnya akibat beberapa serangan yang meledak di tubuhnya namun tidak berhasil melukai karena Tubuh Raja Iblis yang sudah diaktifkan, hanya saja baju Tian Tian Feng compang-camping.


"Tadi kami belum serius! Sekarang kami akan...!"


"Terlambat..!" seru Tian Feng yang mengagetkan mereka berlima dan Qeyzya yang ingin berbicara langsung terhenti saat Tian Feng sudah berada tepat di atas kepala Damon.


"Raja Iblis Penghisap Arwah."


Tangan Tian Feng langsung mencengkram kepala Damon dan kemudian dia langsung meledakkan kepala Damon yang masih belum siap dan tidak melihat sejak kapan Tian Feng berpindah tempat.


"Damon...!"


Qeyzya dan Hedelles serta yang lainnya syok melihat Damon yang mati secepat itu, bahkan tidak satupun dari mereka yang melihat Tian Feng berpindah tempat.


Tubuh Damon yang tanpa kepala jatuh ke bawah dan tergeletak di atas Padang pasir.


Sunoriki menyaksikan kematian Damon yang tragis membuat hatinya mulai ragu untuk ikut menyerang Tian Feng, dia menyesal karena mengikuti rencana gila Qeyzya untuk melenyapkan Keluarga Tian Feng.


"Dia membunuh Damon hanya dengan jurus biasa tanpa Sihir apapun! Jika begini aku bisa dibunuh olehnya tanpa ada satupun yang bisa menghentikannya!" batin Sunoriki.


Berbeda dengan Sunoriki, Patrick, Hedelles dan Qeyzya semakin marah atas kematian Damon yang berada di posisi 16.


"Akan aku lenyapkan kamu beserta dengan seluruh keluarga mu..!" seru Qeyzya dengan mata merah.


Hedelles dan Qeyzya langsung menciptakan Badai Pasir raksasa sehingga tanah bergetar sangat hebat.


Tian Feng menarik nafas sejenak kemudian dia mengarahkan tangan kanannya ke atas sehingga mulai terbentuk pusaran Awan hitam raksasa yang disertai dengan gemuruh angin dan petir yang menyambar ke segala arah.


Guncangan hebat serta suara gemuruh segera terdengar oleh semua orang hingga ke Kota Xanhuo saat kedua Pusaran raksasa itu mulai di bertabrakan.


"Tian gege..!"


Chie Xie melihat awan gelap di kejauhan serta kilatan-kilatan petir mulai mengkhawatirkan kakaknya, dia mengepal keras dan ingin rasanya menyusul kakaknya untuk membantunya, namun dia masih ingat pesan Tian Feng untuk tetap dirumah menjaga ayah dan ibunya.


Dengan menggigit bibir bawahnya, Chie Xie hanya bisa melihat awan hitam tersebut dari kejauhan, dan Lie Yie serta Yuan Xia juga mengkhawatirkan Tian Feng.


"Panglima Wei! Apakah ini yang dimaksud oleh anak Yuan Xia?" tanya Ratu Sie kepada Wei Fang yang menyaksikan pusaran awan hitam serta kilatan petir dari kejauhan.


"Sepertinya begitu Yang Mulia!" jawab Wei Fang.


Guncangan besar tersebut menarik perhatian banyak orang termasuk Louis dan anggotanya yang sudah di bagi menjadi dua kelompok.


Louis saat ini baru sampai di depan markas Tiga Bunga untuk menemui Jia Tai Yan, "Energi ini milik Api 10, 12 dan 14, tapi Api ke 16...!"


Louis dapat merasakan jika Api 16 padam, itu artinya Api ke 16 sudah terbunuh, dan kematian Damon membuat pengawal Bintang Hitam semakin berkurang.


"Arthur, Armando dan Dustan! Cepat kalian pergi kesana! Aku yakin Api 10 dan 12 serta 14 sedang menghadapi sesuatu yang besar!" kata Luois.

__ADS_1


Arthur berasal dari Foiberia dan dia berada di posisi 11, kemudian Armando juga dari Foiberia yang menduduki posisi ke 7 sedangkan Dustan juga dari Negara yang sama dan dia menduduki posisi ke 6.


Armando dan Dustan sama-sama berada di awal Tahap Raja Alam, sedangkan Arthur berada di tahap Raja Langit, dengan dikirimnya Tiga pengawal kepercayaan Louis itu, Louis yakin siapapun lawannya pasti akan mati.


__ADS_2