
***
"Inikah Pemuda yang kamu ceritakan itu panglima?" tanya Ratu Sie Qian kepada Wei Fang.
"Benar Ratu, ini adalah Tian anak Pejabat Yuan!" jawab Wei Fang.
"Aku sudah mendengar semua kehebatan mu dari panglima! Terima kasih karena kamu mau datang kesini bertemu denganku!" kata Sie Qian sedangkan di sampingnya ada anak laki-laki berusia enam tahun sedang bermain tangan.
Anak tersebut adalah Zhi Lian Yu, biasanya dipanggil Lian Yu. Dia adalah Putra Mahkota serta pewaris tunggal Kerajaan Wu.
"Pejabat Yuan! Ini adalah sebuah anugerah bagimu memiliki seorang putra yang sangat hebat, andai dia jadi Panglima di Kerajaan ini, pasti Kerajaan kita akan semakin kuat!"
"Terima kasih atas sanjungan Ibu Ratu!" jawab Yuan Xia.
"Kamu tidak perlu sesungkan itu pejabat Yuan, lagi pula Yang Mulia dulu sangat dekat dengan mu, dan jika kamu tidak keberatan, maukah kamu menggantikan posisi Yong Shing sebagai penasehat istana?"
Yuan Xia terkejut mendengar permintaan Sie Qian, dia tidak langsung mengiyakan karena dia juga butuh pendapat yang lain.
"Penjabat Yuan, terima saja niat baik Ibu Ratu! Lagi pula hanya kamu yang pantas menjadi penasehat dari pada si penghianat Yong Shing!" kata salah satu dewan.
"Yuan, sebenarnya kami sudah membahas masalah ini semalam, kami semua sudah sepakat akan mengangkat mu menjadi pengganti Yong Shing, jadi terimalah!" kata Wei Fang.
Mendengar hal itu Yuan Xia menjadi bingung, dia takut akan mendapatkan cibiran dari masyarakat yang akan menuding dirinya memang berniat merebut jabatan Yong Shing sehingga dia akan dituduh sudah memfitnah Yong Shing sebagai penghianat demi menggantikan kedudukannya.
"Penjabat Yuan, semua orang sudah tahu sifat Yong Shing, jadi tidak mungkin orang akan menuduh mu yang bukan-bukan!" kata Ying Lo yang mengerti akan pemikiran Yuan Xia.
Yuan Xia semakin bingung harus beriaksi seperti apa, apakah dia senang atau tidak, namun karena semua orang yang hadir sudah setuju, maka Yuan Xia pun tidak akan bisa menolaknya lagi.
"Pejabat Yuan, dengan ini aku mengangkat mu sebagai penasehat utama kerajaan, terimalah tanda jabatan serta penghormatan dari kami semua!" kata Sie Qian.
Dua orang prajurit segera datang dengan membawa baju serta Topi penasehat di atas nampan emas dan diserahkan kepada Yuan Xia.
Merasa tidak memiliki pilihan lain, mau tidak mau Yuan Xia harus menerimanya, dan hari itu juga Yuan Xia resmi menggantikan kedudukan Yong Shing sebagai penasehat utama kerajaan.
"Sekarang kita akan membahas masalah Yong Shing! Tian, aku sudah tahu dari Panglima Wei akan rencana mu itu."
Sie Qian menjelaskan jika Tian Feng tidak perlu pergi ke tempat Yama Denji untuk mencari keberadaan ke-dua penghianat yang sudah menjadi buronan.
Sie Qian menjelaskan jika dia sudah menyebarkan banyak mata-mata untuk yang ahli dalam menyusup, bahkan sudah disebar diseluruh wilayah Kerajaan Wu, termasuk di Organisasi Tiga Bunga.
Karena itu Tian Feng tidak perlu repot-repot menyelidiki hingga harus masuk ke sarang musuh, karena cepat atau lambat ke-dua buronan pasti akan ditemukan.
"Ini tidak hanya menjadi masalah mu saja, melainkan ini juga menjadi masalah kerajaan kami, karena itu aku minta biarkan kami yang mengurus nya!" kata Sie Qian.
"Yang Mulia Ratu! Maaf jika hamba lancang, namun masalah ini sangat besar dan resikonya juga besar! Jika sampai penyusup dan mata-mata yang dikirim diketahui oleh mereka, maka nyawa penyusup akan berada dalam bahaya!" kata Tian Feng.
"Kamu tidak perlu khawatir, penyusup dan mata-mata yang disebar adalah para pendekar yang profesional, ini sudah menjadi keahlian mereka dalam menyusup dan juga mengumpulkan informasi!" jawab Sie Qian.
"Lalu apa gunanya aku datang kesini?" batin Tian Feng yang merasa kedatangan nya mengikuti pertemuan itu tidak ada gunanya.
"Tian! Apakah setelah ini kamu memiliki acara yang lain?" tanya Wei Fang.
"Untuk saat ini masih belum ada! Akan tetapi jika keluargaku sudah benar-benar aman, mungkin saya akan pergi ke Kerajaan Jiu sekitar lima hari lagi!" jawab Tian Feng.
__ADS_1
"Kamu mau pergi ke Kerajaan Jiu? Mau apa kamu pergi kesana? Kerajaan Jiu sangat jauh sekali, setidaknya butuh waktu berbulan-bulan jika pergi ke sana, belum lagi ibumu pasti tidak akan mengijinkan mu!"
Yuan Xia yang terkejut segera mempertanyakan alasan Tian Feng yang ingin pergi ke Kerajaan Jiu. Yuan Xia juga yakin jika Lie Yie pasti tidak akan setuju jika mengetahui rencana Tian Feng.
"Ayah, aku akan membahas ini dirumah! Jkka masalah Ibu, aku akan menjelaskannya sendiri padanya!" jawab Tian Feng.
"Jika kamu mau pergi kesana, kamu harus membawa surat pengantar yang ada stempel Kerajaan agar nanti disana kamu tidak dianggap sebagai warga liar dan ilegal,." kata Ying Lo.
"Tenang saja, aku akan mempersiapkan semuanya!" Sie Qian menjawab.
"Terima kasih Yang Mulia Ratu!" Tian Feng memberikan hormat sebagai tanda terima kasihnya.
"Tian, ikut aku sebenarnya! Aku ingin bicara hal penting dengan mu!" kata Wei Fang mengajak Tian Feng.
Tian Feng mengangguk kemudian mereka berdua ijin undur diri kepada Sie Qian dan pergi keluar meninggalkan mereka semua yang merasa kebingungan melihat Wei Fang.
***
"Tian! Besok kamu ikut pergi dengan ku ke Kuburan Seribu Pedang?" tanya Wei Fang.
"Ke Kuburan Seribu Pedang? Memangnya ada urusan apa Panglima ke...!?"
Tian Feng terdiam karena dia mengingat sesuatu yang hampir dia lupakan.
"Disana akan di adakan pertandingan yang akan diadakan setiap Tiga Puluh Tahun sekali, nanti akan ada pertandingan untuk mengetahui siapa yang terkuat sekaligus yang akan diakui sebagai Pendekar terkuat dari sepuluh pendekar, bahkan hingga Lima Pendekar terkuat," kata Wei Fang.
Walau Wei Fang tidak menjelaskannya secara jelas, namun Tian Feng sendiri sebenarnya juga tahu akan Pertandingan Pendekar untuk menjajal ilmu mereka sekaligus berlomba-lomba untuk menjadi yang terkuat.
"Panglima! Saya tidak tertarik untuk pergi kesana!" jawab Tian Feng.
"Tidak apa-apa Tian, sebenarnya aku sangat berharap kamu ikut serta dalam pertandingan itu, karena disana akan hadir seorang Pendekar yang pernah kamu hadapi!" kata Wei Fang.
Maksud Wei Fang adalah Taiyan Zin si Pendekar Banci sekaligus salah satu ketua Organisasi Tiga Bunga.
Tian Feng terdiam untuk sejenak, dia ingat jika urusannya dengan Taiyan Zin belum selesai, "Baiklah Panglima, besok saya akan ikut kesana!" kata Tian Feng.
Wei Fang tersenyum lebar kerena merasa senang, niat Wei Fang sebenarnya adalah untuk memperkenalkan Tian Feng kepada semua pendekar hebat yang akan hadir disana.
"Aku tidak sabar ingin secepatnya tiba di sana dan melihat reaksi semua orang saat mengetahui jika sekarang ada Pendekar baru generasi muda yang menjadi Pendekar paling hebat diseluruh wilayah Kerajaan Wu," batin Wei Fang sambil tersenyum lebar.
"Tian! Apa kamu yakin akan ikut pergi bersama orang itu?" tanya Zanxi.
"Tentu saja! Apalagi disana nanti ada seseorang yang masih memilliki masalah denganku!" jawab Tian Feng.kemudian dia tidak mau lagi memperdulikan Omelan Zanxi.
***
Dengan ijin Lie Yie, Tian Feng pergi ikut bersama dengan Wei Fang ke Kuburan Seribu Pedang untuk mengikuti pertandingan.
Lie Yie tidak keberatan karena Lie Yie sadar jika Tian Feng sudah bukan anak kecil lagi, apalagi dia adalah seorang pendekar, Lie Yie yakin Tian Feng pasti bisa menjaga diri.
Mereka tidak hanya berdua saja melainkan bertiga dengan Zang Yang, tentu saja ini adalah kesempatan bagi Zang Yang untuk menjajal kekuatan barunya, asalkan lawannya bukan salah satu dari Lima Pendekar terkuat, Zang Yang yakin akan mampu merebut salah satu posisi sepuluh Pendekar terkuat.
Perjalanan menuju ke Kuburan Seribu Pedang tidaklah memakan waktu lama karena letaknya yang dekat dengan kota Xanhuo, paling lama hanya sehari semalam saja dengan menaiki kuda, sedangkan bagi Tian Feng mungkin hanya butuh waktu sebentar jika dia terbang.
__ADS_1
Akan tetapi mereka tidak mungkin pergi kesana tanpa istirahat, sedangkan Tian Feng tidak mungkin terbang begitu saja karena dia tidak mau Wei Fang dan Zang Yang mengetahui jika sebenarnya dirinya memiliki kemampuan tersebut.
Setelah keluar dari Kota Xanhuo dan melewati memasuki Hutan, mereka bertiga beristirahat disana sekaligus bermalam.
"Guru Zang! Malam ini kita minum arak dulu, kebetulan aku membawa dua, satu untuk malam ini dan satu lagi saat kembali ke istana!" kata Wei Fang.
Zang Yang tidak menolak ajakan Wei Fang karena dia memang suka minum arak, "Tian, ayo ikut minum bersama kami disini!" ajak Wei Fang.
"Baik!" jawab Tian Feng dengan tersenyum lebar.
Sudah sangat lama sekali Tian Feng tidak pernah minum arak, dan ini untuk pertama kalinya Tian Feng akan minum lagi setelah dirinya merasa sudah cukup umur.
"Apakah sebelumnya kamu sudah pernah minum?" tanya Wei Fang.
"Iya..! Eee Maksudnya, iya saya belum pernah minum arak!" jawab Tian Feng.
"Kalau begitu kamu hanya bisa minum sedikit saja, karena ini baru pertama kalinya bagimu meminum alkohol!" kata Wei Fang.
"Tian! Bukankah kamu menguasai jurus Dewa Mabuk, lalu bagaimana caramu berlatih jurus Dewa Mabuk dengan senior Mao?" tanya Zang Yang.
"Aku hanya dilatih gerakan tanpa alkohol!" jawab Tian Feng.
"Owh jadi begitu! Pantas saja kamu tidak pernah menggunakan jurus mabuk," kata Wei Fang.
"Benar sekali Panglima, jurus mabuk hanya akan lebih kuat dan sempurna saat digunakan dalam keadaan setengah mabuk!"
Wei Fang yang pertama kali meminum arak tersebut kemudian di serahkan kepada Zang Yang, setelah Zang Yang meneguk dua tegukan, Zang Yang menyerahkannya kepada Tian Feng.
Tian Feng yang merasakannya harumnya arak milik Wei Fang sudah tidak sabar untuk segera meneguknya, dan begitu dia menyangkan arak tersebut ke mulutnya, Tian Feng meneguk satu tegukan.
Mata Tian Feng melotot sebelum akhirnya terbatuk-batuk karena tersedak, "Uhuk..! Uhuk..! Uhuk-uhuk..!"
Wei Fang dan Zang Yang tertawa melihat Tian Feng yang tersedak arak itu, "Pelan-pelan Tian Feng, arak ini bukan arak murahan yang bisa kamu minum seperti air!" kata Wei Fang.
Tian Feng yang masih terbatuk juga tahu jika arak yang dia minum bukanlah arak murahan.
Arak yang memiliki kwalitas terbaik sangat keras, bahkan jika satu tetes menyentuh lidah, tetasan tersebut akan menghilang sebelum sempat ditelan.
Salah satu kelebihan dari arak yang berkualitas juga bisa dibuktikan dengan cara dibakar, jika menyala dan warna apinya agak kebiruan, maka arak tersebut adalah arak yang asli dan berkualitas.
Begitu arak masuk ke tenggorokan, maka hidung akan serasa panas, saking kerasnya sampai-sampai harus memejamkan mata dan mengeluarkan air mata.
"Maaf, saya masih belum terbiasa!" kata Tian Feng.
Walau sudah minta maaf, Tian Feng bukannya mengembalikan arak tersebut kepada Wei Fang, dia justru minum lagi karena tegukan yang pertama sudah dia buang sia-sia.
Tian Feng meneguk arak tersebut secara perlahan-lahan, dan setelah dua tegukan, dia menyerahkannya botol arak tersebut kepada Wei Fang.
"Rasa hangat segera terasa dari dalam perut Tian Feng, rasa hangat tersebut segera naik kedada sehingga angin malam yang dingin tidak akan terasa sama sekali.
Mereka bertiga saling bercerita sambil meminum arak tersebut secara bergantian, dan Tian Feng akan minum setelah Zang Yang dan Wei Fang sudah meminum dua putaran.
Artinya, Tian Feng dapat satu kali putaran minum setelah Wei Fang dan Zang Yang sudah dua putaran minum, jadi aturan minumnya Dua banding satu.
__ADS_1
Setelah arak dibotol itu habis, mereka bertiga sama-sama beristirahat di dekat api unggun, karena hari sudah larut malam mereka tidak mau bangun kesiangan.
Wei Fang dan Zang Yang sama-sama membaringkan badan karena mereka berdua setengah mabuk, sedangkan Tian Feng lebih memilih duduk bermeditasi hingga pagi tiba.