MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 10: Gila 1


__ADS_3

Sore harinya, acara setelah makan siang masih berlanjut dengan menemui beberapa rekan Yudha yang Melody ketahui jika mereka merupakan investor besar dalam proyek Yudha dan Nao.


Rahangnya pegal karena dikit-dikit ia harus memamerkan senyumannya.


Hah, padahal Melody sudah sangat lelah, ia kira acara bincang-bincang itu akan cepat berlalu, nyatanya mereka meminta ditemani berjalan-jalan di tepi pantai sambil membicarakan proyek modern caffe dengan view di dekat pantai.


Acara menyusuri pasar tradisional dengan Mia dan Ayumi gagal.


Mau bagaimana lagi. Itu tugasnya. Masih ada hari esok atau nanti malam mungkin, itupun jika Yudha mengizinkannya keluar malam.


.


.


.


Melody berjalan pelan menuju kamar hotel bersama Yudha dan Nao dan Shuhei.


Sesampainya di depan kamar, mereka saling berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


Melody mengekor di belakang Yudha saat memasuki kamar hotel mereka. Melody mandi duluan karena sudah tidak tahan dengan keringat di tubuhnya. Melody tak suka bau matahari. Maklum saja ia sudah terlalu lama terpapar matahari pantai yang cukup terik.


Butuh waktu yang cukup lama untuk mandi, sekitar tiga puluhan menit. Melody keluar dengan memakai handuk piyama di atas lutut. Rambut basahnya, Melody gulung dengan menggunakan handuk kecil berwarna putih senada dengan handuk piyamanya.


Keluar dari kamar mandi, Melody melihat Yudha memejamkan matanya di atas ranjang mereka.


"Orang ini terlalu memaksakan tubuhnya. Bekerja gila-gilaan. Bagaimana jika dia mati muda? Aku kan bisa menjadi janda kembang!" Bantin Melody. "Jadi tidak tega melihatnya.."


Karena sudah mendekati waktu makan malam, maka iapun membangunkan pelan Yudha dan menyuruhnya segera mandi.


Melody membungkukkan badannya, dan membangunkan Yudha.


"Yudha bangun." Melody juga menepuk pelan lengan Yudha.


Tangan dingin Melody yang habis mandi membuat Yudha membuka matanya.


Pemandangan pertama yang Yudha lihat adalah belahan dada Melody karena efek membungkuk dan handuk piyama yang cukup terbuka di bagian dada.


Jika dalam posisi membungkuk seperti itu, sudah pasti memperlihatkan sebagian dada dan isinya. Melody bahkan belum memakai pakaian dalam.


Melody sedang mencoba menggodanya atau apa sih?


Yudha memang kaget, tapi ia dengan baik bisa menyembunyikan ekpresinya. Kenapa akhir-akhir ini ia sering melihat tubuh intim Melody ya?


Konyol, tiba-tiba menjadi panas.


Melody tersenyum. Ia tak sadar jika ia sudah memperlihatkan pemandangan panas pada suaminya. Ia juga tidak tahu jika ia sudah membuat suaminya itu menjadi gerah saat ini.


"Aku sudah selesai. Kau mandilah!" Kata Melody.


Yudha hanya mengangguk dan segera bangkit dari tidurnya. Menyambar handuk yang ada di atas ranjangnya dan masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Melody meregangkan otot-otot tangannya. "Ahhh, lelahnya.."

__ADS_1


Sungguh, hari ini sangat melelahkan.


.


.


.


Di dalam kamar mandi...


โ€œSial..โ€ Gumam Yudha nelongso.


.


.


.


Melody belum berniat memakai baju, ia duduk di ujung ranjang dan bermain smartphone barunya yang dibelikan oleh Yudha.


Dalam posisi duduknya saat ini, Melodypun merebahkan tubuhnya ke ranjang agar memudahkannya untuk bermain smarphone.


Tubuhnya tiduran, kakinya ungkang-ungkang(bahasa Jawa) atau bergerak-gerak periodic ke atas bawah berulang-ulang.


Ia memang tak benar-benar merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kakinya menempel di lantai kamar. Setengah tiduran?


.


.


Melody berselancar internet. Membaca berita terkini. Tentang imej baik Emperor Group tentunya. Maklum saja, perusahaan itu menjadi pengembang professional yang tak hanya mengambil keuntungan untuk perusahaan saja tetapi juga berusaha memperbaiki ekonomi daerah yang dikembangkan.


"Proyek OkinawaYudha mendapat respon bagus. Masyarakat sekitar banyak yang mendukung. Syukurlah. Ini artinya semua akan berjalan lebih lancar. Dia tak perlu lagi tidur telat. Hooaammzz. Ngantuknya."


Tanpa sadar Melody memejamkan matanya. Hari ini memang sangat melelahkan.


Badan dan kakinya berasa remuk ingin segera istirahat.


Yudha sudah selesai mandi. Air mengalir dari ujung rambut ravennya yang basah. Mengalir perlahan membelah dada bidangnya yang sexy. Handuk pendeknya menampilkan tubuh sempurnanya.


Yudha menoleh ke Melody yang sedang berbaring. Yudha mengambil langkah untuk mendekatinya.


"Melody?" Panggilnya.


Namun tidak ada jawaban. Pantas saja. Melody memejamkan mata. Melody tertidur. Mungkin karena kelelahan mengingat bagaimana ia juga tertidur tadi.


"Gunakan baju tidur dulu seharusnya." Gumam Yudha.


Melody masih memakai piyama handuknya. Ia belum berganti baju rupanya. Bahkan gulungan handuknya untuk mengeringkan rambut saja belum Melody lepaskan.


Yudha memandangi Melody. Mulai dari rambut yang tertutupi handuk, turun ke wajah polosnya tanpa makeup karena baru saja mandi. Ah, ia terpaku dan ingin terus memandangi Melody.


Istrinya itu terlihat polos tanpa makeup.

__ADS_1


Terlihat cantik dan natural.


Jidat lebar Melody, hidung kecil yang mancung, bibir tipis yang menggoda.


Bibir tipis yang menggoda?


"Rasanya apa masih seperti waktu itu?" Batin Yudha.


Ia ingat betul bagaimana 2x ia mencium bibir Melody. Ah, yang pertama kecelakaan. Apa masuk hitungan?


Yudha menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


Ia melanjutkan acara memandangi tubuh Melody. Berlanjut ke pipi, dagu, leher mulus yang putih. Lalu turun ke bawah ke V line piyama handuk Melody yang terbuka cukup lebar dan menampilkan sedikit bukit kenyal yang tak ingin Yudha sebut namanya.


Mulus meski ada bekas kiss mark darinya kemarin.


Bekasnya sudah tak semerah kemarin saat pertama kali ia membuatnya. Bekas itu berubah membiru kehitaman.


Sial ia kembali merasa panas seperti pemandangan panas tadi sebelum mandi. Mengingat kejadian kiss mark pagi kemarin juga semakin menambah panas saja.


Haah..


Yudha kesulitan menelan ludahnya.


"Baru mandi kenapa jadi gerah seperti ini?" Gumam pelan Yudha.


Namun, Yudha malah kembali memandangi Melody yang tidur menantang itu.


Melanjutkan intimidasinya, Yudha menurunkan pandangannya. Ada satu hal yang membuatnya terganggu. Penasaran karena menari-nari untuk dicari jawaban.


Piyama handuk yang memang sudah di atas lutut saat dipakai Melody, semakin bertambah 'mini' saat dibawa tiduran.


Piyama handuk itu mengekspos kaki jenang milik Melody mulai dari pangkal paha sampai ke ujung kaki.


Kaki mulus, putih, dan agak berotot. Yudha ingat jika Melody itu agak tomboy. Jadi wajar memiliki kaki yang agak berotot. Bukankah itu terlihat... errr... sexy?


Yudha kembali kesulitan menelan ludahnya.


"Sial.." Geramnya pelan. Sangat pelan.


Sudah piyama handuk yang sangat-sangat pendek, ditambah belahan dua kain yang tak tersatukan dengn baik semakin mengekpos paha mulus Melody.


Jika Melody bergerak sedikit saja, mungkin Yudha akan sukses melihat mahkota berharga milik Melody.


Ambyar sudah pikir Yudha.


Entah apa yang menuntun Yudha, tanpa sadar ia sudah semakin mendekati tubuh Melody yang tertidur. Dengan sangat pelan, ia menjatuhkan pantatnya di samping Melody.


Yudha terpaku pada daerah sekitar paha mulus Melody. Daerah itu benar-benar membuatnya kehilangan akal. Lebih tepatnya hanya berfikir jika ia sangat penasaran.


Gila.


"Ini gila. Perasaan apa ini?" Batin Yudha.

__ADS_1


__ADS_2