MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 16


__ADS_3

"Aku tidak paham dengan apa yang direncanakan bocah nakal itu. Kenapa tiba-tiba ia malah mendukung Alvin seperti ini? Bukankah Alvin adalah musuhnya?" Kata Tuan Kang yang sangat bingung dengan apa yang baru saja terjadi di acara rapat pemegang saham.


"Aku tidak tahu apakah Yudha benar-benar mendukung Alvin ataukah memang sedang membuat rencana jangka panjang. Namun tak perlu khawatir karena pada akhirnya orang yang menjadi CEO Emperor Group ada di fraksi kita. Ketika tahta itu resmi di sandang Alvin, maka kita akan semakin dekat dengan tujuan kita." Kata Tuan Park. Ia tersenyum penuh arti.


"Alvin adalah boneka mainan kita. Dia hanya akan bergerak sesuai dengan perintah kita. Segala upaya dan kebijakkan yang ia buat adalah atas dasar keputusan dan saran dari kita. Bukankah itu akan sangat menarik?" Kata Tuan Kang.


"Haha. Sungguh. Aku tak menyangka jika idemu untuk memanfaatkan kisah masa lalu Kurenai dan Yoga akan bisa sampai sejauh ini. Kita berada di masa paling puncak dari segala karir yang sudah kita perjuangkan." Kata Tuan Park.


"Wanita pelacurr tetaplah pelacurr. Dia tidak akan bisa setia pada satu orang saja. Di matanya hanya ada uang. Dia tidak akan tertarik pada hal lainnya." Kata Tuan Kang.


"Kau terlalu kasar, Tuan Kang!" Kata Tuan Park.


Lalu mereka kembi tertawa. Suara tawa yang membahana memenuhi kantor kerja Tuan Park.


Sebuah fakta masa lalu yang tak bisa dihapius begitu saja. Tuan Kang dan Tuan Park adalah teman dari Kazehaya Yoga. Mereka berdua dulu memiliki perusahaan, namun bangkrut. Yoga Kazehaya membantu keuangan dua perusahaan teman-temannya ini. Namun, sang ayah, Kazehaya Wijaya memberi perjanjian tertulis legal di atas hukum jika dua perusahaan ini harus berdiri di bawah Emperor Group. Mau tidak mau, merekapun harus merelakan kepemilikkan perusahaan mereka berdua karena tidak ingin perusahaan yang mereka bangun menghilang dari ranah bisnis negara Jepang.


Tuan Park adalah orang yang mengenalkan Kurenai kepada Kazehaya Yoga. Tentu saja ada niat tak baik di dalamnya. Meski mereka berteman, nyatanya hubungan mereka tidaklah sebaik itu. Apa lagi ketika perusahaan miliknya diambil alih oleh Emperor Group, ada rasa benci tak terkira di dalam hatinya. Ia merasa sudah ditipu oleh Yoga. Ia merasa sudah dijebak oleh Yoga. Jalan akhir yang bisa ia pilih adalah balas dendam. Ia akan balas dendam pada keluarga Kazehaya.


Tak beda jauh dengan Tuan Park, Tuan Kang juga mengalami hal yang sama. Hanya masalah kekuasaan. Tentang perusahaan yang diambil alih oleh Emperor Group. Jika dendam lama bisa membawa sampai sejauh ini, apakah ini berlebihan? Sampai ingin menghabisi nyawa?


Percayalah, itu bukan ide dari mereka berdua!


Mereka memang licik, tapi tak pernah berpikir untuk menghabisi nyawa seseorang. Yang mereka berdua inginkan hanyalah tahta, kekuasaan, uang, dan kembalinya perusahaan mereka.


Lalu, siapakah dalang dari semua rentetan rencana pembunuhan yang selama ini menimpa Yudha dan kakek Wijaya?


Kurenai?


Uchiyama Azumane?


Orang lain?


Ataukah Alvin sendiri?


Yang jelas itu adalah Black Joker.


Alvin? Bukankah Alvin adalah seorang joker? Ya benar, Alvin adalah seorang joker. Namun dalam kartu bridge, joker ada dua. Black Joker dan Red Joker. Untuk Alvin, silahkan nilai sendiri dia bagaimana.


.


.


.


Yudha, ibunya, dan Shuhei masuk ke dalam ruang kerja milik Yudha. Mereka lalu duduk di kursi tamu yang ada di dalam ruangan itu. Shuhei membuatkan kopi.


"Apa ibu marah dengan keputusanku memilih Alvin menjadi CEO pengganti kakek?" Tanya Yudha.


"Ibu tidak tahu harus marah atau tidak. Kalian berdua adalah sama-sama putra Kazehaya Yoga. Ibu hanya sedikit kecewa karena pada akhirnya Alvin terlihat sangat asing di mata ibu. Ibu ingin selalu percaya pada Alvin sampai akhir. Namun, melihat sikap Alvin akhir-akhir ini, rasanya ibu merasa sulit untuk mempertahankan prinsip ibu terhadapnya." Jawab Mikan.


"Untuk kondisi saat ini, memilih Alvin yang menjadi CEO pengganti kakek adalah yang terbaik. Kakek koma belum sadar, paman Aron menghilang dan belum juga bisa kutemukan. Lalu, jika saat ini aku menjadi CEO Emperor Group, maka akan banyak pihak yang semakin gencar untuk membunuhku. Saat aku berusaha melindungi diriku, bagaimana dengan ibu, nenek, lalu Melody? Jujur saja, aku tidak bisa melindungi kalian semua sendirian. Aku butuh orang kuat untuk membantuku. Aku harus menemukan paman Aron dulu." Kata Yudha mantap.


Yudha mengepalkan tangannya. Banyak hal di luar kuasanya. Banyak hal yang tak bisa ia kendalikan. Ia harus berpacu pada permainan Tuhan dan keputusannya sendiri.


"Kau kejam juga ya, Yudh.." Kata Mikan.


"Ya, aku memang kejam dan licik. Aku memanfaatkan Alvin sebagai tameng pelindung kita. Untu sementara biarlah Alvin yang menjadi incaran mereka. Lagi pula, aku juga ingin mewujudkan impiannya sekali lagi."


Mikan mencoba memahami anak semata wayangnya ini. Yudha sangat menyayangin Alvin bahkan setelah disakiti dan dikhianati Alvin seperti ini. Ia juga tahu jika saat ini Yudha sedang sangat kesal karena ketidak mampuannya menghandel semua masalah sekaligus. Yudha memang harus memilih masalah yang mana dulu yang harus segera di selesaikan.


"Tapi kau harus mengerti, Yudh! Ibu tetap masih ingin kau menjadi raja. Bukan masalah uang, harta, ataupun kekuasaan. Ibu hanya ingin tahta Emperor Group ada di tanganmu, bukan kakakmu. Ibu tidak membenci Alvin karena bagaimanapun darah Kazehaya yang mengalir di dalam tubuhnya adalah bukan kesalahannya. Hanya saja, ibu tidak rela jika tahta Emperor Group berasala dari wanita yang menyebabkan ayahmu meninggal." Jelas Mikan.


Yudha langsung melebarkan kedua matanya.


Kaget tak terkira.


Yang menyebabkan ayahnya meninggal adalah ibunya Alvin? Kurenai? Sesuatu hal besar di masa lalu pastilah sangat rumit. Sampai saat inipun ia tidak tahu apa-apa. Berlagak seperti orang bodoh yang hanya mengikuti insting tanpa dipikir oleh otak dan bertindak sesuai keputusan hati.


"Sepertinya banyak hal yang sudah aku lewatkan. Ataukah memang sengaja disembunyikan? Katakan padaku, Bu! Katakan apapun yang terjadi di masa lalu!" Pinta Yudha.


Kali ini ia kesulitan menahan emosinya. Masalah sebesar ini, ia sama sekali tidak tahu. Ibunya yang sangat ia cintai dan sayangipun tidak memberitahunya mengenal hal penting yang besar ini kepadanya.


Kenapa mengesalkan jika hanya dirinyalah yang menjadi orang bodoh di sini?

__ADS_1


Apa karena ibunya menganggapnya sebagai anak yang masih kecil, maka sang ibu memilih untuk merahasiakannya?


"Jika waktunya sudah tepat. Ibu pasti akan menceritakannya kepadamu tentang masa lalu yang membawa karma buruk itu. Tentang masa lalu dimana kisah kelam ibu, ayahmu, dan Kurenai-san terjerat dalam jaring luka yang tak memiliki ujung. Tolong jangan paksa ibu untuk bercerita, Yudh. Saat ini, ibu tak memiliki hati yang besar untuk siap membuka luka lama." Kata Mikan.


Mikan meneteskan air mata. Ia mencengkram dadanya yang sangat sakit. Kisah masa lalu itu adalah kisah yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Kisah itu menorehkan luka yang amat dalam di dalam hatinya. Seperti mimpi buruk yang datang setiap malam.


Yudha langsung memeluk ibunya. Memeluknya dengan sangat erat.


Ia benci melihat ibunya menangis.


Ia benci melihat ibunya bersedih.


Ia benci melihat ibunya terluka seperti ini.


Rasanya hatinya mulai sesak. Asupan oksigen menipis entah bagaimana. Paru-parunyapun butuh usaha keras untuk tetap setia bernafas.


"Aku akan merebut tahta Emperor Group, Bu! Aku akan menyingkirkan orang-orang jahat dari Emperor Group! Karena aku tahu, merebut lebih mudah daripada mempertahankan." Kata Yudha mantap.


Mereka melepaskan pelukkannya.


Mikan mencoba menghapus air matanya.


"Ibu hanya memilikimu, jadi, jangan gegabah dan melakukan banyak hal yang membahayakan nyawamu! Ibu memilih mati jika kau bernasib sama dengan ayahmu."


"Ibu suka sekali mengancam ya? Sama seperti Melody. Dia suka mengancamku juga."


"Memang apa yang dia ancamkan terhadapmu, Yudh?"


Yudha memijat kepalanya. "Mengancamku tidak boleh menyentuhnya lagi."


Mikan langsung tertawa. "Haha, ibu tak menyangka jika Melody akan melakukannya."


"Tapi dia serius saat mengatakannya, Bu. Saat marahan saja, dia marah-marah saat aku pegang."


"Kenapa tidak kau paksa saja, Yudh? Dia istrimu, kau bisa melakukan itu."


"Aku sudah pernah memperkosanya, Bu. Sama saja, habis itu dia malah semakin marah padaku."


Jawaban Yudha ini bagaimana ia harus menanggapinya? Jujur saja, apa yang baru saja ia katakan itu hanyalah sebuah candaan. Mana ada kan seorang ibu yang menyuruh anaknya sendiri memperkosa menantunya? Mikan tahu betul jika itu adalah hal yang salah.


Yudha mengangguk. "Ya. Dia suka berontak sih, makanya aku perkosa saja dia biar kapok."


Jawaban macam apa ini?


Anaknya yang super jenius di ilmu pengetahuan bisa memiliki pemikiran mirip psikopat? Hei, ia tak pernah mendidik Yudha untuk melukai orang lain, apa lagi melukai seorang wanita yang jelas-jelas adalah istri Yudha sendiri. Ia sudah mendidik Yudha dengan cinta dan kasing sayang yang amat besar. Sebagai seorang ibu, rasanya Mikan sudah gagal karena tak berhasil memberikan pendidikan moral pada Yudha.


"Ternyata Melody mengalami nasib yang sama sepertiku. Dilecehkan sendiri oleh suaminya sendiri. Namun kau beruntung, Mel. Yudha sangat mencintaimu. Berbeda jauh dengan ayahnya, Yudha. Setitik cinta untukku rasanya tidaklah ada." Batin Mikan.


"Ibu? Ibu kenapa malah melamun? Katakan saja jika aku ini salah memperlakukan Melody seperti itu!" Kata Yudha.


"Pemaksaan itu tidak baik, Yudh. Kasihan Melody." Kata Mikan.


"Tapi dia juga menikmatinya waktu itu." Kata Yudha.


Jika ingat saat ia memaksa Melody untuk bercinta dengannya rasanya memanas suhu tubuhnya. Waktu itu ia habis pulang kerja, Melody baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilitkan di dada. Melody mengabaikan dirinya, alhasil ia dan Melody beradu argumen yang berakhir dengan pergulatan panas di ranjang.


Ada rasa bangga di dalam hati Yudha ketika ia semalaman bisa membuat Melody meneriakan namanya. Ia memang sangat menyukai namanya yang ke luar dari mulut Melody.


Apakah ini fetish?


________________________________________


Fetish adalah salah satu jenis penyimpangan seksual, di mana orang yang mengidapnya hanya akan terangsang oleh benda atau bagian tubuh yang bukan organ kelamin. Misalnya, terangsang oleh celana dalam atau sepatu perempuan. Mungkin juga terangsang oleh kaki atau rambut perempuan. Masturbasi dengan rangsangan oleh benda itu adalah cara untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. 


Fetish merupakan bagian dari fantasi seksual yang umumnya berkembang seumur hidup. Normal atau nggaknya fetish yang dimiliki seseorang tergantung dari objek, intensitas, dan cara pemenuhannya. Fetish dapat disebut kelainan seksual jika sampai menyalahi norma yang ada. Misalnya, ketertarikan bercinta dengan mayat atau hewan, atau pada lawan jenis tapi lewat paksaan dan ingin menyakiti. (popbelo)


Hampir semua orang punya particular body parts yang dia anggap atraktif, ada yang kaki hingga ketiak. Tapi apakah itu gangguan? Belum tentu. Jadi gangguan kalau fetishticnya itu sudah mengganggu fungsi normal seksual. Misal tidak ada objek yang ia sukai itu, ia nggak bisa terangsang, itu termasuk gangguan.


Fantasi seksual itu wajar, karena manusia diberi otak yang bisa berimajinasi. Namun tak semua imajinasi tersebut patut diwujudkan secara nyata apalagi jika merugikan orang lain.


Hati-hati ya guys, terutama untuk remaja putri yang suka mintain foto anggota badan tertentu sama pacarnya atau teman laki-lakinya. Bisa jadi fotomu ia jadikan sebagai fantasi seksualnya. Kan serem!


Untuk kasus Yudha uang menyukai suara Melody saat menyebut namanya, ini cukup menghawatirkan. Nah loh, tapi percayalah, ini bukan fetishnya mas Yudha.

__ADS_1


Yudha hanyalah mesum sejak mengenal Melody.


Pernyataan apaan coba? 😅


----------------------------------------


"Apapun itu, kalau sedang marahan, jangan bermain kasar dengannya ya? Mungkin fisiknya menerima segala sentuhanmu, tapi hatinya pasti akan sangat terluka. Ketahuilah, Yudh! Wanita itu ingin dihormati, ingin diperlakukan baik oleh suaminya. Saat di atas ranjangpun." Kata Mikan yang mencoba memberikan saran pada Yudha.


Ini kesalahannya. Yudha tidak tumbuh dengan ayahnya. Untuk masalah seperti ini cukup canggung untuk dibahas dengan dengannya. Yudha adalah seorang laki-laki dan dirinya adalah seorang ibu. Pembahasan seperti ini memang jauh lebih cocok dibahas dengan sang ayah.


Namun Mikan bersyukur karena Yudha terlihat tak mempermasalahkan pembahasan sensitif ini. Tunggu, atau apa memang Yudha ini kelewat polos soal hal seperti ini?


"Iya aku mengerti, Bu. Lagipula aku tidak mau merasakan sakit di dada saat bertengkar dengannya." Kata Yudha.


"Oh maaih ada satu lagi yang perlu kau lakukzn, Yudh!" Kata Mikan. Sesuatu ini sangat penting.


"Tolong kurangi aktivitas sex kalian karena usia kandungan Melody yang semakin bertambah! Cukup bahaya kalau terlalu sering sehingga akan membuat kontraksi lebih cepat." Kata Mikan.


Yudha kaget. "Da-dari mana ibu tahu ji-jika aku dan Melody sering me-melakukan sex akhir-akhir ini?" Tanya Yudha yang tak pernah terbata sampai beberapa kata.


Apa lagi di hadapan ibunya.


Apakah ia sedang malu?


"Ibu mendengar suara desahan dari kamar kalian!" Jawab Mikan.


Yudha merah padam. Apa suara desahan saat ia bercumbu dengan Melody bisa sekeras itu? Sampai terdengar dari luar kamar?


"Tuan Muda Yudha, Nyonya Mikan, ini kopinya! Silahkan diminum!" Kata Shuhei membelah percakapan seru ibu dan anak itu.


Shuhei menyelamatkannya. Itu yang Yudha rasakan. Menyelamatkan dari apa? Entahlah, Yudha hanya merasa seperti itu.


Yudha pun langsung bangkit dari duduknya. "Shuhei, temani ibu mengobrol! Aku ingin menemui Melody." Kata Yudha.


"Eh? Ah, baik, Yudha-sama." Shuheipun sejujurnya juga sedang bingung saat ini dengan tingkah dan polah dari Yudha.


Mikan meminum kopinya. "Yudha, jangan bercumbu dengan Melody di kantor!" Kata Mikan cukup keras karena Yudha melenggang mencari Melody. "Anak nakal! Sabar ya, Mel!" Batin Mikan senang.


.


.


.


Yudha tak melihat Melody di dalam ruangannya. Iapun mencari Melody di kamar tidur khusus yang ada di dalam ruang kerjanya, dan benar saja, Melody sedang ada di sana. Tiduran miring sambil bermain ponsel.


Yudha berjalan mendekati Melody. Ia lalu merebut pelan ponsel Melody. Membuat si empunya ponsel kaget dan cukup terganggu.


"Main ponsel melulu! Tidak baik untuk matamu jika kau bermain sambil tiduran!" Kata Yudha.


"Yudha? Sudah selesai meetingnya? Kenapa cepat sekali?" Tanya Melody.


"Aku merindukanmu!" Jawab Yudha yang memilih langsung mencumbu Melody tanpa basa-basi.


Cumbuan yang semakin lama semakin membuat suhu badan naik beberapa derajat.


"Ki-kita sedang berada di-di kantor, Yudh." Kata Melody.


"Aku ingin mewujudkan keinginanku unyuk sekali-kali mencoba berhubungan intim di kantor!" Kata Yudha.


Melody melotot bukan main. Yudha serius ingin Melakukannya. Bahkan ketika ia sibuk dengan pikirannya, tahu-tahu Yudha sudah membuka kancing bajunya.


Mau tidak mau, iapun berakhir dengan sentuhan Yudha.


"Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu bernafsu siang menjelang sore ini. Aku memilih untuk melayaninya. Bagaimanapun dia adalah suamiku. Namun aku merasakan ada hal yang berbeda. Dia terburu-buru saat melakukannya. Di bilang sakit, ya tentu saja itu sakit... Hei Yudh? Apa yang saat ini tengah kau pikirkan? Apa yang terjadi di rapat pemegang saham istimewa tadi? Apa kau baik-baik saja? Atau... Kau sedang marah?" Batin Melody.


.


.


.


Ada yang memiliki fetish? 😂😂 Kalau aku menyukai cowok dengan tengkuk yang bersih, tapi tidak sampai berfantasi seksual karenanya. 😎

__ADS_1


Type di komen ya kalau ada ketertarikan unik pada sesuatu! 😂😂😂


__ADS_2