
Seorang wanita anggun terlihat sedang menikmati secangkir teh hijau di teras rumahnya.
Sedikit-demi sedikit air teh hijau itu masuk ke dalam mulutnya. Ia memejamkan matanya, menikmati setiap rasa yang dihasilkan oleh teh hijau itu. Aroma teh hijau cukup kental terasa di indra penciumannya. Sangat menenangkan layaknya aroma tehraphy alami.
Ia menikmati teh hijaunya dengan begitu elegannya, khas wanita berkelas yang terpelajar. Dialah Uchiyama Kurenai, ibu dari Uchiyama Alvin yang ternyata juga merupakan seorang tea person.
"Apa teh dari Indonesia terasa lebih enak, Ibu?" Tanya Alvin yang menghampiri ibu tercintanya sambil membawa koran pagi, The Japan Time.
"Teh dari Indonesia memang selalu lebih enak, sayang. Teh dari Jepang pun juga enak, hanya saja teh dari Indonesia memiliki rasa dan aroma yang unik. Ibu menyukainya." Jawab Ibu Alvin.
"Jika ibu menyukainya, aku akan menyediakannya untuk ibu lebih banyak lagi."
Kurenai tersenyum. "Arigato. Putraku sayang memang sangat perhatian pada ibunya."
Alvin membalas senyuman hangat ibunya. Lantas ia duduk di samping ibunya. "Semua anak akan seperti itu pada ibunya."
Alvin adalah putra senata wayang Kurenai yang begitu sangat ia sayangi. Alvin adalah anak yang sangat berbakti pada dirinya. Begitu penyayang dan super pengertian.
Kurenai bersyukur memiliki Alvin di dunia ini.
"Apa yang kau lihat, Alvin? Kau membaca koran?" Tanya Kurenai.
Dirinya tak hidup berdua dengan Alvin di Jepang, setelah ia memutuskan untuk menikah lagi dengan Uchiyama Azumane, ia ikut sang suami tinggal di Inggris. Sementara Alvin lebih memilih tinggal di Jepang dengan alasan sekolah.
Bukan berarti ia tak sayang pada Alvin, tapu Alvin memang seperti itu. Ingin mandiri. Alhasil, Kurensipun menyewa orang untuk menjaga Alvin dari kejauhan.
"Hm, ibu tahu kan itu kebiasaanku dari kecil."
"Ah, souka.." Gumam Ibu Alvin.
Souka/sodesuka: Begitu ya..
Ibu Alvin tahu anaknya itu sangat menyukai membaca. Tidak hanya buku tentang ilmu pengetahuan, tapi juga berita cetak seperti koran dan majalah.
__ADS_1
Maka karena itu juga, Alvin menjadi tahu rahasia menyakitkan yang tak seharusnya diketahui untuk anak yang saat itu masih terlalu kecil untuk memahaminya. Terlalu kecil untuk menerima kenyataan menyakitkan.
Harusnya sebagai seorang ibu, Kurenai tahu itu salah, tapi ia bisa apa. Semua sudah terjadi, anaknya mengetahui kebenarannya. Kebenaran yang menyakitkan dan itu menjadi salah satu penyesalan besar yang Kurenai rasakan sampai sekarang.
"Berita apa yang kau baca, sayang?" Tanya Ibu Alvin yang penasaran saat melihat Alvin terlalu serius membaca koran yang dipegangnya.
"Pernikahan Yudha, Bu."
"Oh. Bagaimana acaranya semalam? Ramai? Seru. Maafkan ibu, sayang, ibu tidak bisa menemanimu. Kau tahu itu kenapa. Lagipula, keluarga Kazehaya tidak mengundang ibu."
"Tidak apa-apa, Ibu. Yudha mengundangku saja aku sudah merasa senang." Kata Alvin datar.
"Ah, anak ibu memang tidak pandai berbohong. Kenapa, sayang? Ada apa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?"
Tentu saja ada. Itu yang ingin Alvin katakan. Banyak hal yang membuat pikirannya kacau akhir-akhir ini. Membuatnya pusing tujuh keliling, membuatnya tidak bisa konsentrasi saat di kampus. Ia bahkan banyak melamun, sulit tidur tepat waktu, kurang selera makan.
Tidak munafik jika ia memang senang karena Yudha mengundang dirinya ke acara pernikahan Yudha. Ia benar-benar senang dan bersyukur akan hal itu. Namun di saat yang sama ia juga merasakan luka yang amat dalam di hatinya.
Melody?
Ya, apa lagi memang? Memang ada selain itu?
Tidak ada wanita yang bisa membuat Alvin merasakan penyakit galau selain Melody. Melody dapat dengan mudahnya memberikan virus galau terhadapnya. Ia memang calon dokter, tapi virus itu sangat sulit diobati. Ia mengakuinya.
KENAPA HARUS DENGAN MELODY YUDHA MENIKAH?
Pertanyaan yang ingin Alvin proteskan kepada Tuhan dan semua orang. Kenapa harus Melody yang dinikahi Yudha? Kenapa harus wanita pujaannya yang dipilih Yudha?
KENAPA MELODY MENERIMA YUDHA SEBAGAI SUAMINYA?
Kenapa harus seperti itu? Kenapa ia tidak tahu sama sekali mengenai hal itu? Kapan Melody bertemu dengan Yudha? Kapan mereka saling berkenalan? Dimana? Kapan? Bagaimana mereka bisa memutuskan untuk menikah. Secara tiba-tiba? Terkesan terburu-buru. Ada apa ini?
5W 1H yang membuat frustasi.
__ADS_1
Alvin benar-benar bingung dibuatnya. Ia tidak mengerti mengapa semua terjadi di luar kendalinya. Ia tidak tahu apa-apa dan tidak tahu harus menyikapi seperti apa. Ia sangat menyukai, ah tidak, ia sangat mencintai Melody.
Tapi skarang? Ia bisa apa?
Gadis pujaannya itu telah bersanding dengan laki-laki lain, bukan dirinya! Itu hampir membuatnya gila.
Memangnya sudah berapa lama ia mencintai Melody? Sejak SMA!
Meski banyak orang yang menganggap kisah cinta di usia remaja itu hanyalah cinta monyet, tapi lain halnya dengan apa yang Alvin rasakan saat itu.
Entah apa yang membuatnya begitu yakin, ia merasa cintanya yang begitu besar pada Melody itu adalah cinta yang tulus. Cinta seorang laki-laki pada seorang wanita. Itu yang ia yakini dari dulu sampai saat ini.
Melody.. Melody.. Melody..
Nama yang sama selalu memenuhi setiap ruang memori otak dan hatinya. Nama yang sama yang pernah merrajut kisah cinta dengannya meski hanya sebentar. Nama yang sama yang sudah menjadi mantan kekasihnya, tapi masih ia cintai. Nama dari seorang wanita yang bisa mengalihkan dunianya. Membuatnya tak berdaya. Like a fool. Alvin sadar akan hal itu, rasanya seperti orang yang *****.
"Alvin?" Ibu Alvin mencoba mencari kejelasan dari anaknya yang sedari tadi justru sibuk dengan kemelut di otaknya sendiri.
"Aku tidak apa-apa, Ibu. Jangan khawatir!"
"Lain kali, jika kau sudah tidak tahan lagi untuk menanggung bebanmu, ibu akan dengan senang hati menemanimu memangku bebanmu itu, sayang. Berbaagilah dengan ibu. Ibu pasti akan membantumu sebisa ibu. Meskipun nantinya tidak ada gunanya, tapi ibu akan berperan menjadi penyemangatmu. Bukankah berbagi masalah akan membuat beban terasa lebih ringan?"
"Terima kasih, Ibu. Ibu memang yang terbaik." Alvin tersenyum kepada Ibunya.
Ibu Alvin membalas lembut senyuman manis anaknya itu.
Untuk saat ini , Alvin memang belum terlalu membutuhkan bantuan dari ibunya. Bagaimanapun ini adalah masalah kehidupan pribadinya. Tentu saja berusaha menangain sendiri dulu adalah suatu keputusan yang bijak, kan? Lagi pula, ia masih memiliki banyak waktu untuk menyelidiki apa yang otaknya pertanyakan.
Hanya saja, ada sisi lain dari hati kecilnya yang berusaha menolaknya. Seperti trjadi konfrontasi di antara sisi-sisi itu.
Satu sisi ingin mencari tahu, satu sisi lagi ingin berusaha menerima.
Alvin semakin pusing dibuatnya!
__ADS_1