MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 22: Sabotase


__ADS_3

From: Ibu Mikan


'Yudha-chan, Melody-chan, ganbatte."


.


.


.


?


Yudha lalu memutar otaknya. Berfikirlah! Kenapa sang ibu mengirim pesan seperti itu padanya dan Melody? Pada menantunya?


Ganbatte?


Kenapa ia juga ikutan menjadi panas seperti ini. AC Sialan!


"Yudha, kita terkunci dari luar ya? Panas sekali. Aku tak tahan. Baju tradisional ini sangat panas. Apa seperti ini rasanya mabuk berat karena sake? Tahu akan seperti ini, aku tak akan meminumnya." Kata Melody.


"Kau tidak mabuk jika kau masih sadar akan pikiranmu."


"Lalu kenapa aku merasa seperti ini?"


"Selain yang dihidangkan di kamar ini, kau memakan sesuatu yang lain?"


Melody berfikir. "Aku makan bermacam-macam saat di festival tadi."


"Apa tadi kau juga merasakan hal yang panas?"


Sejenak Melody berfikir. Ia mencoba mengingat-ingat apa saja yang ia makan hari ini, sebelum makan di Onsen. Apakah ia merasakan panas yang sama setelah memakannya?


Ia ingat, makan takoyaki saat masih panas takoyakinya, tapi tubuhnya tidak panas, tidak bereaksi sama seperti saat ini.


"Hmm. Tidak. Aku baru merasakannya di ruangan ini." Melody yakin akan jawabannya.


Yudha lalu meletakkan supitnya di meja makan dengan cukup keras. Ia tahu ada yang janggal. Ia yakin, tadi ia tak salah menafsirkan firasat jika ia merasa diikuti saat beli minuman. Dan saat ia masuk ke dalam kamar, seperti ada sesorang juga yang sampai mengikutinya. Apa mereka yang mengunci kamarnya dari luar? Bodoh, kenapa tadi ia mengabaikannya?


"A-ada apa, Yudha? Ka-kau marah ya? Sampai meletakkan sumpit dengan kasar." Tanya Melody. Ia merasa takut jika membuat marah Yudha lagi.


Bertengkar dengan Yudha itu tidak nyaman.


"Sudah berapa gelas yang kau minum, Melody?"


Bukan menjawab, Yudha malah melayangkan pertanyaan.


"Karena aku merasa sangat haus, mun-mungkin sekitar 6 gelas?"Jawab Melody.


Yudha melebarkan matanya. Enam gelas? Melody pasti sudah gila! "Sebanyak itu?"


"Gelasnya terlalu kecil, Yudha! Hausku tidak akan cepat hilang."


Yudha menjambak rambutnya sendiri. "Sialll, kenapa aku tak menyadarinya." Ia bahkan sudah meminum 7 gelas mini. Segelas lebih banyak dari Melody.


Melody terlihat bingung. "Apa ada masalah?"


Yudha menatap tajam mata Melody. "Seseorang sudah menyabotase minuman kita."

__ADS_1


"Sabotase?" Melody semakin terlihat bingung.


"Itu memang sake, tapi kadar alkoholnya sangat rendah. Aku tahu merk itu. 6 gelas mini saja masih membuatmu yang tidak bisa minum alkhohol saja masih bisa sadar. Yang membuat panas pasti sabotase itu!"


Kembali, Melody semakin bingung dibuatnya. Ia tak paham arah pembicaraan Yudha itu kemana. Yang ia tahu, saat ini tubuhnya sangat panas. Seperti terbakar. Ia meminum sake yang disediakan di kamar mereka sebanyak 6 gelas mini untuk meringankan rasa panasnya. Tapi bukannya rasa panasnya berkurang, malah semakin panas dan menjadi-jadi.


Yudha lalu mengambil ponsel yang ada di meja. Ia kemudian menelpon Nao. Nao mengangkat telponnya. Mereka saling berbincang. Melody hanya mendengarkannya.


Sudah ia duga.


"Katakan padaku, APA YANG SUDAH KALIAN MASUKKAN KE DALAM MINUMANKU? JIKA TERJADI APA-APA, AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUH KALIAN!" Bentak Yudha di ponselnya.


Melody kaget bukan main. Yudha bahkan samaii mengeluarkan suara begitu keras dan kasar. Memang apa sih yang Yudha maksud itu? Melody merutuki kemampuan loading otaknya yang pas-pasan.


Memasukkan sesuatu ke dalam minuman?


Sial, semakin ia berfikir, semakin panas mendera sekujur tubuhnya. Ia butuh kipas!


"Sabar Yudha, itu hanya minuman yang bisa membuatmu melayang saja. Tidak berbahaya. Itu hadiah dari kami semua untuk ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, Yudha-brengsek. Ganbatte." Jawab Nao di ujung sana.


Dan klik. Tutt.. tuttt. tuuttt.


Yudha yang terlihat sangat kesal hanya menatap Melody yang sedang kepanasan.


Melody membuka sedikit kimono dadanya sedikt . Ia mengipasi dirinya yang kepanasan dengan kipas bambu berwarna putih. Rambut panjangnya Melody gulung ke atas, memperlihatkan leher mulusnya.


"Sial."


.


.


.


.


HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAH.


"KALIAN DENGAR ITU? YUDHA AKAN MEMBUNUH KITA NANTI!" Teriak Nao.


"Kita akan kabur pagi-pagi buta nanti. Kita akan kembali ke luar negeri." Kata Neil.


Sai menunjukkan ponselnya yang berisi pesan sumpah serapah dari Yudha. Seperti, 'buka pintunya atau aku akan membuat kalian dalam masalah besar! Jika terjadi sesuatu padaku dan Melody, kalian akan menderita! Aku akan membunuhmu!'


"Kita akan dibunuh Yudha, tapi orang itu jauh lebih menakutkan." Sai tersenyum palsu seperti biasanya. Ia lalu berfikir, ia memikirkan Yura.


Rencana ini didengar oleh Yura dan yang lain. Tadi sebelum bubar ke kamar inap onsen masing-masing, Nao membocorkan rencananya.


"KAMPAI."


"CHEEERRSSS."


Mereka bertiga malah bersulang sake.


Kampai: Bersulang.


.

__ADS_1


.


.


Kamar Mia dan Ayumi...


"HUUWAAA. Aku tak sabar untuk cepat pagi. Hehehe." Mia terlihat sangat bahagia. Ia sampai melupakan rasa lelahnya.


"Mia-chan. Se-semoga ini yang terbaik ya."


Mereka lalu tersenyum dan berharap hari esok jauh lebih baik. Jauh lebih indah


.


.


.


Kamar Yura...


Yura duduk meringkuk di fuutonnya. Ia banyak berfikir. Kenapa ia tidak bisa melakukan sesuatu? Kenapa sepatah katapun sulit keluar dari mulutnya? Kenapa menjadi seperti ini?


Hal yang sama sekali tidak ia duga. Bahkan Sai, orang yang begitu ia percaya menyetujui rencana konyol Nao.


Kenapa hal ini membuatnya berfikir sangat keras?


Kenapa semua tidak berjalan sesuai yang ia inginkan? Kenapa keberuntungan seolah menjauh darinya hari demi hari?


Kenapa semua yang sebelumnya terasa begitu mudah ia kendalikan kini menjadi sulit dan semakin sulit?


Kenapa rasanya sangat menyakitkan?


.


.


.


Tempat Alvin...


Alvin baru saja kembali dari kunjungannya di tempat Yudha dan Melody menginap. Saat ini, ia tidak bisa berbuat banyak. Di depan gerbang kamar itu sudah berdiri banyak penjaga.


Pikirannya menjadi sangat rumit saat ia mendengar rencana kejutan ulang tahun Yudha dari Nao tadi.


Ia bingung bagaimana menyikapinya. Antara iya untuk mendukung atau tidak untuk menolak. Ketika ia ingin mengeluarkan unek-uneknya, lidahnya terasa kelu mengingat bagaimana posisinya saat ini.


Yudha adalah suami sah Melody dan dirinya... dirinya hanyalah seseorang yang mengisi masa lalu Melody.


Nasibnya tidak sebaik itu. Banyak hal yang tidak bisa ia kendalikan karena itu di luar kemampuannya. Miris sekali jika ia mengingatnya. Nyatanya, semenjak ia dilahirkan ke dunia ini, takdir indah itu enggan berteman dengannya bahkan setelah ia mencoba berteman dengan takdir menyedihkan itu sekalipun.


Kenapa Tuhan selalu saja menempatkan dirinya di posisi yang seperti ini? Sampai kapan ia harus bersabar lagi dan lagi?


Jujur saja, semakin hari berlalu, iapun merasa sudah lelah.


Alvin lalu hanya bisa duduk di teras kamarnya. Ia menatap langit malam. Sangat cerah. Bintang kesukaan Melody terlihat jelas. Biasanya Melody akan bernyanyi Bintang Kecil. Tapi ia yakin jika Melody tidak akan bisa melihatnya malam ini. Karena Melody akan...


"Cih, Brengsek!"

__ADS_1


Ia lalu mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke lantai teras.


__ADS_2