MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Informasi Dari Mia 2


__ADS_3

"Jangan bilang kau tertarik dengan Saga Masamune?" Tanya Melody.


"Hei, dia orang yang sangat tampan. Banyak yang tertarik pada orang tampan, seperti aku." Kata Mia.


"Kau ini, semua yang tampan maunya dicintai semua. Haah.." Melody's so done with typical of Mia.


"Iya dong. Naluri alamiah seorang wanita."


"Tapi aku tidak sih. Biasa saja."


"Tapi kau kan tertarik pada Yudha juga pada akhirnya. Tampan pasti menjadi salah satu alasanmu, kan?"


"Iya-iya deh, bohong banget kalau bilang Yudha itu jelek. Suamiku itu paling tampan di dunia ini! Setidaknya versi hidup... Dan tunggu, Mia, aku datang ke sinj itu untuk mendengarkan ceritamu soal informasi keberadaan Yudha, bukan malah bahas hal-hal seperti ini? Haduuh, kau tahu tidak, kepalaku sedang sangat pusing sekali. Aku kalang kabut tanpa Yudha di sisiku! Sudah semingguan aku tak merasakan bau badan Yudha! Tidak ada yang menyapaku dengan tampang tampannya di samping tidurku di pagi hari. Tak ada yang mengusap perutku saat si kembar menendang-nendang. Tak ada yang mengusap air mataku saat aku meringis kesakitan karena polah si kembar yang semakin aktif... Kenapa calon ibu muda ini selalu menderita sih? Masalah berbelit-belit, sangat panjang, dan juga melelahkan! Aku tak punya waktu untuk bercanda!" Omel Melody panjang lebar tanpa jeda.


Mia menyodorkan air mineral pada Melody.


Melody menatap Mia. Melirik tepatnya. Kenapa ia yang sedang marah-marah malah diberi air mineral? Harusnya dibantu dibuatkan solusi, kan? Ini malah diberi air mineral.


Namun, dengan santainya Melody menerima air mineral pemberian dari Mia itu, lalu kemudian meminumnya.


Perlahan air mineral itu membasahi kerongkongannya dan membuatnya merasa jauh lebih baik. Ia kembali menoleh ke arah Mia. Sahabatnya itu saat ini sedang tersenyum padanya.


"Mana terima kasihnya?" Tanya Mia masih dengab senyumannya.


Melody ikutan tersenyum. "Terima kasih banyak, Mia!"


"Sudah aku biang kan, ibu hamil itu tidak boleh marah-marah. Kau ini masih saja ngeyel. Susah dibilangi. Kau tahu, Yudha saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati di sana!" Kata Mia. "Kau berdoa saja demi kebaikan Yudha, jangan malah marah-marah!"


"Y-Yudha?" Melody mau mewek.


"Dan jangan menangis!" Tambah Mia cepat sebelum Melody nangis kejer karena berita yang sedang ia sampaikan saat ini.


Melody nurut kata Mia. Ia tak nangis kejer guling-guling atau sejenisnya, tapi air matanya tak bisa ia bendung. Beberapa kali ia mengusap air matanya hingga pada akhirnya Ayane memberinya tisu untuk nembantunya mengusap air mata yang terjatuh bukan karena seizinnya itu.


"Mia.. peluukk!" Rengek Melody.


Mia menghela nafas. Namun ia tetap memeluk Melody.


"Aku juga memerlukan pelukkan hangat dari seorang teman akan semua rasa menyedihkan yang aku rasakan saat ini, Mel. Meski aku belum bisa menceritakannya kepadamu tentang apa yang terjadi padaku. Tapi, aku akan tetap menjaga perasaanku agar kau tak terimbas akan masalah yang sedanh aku alami... Kau adalah sahabat yang baik, kau pasti akan kepikiran jika tahu soal masalah yang menderaku. Kau sendiri sedang dihadapkan masalah yang begitu berat. Kau tak boleh menambah beban pikiranmu. Wanita hamil seperti dirimu harusnya tak menjalani hari-hari stress seperti ini... Yang kuat Mel, aku juga sedang berusaha kuat. Mari saling menguatkan meski kita memiliki masalah masing-masing." Batin Mia.


Ia jadi ingin menangis. Namun ia tahan, sebisa mungkin ia tahan. Ia tak mau Melody kena imbas padahal dirinya sendiri tadi yang meminta Melody untuk kuat, untum tidak menangis.


Saat Mia memeluk Melody, jaket tebal yang dipakai Mia tersingkap di bagian leher. Melody tak menyadari ada yang aneh di leher Mia, tapi Ayane menyadari. Di sana, di leher samping Mia, ia melihat bercak merah-merah agak gelap. Menurut Ayane, bekas seperti itu mirip dengan bekas yang ada di leher Melody ketika Melody bersama Yudha. Tahulah apa itu dan arahnya kemana. Ya, seperti bekas yang ditimbulkan usai berhubungan badan.


Ayane tak langsung bertanya kepada Mia. Ia memikirkan privasi dan keinginan Mia yang sepertinya tak berniat untuk berbagi cerita. Apa lagi jika saat ini Mia memakai jakwt tebal dan panjang, otomatis itu artinya jika Mia sedang menyembunyikannya. Selain itu, Ayane pikir jika hal ini juga bukanlah hal yang pantas untuk dibicarakan. Alasan malu mungkin mendasarinya.


"Ini perasaanku atau memang sebuah fakta. Aku tak mengerti, tapi rasanya saat ini Mia sangat rapuh. Seperti bangunan dari pasir yang akan dengan mudahnya terhempas hancur oleh ombak yang menepi... Mia, ada apa denganmu? Aku tak berlebihan, kan? Aku tak berpikir terlalu jauh, kan? ... Kau harus kuat, Mia! Apa pun masalah yang sedang tak ingin kau bagi denganku, tolong jangan sampai mengubur semangatmu!" Batin Melody.


.

__ADS_1


.


.


Efek mellow yellow akibat pelukkan tadi mulai memudar. Suasana hati menjadi lebih baik dari sebelumnya. Manusia memang tak bis hidup sendirian. Butuh orang lain untuk menopang kehidupannya. Apa lagi saat sedang sedih seperti ini. Teman adalah pilihan terbaik.


Kembali ke point awal, soal informasi yang Mia ketahui. Mari kesampingkan apa yang menimpa dirinya saat ini, ia harus memberitahu apa yang ia ketahui soal Yudha kepada Melody.


"Maaf, kasarnya Yudha sedang sekarat. Luka disekujur tubuhnya. Aku melihat dia diperban. Dia belum sadar sepertinya karena ketika aku membersihkan ruangan yang digunakan untuk merawat dirinya, dia hanya diam saja. Dia tidak pula terganggu dengan ritual bersih-bersih yang aku lakukan dengan tim... Kami waktu itu pikir jika Yudha pasien koma yang lebih baik dirawat di rumah saja daripada di rumah sakit. Seperti itulah kira-kira." Kata Mia.


Tak lupa juga ia menceritakan tentang bagaimana dirinya bisa masuk ke kediaman tradisional itu.


"Tuhan, kenapa Yudha bisa semenderita itu? Suamiku yang malang." Kata Melody.


"Tapi beruntungnya, Yudha mendapatkan perawatan yang baik. Aku tak tahu alasan apa, yang jelas si penculik tak ingin Yudha mati. Satu ruangan dalam sebuah rumah digunakan seperti kamar ICU kelas rumah sakit, tidak mungin digunakan untuk membunuh Yuda, kan? Logis sajalah, alat-alat sehatan kan sangat mahal harganya. Nyawa Yudha pasti masih berharga. Setidaknya sampai tujuan mereka tercapai." Jelas Mia.


Apa yang Mia katakan Mia itu masuk akal. Tujuan mereka belum tercapai, itu artinya Yudha masih berguna untuk mereka. Yudha akan tetap hidup untuk beberapa saat untuk waktu yang belum bisa ditentukan.


"Selain Saga Masamune, adakah orang lain yang kau kenal, Mia?" Tanya Melody.


"Ano.. aku.. bagaiman aku harus mengucapkannya ya? Aku.. bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana." Mia ingin bercerita apa yang ia lihat sewaktu di Kyoto, tapi ada rasa tak nyaman di dalam hatinya.


"Tolong ceritakan saja, Mia! Aku benar-benar butuh banyak informasi." Pinta Melody.


Mia merasakan penderitaan Melody yang amat berat. Mungkin memang sebaiknya diceritakan saja.


"Dan?"


"Dan.. dia.. berciuman dengan laki-laki.. sebayanya. Aku tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi, tapi yang jelas itu bukanlah ayah tirinya senpai. Itu bukan Uchiyama Azumane." Kata Mia.


Melody kaget. Apa itu artinya ibunya Alvin selingkuh?


"Aku merutuki kekepoanku yang menjijikkan ini, tapi ini mungkin akan sangat berguna buatmu nanti." Mia mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan sebuah foto yang isinya foto ciuman mesra yang dilakukan oleh ibunya Alvin dengan seorang laki-laki.


Melody kembali kaget dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia sangat mengenali sosok yang ada di foto itu.


"Tu-Tuan Han?" Gumamnya.


"Kau kenal dia, Mel? Aku rasa dia bos rumah itu loh." Kata Mia.


"Iya. Dia adalah dalang dari semuanya!" Simpul Melody.


"Apa maksudmu itu? Dalang dari semuanya bagaimana?" Tanya Mia bingung.


"Alvin dan ibunya bekerja sama dengan oyabun kota Kyoto, oyabun kota Kyoto adalah Tuan Han. Tuan Han itu penguasa bisnis kota itu, dengan memberikan jaminan Yudha, Alvin berhasil membawa Emperor Group membuka bisnis baru di sana." Kata Melody.


"Jaminan Yudha? Jadi menurutmu, Tuan Han membutuhkan Yudha? Atau Tuan Han dendam pada Yudha? Apa alasannya, Mel?" Tanya Mia.


"Kau tahu kan kutukan yang menimpa keluarga Kazehaya? Dimana para anggotanya menjadi sangat dekat dengan kematian? Nahh.. ada dalang dari semua itu. Orang itu memiliki dendam kesumat pada Kakek Wijaya dan keturunannya karena dosa kakek di masa lalu. Dan orang itu adalah Tuan Han... Aku tak tahu apakah ada hubungannya dengan ibunya Alvin, yang jelas, Tuan Han ini menjabat posisi vital di Emperor Group." Jelas Melody.

__ADS_1


"Kenapa orang semengerikan itu bisa ada di Emperor Group? Ini namanya musuh dalam selimut! Dikhianati sejak awal. Pantas saja keluarga Kazehaya sangat dekat dengan kematian."


Melody lalu menjelaskan lebih rinci atas semua hal yang ia ketahui selama ini kepada Mia. Masa lalu kakek Wijaya adalah hal pertama yang ia ceritakan, dilanjutkan dengan kisah masa lalu ibunya Alvin, mertuanya, dan juga identitas Tuan Han.


Mia samoai kesulitan bernafas karena mendengar cerita yang super panjang dan melelahkan itu.


"Meski begitu, akan sangat sulit membawa Yudha keluar dari sana. Penjagaan yang amat ketat. Banyak samurai di sana. Aku saja sampai ingin ngompol ketika melihat tato-tato di badan mereka. Belum lagi, rumah gaya tradisional itu sangatlah luas, banyak lorong, ruangan-ruangan, dan juga taman.... Namun aku ingat dimana letak ruangan yang digunakan untuk merawat Yudha." Kata Mia ketika ia menanggapi perihal keinginan Melody untuk membawa Yudha pulang.


"Untuk masalah itu, aku sudah menduganya. Memang tak akan mudah menyusup ke markas yakuza. Apa lagi sekelas Kyoto Guardian. Hah, semoga paman Orion mampu melakukannya." Ucap Melody.


"Namun ketahuilah Mel, membawa pulang Yudha saat ini itu juga mempertaruhkan nyawa Yudha. Sesuai kataku, Yudha itu sekarat. Meski paman Orion berhasil merebut Yudha, tapi jika Yudha tak langsung mendapatkan perawatan yang baik dan cepat, aku takut, aku takut jika kemungkinan terburuk akan menimpa Yudha. Tolong pikirkan masalah ini juga! Tolong katakan ini pada pamanmu, Mel!" Kata Mia.


"Menemui Yudha, sulit. Membawa Yudha kembali juga sulit... Aku tak bisa berpikir lebih jauh, aku hanya bisa mempercayakan hal ini pada paman Orion, Nao, dan juga Neil." Melody tak ingin pasrah, tapi ia juga tak bisa berbuat banyak.


"Melody-sama, Mia-san, ada solusi yang bisa saya tawarkan untuk masalah ini..." Ayane yang tadi hanya bersikap pasif dan lebih memilih untuk menjadi pendengar, kini ia ingin mengutarakan pendapatnya. Ia memiliki ide di dalam kepalanya.


"Solusi? Katakan saja, Ayane-nee! Aku ingin mendengarnya." Kata Melody tak sabar.


"Iya, Ayane-san... Katakanlah apa solusi yang ingin kau tawarkan!" Kata Mia.


"Melody-sama adalah cucu tunggal Tuan Hadinata. Tuan Hadinata adalah adik dari mantan bos yakuza Red Dragon, Takeo atau diketahui sebagai ayahnya Tuan Azumane... Tuan Azumane mengagumi pamannya, Tyan Hadinata. Ini artinya, Tuan Azumane pasti juga akan menghormati Melody-sama yang merupakan sanak keluarganya... Kenapa tidak coba meminta bantuan pada Tuan Azumane?" Usul Ayane.


"Waah, bisa jadi itu, Mel! Bayangkan, dua yakuza terbesar di Jepang bergabung untuk meyelamatkan Yudha? Itu akan menjadi seharah besar dalam dunia bawah!" Kata Mia.


Melody menimang ide dari Ayane yang mendapatkan dukungan dari Mia itu. Masuk akal hanya saja ada yang mengganjal.


"Paman Orion dan Tuan Azumane itu musuhan, apa mereka mau bekerja sama?" Kata Melody.


"Ah.."


Seketika itu langsung drop. Memang sih, mereka berdua memang bermusuhan karena sering bentrok wilayah dan senggol-senggolan usaha. Namun, apa salahnya dicoba, kan?


"Kalau Anda tidak mencobanya, Anda tidak akan pernah tahu, Melody-sama... Saya sendiri berasumsi jika Orion-sama dan Tuan Azumane itu justru sangat akrab. Jika Anda merasa takut untuk bertemu dengan Tuan Azumane, Anda minta saja ditemani Orion-sama. Orion-sama pasti mau menuruti permintaan dari Anda." Kata Ayane.


"Cobalah dulu, Mel! Kita tak akan tahu sebelum mencobanya, kan?"


Melody kembali berpikir lagi.


Kenapa ia terlalu banyak mikir sih?


Bukankah ia hanya ingin semuanya cepat berakhir? Ia hanya perlu mencari bantuan sebanyak yang ia bisa, kan? Dirinya sendiri sudah pasti tidak akan bisa menyelamatkan Yudha tanpa bantuan orang lain. Ini saatnya mengambil langkah! Bukankah ia sudaj tahu jika semalam ia kembali mendapatkan ancaman?


Ya..


Ada kiriman paket boneka berlumuran darah yang mengatakan itu adalah darahnya Yudha. Tentu saja ia tak percaya, tapi secarik kertas memintanya untuk menjual saham milik Yudha.


"Sial.. aku harus berlomba dengan waktu. Aku yakin, sebelum ulang tahun Yudha, akan ada rapat pemegang saham besar-besaran. Jika sampai aku kehilangan saham milik Yudha, maka Yudha tak akan bisa berbuat apa-apa lagi di Emperos Group. Apa lagi jika dunia tahu bawah kakek lumpuh, tentulah kakek juga akan disingkirkan. Tanpa Yudha dan kakek di Emperor Group, maka semuanya akan didominasi orang asing. Bisa jadi Emperor Group malah dipindah namakan akta kepemilikannya. Itu sangat mengerikan. Kakek akan kehilangan bisnis yang ia bangun mulai dari nol. Aku memang harus berbuat sesuatu!" Gumam Melody.


Langkah berikutnya, sepertinya memang harus mengemis bantuan pada keponakan kakeknya, Uchiyama Azumane.

__ADS_1


__ADS_2