
"Melody, jangan terlalu banyak makan manis-manis! Kau bisa sakit gigi, bodoh!" Kata Yudha.
Kedua pipi Melody mengembang karena penuh dengan marsmellow bakar. Ia khilaf dengan rasa manisnya yang begitu menggoda di lidah.
Lagian, lama-lama kesal juga jika Yudha membahas Yura terus.
Cemburu eh?
"Kalau sakit ya tinggal ke dokter gigi! Kan nanti Yudha yang bayar." Melody meringis.
"Kau ini. Habis ini sikat gigilah yang bersih! Jangan sampai ada yang tersisa di sela-sela gigimu!"
"Iya-iya. Kau cerewet amat sih?"
"Aku hanya menghawatirkanmu!"
Melody manyun. "Terima kasih sudah dikhawatirkan."
"Sama-sama." Yudha tersenyum
"Haiishh.."
Pembicaraan berlanjut dengan berapa ukuran sepatu, ukuran baju, celana, warna kesukaan. Mereka berdua membahas banyak hal. Saling lempar pertanyaan, saling jawab menjawab.
Hingga tak terasa waktu sudah pukul 11.45 malam. Hampir tengah malam. Kayu bakar api unggun semakin habis. Marsmellow tinggal sedikit. Banyak kulit ketela di sana-sini. Sudah berapa banyak makanan yang mereka habiskan? Entahlah. 2 kg ketela mungkin lebih.
“Kau kedinginan? Haruskah kita akhiri pembicaraan kita?” Tanya Yudha.
Melody menggeleng. “Aku ingin menghabiskan marsmellowku. Kau menguap beberapa kali, Yudha. Tidurlah jika kau ingin tidur!”
“Baiklah.“
Yudha bangkit dari duduknya. Ia lalu meregangkan otot-ototnya dan berjalan masuk ke penginapan yang memang begitu dekat dengan api unggun.
Melody tak menatap kepergian Yudha. Ia berfokus dengan marsmellow bakarnya. Marsmellow yang tadinya putih bersih, kini terlihat mencoklat perlahan. Melody menariknya dari api, memutarnya perlahan-lahan, memastikan apakah semua sisi sudah terbakar sepenuhnya. Sempurna! Ia lalu meniup marsmellow bakar yang panas itu. Menggigitnya dengan gigitan yang amat besar sampai memenuhi rongga mulutnya.
Manis. Manis sekali.
Seberkas cahaya muncul di langit musim gugur. Bintang jatuh.
“Ayah..” Gumam Melody pelan.
Tak terasa, air matanya mulai terjatuh. Sungguh, malam ini langit terlihat begitu cerah. Berjuta bintang nampak di langit malam. Kemerlap-kemerlip bak berlian di tengah kegelapan.
Melody menatap kosong pemandangan bintang di langit. Air matanya tak henti-hentinya terjatuh. Membelah kedua pipinya yang memucat karena kedinginan. Memberikan sensasi hangat di antara raga yang kian membeku.
“Meski kami banyak bicara hari ini, tapi kami tak menyinggung masalah pribadi."
Air mata Melody masih saja terjatuh. Bahkan semakin banyak.
"Saat Yudha menceritakan masa lalunya dengan Amamiya-san dan Miura-san, ia tidak menceritakan bagaimana perasaannya dengan Amamiya-san. Ia tidak membahas bagaimana ia menatap Amamiya-san."
Api unggun di hadapan Melody masih menyala. Melody menambah kayu bakar agar nyala itu semakin besar.
"Aku yakin Yudha memiliki rasa itu pada Amamiya-san. Yudha pernah mengajak Amamiya-san untuk menikah dan aku mendengarkannya sendiri. Salahkah aku jika aku berasumsi mengenai perasaan Yudha kepada Amamiya-san?"
__ADS_1
Api unggun yang semakin besar itu menghangati tubuhnya yang mendingin.
"Kenapa dia tidak membahas soal perasaannya itu? Aku merasa jika saat inipun Yudha sama sekali belum mempercayaiku. Jangankan sebagai istrinya, sebagai temannya saja aku belum mendapatkan kepercayaan itu."
Melody kembali menatap langit malam bertabur bintang. Tatapannya sendu.
"Wahai langit yang tak berujung, wahai bintang yang menjauh, wahai malam yang akan segera menghilang. Kenapa aku merasa kekalutan yang begitu menyesakkan?"
Melody kembali menangis. Ia mencengkram keras dadanya. Akhir-akhir ini dadanya sering terasa lara.
"Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa masuk ke dalam ruang pribadimu, Yudha.”
Tiba-tiba seseorang mengatupkan selimut tebal ke punggung Melody dari arah belakang. Itu adalah Yudha. Melody tidak menyangka jika Yudha akan kembali ke halaman penginapan dengan membawa jaket tebal.
Lalu, kenapa ia bisa merasa senang hanya dengan hal sepele seperti ini?
Bukankah ia sedang menangis karena lara di dada?
“Yu-Yudha?”
Yudha duduk di sebelah Melody. Menyadari Melody yang sedang menangis, ia lalu menghapus air mata Melody dengan kedua jempol tangannya.
"Kalau kau menangis, kau semakin tambah jelek." Kata Yudha.
"Aku tahu, aku sudah jelek dari sononya." Melody cemberut.
Yudha tersenyum melihat Melody yang kesal. Ia lalu memangkas jarak duduk dengan Melody agar jauh lebih dekat. Ia kemudian menambahkan potongan kayu ke dalam api unggun yang mulai meredup itu.
“Ceritakan tentang ayahmu! Kurasa dia adalah laki-laki yang hebat.”
Yudha sempat beberapa kali mendengar dari sang mertua jika Melody itu sangat dekat dengan ayahnya. Lagu bintang kecil adalah buktinya. Melody juga sering sekali menyanyikan lagu itu dengan suara cemprengnya.
.
.
.
Melody menceritakan semua hal tentang ayahnya. Tentang kenangan masa lalunya dengan sang ayah. Tetang selalu naik sepeda dengan ayahnya, makan udon bersama. Main hujan-hujan hingga menimbulkan influenza.
Melody juga menceritakan kisah ayahnya saat bekerja sebagai karyawan di perusahaan ayahnya Nao. Dean Hwang, adalah sosok ayah yang sangat luar biasa. Selalu bekerja keras.
Meski terbatas akan ekonomi, tapi keluarga kecil itu bisa tersenyum bahagia. Hal yang tak pernah ia sadari dan itu menjadi rasa bersalahnya yang tak terlupakan, hanya ia sendiri yang tidak tahu jika ayahnya mengidap penyakit mematikan.
Rasa sakit ayahnya selalu ayahnya tutupi dengan senyuman. Anak kecil seperti dirinya mana bisa paham. Yang ia tahu, semua baik-baik saja. Semua sudah terlambat ketika ia mendapati sang ayah terbujur kaku di rumahnya.
Yudha menyodorkan sapu tangan kepada Melody. Melody menerima sambil tersenyum. Ia lalu mengusap air matanya.
“Sudah lama aku tak menangis di hadapan orang seperti ini. Apalagi menunjukkan kelemahanku. Haha.” Melody tertawa hambar.
“Menangis tersedu, masih bisa tertawa sambil memegang sate marsmellow yang sudah tergigit. Parah sekali kau Melody.” Ledek Yudha.
“Berisik deh. Hanya ada kau dan aku, aku tak perlu menerapkan tata krama Kazehaya.”
“Kau ini.."
__ADS_1
"..."
"Hei Melody.”
“Apa?”
Yudha menatap mata Melody yang sembab. 1, 2, 3, 4 detik mereka terdiam. Membuat Melody bertanya-tanya. Yudha kenapa? Memanggilnya tapi tak merespon apapun.
Melody justru menggerakkan tangannya menuju kepala Yudha. Ia mengambil dahan yang menyangkut di rambut raven milik Yudha. Ia menunjukkannya pada Yudha.
"Ada dahan kering nyangkut di rambut jelekmu." Kata Melody.
"..."
Masih menunggu apa yang ingin Yudha ucapkan, Melody menggigit marsmellownya dengan innoncent. Mengunyahnya di hadapan Yudha.
Wajah lucu Melody saat mengunyah marsmellow terlihat sangat lucu. Imut lebih tepatnya. Mulutnya penuh marsmellow, ada beberapa remahan yang keluar dan berantakkan, kedua pipinya melebar tak sinkron dengan wajahnya. Seperti tupai di serial The Chipmunk. Membuat Yudha tak kuasa menahan tawa.
"Hahaha."
Yudhapun tertawa lepas. Membuat Melody terheran. Orang yang jarang tersenyum macam Yudha bisa tertawa lepas juga rupanya.
“Maaf-maaf saja ya Tuan, gaya makanku memang jelek, huh.”
“Jauh beda saat kau sok sopan ketika kita makan malam dengan klien kantor. Astaga, hahah, perutku sakit sekali.” Yudha memegangi perutnya yang sakit karena tertawa berlebihan.
“Iya kali, masak aku harus menyantap marsmellow dengan garpu dan sendok? Memotongnya perlahan dengan pisau? Menikmatinya sepotong demi sepotong bak putri raja? Yang benar saja!”
“Gomen, gomen.” Yudha mengacak-acak rambut Melody.
Entahlah...
Saat pucuk kepala diacak-acak oleh seorang laki-laki, ada perasaan nyaman yang keluar. Begitupula dengan Melody. Ini biasa, ini tindakkan sederhana, tapi membahagiakan hati.
”...”
“Melody?”
“Ya?”
CUUP 💏
San tusuk sate marsmellow terjatuh begitu saja.
.
.
.
“Ada sisa marsmellow di bibirmu!”
?
?
__ADS_1
“Eh?”