MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Bisa Apa?


__ADS_3

Hari berlalu, semua keadaan masih sama. Sedang diam tapi bukan perang dingin. Melody terus saja membujuk Yudha agar mau baikan dengan Alvin. Soal Alvin emang sangat rumit, serba membingungkan dan sulit dipahami. Seolah dipaksa untuk menerima, ini loh Alvin, ini loh yang sebenarnya terjadi. Sumpah, ini banyak drama yang sangat melelahkan dan membosankan.


Dan gilanya... Simbah paling keren di abad ini saat ini sedang berdiri di hadapan semua orang!


Kazehaya Wijaya?


Kakek Wijaya?


Ya, kakek Wijaya! Tetua Emperor Group ini sudah sadar dari koma dan nampak sehat walafiat! Bagaimana tidak sehat, percayalah, orang ini sebenarnya hanya pura-pura koma!


Selama ini kakek Wijaya hanya pura-pura koma!


Menyebalkannya lagi, yang tahu hanya nenek Chiyo saja. Dua pasangan tua dan uzur ini adalah pasangan yang menyukai permainan catur kehidupan. Menggelar papan dan memainkan bidaknya. Memainkan setiap pion layaknya boneka tali. Tertawa, menyeringai, dan licik. Mengamati, menyusun strategi, dan mempertaruhkan semuanya.


Hah, apa ini gaya orang kaya? Bukan, mereka saja yang jiwanya petaruh alami.


"Tuan Besar?"


Begitulah kira-kira keterkejutan mereka semua ketika melihat kakek Wijaya berjalan dengan tegapnya. Mereka yang tahunya kakek Wijaya koma, melayangkan tanda tanya besar akan sosok kakek ini yang nampaknya seperti sedang mendapatkan mukjizat dari Tuhan karena bisa bangun dari komanya tanpa ada cacat sedikitpun.


Ayolah, mungkin sekarang Tuhan sedang merencanakan karma dibalik kebohongan kakek Wijaya ini. Berani sekali si Tua Bangka menipu semua orang bahkan anggota keluarganya sendiri!


Lagi... Itu urusan Tuhan, intinya maunya kakek Wijaya kan ini demi permainannya untuk menangkap paus.


Menangkap paus? Ah, ini ungkapan favorit Yudha dan Melody.


"Ka.. Kakek?" Nah loh, Yudha bahkan sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya juga. Kaget, banyak pertanyaan juga, akhirnya hanya bisa melongo dan mangap tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.


"Jika kau penasaran, tanya saja nenekmu. Jangan musuhi dia karena terkesan berpihak pada Alvin daripada dirimu... kakek ada urusan dengan paus yang sudah cacat." Kakek Wijaya lantas meninggalkan Yudha dan segera menuju ke suatu tempat diikuti oleh Aron.


Sekilas Yudha menatap Aron, tapi Aron saja masih berjalan dengan tatapan kosong seolah belum percaya juga akan Tuan Besar sekaligus ayah angkatnya yang berjalan di depannya itu.


"Paman Aron saja tidak tahu, padahal paman orang kepercayaan kakek... Tua Bangka sialan..." Yudha menggerutu dan segera menemui sang nenek.


.


.


.

__ADS_1


Ruang Inap Tuan Han...


Ada sekitar 3 polisi yang berjaga di depan kamar Inap milik Tuan Han. Mereka memberikan izin kepada kakek Wijaya untuk berkunjung ke kamar Tuan Han.


Betapa kagetnya Tuan Han ketika melihat sosok yang ia ketahui hampir tak mungkin untuk bangun lagi bisa berdiri tegap di hadapannya. Tersenyum lagi.


"Dua kaki diamputasi, gagal mendapatkan sahamnya Yudha, dibohongi Kurenai akan status Alvin, perusahaan dibakar, semua bisnis di Kyoto digaris polisi... Aku tak menyangka hari bahagia ini akan datang lebih cepat dari yang aku kira." Kata Kakek Wijaya jumawa.


Tuan Han yang tak bisa apa-apa dengan keadaannya hanya bisa menatap benci kakek Wijaya, sosok yang sudah menghancurkan ayahnya dan Yakuza Red Dragon.


"Anak muda, kau terlalu kurang ajar kepada orang tua. Harusnya kau menghormati para seniormu ini... Tenang saja, aku tak akan membunuhmu, nikmati saja sisa usia atas kemurahan Tuhan kepadamu! ... Orang cacat dan tak memiliki apa-apa, sama sekali bukan ancaman bagiku. Ah, lagi pula... Tuntutan hukuman seumur hidup sedang menantimu di persidangan."


"Aku masih memiliki anak yang akan membalasmu suatu hari nanti!" Kata Tuan Han.


Kakek Wijaya tertawa. "Anak? Maksudmu Saga Masamune?"


"..."


"Hallo Tuan Wijaya, hallo ayahku... Konichiwa..." Kata Saga yang tiba-tiba muncul, masuk ke dalam kamar inap milik Tuan Han. Tak lupa, ia juga memamerkan senyuman terbaiknya.


Saga lantas berdiri di samping kakek Wijaya.


"Maafkan aku ayah biologisku, meski aku anakmu tapi kau selalu menjadikanku alat, kau tak pernah benar-benar menganggapku anak... Kau menginginkan keuntungan dariku yang seharusnya tak dilakukan oleh seorang ayah... Kau memperkosa ibuku dan membunuhnya, ini sudah cukup bagiku untuk membencimu... Ketika Tuan Wijaya menawariku kehidupan baru dari gelapnya dunia bawah, tentu saja aku langsung menerimanya. Aku hidup enak setelah ini meski tanpa bekerja, saham kecilmu di Emperor Group sudah berpindah tangan kepadaku." Kata Saga.


"SAGA!" Kesal Tuan Han. Bagaimana bisa Saga menghianatinya? Bagaimana bisa Saga memiliki akta pemindahan saham miliknya?


"Tenang saja, kau tak perlu khawatir, Saga... Sahammu tak akan bisa balik ke tangan ayahmu. Meski akta pemindahan saham ayahmu atas namamu itu palsu, asal kau punya uang, kau bisa membungkam mulut para pengacara. Ayahmu yang tak punya apa-apa itu tidak akan mampu merebutnya kembali." Kata Kakek Wijaya.


Saga pun lalu tersenyum senang. "Maaf ayah, aku ini hanyalah keturunanmu, wajar saja jika aku ini brengsek sepertimu, kan? ... Selamat menikmati dinginnya hotel prodeo, tenang saja, agar kau tak kesal, aku tak akan pernah menjengukmu... Sayonara, Ore no Jiji!"


Kakek Wijaya dan Saga keluar dari kamar inap Tuan Han dengan kepuasan di dunia wajahnya. Mereka mendengar suara teriakan dan 'jatuh' yang ia yakini jika Tuan Han sedang sangat kesal akan kata-katanya itu. Sudah cacat, kehilangan segalanya, mau dipenjara lagi. Nikmat yang mantap, kan?


"Kudengar kau tertarik dengan cucu menantuku?" Tanya kakek Wijaya.


Saga langsung memalingkan wajah.


"Dia saudara sepupumu! Kandung!"


"Gomenasai... Kadang rasa tidak bisa dibendung, tapi aku menghormati Anda dan hubungan darah rumit keturunan Takeo dan Hadinata. Saya memang brengsek, tapi saya bukan ayah saya... Saya mengerti cinta sejati dan cara mencintai dengan benar."

__ADS_1


"Syukurlah... Jangan berbuat macam-macam dan hiduplah dengan damai mulai hari ini dengan statusmu yang baru! Hiduplah sebagai Saga Uchiyama. Azumane ingin kau bersamanya sebagai sisa keluarga rumit yang harusnya tak ada itu."


Masih ada Melody dan Tsuchiya, tapi keduanya sudah memiliki marga baru mereka. Sementara Saga tak bisa lagi memakai marga ibunya, 'Masamune' karena nama itu sudah dianggap mati oleh kepolisian. Kisah Kyoto Guardian, Kyoto Contruction, Saga Masamune, dan Tuan Han sudah berakhir. Setelah sidang penentuan hukuman untuk Tuan Han selesai, berakhir pula tentang semua itu. Semua akan dihapus dari sejarah.


Azumane sangat mengerti hidup tanpa cinta orang tua, ketika ia melihat Saga, ada rasa iba di sana, ia ingin percaya jika di masa depan Saga tak akan menghianatinya, maka dari itu, ia ingin menjaga Saga sebagai keluarga, sebagai pamannya.


Saga adalah informan terbaik dalam membasmi segala bisnis gelap milik Tuan Han. Tanpa tersisa, semuanya terinfokan oleh Saga.


"Kau bebas... Nikmati waktumu dan hiduplah dengan baik! Temukan cinta sejatimu dan binalah keluarga baru yang penuh cinta!" Kata Kakek Wijaya.


"Arigato gozaimasu, Wijaya-sama..."


.


.


.


Usai dari kamar Tuan Han dan berpisah dengan Saga Masamune, ah, maksudnya Saga Uchiyama, atau lebih tepatnya Uchiyama Saga. Kini Kakek Wijaya diikuti Aron yang tadi tidak ikut masuk ke kamar Tuan Han, berjalan menuju kamar inap Alvin.


Sama reaksinya dengan semua orang, Alvin pun melongo dan cengo di tempat.


"Kakek lelah menjelaskannya, tapi kau dan Yudha sama-sama tahu betapa liciknya kakek kalian ini... Kakeknya hanya bilang, kerja bagus, Alvin!" Senyum kakek Wijaya tulus.


Alvin bahkan sampai menangis. Mendapatkan pengakuan dari sang kakek adalah hal yang paling ia dambakan dalam hidupnya. Betapa sulitnya ia berjuang selama ini demi diakui sebagai cucunya Kazehaya Wijaya.


"Terima kasih banyak, Kakek... Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang. Syukurlah kakek tidak apa-apa." Alvin tak berniat bertanya lebih kenapa kakeknya itu berbohong soal koma, ia tahu, ini pasti bagian dari rencana, ia hanya mengikuti alur saja.


"Ketika kakek memutuskan untuk tidur, kau menjadi tameng dari semua orang fraksi oposisi kakek dan Yudha. Kau berjuang keras mempertahankan kestabilan Emperor Group yang kacau karena kelakuan Yudha dan kecelakaan kakek. Harga saham membaik, bisnis lancar, dan Emperor Group semakin untung... Kerja baik, Alvin! Kakek bangga kepadamu!"


Kerja bagus, kerja baik, kakek bangga kepadamu... Ungkapan pujian yang tak pernah Alvin bayangkan bisa ia dapatkan dari kakeknya. Ia sangat bahagia. Rasanya mati sekarang pun ia juga tak mempermasalahkannya.


"Kakek sudah melihat bagaimana kau berjuang demi keluarga kita. Kau bahkan menghianati ibumu sendiri demi keluarga kita, keluarga yang selalu memperlakukanmu dengan buruk. Kau lolos ujian dari kakek. Kakek bisa mempercayaimu seutuhnya... Namun apa daya, maafkan kakek, kau bahkan tak bisa menikmati jerih payahmu lebih lama lagi. Kakek dan nenekmu sama sekali tidak memiliki sumsum tulang belakang yang cocok denganmu... Aku akan meminta Aron untuk mengecek sumsum tulang belakang ibumu, mungkin saja dia cocok untukmu." Ada kekhawatiran mendalam di wajah senja kakek Wijaya.


Alvin seperti merasakan angin sejuk ketika dikhawatirkan oleh kakeknya. Ini rasanya luar biasa. Lebih indah dari sekedar apa yang disebut sebagai jatuh cinta.


"Ibu sedang dalam masa pengobatan akibat kecelakaan itu. Jangan sakiti dia lagi. Aku sudah menghianatinya, akan sangat menyakitkan baginya jika dia harus menyumbangkan sumsum tulang belakangnya untukku... Lagi pula, saat aku tahu aku sakit kanker, saat itu pula aku bertekad untuk mati. Kakek tak perlu menghawatirkanku. Ini pilihanku..."


Bisa apa?

__ADS_1


__ADS_2