
Dengan semangat Melody mengikuti pengawal pribadinya yang ia kenal sebagai kak Ayane.
Melody senang karena Ayane cepat akrab dengannya. Melody juga senang, meskipun tadi Yudha sempat berbicara kasar padanya, tapi Yudha tidak tega membiarkannya tersesat di rumah yang super besar itu.
"Apa yang aku pikirkan sih? Semuanya akan membaik! All is well! Percayalah, bukan, maksudku aku ingin percaya jika Yudha bukanlah orang yang jahat. Tadi Ayane-nee sekilah menceritakan tentang kepribadian Yudha. Meski tak banyak, tapi aku jadi tahu jika Yudha memang orangnya cukup dingin dan ketus saat berbicara pada orang lain. Menyebalkan memang. Ah, aku ingin lebih jauh mengenalnya lagi. Aku ingin tahu bagaimana calon suamiku ini."
.
.
.
Kamar Melody ternyata sangat jauh. Sesuai dengan yang Melody duga. Kamarnya berada di rumah bagian kiri dan di lantai dua. Sudah bisa dipastikan betapa pegal kakinya demi melangkah sampai ke dalam kamarnya.
Bukankah ia cukup beruntung karena memakai sandal jepit? Meski lelah juga sih. Bayangkan jika ia memakai heels seperti Ayane-pengawal barunya? Ia pasti akan memanggil tukang pijit kaki!
"Pakai sandal jepit saja sudah begini lelahnya, apalagi harus pake high heels? Aku tarik kembali penyesalanku tentang sandal jepit berbeda warna yang aku pakai ini." Gumam Melody.
"Nona baik-baik saja?" Tanya Ayane.
"Ah? Eh.. Aku baik-baik saja, Kak Ayane." Jawab Melody.
"Ayane-nee baik-baik saja dengan sepatu jinjit itu?" Tanya Melody. "Apa kakinya tidak pegal? Tidak sakit?" Lanjutnya.
"Saya hampir setiap hari memakai sepatu jinjit seperti ini, Nona. Sudah terbiasa. Nanti juga Nona diwajibkan untuk memakainya, terutama untuk keperluan urusan bisnis." Jawab Ayane.
"Aku ikut bekerja juga?"
"Bukan, tapi mendampingin Tuan Muda Yudha sebagai istri."
Istri?
Kenapa tiba-tiba mukanya memanas saat mendengar kata itu?
Ia akan menjadi istri Yudha dalam waktu dekat! Gila, di usianya yang baru dua puluh tahun ini, ia harus menerima gelar baru sebagai seorang istri? Terlalu cepat memang. Namun ide mengenai istri membuat merah padam. Malu tapi enggan mengakuinya.
.
.
__ADS_1
.
Mereka kembali berjalan menuju kamar baru Melody di mansion Kazehaya.
"Ini jalan menuju kamar atau pasar sih? Melelahkan sekali." Batin Melody.
"Nona.." Panggi Ayane.
"Ya?"
"Selamat datang di kamar baru, Nona.." Ayabe membuka pintu kamar yang tertutup itu.
Melody melebarkan kedua matanya ketika melihat isi kamar barunya itu. Apa ini nyata? Unyuk orang baru seperti dirinya mendapatkan kamar super mewah ini? Tubuhnya bahkan sampai bergetar.
Ia melangkah pelan memasukki kamar barunya.
Kamar Melody sangat luas, lebih luas daripada kamarnya di rumah ibunya. Kamar itu berisi sebuah ranjang mewah, sebuah meja rias lengkap dengan kaca besar dan segala macam make-up, tiga buah almari pakaian super jumbo, lukisan-lukisan indah, guci-guci, dan beberapa hiasan lainnya.
Terdapat juga kamar mandi pribadi di dalam kamar dengan sebuah bak mandi mewah kelas hotel berbintang. Yang paling membuat Melody senang, kamarnya memiliki balkon dimana ia bisa melihat langit dan pemandangan taman rumah.
"Apa semua ini benar-benar untukku? Baju-baju ini? Make-upnya?" Tanya Melody.
"Nyonya Besar? Nyonya Mikan?" Ayane mengangguk. "Nenek dan ibu memang orang yang sangat baik. Aku sangat menyukainya, ini terlihat cocok untukku."
Ayane menyukai senyuman polos Melody. Penilaian sesaatnya tidak salah. Gadis sederhana ini adalah calon terbaik untuk bersanding dengan Tuan Mudanya.
"Nyonya Mikan sangat bersemangat saat mengetahui Nona akan menjadi menantu di keluarga ini. Dari dulu Nyonya Mikan sangat berharap Tuan Muda Yudha memiliki kekasih, tapi baru saat ini ada seorang wanita yang diundang masuk ke dalam rumah ini. Nona sangat beruntung, Tuan Besar sangat menyukai Nona, begitu juga dengan Nyonya Besar dan Nyonya Mikan."
Ada satu hal yang perlu Melody tanyakan. Rasanya begitu mengganjal di hati meski sudah tertindih rasa bahagianya saat ini. Membuat tak nyaman dan begitu mudahnya mengambil alih. Moodnya berganti dengan cepatnya karena hal yang mengganjal itu.
"Bagaimana dengan Amamiya Yura?" Tanya Melody hati-hati.
"Setahu saya Nona Amamiya bersahabat baik dengan Tuan Muda Yudha semenjak sekolah dasar. Itupun karena Ayah Nona Amamiya rekan bisnis sekaligus sahabat mendiang Ayah Tuan Muda." Jelas Ayane.
Nona barunya ini mengetahui tentang keberadaan Yura. Ia memang tak mengenal secara pribadi dengan Yura. Ia hanya tahu tak banyak tentang sahabat Tuan Mudanya. Namun, apa ia harus melakukan sesuatu agar Melody tenang?
Maksudnya, agar Melody tetap percaya jika hubungan Yudha dan Yura hanyalah sebatas hubungan persahabatan.
"Oh begitu? Tapi aku rasa Yudha menyukai gadis itu."
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona. Itu bukan bagian saya untuk berbicara."
"Tidak apa-apa, aku hanya menduga saja."
Ayane mengamati Melody. Jawaban darinya pasti tidak membuat Melody puas. Ia harus bersabar. Membahas hal seperti ini sangat sensitif, dan saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Di sebelah kiri kamar Nona adalah kamar Tuan Muda. Jika Nona ingin mengobrol dengan Tuan Muda, Nona bisa langsung mengetuk kamarnya. Nona tidak perlu lagi harus berjalan jauh untuk mencari kamar Tuan Muda."
"Ah.. Aku akan terlihat bodoh jika aku tersesat lagi."
Ayane tersenyum. Nona baru yang ia layani terlihat masih sangat lugu. "Baiklah Nona, silahkan Nona merapikan diri. Jika Nona membutuhkan saya untuk membantu Nona berdandan, saya ada di luar kamar Nona."
"Iya, Ayane-nee.."
"Nona, Anda harus banyak istirahat untuk persiapan pertunangan nanti malam! Pesta pertunangan nanti malam akan berlangsung cukup lama karena akan banyak tamu bisnis dari Tuan Besar."
Nanti malam? Pesta tunangan?
"Haah, sudah kuduga. Aku hampir saja melupakannya." 😑
Ayane-nee: Mbak Ayane.
.
.
.
Melody merebahkan tubuh lelahnya di ranjang usai mandi. Ranjangnya sangat empuk dan nyaman. Tulang belakangnya pasti sangat bahagia bisa dimanjakan dengan kenyamanan ini.
Ia menata langit-langit kamarnya. Ia berkedip betkali-kali.
"Banyak hal yang terjadi dalam beberapa hari ini. Arus hidup yang tak bisa aku halangi. Begitu landai lalu tiba-tiba turun seperti air terjun. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, atau suatu saat nanti. Tak hentinya aku berharap jika keputusanku ini benar."
______________________________________
Di Jepang, China, Korea atau Asia timur, untuk kesopanan yg hakiki, memanggil seseorang lebih diutamakan menyebut marga dulu. So, nanti akan seperti itu dan ada jg memanggil nama belakang/nama asli/nama kecil bagi mereka yang sudah kenal.
Jadi, mohon pahami nama-nama castnya ya.. biar gak bingung. Thanks..
__ADS_1
Jangan pelit jempol.. komen.. share jg.. bagus lg vote 😂😂