MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chapter Special 3


__ADS_3

Untuk mengurangi ketengangan, aku mau selipin chapter spesial yang isinya kemesraan Melody dan Yudha. He he he he he he he he he he, mesum semua memang isinya, tapi mau bagaimana lagi, soalnya ini memang lehbih cocok untuk dijadikan pemecah rasa tegang.


Thanks buat yang masih setia mengikuti ya.. sending so much love and selamat membaca! Happy reading! Jangan lupa jempolnya!


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x


.


.


.


Di kamar Melody dan Yudha...


"Yudha, sudah dong! Sudah pegal! Rasanya tak nyaman aku sudah sangat lelah, Yudh!" Kata Melody.


Yudha tidak mendengarkan perkataan Melody. Ia langsung membungkam bibir Melody ke dalam ciuman yang panjang. Ia membawa Melody menikmati moment kebersamaan mereka yang jarang mereka miliki. Kesibukan di antara keduanya memang tak bisa mereka pungkiri.


Melody kuliah, dirinya sendiri kudu kerja cari nafkah. Sebenarnya tidak kerja pun tak masalah, uang mengalir dengan sendirinya ke dalam akun bank miliknya. Hanya saja, ia seperti lari dari tanggung jawab. Bagaimana pun ia laki-laki yang sudah menikah, ia memiliki tugas untuk menghidupi istrinya dan bekerja adalah tugasnya.


Bukankah itu sangat keren?


Lempar sandal!


Yudha sepertinya kurang paham jika bekerja itu harga dirinya seorang laki-laki di belahan dunia mana pun! Ini sudah biasa! Biasa!


"Sudah ya? Besok lagi, hm?" Pinta Melody di sela-sela permainan panas mereka.


Sudahan? Ia sama sekali belum puas! Itu sama sekali tidak adil. Enak saja Melody puas duluan sememtara dirinya harus menderita. Kenapa harus mengalah dengan permintaan Melody sih?


"Aku belum puas, Mel! Setidaknya lakukan 3 atau 4 ronde lagi!" Kata Yudha.


"Ha-hah? Gila kau ya? Aku sedang hamil, bodoh! Yudha-berengsek, sakit, bodoh!" Pekiknya kesakitan.


"Makanya jangan banyak bicara, aku kan jadi kesal!"


"Yudha.. kau dengar tidak sih?"


"Aku tak dengar tuh! Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, Mel! Kau dilarang menolakku!" Kata Yudha.


Dan pergulatan panas di ranjang itu kembali terjadi. Sumpah, ini sudah berkali-kali. Yudha sama sekali tidak memberikan ampunan pada Melody yang merengek kesakitan tapi minta lagi. Pada dasarnya, tubuh itu jauh lebih jujur daripada otak dan mulut. Kenapa tubuh selalu menghianati sih?


Melody membuka matanya dan dia bisa merasakan tangan Yudha memeluk perutnya dari balik selimut yang mereka kenakan. Kemarin, mereka belum selesai berdebat soal hal yang sebenarnya tidak penting juga. Biasalah, Alvin membuatkan teh hangat buat Melody, tapi Yudha cemburu dan mengajaknya perang mulut. Namun, Yudha mengakhirinya dengan membungkamnya dengan satu ciuman yang panjang. Ia tidak bisa menolaknya dan mereka malah berakhir diatas ranjang semalaman.


Yudha benar-benar tidak melepaskannya.


Kenapa Yudha bisa menjadi semesum ini sih? Rasanya jadi tidak terbayangkan ketika mengingat bagaimana Yudha dulu. Dingin, kaku, dan ketus. Bandingkan dengan saat ini, ketiga sifat dasar itu masih ada, tapi kalau sudah berduaan, ujung-ujungnya akan membuat badan dirinya mau pun Yudha menjadi bermandi keringat. Basah dan panas. Penuh peluh.


Gila.. memanas lagi kalau mengingatnya. Apa cinta memang segila ini?


Bagaimana Yudha bisa sehebat itu sih? Yudha hadir dengan penuh kejutan yang tak Melody mengerti.


Melody bisa merasakan tangan Yudha mengelus perutnya. Mengelus buah cinta mereka yang tumbuh di dalam rahimnya.


"Ohayou.." Bisik Yudha.


Melody membalikan tubuhnya dan memandang Yudha yang kini sedang menatapnya.


"Ohayou, papanya anak-anak!" Kata Melody.


"Pagi yang hebat, kan?" Yudha bertanya dengan seringainya.


Melody bisa merasakan pipinya memanas. Pria dihadapannya ini selalu bisa membuatnya tersipu.


"Masalah kita belum selesai, Yudha-kun!" Melody mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Masalah kita sudah berakhir. Dengan hubungan manis kita yang hebat semalam, hal itu menandakan bahwa masalah kita telah selesai!"


"Tapi, kita ini punya tugas penting-"


"Tugas penting itu kan urusannya Author, Melody." Yudha kembali membungkam Melody dalam ciuman yang panjang. "Kau hanya ingin melakukan ini denganmu di pagi indahku."

__ADS_1


"Yudha-kun!"


"Aku menginginkanmu!"


"Yudha mesum!"


"Kalau tidak mesum, bukan aku!".


"Y-Yudha, Authornya mau melempari kita dengan golok!"


"Biarkan saja, salah sendiri nyuruh-nyuruh kita padahal di novel kita sedang dipisahkan. Dia itu jahat! Memisahkan kita yang sedang saling cinta! Kalau tidak sabar, bodo amatlah. Marah tinggal marah saja! Aku akan tetap meminta jatahku padamu, Mel. Urusan Author nanti saja. Sama sekali tidak penting!" Kesal Yudah.


Author melembut. "Ya sudah, sana kalian mantap-mantapan dahulu! Aku tunggu kok. Seperti semalam. Aku masih setia menunggu!" Sabarnya Author pake banget dan kebangetan.


Dan akhirnya, hanya bisa gigit jari melihat dua insan manusia ini menikmati perang nafsu mereka yang panas membahana. Suaranya loh. Astaga... mengeram, mendesah, penuh kenikmatan, merintih, dan aaah.. lama lama membuat panas. Ini apaan coba?


Krik.. krik.. krik..


Sepuluh menit..


Dua puluh menit..


Tiga puluh menit..


Sejam..


Terus lanjut sampai beberapa ronde.


Author menghela nafas pasrah. Mereka malah tertidur lagi karena kelelahan.


.


.


.


Beberapa saat kemudian...


"Kapan kita dipertemukan lagi, Mel?" Tanya Yudha.


"Lalu apa ini? Kita malah disuruh promosi sama Authornya. Harusnya bikin scene chapter spesial buat kita karena kita jarang nongol bersama! Hufft!"


"Ya sudah, kita promosiin saja dulu!"


"Iya deh, kali aja nanti ending kita bahgia tidak lama lagi."


"Iya. Semoga."


.


.


.


Maaf Promo Lagi


Ini diambil dari salah satu chapter novel ERROR: Iblis in Love. Ceria dark romance gitu. Yang suka genre gelapmya cinta, mampir ya.. Ditunggu loh.


Kiara jatuh cinta pada iblis yang sudah menghancurkan hidupnya! Tuan Ray yang dingin dengan segala keabsolutan perintahnya.


.


.


.


"Nah, kita sudah memberikan satu halaman untuk promosi! Semoga dengan begitu, kita bisa melanjutkan kisah kita yang tertunda ini." Kata Yudha.


"Sulit sekali jauh darimu, Yudh. Aku merasakan kehampaan akibat menanggung rindu yang tak kuasa aku bendung. Rasanya makan menjadi tidak seenak saat kau sedang bersamaku. Rasanya minum pun tetap tak akan menghilangkan rasa rinduku. Hampa tanpamu, merana hatiku." Kata Melody.


"Aku baru tahu jika kau bisa sepuitis ini? Hmm, apa kau menyukai sastra?"

__ADS_1


"Yudh, aku sedang bekata-kata manis, jangan menyela garing seperti itu deh! Kau membuatku sangat kesal!"


"Kau kau kesal, kau tambah cantik."


"Cantikkan mana aku dengan Yura?".


"?"


"Loh? Kok pake mikir sih? Itu pertanyaan yang mudah loh. Jangan bilang kau mau bilang jika aku kalah cantik denga si ulat genit itu? Oke, jadi Yudha gitu ya? Jahat deh kamu! Sebel!"


"Aduh kok marah sih malahan? Hei, pada dasarnya wanita itu cantik. Kalau tampan berarti laki-laki."


"Tapi kan ada yang cantik dan lebih cantik. Yang aku tanyakan itu lebih cantik yang mana antara aku dengan Yura!"


"Tumben tidak memanggil dengan sebutan Amamiya-san? Biasanya sangat sopan."


"Yudha jangan mengabaikan pertanyaan deh! Kebiasaan!"


"Marah ya?"


"..."


"Mel.."


"Iya aku marah! Mana permintaan maafnya!"


"Maaf.."


Paling baik dan membuat bahagia memang mendengar permintaan maaf dari Yudha. Melody lalu memeluk Yudha.


"Kau lebih cantik dari wanita mana pun di dunia ini. Kau milikku dan aku tak salah dalam menilaimu." Senyum Yudha.


"Yudha, aku tak perlu mengatakan betapa aku sangat mencintaimu saat ini, kan?"


"Aku sudah tahu kok.."


Mereka mengeratkan pelukkan mereka. Kisah yang tak kunjung usai ini membuat mereka banyak belajar. Mereka tahu arti betapa pentingnya waktu untuk bersama. Kebersamaan itu penting untuk menunjang hubungan mereka berdua.


Berpisah pun menawarkan arti rindu.


Namun lebih baik bersama karena bis menjalani hari-hari dengan penuh warna. Bisa berbagi canda dan tawa.


.


.


.


Melody bagun dari tidurnya. Mimpi yang terus saja menghantui setiap kali ia memejamkan kedua matanya.


Namun kali ini nampaknya mimpinya cukup indah dimana ia dan Yudha beradu argumen dan berdebat kecil. Sungguh, ia sangat merindukan moment-moment seperti ini.


Tapi tetap saja... Yudha yang tak ada di sampingnya saat ini membuatnya tak kuasa.


Lagi-lagi air matanya menemani tidur malamnya yang sepi. Di atas ranjang yang mendingin tanpa kehadiran Yudha.


Cinta menghasilkan rindu yang berat, huh?


"Aku bermimpi lagi tentang Yudha. Aku sungguh tak mengerti kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya. Perasaanku kepada Yudha sudah sangat besar rupanya... Yudh, diamna kau saat ini? Hiks, aku rindu, aku kangen sekali padamu. Aku menjalani hariku yang berat tanpamu. Tolong kau baik-baik saja dimana pun kau berada saat ini! Aku akan berusaha baik-baik saja di sini. Aku aka jaga diri dan anak kita. Sampai kau pulang nanti, kami akan menyambutmu dengan tawa. Yudha.. jika kau dengar saat ini, pulanglah! I miss you so much. I cant dny it again. My love for you is growing fast every day. Hard for me to spend my day without you. I need you to be here with me. I want you like you always say to me... I asked God to bring you back to me again. Please, stay health, i am and your kids are waiting for you. Please, baby come back home."


.


.


.


-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x


Thanks buat udah yang baca.. Bye bye.. sampai jumpa di chapter berikutnya. H h h h h h h h h


senyuman manis he he he he he he he

__ADS_1


Ingat.. tersenyum itu paling cocok untukmu! Hadapi hati dengan penuh semangat walau banyak yang tak seduai dengan apa yang ia inginkan!


Love, Sata Eriza


__ADS_2