
"Melody!"
Melody menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dari ruang tamu, nampaklah Alvin dengan beberapa map di tangannya.
"Senpai?"
"Melody, kau akan ke kampus?" Tanya Alvin. Melody mengangguk."Boleh aku ikut bersamamu? Mobilku berada di bengkel, Yudha tidak ke kampus, dia langsung ke kantor."
"Hm, tentu saja. Ayo!"
Alvin tersenyum. dan mereka ke luar bersama dari mansion Kazehaya.
"Kukira tadi kau sudah berangkat karena Ayane-san sudah memanasi mobil pagi-pagi tadi."
"Iya tadi memang sudah berangkat, tapi ya itu tugas akuntasiku tertinggal di kamar, karena harus dikumpulkan hari ini, maka mau tidak mau aku harus menggambilnya." Melody mencoba menjelaskan.
"Dasar ceroboh!"
"Haha, aku terima hinaannya."
"Aku sedang tidak menghinamu, Mel!"
"Hehe, tahu kok. Senpai kan baik hati."
"Kau ini. Padahal kau bisa hubungi orang rumah untuk mengantarkan tugas akuntansimu ke kampus loh."
Melody tepok jidat. Ia seharusnya memanfaatkan statusnya sebagai Young Lady keluarga Kazehaya, dengan begitu ia tidak harus menghindari Yudha dalam beberapa hari ini.
"Aku lupa kalau aku bisa meminta bantuan pada Shuhei-san." 😣
"Butuh air mineral?"
"Senpai, ini bukan iklan! Percayalah aku sudah berusaha fokus hari ini!"
Hahaha.
Dari lantai dua, sosok mata onyx menatap dua insan manusia yang baru saja meninggalkan mansion Kazehaya. Dengan tawa khas bahagia mereka, dengan senyuman merekah mereka, dengan candaan ringan mereka. Apa Melody selalu mudah tertawa seperti itu? Hanya memikirkannya saja sudah membuat kesal.
Ada apa dengan paginya hari ini? Setelah ia merasa agak tenang karena akhirnya ia bisa berbicara dengan istrinya, tiba-tiba sesuatu kembali mendekat seolah menambah panjang jarak antara dirinya dengan Melody.
Apa memang itu yang ia pikirkan?
Iri?
__ADS_1
Menutup pintu kamar dengan cukup keras apa itu sudah bisa mewakili jawaban dari sosok sulit dimengerti macam pangeran Kazehaya Yudha?
Ia hanya menghela nafas.
Hari ini sepertnya akan menjadi hari yang sangat panjang.
.
.
.
Melodi Cinta
.
.
.
Selama di kampus, Melody tetap menjalani kegiatan kampusnya seperti biasa. Pertanyaan soal isu kedekatan suaminya dengan model terkenal Yura juga masih sering ia dengar. Terutama dari sahabat karibnya, Bebek Mia.
Cewek rambut sedada saudara Nao itu selalu merecoki telinganya dengan pertanyaan dengan inti yang sama. Skandal Yudha dengan Yura!
Melody paham jika sahabatnya yang satu ini hanya sedang khawatir padanya. Mia adalah sahabat yang sangat mendukung pernikahannya dengan Yudha.
Mia akan menjadi orang pertama yang membentengi keutuhan rumah tangga Melody. Ini memang agak lebay, tapi jika ini berbicara soal Mia, maka pastilah Mia akan sungguh-sungguh melakukannya.
"Kau bilang tidak ada apa-apa. Tapi lihat ini! Lihat!" Mia meletakkan kasar majalah di meja Melody.
"..."
"Lihat itu! Topik dengan tulisan judul sangat besar dibold pula."
Suara Mia terdengar kesal. Melody mencoba melirik majalah yang Mia sodorkan di depannya. Dengan mengeja ia membaca judul berita yang dimaksud Mia, sahabatnya itu.
"LAGI:SI BUNGSU KAZEHAYA TERTANGKAP SEDANG MAKAN MALAM BERSAMA DENGAN YURA-MODEL SEXY YANG LAGI NAIK DAUN." Baca Melody.
Melody lalu tertegun. Bukan terharu. Ia hanya terdiam. Kembali, ia memang tak bisa berkata apa-apa. Tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Melihat dari kondisi dan ornamen, interior restaurant itu, Melody yakin jika itu diambil di Jepang.
Melody mulai berpikir. Apa setelah kembali dari Kanada, Yudha makan malam bersama Yura bahkan setelah skandal itu terjadi? Bukankah sebaiknya mereka saling menjauh dulu untuk menjaga reputasi mereka? Menjauh sementara tidak berat, kan?
__ADS_1
Bukankah jika mereka melakukan hal seperti ini maka rumor negatif tentang mereka akan semakin sulit dihilangkan? Apa mereka tidak khawatir dengan pencitraan mereka?
Apa, apa memang ini yang mereka harapkan?
Apa memang mereka menikmati semua ini? Apa ini memang jalan terbaik untuk menunjukkan kebersamaan mereka?
Melody mulai kembali berfikir keras. Saat ini bahkan jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Jawab Melody!" Kata Mia.
Apa Yudha tidak memikirkan perasaannya meski hanya sebentar saja? Maksudnya, posisinya saat ini adalah istri dari Yudha, jika Yudha terlibat isu seperti itu dan tanpa sepengetahuan darinya, maka ia akan kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang menyapanya.
Melody bahkan tidak tau bagaimana ia harus menjawab pertanyaan dari Mia. Ia sungguh banyak berbohong pada Mia jika ia sudah baik-baik saja dengan Yudha, nyatanya, ia baru bertegur sapa pagi tadi. Itupun sangat singkat.
"ME-LO-DY! JAWAB!" Kata Mia lagi dengan suara kerasnya.
Melody terlihat kaget dan terbangun dari lamunan pikirannya yang kesana kemarin.
"A-apa?"
"Astaga. Malah tanya apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Mia.
Mia mulai khawatir lagi dengan kebingunan Melody. Ia yakin jika saat ini Melody juga sedang dipusingkan oleh gosip itu.
"Ano, Bebek, aku mau pulang saja. Sudah tidak ada kuliah, kan?" Tanya Melody.
Ia membereskan mejanya dan memasukkan barang-barang kuliahnya termasuk majalah milik Mia.
"Hm, tidak ada jadwal lagi." Mia hanya menatap gadis musim semi di hadapannya itu.
Melody terlihat gusar dan terburu-buru saat memasukkan barang-barangnya. Bahkan bolpoint yang sama bisa jatuh dua kali. Mia tahu jika saat ini Melody sedang tidak tenang. Ia juga tahu, jika mata memerah Melody akan segera berlinang air mata.
"Bebek, aku duluan ya." Pamit Melody.
"Jika butuh apa-apa, ingat, aku akan selalu ada untukmu, Jenong jelek."
"Terima kasih, Bebek panggang." Suara Melody bahkan terdengar parau.
Sepertinya membiarkan Melody sendiri saat ini adalah hal yang terbaik. Mia mencoba pasrah dengan keingin Melody saat ini meski tangannya ingin meraih sosok Melody yang terlihat merapuh itu.
Saat berpas-pasan dengannya, air mata bening itu terjatuh. Sebagai seorang sahabat yang sudah lama menjalin persahabatan, meski hanya setetes air mata, maka seolah sudah tahu bagaimana rasa sakitnya. Mia mengerti, tapi untuk saat ini bukan panggungnya untuk beraksi.
"Hatimu pasti sangat terluka. Kau hanya belum menyadari bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya pada Yudha. Setengah tahun lebih sudah kau dan Yudha hidup bersama, di bawah atap yang sama, di kamar yang sama pula. Setengah tahun lebih juga, kau berbagi rasa dengan Yudha. Canda dan tawa. Ikatan resmi yang mengikat kalian 'memaksa' kalian untuk saling bergantung satu sama lain dengan alasan kepentingan masing-masing. Namun, kini rasa yang ditimbulkan karena efek selalu bersama mulai muncul. Dimana rasa itu belum terpahami dengan baik. Belum bisa tersampaikan dengan baik pula. Mel, memilih diam itu tidak baik loh. Yang ada hanya akan membuat semakin canggung. Kuharap salah satu dari kalian akan ada yang membuka suara. Saat itu terjadi, kau dan Yudha mulai menapaki anak tangga baru ke tingkatan hubungan kalian yang lebih tinggi."
__ADS_1