
"Hei, apa kau mengenal saudaraku?" Tanya Yudha yang membangunkan lamunan Melody.
"Saudara?"
Siapa? Melody menerka-nerka maksud perkataan Yudha. Saudara yang mana? Bukankah orang yang baru saja bersua dengannya itu Alvin?
"Iya Alvin. Uchiyama Alvin." Jawab Yudha.
"Ah, Alvin-senpai? Maksudmu kau bersaudara dengannya?"
"Hn."
"Dalam ikatan keluarga?"
"Hn."
"Kenapa Alvin-senpai tidak pernah bercerita kepadaku jika dia memiliki saudara." Gumam Melody.
"Apa yang kau bicarakan? Berbicaralah dengan jelas! Kau sudah bukan anak SD lagi!"
"Cih, kau selalu saja protes. Aku dan Kak Alvin-senpai bersahabat sejak sekolah menengah. Dia seniorku."
"Oh."
"Giliran aku berbicara dengan sangat jelas, kau hanya menanggapinya dengan oh saja? Bisakah kau berbicara lebih panjang lagi? Dasar."
"Kau ini berisik sekali. Kupingku terasa ingin pecah."
"Iiiihhhhh Yudha!"
Kenapa rasanya Melody sangat jengkel melihat kelakuan Yudha terhadapnya? Kenapa Yudha tak bisa memilih kata yang membuat dirinya senang sih?
Sudah setengah jam diabaikan, giliran datang ngajak berdebat. Maunya apa si Yudha itu?
"Apa?"
"…"
Yudha menaikan alisnya. "Apa?"
"Tidak ada." Melody sudah terlalu malas menanggapi Yudha. Ia sudah sangat lelah.
"Membuang waktu saja. Cepatlah tidur! Besok kau kuliah juga, kan? Kurasa sudah tidak apa-apa, semua tamu undangan sudah pulang."
Suruh Yudha.
"Tidak perlu kau suruhpun aku akan tidur. Aku benar-benar sangat lelah. High heels ini terlalu tinggi untukku, membuat kakiku pegal-pegal saja."Keluh Melody.
Kakinya berasa seperti dipukuli. Berdiri cukup lama dengan high heels itu sangat melelahkan dan membuat kakinya terasa sangat pegal.
__ADS_1
Jujur saja ia tak terbiasa memakai high heels.
"Siapa suruh memakai high heels." Kata Yudha.
"Yudha! Kenapa kau suka sekali membuatku kesal? Jika tidak karena pertunangan ini, aku juga tidak akan mau memakainya."
"Aku memperbolehkanmu membatalkan pertunangan ini."
Sanggah Yudha.
Memang benar, ia tidak mempermasalahkan jika Melody akan membatalkan pertunangan dengan dirinya. Menurutnya, yang terpenting itu bagaimana perasaan Melody.
Jika Melody enggan bertunangan dengannya, ia bisa apa? Ia tidak akan memaksa Melody tinggal bersamanya.
Tinggal bersamanya hanya akan menjadi burung dalam sangkar dengan segala kemewahan ini. Seperti kata Yura.
Cih, ia masih sangat kesal ketika mengingatnya. Kenapa ia harus mengingat nama Yura di saat seperti ini?
"Aku ingin sekali. Tapi aku tidak bisa." Kata Melody yang memang dari awal berpikir jika idw menikah mudah adalah bukan gayanya.
Bukan keinginannya.
"Oh ternyata aku benar, apa itu karena uang?" Tebak Yudha.
Ini lagi.
Apa Yudha sedang berusaha menguji batas kesabaran dan amarahnya?
"Hei Tuan, aku tahu aku bukan orang berlimpahan uang sepertimu, tapi aku masih tahu bagaimana aku memutuskan hidupku untuk ini. Kau fikir uangmu itu cukup untuk membeli hidupku? Bahkan dengan seluruh harta yang kau milikipun tidak akan cukup. Hidupku terlalu berharga jika dihabiskan hanya untuk berkorban demi kau dan keluargamu! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG DIRIKU! Jangan seenaknya saja menilaiku!" Kesal Melody yang langsung menangis dan meninggalkan Yudha sendirian.
"Apa aku salah berbicara? Kenapa dia marah-marah?" Batin Yudha yang merasa biasa saja dengan kata-katanya. "HEI, Pernikahan kita akan dilaksanakan seminggu lagi!" Teriak Yudha.
"Terserah!"
.
.
.
Yudha menatap jauh Melody yang meninggalkannya. Banyak rasa yang ia alami. Ia yakin Melody juga merasakannya.
"Aku tahu ini sangat berat buatmu. Aku juga merasakan hal yang sama. Ini memang tak akan mudah. Kuharap kau bisa bekerja sama denganku. Selamat datang di keluarga Kazehaya, keluarga yang dikendalikan oleh Kazehaya Wijaya. Selamat datang di sangkar burung termegah yang ada. Ucapkanlah selamat tinggal pada kehidupan bebasmu!"
Yudha membalikkan bada untuk menemui Shuhei. Ada hal yang harus ia bicarakan.
"Sebentar... Jadi melody mengenal Alvin sebelum ini? Senior? Tadi aku tak salah dengar, kan? Melody memanggil Alvin dengan sebutan senior. Apa mereka adik dan kakak kelas? Apa mereka pernah sekolah bersama? Hah, dunia memang sempit. Kebetulan yang seperti ini ada juga rupanya. Syukurlah jika orang yang aku kenal ada yang mengenali Melody. Aku jadi sedikit bisa tenang mengenai Melody. Setidaknya Melody bukan 'orang' kakek. Apa lagi ini Alvin yang mengenalnya. Alvin itu sangat pandai memilih teman.."
.
__ADS_1
.
.
Bandara Tokyo International malam ini masih terlihat ramai. Terlihat dengan banyaknya orang yang sedang berlalu-lalang dengan kesibukan dan urusannya masing-masing.
Seorang wanita cantik berambut berambut panjang tengah berjalan dengan anggunya. Gaun press body panang yang ia kenakan menunjukkan betapa elegannya dia dipadu dengan jas hitam pekat berbulu di kerahnya. Menyeret sebuah koper ukuran sedang sambil mengedarkan pandangannya di balik kaca mata hitamnya. Mencari seseorang.
Ya, ia sedang mencari seseorang. Seorang yang sangat spesial baginya. Seorang yang juga sangat ia rindukan.
Jemputan? Ya seperti itu.
Wanita paruh baya itu lantas tersenyum melihat sosok yang ia cari. Ia melepas kaca mata hitamnya dan membaca sebuah tulisan yang dipegang oleh seseorang yang ia cari sedari tadi.
'MY BELOVED QUEEN'.
Membaca tulisan itu membuatnya kembali mengembangkan senyumannya. Ia merasa menjadi wanita paling bahagia diperlakukan seperti itu oleh orang yang paling ia sayangi di dunia ini.
"Ibu.." Sapa seorang laki-laki yang juga membalas senyuman khas yang selalu dirindukannya. Alvin.
"Ah, pangeranku semakin tampan." Sosok wanita yang dipanggil Alvin itu lantas memeluk Alvin dan mengelus lembut rambut putranya. Uchiyama Kurenai. Ya, Uchiyama Kurenai adalah ibu dari Alvin yang selama ini tinggal di London dan hanya mengunjungi Alvin beberapa waktu saja.
Alvin melepas pelukkan erat ibunya, lalu ia memberikan kecupan ringan di pipi kiri ibunya. "Otanjoubi omedetto, Okaa-san." Ucapnya sambil memberikan sebuket bunga mawar putih kesukaan ibunya.
Otanjoubi omedetto, Okaa-san: Selamat ulang tahun, Ibu.
Kurenai, ibunya Alvin menerima sebuket bunga itu. "Terima kasih banyak, Alvin-anakku." Ibu Alvin tak henti-hentinya mengulum senyuman. "Lalu, apa ibu akan mendapatkan kejutan lagi di malam ulang tahun ibu?"
"Tentu saja. Aku akan mengajak ibu berkencan di restoran bergaya Eropa!"
"Candlelight dinner bersama ibu?"
"Ya, ibu bisa mengartikannya seperti itu."
"Kau yang terbaik, putraku."
"Ibulah yang paling baik di dunia ini!"
"Haish, anak ibu pandai berkata manis. Ibu jadi terharu."
"Aku adalah putra ibu.."
"Jika merindukan ibu, apa lagi sangat, maka ibu akan senang jika kembali mendapatkan pelukkan hangat." Kurenai tersenyum manis. Ia membuka tangannya.
Alvin menyambutnya dan kembali memeluk ibunya. Ibu yang sangat ia rindukan. "Aku sangat merindukan ibu."
"Ibu juga, anakku sayang. Hm, kau sudah besar ya, semakin mirip ayahmu." Kata Kurenai sambi memeluk Alvin.
"Aku lebih suka mirip ibu."
__ADS_1
"Haha, kau ini." Kurenai mengacak-acak rambut Alvin. "Ibu senang mendengarnya."
"Selamat datang di Jepang, Ibu."