
Tumpukkan file terlihat jelas memenuhi meja kerja. Merah, hijau, kuning, dan biru warna map seolah menari-nari, mengalun, mengajak untuk segera dijamah.
Bolpoint tebal setia menari bersama dengan jemari yang sudah mengeriput. Menari ke atas, ke bawah, membuat gelombang, lingkaran, dan satu gerakan tegas menanjak. Sebuah pola dari tarian bolpoint tercipta dengan indahnya di atas kertas.
Mata senjanya mulai mengamati setiap detil data di file yang ada. Tangan kirinya sesekali membenarkan letak kaca matanya.
Ya, itulah rutinitas dari seorang kakek Wijaya.
Posisinya sebagai pemilik dan CEO Emperor Group membuatnya selalu disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menumpuk.
Banyak perjanjian-perjanjian bisnis yang menanti untuk dibahas.
Kemarin kakek Wijaya baru saja menikahkan Yudha dengan Melody. Acara dari pagi buta hingga malam larut.
Di pagi hari berikutnya, jika orang waras pasti akan mengambil cuti lagi untuk istirahat. Namun yang dibicarakan adalah kakek Wijaya, hal seperti itu sangat jarang ia lakukan. Meskipun kadang juga ia merasa ingin. Tapi rasa semangat kerjanya selalu memenangkan perang fikirannya. Dialah sang workaholic sejati khas darah Kazehaya.
Rasa lelah tidak akan menumbangkannya. Ia tidak akan kalah dengan hal itu. Bukan tidak akan kalah, lebih tepatnya tidak mau kalah.
.
.
.
Kakek Wijaya adalah kepala keluarga Kazehaya Family. Sosok yang terkenal tegas dan sangat berwibawa. Mendapat predikat monster bisnis karena berhasil membuat Emperor Group menjadi perusahaan skala besar dan go internasional.
Di Jepang sendiri, Emperor Group merupakan perusahaan pengembang paling besar dan menjadikan Kazehaya Wijaya sebagai orang terkaya di Jepang dan Asia.
Emperor Group menguasai pasar Asia dan Afrika, segera merambah Eropa, dan sudah menjajaki Amerika bagian tengah.
Jika menyangkut soal bisnis, kakek Wijaya bertangan dingin. Ia tidak main-main akan hal itu meski akan melawan keluarganya sendiri, termasuk Yudha. Namun sangat berbeda jika di rumah. Di rumah ia hanyalah sosok kakek tua yang begitu mengayomi keluarganya. Sosok yang sangat mencintai keluarganya.
__ADS_1
Sosok hangat yang begitu menjaga keharmonisan keluarganya.
Kakek Wijaya tidak akan membiarkan ancaman mengganggu kedamaian keluarga Kazehaya. Sekecil apapun itu. Ia akan melawannya. Ia akan melakukan apapun itu, meski dengan cara licik sekalipun untuk melindungin keluarga Kazehaya.
Karena baginya, keluarga Kazehaya adalah segalanya.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Kakek Wijaya meregangkan otot-ototnya yang mulai terasa kaku. Disibukkan banyak kerjaan di pagi hari memang sudah biasa ia alami. Pegal memang sudah biasa. Hanya saja sekarang mulai terasa cepat lelah karena usianya yang semakin tua.
Meski lelah, nyatanya siang ini ia masih memiliki jadwal dua kali meeting dengan para pegaiwainya. Satu dari departemen penjualan, satunya dari tim perencana pembangunan.
Bukankah ia memang selalu disibukkan akan hal-hal seperti ini?
"Maafkan saya, Tuan Besar. Meski sudah menyebar banyak detektif swastapun masih saja sulit dilacak." Jawab Aron.
"Malam itu memang cukup sepi dan gelap, membuatku tak bisa mengenali mereka. Tapi, kerja bagus sudah menutupi kasus penusukkanku dari media masa. Hal ini tak membuat pergerakan saham Emperor Group mengalami fluktuatif ekstrim."
"Sejauh ini masih aman, Tuan Besar. Saya akan melakukan sebaik yang bisa saya lakukan demi Anda dan keluarga Kazehaya." Kata Aron mantap.
Kakek Wijaya tersenyun senang. Aron memang orang yang bisa andalkan. Kepercayaannya pada Aron juga lyar biasa.
"Aku mengandalkanmu!"
"Arigato gozaimasu, Wijaya-sama. Saya akan berjuang!"
"Tetaplah waspada! Tetaplah hati-hati! Selidiki dalam senyap orang-orang yang sudah kau tandai itu! Jang biarkan mereka lepas begitu saja!
__ADS_1
"Baik, Tuan Besar.."
Masalah penusukkan itu sebenarnya tercium wartawan, tapi Aron berhasil membungkam para pemilik media masa yang ada di Jepang agar tak ada yang memberitakan tentang insiden penusukkan itu. Aron harus melakukannya untuk kepentingan perusahaan. Terutama pergerakkan saham seperti yang sudah kakek Wijaya katakan.
Berita twntang penusukkannya haruslah tidak ada!
Usai berbincang dengan Aron, Kakek Wijaya kembali ke singgasananya yang sepi. Singga sana inilah yang sangat diimpikan orang lain, karena dengan adanya singasana ini, maka banyak hal yang bisa dikendalikan dari balik singgasana ini.
"Kau sudah masuk dalam semua rencana besarku, Yudh. Melody sudah kau nikah itu keputusan yang terbaik."
Banyak hal yang ia buat dengan Yudha. Kesepakatan-kesepakatan yang harus diselesaikan dengan cukup alot mengingat ia dengan Yudha itu memiliki pola pikir yang tak jau berbeda, seperti egois dan mau menang sendiri.
"Nikmati waktu pernikahanmu dengan Melody. Rasakan dan mulai belajarlah bagaimana tatanan kehidupan nyata itu bekerja. Hadapi semua sebisa yang dapat kau lakukan. Kau harus membuka matamu baik-baik, kau harus tandai orang-orang yang benar berdiri di pihakmy secara tulus dan yang tidak tulus. Perhatikan cara mereka, pastikan hangan sampai kau tertelah dengan segala tipu muslihat mereka. Karena sekalinya kau terpedaya, maka kau bisa kesulitan setelahnya."
Kakek Wijaya sudah mengalami pahit dan manisnya kehidupan. Ia tak akan memanjakan cucu kesayangannya itu. Banyak hal yang perlu ia ajarkan pada Yudha.
Meski terlihat dingin dan tak berperasaan, nyatanya kakek Wijaya adalah tetaplah seorang kakek yang peduli dengan cucunya. Kakek yang ingin mendidik cucunya, apa lagi cucu yang seperti Yudha, tanpa pendamping ayah sejak kecil. Ia ingat betul bagaimana sorot mata Yudha ketika mendengar kabar mengenai sang ayah, kosong dan sok tegar.
Anak kecil itu hanya bisa diam ketika sang ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat tubuh mungkil itu.
Masih sangat belia untuk dijadikan sandaran.
"Kakek tahu jika kau tak menyukai metode umum dalam didikan membosankan ala orang tua yang isinya kebanyakan melarang ini. Kakek akan mengizinkanmu dan mengikuti alurmu, kakek hanya harus mendukungmu, kan? Bukankah itu sangat menarik? Anggaplah sebagai permainan, tapi kakek yang sudah tua ini membenci kekalahan. Jadi, bekerja keraslah, cucuku! Kalahkan kakekmu! Lampau kakekmu!"
Agenda selanjutnya ia harus segera mewujudkan permintaan Yudha. Yudha pasti akan segera menagihnya.
.
.
.
__ADS_1
"Haah, seharusnya sebentar lagi aku akan pensiun jika bocah nakal itu tidak mengajakku bermain. Rupanya masih ada tugas yang perlu aku fikirkan. Cukup berat juga mengingat keseriusan di matanya. Bocah nakal itu mengorbankan banyak hal, aku juga akn bertaruh sama untuk hal itu. Keputusannya mengajakku bermain itu sangat berani. Dia fikir dengan siapa dia bermain? Dia tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Apapun itu, aku tidak akan kalah karena pada dasarnya aku tidak pernah kalah!.. Nahh, bocah nakal, siapa yang akan tertawa di akhir nanti?" Gumam Kakek Wijaya berbicara sendiri.