MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pandangan Alvin


__ADS_3

Kyoto...


Kyoto (京都市 Kyōto-shi) adalah kota yang terletak di Pulau Honshu, Jepang. Kota ini merupakan bagian dari daerah metropolitan Osaka-Kobe-Kyoto. Kyoto memiliki banyak situs bersejarah dan merupakan ibu kota Prefektur Kyoto.


Di Kyoto yang sempat lama menjadi ibu kota Jepang sejak tahun 794 Masehi, terdapat beberapa situs bersejarah peninggalan masa lalu yang memiliki suasana tenang namun misterius.


Beberapa situs bersejarah yang ada di sini termasuk ke dalam Situs Warisan Dunia. Di antaranya adalah Kuil Toji dengan pagoda 5 tingkatnya, Kuil Kinkakuji, Kuil Ginkakuji, Kuil Kiyomizudera, Kuil Kamigamo, dan Kuil Shimogamo.


"Alvin-sama, kita sudah memasukki wilayah perfektur Kyoto." Kata Daisuke.


"Hmm, sodesu ka?" Kata Alvin.


Kyoto adalah ikon tempat wisata dari Jepang dan musim yang terbaik adalah musim semi pada bulan April. Seluruh kota ditutupi bunga sakura yang indah mekar dan menarik pengunjung dari seluruh penjuru Jepang dan dunia. Setiap malam pohon-pohon yang menyala dan memberikan pemandangan yang sempurna.


"Di wilayah ini, bunga sakura justru masih banyak yang mekar. Di Tokyo sudah mulai berguguran. Apa ini paket lengkap sekalian berwisata?" Gumam Alvin.


"Kyoto selalu indah dengan gayanya sendiri. Lihatlah bangunan tua itu, megah bersanding dengan bangunan modern! Saya yakin, saat ini Alvin-sama memiliki ide banyak untuk bisnis apa yang hendak Alvin-sama bangun di kota penuh sejarah ini." Kata Daisuke.


Ketika ditanya tentang Kyoto, hal pertama ada di pikiran adalah Geisha dan Kuil. Ya, Kyoto adalah sebuah kota kaya akan historis. Jantung dari budaya dan tradisi Jepang, di mana dapat melihat kuil berusia seribu tahun tepat di samping bangunan yang baru dibangun. Pada dasarnya, Kyoto adalah sebuah kota pertemuan antara sejarah dan masa depan. Sama seperti yang Daisuke ceritakan.


"Ide besar selalu mengalir di otak, tapi kembali lagi, ini bukan kandangnya Emperor Group. Meski menggoda tapi ini tetaplah wilayah musuh. Tak mudah bagi kita untuk mengepakkan sayap di wilayah ini. Harus berhati-hati meski tawaran nampak indah." Kata Alvin.


"Saya akan melindungi Anda apapun yang terjadi."


Alvin tersenyum. "Nada suaramu membuatku ingin berharap lebih."


Alvin tahu jika Daisuke adalah mata-mata. Namun sikap Daisuke dan segala bentuk perhatian yang Daisuke lakukan kepadanya membuatnya terlena. Dalam hati kecil ia selalu berharap jika di sana tak akan pernah ada keraguan. Tak akan pernah ada kebohongan. Apa lagi kepura-puraan.


Alvin lelah berjuang sendiri.


Alvin lelah berdiri menghadapi semua ini.


Pukul 3 sore, mobil mereka sampai di salah satu penginapan tradisional di Kyoto. Sebelum melakukan pertemuan esok hari, alangkah baiknya jika saat ini dimanfaatkan untuk beristirahat.


"Semua barang sudah saya bawa ke kamar Anda. Untuk itu, saya mohon undur diri. Jika butuh sesuatu, tolong hubungi saya. Kamar saya ada di sebelah Anda, Alvin-sama." Kata Daisuke.


Alvin mengangguk. "Ah."


Daisuke pun beranjak dari kamar Alvin.


Setelah Daisuke pergi, kini menyisakan Alvin sendirian di kamar. Mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang luas, nuansa tradisional Jepang lampau masih kental. Lantai kayu, ornamen khas, kaligragi kanji, lukisan hitam putih, membuatnya merasa sedang berada di suatu tempat yang jauh.


"Badanku kotor, aku harus membersihkan diri!"


Alvin pun mandi. Air hangat membuat badannya jauh lebih segar. Setelah itu, dengan pakaian kimono yang disediakan penginapan, ia duduk di kursi dekat jendela. Di sana nampaklah pegunungan Arashiyama.


Pegunungan Arashiyama merupakan pegunungan yang indah bahkan saat perubahan musim. Hutan yang megah dan rumpun bambu yang menakjubkan, kuil-kuil kuno misterius, dan taman khas Jepang.


"Karena ini musim semi, pegunungan itu didominasi warna hijau. Saat musim gugur nanti, warna kuning kecoklatan akan lebih dominan. Melody menyukai momiji dimana daun-daun dari pepohonan berubah warna menjadi kuning kecoklatan... Memang faktanya sangat indah sih."


Seorang pelayan penginapan menyuguhkan teh hangat untuk Alvin. Teh matcha dan camilan mochi atau camilan manis.


ALVIN'S POV


Aku menikmati sajian yang disediakan oleh pelayan penginapan ini.


Teh matcha hangat membasahi kerongkonganku. Badanku yang tadi cukup dingin, kini menjadi jauh lebih baik. Aroma teh ini juga menenangkanku. Ditambah pemandangan pegunungan Arashiyama di depan sana, suasana soreku menjadi berharga.


Ketika di kota Kyoto, pemandangan yang aku lihat tipa hari didominasi gedung-gedung bertingkat. Apa lagi saat aku workshop di Yokohama, disana malahan jauh lebih banyak beton dibandingkan kota Tokyo.

__ADS_1


Namun aku saat ini di sini, di Kyoto. Pemandangan alam dan kreatur tangan manusia yang indah berhasil memanjakan mataku. Aku sangat bersyukur, aku masih diberi kesempatan untuk sampai ke tempat ini. Setidaknya ini akan menambah deretan kenangan indah dalam hidupku.


Kenangan indah dalam hidupku itu tidaklah banyak. Jauh lebih banyak kenangan buruknya. Selama aku hidup, aku berusaha untuk menciptakan kenangan-kenangan indah agar hidupku lebih berkesan dan bermakna. Namun lagi-lagi, aku memang tak pandai untuk itu, entah atau memang aku sama sekali tidak diizinkan untuk bahagia oleh Tuhan.


Aku tahu.. aku sadar, apa yang terjadi di masa lalu adalah dosa berat yang harus ditanggung olehku di masa ini.


Kebanyakkan orang menyebutnya dengan karma.


Jadi apa aku tahu karma apa yang sudah tejadi di masa lalu?


Tentu saja aku tahu.


Aku tahu ibuku ikut berperan dalam meninggalnya ayah.


Aku tahu bagaimana ibu ingin kembali ke Tokyo karena ayah menyerah sebagai Kazehaya. Aku tahu ibu tak mau hidup dengan ayah yang sudah meninggalkan Emperor Group.


Aku tahu bagaimana ibu berebut stir mobil dan akhirnya membuat kecelakaan. Membuat ayah meninggalkanku untuk selama-lamanya.


Aku selalu berharap jika itu hanyalah ingatan halusinasiku. Aku selalu mencoba untuk mengabaikannya, menekannya agar menjaduh dari lembar ingatanku. Namun aku tak bisa. Akhir-akhir ini, ingatan itu justru semakin sering muncul dan menguasai separuh jiwaku. Menghantuimu setiap malam, membawa mimpi buruk, dan membuatku sulit tidur. Aku terjaga sepanjang malam karena ketakutan yang aku rasakan.


Sekujur badanku terasa sangat nyeri. Tubuhku sakit. Tulangku ngilu. Seperti terkoyak pusaran air yang siap menelanku setiap saat. Menelan tanpa sisa, tanpa bekas, dan akan memusnakan setiap jengkal bagian tubuhku.


Aku memegangi kepalaku.


Sial, nyeri sekali rasanya.


dr. Taka bilang, aku dilarang stress, tapi nyatanya tingkat stressku meningkat setiap harinya.


Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja setelah dihadapkan mimpi buruk, kan?


Aku sungguh ingin hidup normal, tapi Tuhan tak memberikanku kesempatan itu. Aku saat ini sedang berusaha keras agar setidaknya aku bisa mewujudkan keinginan-keinginanku yang egois ini. Aku ingin melarikan diri dari segala mimpi buruk yang menimpaku.


Bukankah akan sangat keren untuk tetap menghadapinya?


Maaf saja, aku tak sekuat itu. Aku tak semampu itu untuk sekedar berdiri di tumpuan dua kakiku ini. Aku terlalu rapuh untuk menghadapi semuanya. Apa lagi soal Melody, hah, wanita itu benar-benar memiliki ruang tersendiri di dalam otak dan hatiku.


Begitu besar peran yang Melody torehkan dalam ingatanku.


Dialah bagian dari kenangan terindahku. Kehadirannya dalam hidupku adalah anugerah yang Tuhan berikan kepadaku. Mungkin ini hanyalah belas kasihan Tuhan kepadaku yang terlahir karena kesalahan orang tuanya.


Atau mungkin...


Melody hadir di dalam hidupku sebagai hukuman atas karma buruk yang pernah ibuku lakukan dulu.


Aku tak bisa memiliki Melody meski aku sempat singgah di hatinya.


Seberapa besar aku mencoba, aku tetap tak bisa merengkuhnya.


.


.


.


Aku berusaha menjadi raja, tapi Melody tetap tidak melirikku. Hangankan itu, berpaling untuk beberapa saat saja dia tidak mau. Cintanya pada Yudha rupanya lebih besar dari yang aku kira.


Aku pikir awalnya kau hanya coba-ciba atau sekedar pasrah dengan nasibmu ketika dipertemukan dengan Yudha. Tak aku sangka jika perasaanmu terhadapnya akan berkembang sampai sejauh ini.


Kau mencintainya sampai sedalam itu ya? Saking dalamnya hingga aku pun hanya bisa hanyut dan tenggelam terbawa arus, menjauh, melebur, lenyap tak tersisa ketika aku mencoba masuk ke relung hatimu.

__ADS_1


Maafkan aku, maafkan aku yang kini memilih menjadi seorang monster! Aku tsk bisa lagi mempertahankan topeng malaikatku saat ini. Aku sudah tetlanjur bermain kotor.


Kau benar, Mel... Aku memanglah bukan aku yang dulu. Aku sudah berubah. Aku tak lagi sama. Namun ketahuilah, kedua mataku ini selalu menatapmu sama. Menatapmu dengan pandangan cinta. Yang menghargaimu, yang menghormatimu, yang menerima segala keputusan dan pilihanmu.


Sesakit apapun itu, aku akan mampu menahannya... Tidak! Tidak! Bukan itu yang aku lakukan! Aku tak menahan sakit yang kau torehkan, Mel. Aku justru menikmatinya. Aku menerima segala konsekuensi luka akibat dari keputusanku untuk tetap mencintaimu.


Karena itu luka darimu, maka aku tak apa-apa.


END OF ALVIN'S POV


.


.


.


Alvin kembali menikmati teh matcha mililnya. Ia juga memakan mochi yang pelayan penginapan sediakan untuknya.


Rasa manis dari mochi menggoyang lidahnya.


"Andai saja hidup bisa semanis mochi ini, maka hidup tak akan lagi menarik. Orang-orang akan tetjebak pada posisi yang sama. Terlalu lemah karena terlena dalam kebahagiaan. Pada dasarnya, luka yang datang justru akan membuatmu semakin kuat... Apakah kata-kata ini benar adanya? Saat ini aku sedang berusaha membuktikannya. Mungkin secara mental, aku semakin bertambah kuat. Tapi secara fisik, aku mati perlahan. Haruskah aku menyiapkan pemakamanku? Ah, aku baru ingat, di Jepang mulai dilarang penguburan jenazah. Jaaa, apa aku akan dikremasi? Jasadku akan dibakar sampsi menjadi abu... Haha, itu akhir yang miris."


.


.


.


Tokyo..


Kediaman Hanazawa.


Hanazawa Mia sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap jauh ke arah depan sana. Meski tak jelas apa yang ia pandang saat ini, tapi hati dan pikirannya tertuju pada satu sosok yang kini sedang berada di Kyoto.


Ia memeluk dirinya sendiri. Hembusan angin yang baru saja lewat menusuk dingin tubuhnya.


"Angin musim semi ini sepertinya tidak bersahabat denganku. Dia menghianatiku akhir-akhir ini. Tak hanya sekali dua kali. Namun cukup sering terjadi... Ahh, dinginnya sampai memeluk jiwaku. Aku memejamkan kedua mataku. Mencoba merenungi apa yang terjadi... Dosaku menyalahkan angin. Gomen, maafkan aku wahai angin yang dibutuhkan banyak makhluk hidup! Tak seharusnya aku menyalahkanmu karena rasa dingin yang kini membelenggu jiwa dan ragaku... Aku yang haus akan kehangatan akhirnya hanya bisa membabi buta. Aku tak bisa berpikir jernih dan cepat tanggap. Aku tenggelam dalam keinginan yang fana... Diam-diam menyukainya, lalu terluka sebdiri karena perasaan yang tak tersampaikan ini... Jangan menertawakanku! Aku tahu, atashi wa baka desu ne? Aku ini bodoh ya? Ya, aku memang bodoh. Secuil keberanian untuk mengungkapkan rasa ini kepadanya saja tidak ada. Sepengecutkah diriku ini? ... Alvin-senpai, apa kau tak pernah sekalipun melirikku? Apa dalam mata indahmu tak pernah sekalipun aku menarik perhatianmu? Apa meski hanya sedetik aku pernah ada di pikiranmu? Apa tanganku ini pernah ingin kau genggam meski hanya seujung kuku? ... Alvin-senpai, suki dayo! Suki dayo! Suki dayo! .. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu! ... Namun kenapa? Kenapa kau berjalan di jalan yang sama sekali tak aku kenali? Kenapa kau memilih jalan yang gelap, jalan yang tak berani aku pijaki. Aku ingin mengikuti jejak langkahmu, tapi kowai desu! Itu sangat menakutkan. Tubuhku bergetar hebat di perbatasan antara jalan yang terang dan gelap... Alvin-senpai, aku mohon menolehlah balik! Pulanglah! Kembalilah! Ini bukan Alvin-senpai yang aku kenal! Tolong jangan masuk semakin dalam ke jalanan yang gelap itu! Itu mengerikan! Kau akan sulit berjalan di sana! Kembalilah! Kembalilah!"


Mia menangis.


Ia menangis hebat. Ia akui, stok air matanya itu sangat belimpah. Ia mudah menangis. Hal yang membuat sedih sedikit saja pasti akan langsung membuatnya mewek.


Manusiawi. Nyatanya dirinya memang hanyalah mahusia biasa. Apa lagi terlahir dengan mengemban takdir sebagai seorang wanita dimana air mata itu sangat identik dengan wanita.


"Jalan yang kau pilih semakin hari semakin membuatku tak mengenalimu. Kau nampak asing. Namun entah kenapa, aku merasa jika lama kelamaan ragamu menjadi kosong... Perasaan apa ini? Kenapa aku sampai memiliki pemikiran seperti ini? Aku susana hatiku tak tenang. Ada yang bergejolak di dalam sana, di dalam hatiku. Ada yang bergemuruh ingin menyeruak keluar... Alvin-senpai, kenapa kau menghianati Melody? Kenapa kau terlibat dengan penculikkan Yudha? Nande? Nanda yo? Kenapa kau lakukan ini, Senpai?"


.


.


.


Lah, sok puitisku kembali keluar. Aduh, maaf, kalau sudah main kata-kata ujung-ujungnya jadi panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume. Ini yang sulit aku hilangkan dari gaya nulisku. Pengungkapan perasaan dengan sangat menggebu-gebu inilah yang membuat cerita ini memjadi super sangat panjang dan bertele-tele.


Aku sudah berusaha belajar agar bisa menulis singkat dan padat. Tapi tetap saja sulit. Kenapa ya? Padahal aslinya aku tak menyukai hal-hal yang berbau romantis. Aku menganggapnya hanya gombalan semata. Tapi kalau sudah urusan nulis menulis. Sudah dehhh, bener-bener. Hobi mengarang indah ini mah.


Oh iya, kenapa Mia sampai tahu apa yang direncanakam Alvin, itu karena Mia curiga pada Alvin. Ia sering makan siang bersama Alvin, kecurigaan itu semakin lama semakin besar. Ia pun memutuskan untuk mengikuti Alvin. Gilanya, karena terinsiprasi dari manhua-mahua yang ia baca, ia sampai membeli pulpen yang sekaligus merupakan alat penyadap. Ia memberikan pulpen kepada Alvin. Tentulah Alvin tidak curiga akan hal ini.


Ok, sampai jumpa lagiii.

__ADS_1


__ADS_2