
Shuhei menatap senang sahabat sekaligus Tuan Mudanya itu. Semenjak ia menjemput Yudha di Miyagi, ia bisa melihat perubahan besar terjadi pada diri Yudha. Terutama bagaimana cara Yudha tersenyum. Yudha tersenyum sangat berbeda dari yang pernah ia lihat.
Lebih ringan.
"Yudha-sama, setelah ini Anda ingin kemana?" Tanya Shuhei.
"Ke rumah sakit Kazehaya." Jawab Yudha singkat.
"..." Ada kekhawatiran di benak Shuhei.
"Kau boleh melaporkan apapun pada kakek maupun Melody. Aku tahu kau akan selalu setia kepadaku!" Kata Yudha.
Shuhei termenung. Jadi Yudha tahu jika kakek Wijaya memintanya untuk memata-matai Yudha? Lalu bagaimana dengan Melody? Melody semalam juga mengiriminya pesan untuk 'menstalking' segala kegiatan Yudha.
"Anda tahu semua itu?" Tanya Shuhei. Yudha mengangguk. "Gomenasai, Yudha-sama."
"Tidak, aku mengerti itu untuk kebaikanku. Arigato." Yudha tulus berterima kasih.
"..."
"Terima kasih juga karena sudah mengajariku banyak mengenai pemahaman hidup. Selama ini aku memikirkan perkataanmu, aku sadar, aku ingin mewujudkan keinginanku sendiri mulai saat ini." Kata Yudha.
Seperti diketahui selama ini, Yudha itu tidak memiliki keingin spesifik untuk menyenangkan dirinya sendiri. Daftar keinginan Yudha itu adalah untuk membuat Alvin masuk dan diakui sebagai cucu keluarga Kazehaya, membuat Alvin juga mendapatkan bagian haknya seperti yang selama ini ia terima. Harta dan saham.
Yudha bahkan rela menukar kehidupannya untuk mewujudkan keinginannya itu dengan mengikuti permainan sang kakek. Ia menikahi Melody adalah salah satunya. Ia bahkan sudah sampai ke tahap dimana ia sebentar lagi akan memberikan calon generasi baru keluarga Kazehaya.
Tapi lambat laun, sang waktu memainkan perannya. Meminta jatah untuk ikut mengendalikan. Yudha yang awalnya tak memiliki keinginan pribadi menjadi menginginkannya. Mungkin menyadarinya baru-baru ini sudah telat, tapi tak masalah. Itu lebih baik daripada tidak menyadarinya sama sekali.
Dirinya menginginkan Melody.
Keinginannya mengenai Alvin sudah terwujud, sang kakek yang mewujudkannya. Saat ia tak memiliki apa-apa lagi untuk diharapkan, Melody memberinya angin segar. Melody dengan sejuta perasaan untuk dikuasai. Cara pikir yang tak biasa memang. Kenapa ia harus menguasai Melody sementara ia sudah menikahi Melody secara sah?
Sah itu yang ia miliki hanya tubuhnya. Karena ia hanya memiliki tubuh Melody, maka Yudha menaikkan level keinginannya untuk memiliki hati Melody dan segala yang Melody miliki.
Terkesan egois dan memaksa. Tapi semua ini keinginan yang datang dari hati. Dari dorongan rasa cinta yang begitu dalam.
Untuk saat ini, Yudha akan fokus pada hal itu. Ia harus menjaga Melody yang sudah memilihnya sebagai penerima cinta tulus Melody.
"Anda sudah bekerja keras untuk memikirkan apa yang ingin Anda lakukan. Anda pantas mendapatkannya. Meski saya bukan seorang ahli psikologi, tapi ketahui lah Yudha-sama, Anda lebih bahagia saat bersama Nona Melody." Jawab Shuhei.
"Haha, kau benar. Melody memang melebihi soal matematika. Dia terlalu sulit untuk diatasi. Tapi, ketika aku memahami caranya sedikit demi sedikit, akupun menikmati setiap prosesnya. Itu sangat menarik."
__ADS_1
"Itulah Anda, Yudha-sama! Seseorang yang sangat menyukai tantangan. Tapi saran saya, saya mohon, berhentilah membuat tantangan berlebihan dengan Nona Melody. Saya tahu ini tidak sopan, tapi tegaslah pada Nona Amamiya! Saya tidak ingin Anda kembali menyakiti Nona Melody. Jika itu sampai terjadi, saya yakin, akan sangat sulit untuk Nona Melody memaafkan Anda."
"Aku sudah memilihnya. Ketika aku memutuskan untuk memilihnya, maka akan akan memangkas apapun yang menghalangiku untuk bersamanya. Kau tak perlu khawatir, Shuhei!" Kata Yudha.
"Maafkan saya, Yudha-sama.."
"Tidak, terima kasih, Shuhei!"
Yudha dan Shuhei menuju rumah sakit Kazehaya. Ada sesuatu hal yang harus Yudha selesaikan di tempat itu. Ia sudah memikirkannya dengan sangat baik dan ia juga sudah memastikan untuk tidak akan pernah menyesalinya.
.
.
.
Yudha mengetuk pintu kamar inap Yura. Ini sudah lebih dari sebulan Yura dirawat di rumah sakit. Kesahatan Yura berangsur pulih dan luka bekas sayatan percobaan bunuh diri itu juga sudah membaik. Hanya masalah pengendalian emosi yang masih perlu mendapatkan terapi lebih lanjut lagi.
"Kau datang?" Tanya Yura senang.
"Hn."
Onigiri: Nasi kepal khas Jepang yang biasanya di dalamnya diisi berbagai macam lauk ataupun sayur dengan rumput laut kering/ nori sebagai ciri khasnya.
Untuk menghormati Yura, Yudha mengambil satu onigiri itu dan memakannya perlahan. Rasanya memang enak seperti yang Yura katakan padanya. Yura tersenyum senang.
Yudha cukup tahu bagaimana hubungan Yura dengan ayahnya. Diketahui, setelah ibunya Yura meninggal, ayah Yura menikah lagi di saat Yura duduk di kelas dua SMP. Hal itu membuat goncangan luar biasa pada diri Yura. Yura tak menyetujui ayahnya menikah lagi. Sejak saat itu hubungan ayah-anak mulai merenggang. Semakin parah ketika sang ayah menolak keras impian Yura untuk menjadi seorang model. Dan lagi-lagi, hal itu menambah jarak yang lebih merenggang lagi antara Yura dengan ayahnya.
Jika saat ini ayahnya Yura menjenguk dan membawakan makanan kesukaan Yura, Yudha berharap jika ke depannya hubungan mereka akan membaik. Setahu Yudha, ibu tirinya Yura tidaklah seburuk itu. Terlalu baik untuk menjadi ibu penyambung. Ini hanya wujud protes dari hati Yura yang tak rela cinta ayahnya kepada ibunya yang sudah meninggal terbagi.
Usai makan onigiri, tercipta kediaman yang cukup panjang. Ruangan inap itu terasa meluas. Menjadi mendingin dan tak hangat lagi.
Yura bukanlah wanita bodoh yang tak bisa memahami situasi seperti ini. Ia tahu ada sesuatu yang janggal saat Yudha mengunjunginya siang ini. Yudha sudah tiga hari tak mengunjunginya. Belum lagi ini, tatapan Yudha berbeda. Jauh berbeda dari perubahan-perubahan yang selama ini ia amati.
"Jika kau datang ke sini hanya untuk diam, lebih baik kau pulang saja!" Kata Yura akhirnya membuka suara.
Kedatangan Yudha ke rumah sakit memang memiliki maksud lain. Tak hanya untuk menjenguk Yura seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya, tapi juga untuk mengatakan apa yang sudah ia pikirkan sejak lama.
Yudha sudah memikirkannya baik-baik dan saat ini adalah kesempatan yang pas. Meski ia tahu, ini akan sangat mengubah hari bahagia Yura ketika sedang berbaikan dengan ayahnya Yura.
Yudha akan memangkas apapun yang menghalanginya untuk bersama Melody.
__ADS_1
“Yura, maaf, aku sudah tak bisa lagi menjagamu." Kata Yudha. Ia menatap Yura.
"Ah, kau kan baru berpergian jauh. Kau pasti sedang lelah, pulanglah! Kau perlu istirahat, Yudh!" Yura mengalihkan pandangannya.
"Aku cukup baik untuk datang ke sini menemuimu. Dengar, aku sudah tak bisa melanjutkan untuk selalu menjagamu! Jujur saat ini menjagamu itu melelahkanku."
"..." Yudha merasa lelah karena menjaga dirinya? Bukankah itu adalah janji yang Yudha buat dengannya dulu? Kenapa Yudha harus merasa lelah? Itu kan tugas Yudha! Itu tanggung jawab Yudha!
"Janjiku cukup sampai di sini!” Lanjut Yudha.
“Tidak! Aku tidak mau!”
Kata Yura. Ia bahkan sampai harus meninggikan suaranya.
“Aku bisa membuatnya terluka jika aku terus bersamamu. Dia sangat berarti untukku.” Yudha bangkit dan berusaha meninggalkn Yura.
Yura meraih tangan Yudha. “Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!”
“Gomen..”
“YUDHA!”
“...” Yudha terus melangkahkan kakinya meninggalakan ruangan inap milik Yura.
“JIKA KAU KELUAR DARI KAMAR INI, AKU AKAN MEMBENCIMU!”
Kata Yura.
Langkah Yudha terhenti. “Bencilah aku jika itu bisa membuatmu bahagia! Bagiku saat ini yang paling penting adalah kebahagiaan Melody, wanita yang sangat aku cintai.”
Apa-apaan Yudha itu? Yudha itu hanya mencintai dirinya dan akan selalu seperti itu! Yudha pasti hanya sedang bercanda. Yura tak bisa menerima gaya bercanda Yudha yang sangat berlebihan ini.
“AKU AKAN BUNUH DIRI!”
Ancam Yura.
“Lakukan sesukamu!” Jawab Yudha.
Yura mencolos. Bahkan Yudha sudah tak peduli lagi jika dirinya mati.
Yudha menutup kamar inap milik Yura dengan cukup keras. Ia benar-benar meninggalkan Yura tanpa membalikkan badanya sedikitpun. Yudha benar-benar menepati janjinya pada Melody.
__ADS_1