
Jangan pelit jempol karena itu gratis, tidak bayar. Aku akan sangat berterima kasih karena like, komen, dan vote dari kalian. Penyemangatku untuk tetap update. đ
_______________________________________
Alvin Café..
Alvin Café siang ini nampak ramai seperti biasanya. Hampir setiap kursi dipenuhi oleh pengunjung yang datang untuk menikmati makanan dan minuman yang disediakan café itu.
Café cukup besar yang terletak di persimpangan jalan utama kota Tokyo itu adalah milik dari seorang laki-laki yang masih muda dan calon seorang dokter, Uchiyama Alvin.
Ada kisah manis dari awal mula kenapa Alvin membuka cafe ini. Dulu, Alvin dan Melody sering mengikuti kelas memasak saat di sekolah menengah atas. Mereka sering membuat berbagai jenis makanan. Melody berkata asal pada Alvin jika Alvin akan sangat sukses kalau membuka sebuah cafe atau restoran karena Alvin sangat pandai memasak.
Mendapatkan pujian dari Melody yang waktu it7 berstatus sebagai kekasihnya, tentu saja membuat Alvin merasa sangat bahagia. Tanpa pikir panjang, usai ia lulus sekolah menengah atas, iapun membukan sebuah cafe. Melody adalah pengunjung pertamanya. Tak hanya mengunjungi saja, tapi Melody membeli masakan yang ada di daftar menu cafe yang Alvin buka.
Alvin masih menyimpan uang dari Melody yang digunakan untuk membayar dulu. Ia menggunakannya sebagai jimat keberuntungan dan kenangan manis dari Melody, dan seperti yang dilihat saat ini, cafe merangkap restoran yang ia buka juga semakin hari semakij ramai pembeli.
Keputusan untuk menyimpan uang pembelian dari Melody rupanya benar adanya. Ia merasa energi positif Melody yang selalu tersenyum dan pantang menyerah tersalur dalam uang itu.
"Bagaimana, apa ada komplain negatif dari pelanggan?" Tanya Alvin sebagai pemilik café.
"Tidak ada, Tuan. Semua terlihat puas. Bahkan, model kelas international dan pelukis terkenal juga berkunjung ke café ini." Jawab pelayang café.
"Amamiya dan Miura ya?" Batin Alvin. "Baiklah, kalian perlakukan semua pengunjung dengan baik!"
"Hai, wakarimasu!"
_______________________________________
Di Asia timur biasanya jika tidak terlalu dekat, sebagai bentuk penghormatan maka menyebut nama seseorang menggunakan marga.
Wakarimasu: mengerti.
__ADS_1
Oh iya, aku minta maaf karena meski ambil di tempat Jepang, tapi aku tetap memakai rupiah untuk mata uangnya. Jujur saja itu hanya untuk mempermudah saja. Soalnya Yen sering berubah jika dikurs ke rupiah. Kadang jadi kurang logi saja, apa lagi bagi mereka yang tak paham kurs terbaru.
_______________________________________
.
.
.
Yura dan Sai tengah menikmati coffee latte pesanan mereka. Sai sesekali mengamati gadis cantik di depannya itu. Gadis yang menjadi teman, ah maksudnya sahabatnya sejak kecil. Mereka sering mengobrol di dunia maya dan bahkan sering bertemu jika ada pekerjaan yang kebetulan mempertemukan mereka.
Sai mulai merasa ada yang aneh dari sosok model berbakat sahabatnya itu. Biasanya, Yura akan banyak berbicara jika sedang bersama dengannya. Yura akan menceritakan apa yang sedang terjadi padanya. Tentang tempat liburan favorit, atau bahkan penjualan terbaru dari toko fashion kelas wahid.
Namun, gadis yang biasanya ceria di depannya itu berubah menjadi sosok yang pendiam. Sai memang tahu jika Yura itu tak banyak berbicara untuk hal-hal yang tidak penting. Ceria dalam arti tetap dengan nada yang elegan, tidak dengan nada gadis seumurannya. Berkelas, elegan, anggun, dan sempurna bak tuan puteri.
Sejak kapan Yura menjadi mudah diam?
Kadang Sai saja sempat berfikir jika Yura cukup 'agresif' jika sedang bersamanya. Sangat jauh dari imejnya sehari-hari. Apa Yura bisa lebih ekspresif jika bersama Sai? Untuk satu ini, Sai boleh berbangga hati.
"Pancakenya terasa sangat lezat. Cobalah!" Kata Sai.
Yura tersenyum dan mulai mengiris pancake apple kesukaannya. Ia menikmatinya pelan-pelan. Memang enak di bibir, tapi rasanya otaknya sulit menyetujuinya.
"Bagaimana? Bukankah terasa sangat lezat?" Tanya Sai.
"Ya, lumayan lezat." Ah, Yura harus berbohong kali ini.
Rasanya malah semakin rumit. Ia tak mengerti. Rasanya terasa hampa. Pancakenya atau malah perasaannya? Ataukah justru dua-duanya?
Sai menyadarinya. Sai tahu betul bagaimana perasaan Yura terhadap dirinya. Yura selalu curhat dengannya. Yura selalu perhatian dengannya. Yura selalu mendiskusikan apapun dengannya. Yura bahkan pernah mengisyaratkan rasa sayang kepadanya.
__ADS_1
Salahkah jika Sai menyangka jika Yura mencintainya? Jika tidak, mana mungkin Yura melakukan hal seperti itu, kan? Datang jauh-jauh dari Jepang untuk menemuinya di Itally hanya karena sebuah pameran lukisan kecil yang ia buat? Ayolah, Sai tahu kok saat itu Yura terlihat sangat bahagia.
"Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Sai.
Yura menekuk kepalanya, mencoba mengaduk-aduk coffee latte miliknya.
Mengganggu pikirannya? Ya, banyak sekali. Kenapa ia bisa merasa muak akhir-akhir ini hanya karena seorang laki-laki yang sudah menikah? Ia dan Yudha memang bersahabat sejak lama. Tapi semenjak Yudha menikah, ia tak menyangka jika Yudha seolah terasa semakin menjauhinya, semakin sulit ditemui. Padahal, menilik ke belakang, Yudha pasti akan selalu memperhatikannya, atau sekedar menanyakan apa kau sudah makan siang ini? Namun sekarang? Jangan tanya kabar, menyapa hai saja tidak pernah.
"Aku hanya sedang lelah saja dengan rutinitas sebagai seorang model." Jawabnya, bohong lagi.
Apapun yang dimulai dengan kebohongan, maka ke belakang pasti akan berbohong lagi.
"Hm, begitukah?"
"Ya.. Maklum model baru yang katanya sedang berada di puncak karirnya."
"Kau sudah professional, Yura."
"Arigato, Sai-kun."
Meski mengetahui bagaimana perasaan Yura terhadapnya, tapi bukan berarti Sai akan besar kepala. Kenapa? Ia sangat menghormati persahabatannya dengan Yudha.
Yudha?
Bukan sok hebat atau sok tahu banyak hal, Sai memang mencoba memahami dengan baik bagaimana kecenderungan perilaku sahabat-sahabatnya, tak terkecuali Yudha. Ia tahu, Yudha selalu memperhatikan Yura. Jika itu merujuk ke hal yang romantic, maka besar kemungkinannya jika ada rasa tak biasa Yudha terhadap Yura.
Yudha menyukai Yura, tapi Yura menyukai dirinya, sementara ia dan Yudha juga bersahabat dengan baik.
Bagaiman seharusnya menempatkan diri? Sai mengerti dengan baik bagaimana ia harus mengambil keputusan. Yah walau itu juga akan melukai perasaan Yura.
Namun, jika melihat kenyataan di lapangan saat ini, Sai mulai merasa jika ada yang tak biasa sedang terjadi. Terhitung semenjak Yudha menikahi gadis yang tak dikenal olehnya maupun Yura. Yura mulai sering melamun dan sangat jarang 'kepo' akan dirinya seperti yang biasa Yura lakukan terhadapnya. Jika firasatnya benar, maka ia akan benar-benar khawatir akan hal itu.
__ADS_1
"Kemana arah pikiranmu saat ini, Yura? Kuharap kau tak memikirkan banyak hal yang bisa melukai dirimu sendiri. Kuharap kau baik-baik saja dengan hidupmu saat ini." Batin Sai.