MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pertemuan di Atap Gedung 1


__ADS_3

Melody di temani oleh Ayane sedang duduk di kursi yang ada di atap gedung. Untuk pertama kalinya, ia menggunakan kekuasaannya sebagai menantu keluarga Kazehaya, ia meminta agar atap gedung sore ini tidak dibuka untuk umum. Tentulah pihak rumah sakit langsung menyetujuinya. Perintah Melody itu sama kuatnya dengan perintah Yudha. Itu seperti memiliki kekuatan absolut yang tak terbantahkan. Pihak rumah sakit bahkan sampai menyediakan kursi dan meja untuk kepeuan Melody. Tak hanya itu, makanan dan minuman pun juga di sediakan.


Apa ini akan menjadi pesta di atas gedung?


Tentu saja bukan, ini hanya akan sekedar jamuan makan bersama sebelum ke inti utama.


"Nona, jika Anda lelah, Anda harus bilang kepada saya! Pertemuan ini penting, tapi kondisi Anda jauh lebih penting." Kata Ayane.


"Saya mengerti kekhawatiranmu, Ayane-nee. Tenang saja, jika tak enak badan sedikit pun, aku pasti akan bilang. Lebih baik Ayane-nee saja yang duduk, jangan berdiri terus. Ingat, meski luka jahitan operasi Ayane-nee sudah kering, tapi belum sembuh sempurna. Tolong jaga diri, Ayane-nee!" Kata Melody.


Ayane hanya mengangguk dan mencoba mengerti apa yang Melody khawatirkan. Ia pun duduk di tempat duduk yang tak semeja dengan Melody, namun cukup dekat dengan Melody. Ada di arah belakang.


Tak lama menunggu, orang-orang yang Melody undang untuk pertemuan di atap gedung rumah sakit Kazehaya International pun datang.


Yang pertama datang adalah Nao, Ayumi, dan Neil.


"Melody-chan... aku rindu sekali denganmu. Syukurlah kau nampak baik-baik saja. Huhu, seminggu diculik pasti sangat sulit untukmum Untung kau sudah kembali dengan selamat." Kata Ayumi yang berhamburan memeluk Melody.


"Ayumi! Hoe Ayumi! Jangan memeluk Melody terlalu erat! Dia sedang hamil besar, bodoh!" Kata Neil.


Ayumi seketika melepaskan pelukkannya pada Melody. "Gomen.."


Melody tersenyum. "Tak apa kok, Ayumi. Aku baik-baik saja. Aku senang ada yang menghawatirkanku seperti ini."


"Hei, aku juga sangat menghawatirkanmu! Kami semua tepatnya. Sebelum ini kita kumpul-kumpul lengkap, tapi saat kau tak ada, Yudha terlihat sangat buruk. Bocah itu sangat menderita tanpamu." Kata Nao.


"Melody juga hamil anaknya Yudha, makanya Yudha sedihnya double-double. Kasihan sekali waktu kau tak ada, Mel. Aku tak pernah melihat Yudha dalam keadaan seburuk itu." Tambah Neil.


"Benar kata Kak Neil, Yudha yang sangat buruk saat kau tak ada itu yang pertama kami lihat. Cintanya padamu pastilah tak hanya sekedar besar, tapi juga sangat besar." Kata Ayumi.


Melody tersenyum tipis. "Saking cintanya padaku, dia bahkan mengorbankan diri untuk menyelamatkanku. Alhasil, aku pulang ke Tokyo tanpa dirinya. Aku pun saat ini juga tak mengerti, tak tahu bagaimana kabarnya dia saat ini. Sesungguhnya aku ingin menangis dengan sangat kerasnya, tapi aku tak bisa. Aku tak mau Yudha bersedih saat ini. Entah percaya atau tidak, rasanya batinku terhubung dengannya." Kata Melody.


"Kadang kalau perasaan itu sangat dalam atau saking cintanya, maka batin yang terhubung itu memang bisa terjadi. Firasat contohnya. Firasat akan datang dan biasanya cocok dengan keadaan yang akan terjadi atau sedang terjadi di tempat nan jauh di sana, tempat yang tak diketahui." Kata Nao. Ia lalu menepuk pelan bahu teman masa sekolahnya dulu. "Kau dan Yudha pasti bisa melewati semua ini. Kami semua akan mendukung kalian sebisa yang kami mampu. Kalian tidak menghapdai ujian sendirian, kalian bisa mengandalkan kami." Tambahnya.


"Terima kasih banyak. Haaaah, kalau sudah .


membahas hal yang sedang aku dan Yudha alami pastilah menjadi sedih seperti ini. Belum juga menyuruh kalian untuk duduk." Cengir Melody. Nao, Ayumi, dan Neil juga ikutin meringis. "Silahkan duduk dan selamat datang, semuanya!" Lanjutnya.


.


.


.


"Jadi Sai-san tidak bisa datang ya?" Gumam Melody.


"Ya, dia berangkat ke luar negeri dua hati yang lalu bersama Yura. Mereka berdua menitipkan maaf karena tidak bisa datang." Kata Ayumi.


Melody nampak sedih.


"Hei, dengar, meski tidak ada mereka sekalipun, kan masih ada kami. Jangan bilang kau mau meremehkan kami?" Tanya Nao.


"Bukan seperti itu.. Aku hanya merasa jika semua orang kepercayaan Yudha berkumpul, maka itu akan jauh lebih baik." Kata Melody.


"Aku mengerti apa maksud perkataanmu, Melody-san. Tenang saja, semua akan baik-baik saja! Suamimu itu adalah sosok jenius yang memiliki banyak rencana yang sudah tersusun rapi tanpa pernah otak kita mampu pikirkan. Jangan khawatir meski Sai dan Yura tak ada di sini sekalipun!" Kata Neil. Ia mencoba membuat Melody tenang.


"Yudha memang selalu memiliki rencana tanpa kita ketahui. Saat ini pun ia bertindak tanpa pernah aku duga. Tanpa pernah aku bisa menebaknya. Apa memilih menyelamatkanku dan mempertaruhkan nyawanya seperti itu juga bagian dari rencananya? Apa rencana itu sudah ia pikirkan sejak awal?" Kata Melody. "Jika iya, maka itu jahat. Itu rencana yang bodoh karena pada akhirnya ia hanya akan membahayakan


dirinya sendiri." Tambahnya.

__ADS_1


Mata Melody memerah. Nao, Ayumi, dan Neil tahu jika Melody sedang berusaha keras menahan air matanya. Kasihan juga melihat ibu hamil harus melewati hari berat seperti ini.


Keputusan yang Yudha buat itu memang sudah keputusan terbaik yang bisa Yudha lakukan saat itu. Terlepas ini bagian rencana awal atau modifikasi rencana karena kenyataan lapangan yang terjadi tak sesuai prediksi.


"Yudha sudah membuat keputusan yang benar dengan menyelamatkan nyawa Melody dan anak-anaknya. Jika itu aku, maka aku pun juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan melakukan apapun agar Ayumi bisa selamat." Batin Nao.


"Kenapa aku kesulitan memahami pola pikir Yudha?" Kata Melody.


"Mel.. Yudha itu sangat mencintaimu. Dia melakukan ini demi kebaikanmu. Mana ada sih yang mau melihat istri tercintanya yang hamil menderita? Yudha tak mau kau terluka. Ini seperti, lebih baik yang terluka satu dari pasa terlukan semuanya. Dan Yudha, dia sudah memilih dirinya saja yang terluka." Kata Ayumi.


Melody sebenarnya memahami hal ini. Yudha tak mau dirinya terluka. Yudha selalu mengupayakan yang terbaik demi dirinya dan kehamilannya. Hanya saja, ia tak rela jika Yudha terus menderita karena melindungi dirinya. Di sini rasanya sangat kesal ketika mendapati diri sama sekali tak berguna. Begitu sesak di dada dan ingin segera melakukan apa-apa, tapi untuk melakukan apa-apa itu, ia bingung harus memilih langkah mana yang harus ia ambil.


"Kau hanya ingin menyelamatkan Yudha, kan?" Tebak Nao.


Melody menatap Nao. Ia lalu mengangguk. Dan ya, air mata yang ia tahan akhirnya keluar juga. "Ya, aku ingin menyelamatakan Yudha. Segera! Secepat yang aku bisa."


Nao, Ayumi, dan Neil tersenyum karena akhirnya Melody bisa menangis juga. Mereka bertiga tahu jika menahan tangisan itu sangat berat dan sulit dilakukan. Membebani diri dan membuat dada sangat sesak.


"Kita tidak bisa langsung berangkat ke medan perang tanpa strategi. Menyelamatkan Yudha itu tidak mudah. Kita butuh rencana." Kata Neil.


"Sepertinya aku tahu siapa yang menculik Yudha." Kata Melody. "Sepertinya aku tahu pihak-pihak mana yang menginginkan Yudha." Lanjutnya.


Nao, Ayumi, dan Neil menatap ke arah Melody dengan banyak pertanyaan di otak mereka masing-masing.


Akhirnya Melody menceritakan secara umum kisah masa lalu keluarga Kazehaya dari versi Mikan, dari versi ibu mertuanya.


"Aku hanya menarik garis besarnya jika orang itu tergabung dalam sindikat kriminal besar Jepang, organisasi Yakuza." Kata Melody. "Mereka memiliki senjata api dalam jumlah yang banyak. Di Jepang, Senjata api itu dilarang dimiliki warga sipil. Mereka pasti mendapat pasokan senjata dari dunia bawah." Tambahnya.


Ayumi dan Neil saling tatap, Ayumi lalu menganggukan kepalanya.


"Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, Mel." Kata Neil.


"Soal kematian mendiang ayah mertuamu, Kazehaya Yoga, ayahnya Yudha." Jawan Neil.


Setahu Melody, mendiang ayah mertuanya meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh Orion, pamannya. Ini versi cerita yang ia tangkap dari ibu mertuanya, Mikan.


"Tolong beritahu aku informasi apapun itu!" Pinta Melody.


Ibu mertuanya tidak melihat kejadian di lapangan. Hal ini hanya menghasilkan spekulasi dan asumsi yang belum tentu benar adanya.


Neil pun menceritakan versi kematian Kazehaya Yoga berdasarkan dari penyelidikan kepolisian yang dipimpin ayahnya dulu, Tachibana Shota dan Nakamura Yuichi.


Ini seperti fakta yang sam yang diketahui oleh Yudha beberapa saat yang lalu.


"Kakek Wijaya tidak mungkin membunuh ayah mertua meskipun ia sangat marah karena keputusan ayah mertua untuk menanggalkan tahtanya demi Alvin dan ibunya!" Kata Melody.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanya Nao.


"Insting!" Jawab Melody.


"Insting?"


"Ya, insting! Aku tahu jika aku baru setahun mengenal kakek, tapi yang aku tahu, akakek itu sangat menyayangi keluarganya. Soal Alvin yang diabaikan oleh kakek itu tak sepenuhnya benar. Setelah Alvin diakui sebagai keluarga Kazehaya, kakek sering menunjukkan kasih sayangnya pada Alvin. Penambahan pusat pengobatan kanker rumah sakit ini pun hasil olah mereka berdua." Kata Melody.


"Lalu kau mencurigai paman Orion? Mobil milik dia itu adalah yang pertama tertangkap CCTV jalan yang melintasi kawasan bulak arah Miyagi. Jika dijadikan kandidat pembunuh, maka paman Orionlah yang memiliki peluang paling besar untuk dicurigai." Kata Ayumi.


"Namun fakta kakek Wijaya yang meminta kepolisian untuk menutup kasus itu membuatku penuh tanda tanya. Untuk apa dia melakukannya? Menutupi kejahatan atau apa? Aku sama sekali tidak bisa memahami pola pikir orang ini. Kakek Wijaya kalau sedang menatap lawan bicara suka melemahkan otot. Aku merasa jija kake Wijaya itu memiliki karisma tersendiri. Tak hanya karena aura CEO, tapi ada aura lain yang lebih pekat dati itu..." Kata Neil.


"Dia mantan seorang yakuza." Seseorang berjalan mendekat.

__ADS_1


Semua yang ada di lingkar meja itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Suara khas laki-laki yang kuat, baritone, itu adalah karkter suara milik Aron.


"Aron-san.." Ayane membungkuk memberi hormat. Aron tak hanya seniornya sebagai pelayan keluarga Kazehaya, tapi Aron juga adalah anak angkat Tuan Besar yang sangat dihormatinya.


"Aron-san..." Gumam Melody.


Aron membungkuk pada Melody. "Melody-sama.." Ia lalu menoleh kepada teman-teman Melody. Mereka menatapnya penuh tanya. Ia pun melanjutkan kembali kata-katanya. "Kazehaya Wijaya adalah mantan anggota yakuza Red Dragon."


Nao, Ayumi, dan Neil, mereka bertiga sektika itu langsung berdiri. Mereka kaget bukan main. Merka tak menyangka kika kakenya Yudha itu mantan anggota yakuza Red Dragon. Mereka memang tidak hidup di era kejayaan yakuza Red Dragon, tapi kisah dominasi yakuza Red Dragon itu sangat besar. Sangat melegenda.


Yang kaget tapi nampak tak seheboh mereka bertiga itu adalah Melody. Ia memang sangat kaget dengan fakta bahwa kakek mertuanya itu adalah seorang yakuza. Tapi ia tak begitu tahu soal yakuza Red Dragon.


"Melody-sama, bolehkan saya duduk dan ikut bergabung dengan pembicaraan ini?" Tanya Aron.


"Ya, Aron-san." Kata Melody mempersilahkan Aron gabung.


Aron pun duduk di kursi kosong sebelah kiri Melody yang harusnya di tempati oleh Yura.


"Paman Aron, kau tidak mengada-ada, kan? Yakuza Red Dragon? Ano jiji?" Tanya Nao tak percaya.


Ano jiji: Orang tua itu..


"Ya, Nao-kun." Kata Aron. "Tuan Besar memang mantan anggota yakuza Red Dragon dulu. Beliau merintis bisnis Emperor Group bahkan saat Beliau masih menjadi anggota yakuza Red Dragon. Dibilang mantan anggota pun sebenarnya itu salah karena sampai yakuza Red Dragon runtuh, Tuan Besar masih menyandang anggota yakuza Red Dragon." Lanjutnya.


"Sulit dipercaya..."


"Benar.. Gila, aku baru tahu ada fakta seperti ini."


"Rasanya seperti mustahil."


"Memang ada apa dengan yakuza Red Dragon? Mereka sama dengan yakuza Fajar Keemasan dan yakuza Macan Selatan, kan?" Tanya Melody.


Melody tidak begitu paham soal yakuza. Yang ia tahu mereka itu bekerja di dunia bawah dan itu adalah sindikat kriminal yang berbahaya. Namun ketika ia mengenal dua pemimpin yakuza besar yang menguasai dunia bawah tanah Jepang saat ini, Orion dan Azumane, rasanya konsep yakuza tidak terlalu menakutkan baginya.


"Yakuza Red Dragon itu mendominasi hampir seluruh Jepang ketika mereka berjaya! Saat masa kekuasaan mereka, para pengusaha di dunia atas sangat sulit mendirikan usaha salam skala besar. Mereka akan menghalangi dan juga memeras lewat perizinan. Mereka menguasai tanah Jepang. Banyak yang bilang mereka itu mafia tanah. Pemerintah pun sulit menangani mereka. Mereka terlibat dalam pembelanjaan negara, terutama impor minyak. Banyak anggota pemerintah yang terlibat dengan mafia. Mereka bekerja sama untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Anggota pemerintah mendapatkan banyak uang karena dibantu oleh mafia minyak dan perdagangan lainnya... Masih banyak selain hal itu, bisnis rumah brodil dan perjudian sewaktu berjayanya yakuza Red Dragon juga menjamur. Meski pemerintah diuntungkan karena adanya pajak, tapi ini membuat resah warga sekitar. Banyak yang tak nyaman dengan adanya tempat-tempat seperti itu." Jelas Neil.


"Apa membunuh itu mudah mereka lakukan?" Tanya Melody.


"Melody-sama, bagi kehidupan yakuzah, hal seperti itu adalah lumrah terjadi. Setiap harinya pasti ada kasus seperti itu. Apa lagi jika ada bentrokan dengan yakuza lain, nyawa yang melayang tentulah sangat banyak." Jawab Aron.


Melody memasukkan hal ini ke dalam otaknya. Yakuza itu patut diwaspadai. Meski ia mengenal Orion dan Azumane sebagai pimpinan yakuza, ia tetap tidak boleh gegabah dan asal menilai hanya dengan bermodalkan insting saja.


"Paman Aron, jika kakeknya Yudha itu adalah mantan anggota yakuza Red Dragon, apa Beliau juga melakukan kejahatan? Maksudnya tega menyakiti anaknya sendiri? Apa Beliau tipe yang akan membunuh ayahnya Yudha?" Tanya Nao penasaran.


Semua terdiam menatap Aron. Mereka menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Aron.


"Tuan Besar..." Aron menghentikan pembicaraan. Ia menatap satu per satu anak muda di depannya itu.


"..."


"..."


"..."


"..."


Semua terdiam. Hanya angin herhembus yang terdengar.


"Sepertinya aku bisa mempercayai mereka semua... Wijaya-sama, sepertinya say harus mendapatkan hukuman karena membongkar kisah masa laku Anda yang ingin Anda hapus itu. Gomenasai..." Batin Aron.

__ADS_1


__ADS_2