MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pesta 4: Sindiran


__ADS_3

"Kemana si Yura itu? Cepat sekali langkahnya. Aku harus mengikutinya. Sepertinya ia tidak hanya sekedar ke 'kamar mandi'. Perasaanku tidak enak." Batin Mia yang memutuskan untuk mengikuti langkah Yura.


Dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak ketahuan. Sampai detik ini pun, ia sama sekali tidak bisa mempercayai Yura mengingat banyak hal buruk yang sudah Yura lakukan pada Melody.


Sepertinya Yura tidak mengambil jalur yang tepat untuk ke kamar mandi. Firasat Mia benar, Yura ambil jalur kanan yang mana itu adalah jalur untuk menuju ke ruang hotel untuk mengiap. Ia harus mengikuti kemanapun Yura pergi. Jika itu ada hubungannya dengan Melody, maka ia harus melindungi Melody dari Yura.


"Kamar Melody? Itu kamar Melody, kan? Nah, Melody muncul di hadapan Yura. Mereka berbicara sesuatu? Apa aku harus mendekat? Aku ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan." Batin Mia. Ia berusaha lebih dekat agar bisa mendengar apa yang ingin Yura bicarakan dengan Melody.


.


.


.


Aula pesta...


Meninggalkan Mia yang sibuk mengikuti Yura, kini kembali ke kumpulan Yudha dan kawan-kawan yang mulai membahas masalah bisnis.


"Selamat buat Alvin yang sudah menduduki kursi pertama Emperor Group! Bersulang!" Kata Nao. Ia mengangkat gelas berisi wine miliknya tinggi-tinggi.


"Bersulang!"


Sai, Neil, bahkan Yudha juga ikut bersulang untuk merayakan penobatan Alvin. Alvin hanya tersenyum ringan seperti biasa. Bahagia yang sederhana, tidak berlebihan.


"Jadi bagaimana rasanya duduk di kursi panas singgasana tahta tertinggi Emperor Group, Alvin-sama?" Tanya Neil dengan gaya sok kewartawanannya.


"Sangat menjijikkan." Jawab Alvin santai.


"Yaelah, seperti itu? Bukankah kau memiliki kekuasaan yang besar karena hal itu?" Tanya Nao.


"Kau bisa melakukan banyak hal dengan menjadi penguasa Emperor Group." Sambung Sai.


"Benar juga, aku memang bisa melakukan banyak hal, kan Yudha?" Jawab Alvin.


"Hn, kau bisa melakukan banyak hal, wahai saudaraku." Kata Yudha.


Ada nada suara yang tak nyaman didengar di telinga. Nao kurang begitu peka, tapi Sai dan Ne paham betul kemana arah pembicaraan dua sahabat mereka ini.


Hubungan Yudha dan Alvin tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Semua media Jepang banyak yang memberitakannya. Meski sebisa mungkin mereka terlihat akrab, tapi pastilah tidak dengan keadaan kenyataannya. Ada emosi yang kedua orang ini coba tahan agar tak meluap dan menciptakan suasana ke depan jauh lebih buruk.

__ADS_1


Sebagai sahabat, mereka hanya ingin dua saudara ini baikan. Kembali akur seperti dahulu kala. Meski sepertinya cukup sulit untuk dilakukan. Susah untuk ditata kembali seperti sedia kala.


"Hei Vin, aku dengar kau membuka perusahaan baru dan mengambil jalur yang sangat beda dari Emperor Group. Apakah itu?" Tanya Nao.


"Bukan keluar jalur, justru sangat kental dengan bisnis Emperor Group. Mecha Innovation." Jawab Alvin.


"Loh, mirip namanya dengan Next In miliknya Yudha! Next Innovation!" Kata Neil.


"Benarkah? Apa itu benar, Yudha? Kau tak pernah bercerita soal perusahaan milikmu itu kepadaku." Kata Alvin. Ia sudah tahu tapi berbicara seolah sedang tidak tahu.


"Hanya sebuah perusahaan kecil yang tak sebanding dengan Emperor Group milikmu, Vin." Kata Yudha enteng. "Tidak ada yang perlu diumbar." Pungkasnya.


"Perusahaan kecil yang belum lama ini memenangkan tender pembuatan sistem penyimpanan online berskala nasional, kan Yudha?" Kata Nao.


"Tender bernilai triliunan itu bagi Yudha kecil." Kata Sai.


"Maklumlah, holang kaya." Kata Neil.


"Hanya sedang beruntung saja setelah terbebas dari belenggu kakek menyebalkan itu." Kata Yudha.


"Nah loh, masih dendam kau sama kakekmu itu? Haha, dari dulu hidupmu banyak diatur olehnya sih ya?" Kata Nao.


"Rasanya tidak nyaman hidup di balik bayang-bayang kakek." Kata Yudha.


"Benar juga. Okelah, Tuhan aku bersyukur karena kakekku 'membuatku bisa bersama dengan Melody'." Yudha memincingkan pandangannya ke arah Alvin. "Aku sungguh tergila-gila padanya." Lanjutnya.


"Astaga, apakah ini sungguh-sungguh sosok dari seorang Kazehaya Yudha yang katanya kaku itu? Hei Bung, kasih bocoran, apa kau melakukan 'itu' setiap hari dengannya?" Tanya Nao mesum.


"Aku ingin melakukannya setiap hari, tapi dia sedang hamil. Sepertinya aku akan bersabar sampai dia lahiran nanti." Jawab Yudha.


"Tidak jadi bercerai rupanya? Niatmu dulu sepertinya seperti itu." Kata Sai.


"Aku memang tak mengatakannya. Niat itu pernah ada jika Melody menginginkannya. Namun untuk saat ini, meski dia bersujud di kakikupun aku tak akan pernah menceraikannya." Kata Yudha. "Aku tidak akan membiarkan Melody bersama laki-laki lain di atap gedung rumah sakit." Lanjut Yudha yang kembali melirik ke arah Alvin.


Ya, Yudha tahu jika waktu itu Melody dan Alvin bertemu di atap gedung rumah sakit. Meski Melody tak menceritakan kepada dirinya, tapi ia mengetahuinya. Darimana itu? Tentulah Yudha memiliki banyak mata. Maksudnya? Ya, ia memasang kamera tersembunyi yang niat awalnya untuk memastikan keadaan Melody.


Kenapa Yudha tak marah ketika istrinya diam dan memilih tak bercerita? Karena ia tahu, Melody setia terhadapnya. Ia hanya perlu cukup mempercayai Melody.


"Hah? Di atap gedung? Bersama laki-laki lain?" Tanya Neil. "Wah, siapa laki-laki yang seberani itu menggoda wanita milik Pangeran kita yang agung ini?" Lanjutnya.

__ADS_1


"Siapa, Yudh? Kau kenal?" Tanya Nao yang ikutan penasaran.


"Hanya seorang pekerja rumah sakit yang sedang patah hati dan dihibur oleh istriku yang super baik hati." Jawab Yudha dengan senyuman.


Nao tepuk jidat. "Kirain apa. Ada-ada kau ini, Yudh."


"Kau tidak cemburu?" Tanya Sai.


"Kenapa aku harus cemburu jika aku tahu kalau seorang Melody hanya melihat sosok Yudha sebagai laki-laki yang paling dicintainya? Meski ada jutaan laki-laki yang tulus mencintainyapun, dia hanya akan mencintaiku selamanya." Jawab Yudha.


"Wuihhh, bahasamu loh, Yudh. Percaya diri akut!" Kata Neil.


"Aku memang sangat percaya diri mengenai hubunganku dengan Melody. Ne, Shuhei-san?" Kata Yudha.


"Hai, Yudha-sama." Shuhei mengangguk.


Hai, Yudha-sama: Iya, Yudha.


"Shuhei sedari tadi hanya diam saja. Merasa tak nyaman karena bos-mu ada di sini? Hei, aku akan memarahi Yudha jika dia menganggapmu sebagai pengawal!" Kata Nao.


"Saya memang seorang pengawal sejak dahulu, Nao-sama." Kata Shuhei. Ia bahkan tersenyum dengan sebaik mungkin.


"Tapi kau mengenal Yudha dan kami semua sejak dahulu. Yudha pasti tidak menganggapmu sejauh itu, kan Yudha?" Kata Nao.


"Kalau kau bisa menasihati Shuhei, aku akan sangat senang." Bagi Yudha, ia sudah berulang kali untuk meminta Shuhei menganggapnya sebagai sahabat, terutama soal cara penyebutan nama dan penggunaan bahasa. Shuhei itu terlalu sopan terhadapnya.


"Saya sangat senang bisa mengabdi pada keluarga Kazehaya, terutama pada Yudha-sama." Kata Shuhei.


"Sudahlah Nao, Shuhei akan tetap menjadi Shuhei yang selalu setia pada Yudha. Mereka sudah melewati hidup dan mati secara bersama. Hubungan mereka tidaklah sesederhana seperti Tuan dan Penjaganya." Kata Sai.


Shuhei hanya bisa tersenyum untuk menanggapi semua obrolan mengenai dirinya.


"Hei Vin, tadi sempat terpotong. Jadi, Mecha Innovation itu juga soal teknologi robotik, kan? Apa yang kau jual dengan mendirikan perusahaan baru seperti itu?" Tanya Neil.


"Alat berat untuk kontruksi bangunan, pertanian, dan peternakan. Jika suatu saat bisa berkembang ke mesin pabrik, maka kenapa tidak mengarah ke sana?" Jawab Alvin.


"Lalu, apa kau akan membuat applakasi juga seperti Yudha?" Tanya Nao.


"Itu sih bidangnya Yudha. Aku tak mau bersaing dengan saudaraku sendiri. Tidak asyik kalau selalu tahu duluan. Sebagai saudara yang lebih tua, aku lebih suka mengalah." Jawab Alvin. Ia menekankan pada kata 'mengalah' untuk membalas semua sindiran dari Yudha.

__ADS_1


"Kau saudara yang pengertian." Simpul Sai.


Yudha menggertakkan jemarinya. Ia menekam kuat-kuat. Ia tak menyukai kata mengalah apa lagi kata tahu lebih dulu. Ia tahu apa yang Alvin maksud. Alvin adalah seorang yang lebih dahulu kenal Melody, lebih dahulu membongkar kasus Tuan Park dan Tuan Kang. Lalu mengalah? Apakah artinya Alvin mengalah soal Melody untuk dirinya? Alvin adalah mantan kekasih Melody!


__ADS_2