MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Sahabat Yudha


__ADS_3

Acara pernikahan adat Jepang berlangsung cukup lama. Sekitar jam dua siang acara baru usai. Karena harus melakukan acara resepsi malam harinya, Yudha dan Melody harus menghemat tenaga. Mereka berdua memilih beristirahat di kamar pengantin mereka setelah berganti baju.


"Ah, kenapa sake bisa membuatku pusing seperti ini sih? Jika bukan karena bagian dari ritual, aku tidak akan pernah meminumnya!" Kata Melody.


"Kau tidak pernah meminumnya?" Tanya Yudha pelan.


"Hm?" Melody tidak terlalu mendengarnya karena pening kepalanya lebih mendominasi.


"Kau tidak pernah meminum sake?" Tanya ulang Yudha pelan.


"Tentu saja, aku tidak suka meminum minuman yang mengandung alkhohol." Jawab Melody masih memijat pelipisnya.


"Jika pusingmu berlebihan, lain kali jangan pernah coba-coba!" Saran Yudha.


"Iya, aku juga tidak mau mencobanya lagi. Ini sangat tidak nyaman."


Selain kandungan alkhohol dari sake yang ia minum tadi, ia juga mengeluh akan satu hal. Apakah itu? Pertanyaan bagus, jawabannya adalalah kamar pengantin!


Kamar pengantin?


Ya seperti itulah.


Tiba-tiba saja Melody dikirim ke sebuah kamar yang ada di satu bangunan dengan kamarnya dan Yudha. Tepatnya, kamar di sebelah kanan kamar miliknya. Sebelah kirinya adalah kamar milik Yudha.


Kamar pengantin ini tidak akan digunakan untuk tidur harian, hanya dihias untuk keperluan dokumentasi dan malam pertama.


Ada kejadian unik dan lucu saat Melody dan Yudha melakukan prosesi dokumentasi di kamar pengantin ini. Mereka disuruh berpose hot di ranjang. Wajah mereka berdua merah padam, alhasil foto mereka terlihat sangat kaku.


Dan menyebalkannya lagi, nanti sebelum resepsi malam, adegan ranjang dengan gaun resepsi harus kembali diulang. Melody dan Yudha ingin sekali menolak, tapi dua wanita maha tak bisa dibantah itu terlalu sulit diluluhkan. Baca: ibunya Melody dan ibunya Yudha.



Desain kamar pengantin didominasi warna putih dan soft. Bunga hias putih dan merah menambah indahnya dekorasi kamar. Bagi Melody, itu sudah sangat sempurna, nyatanya ia tidak bisa membuat hiasan kamar menjadi seperti itu.


"Ne Yudha, apa kita harus sekamar?" Keluh Melody yang masih sangat lelah setelah melakukan prosesi pernikahan.


"Kenapa?" Tanya Yudha santai.

__ADS_1


Lha memangnya ada masalah dengan sekamar? Bukankah ia sudah sah menikahi Melody?


"Kau tanya kenapa? Itu masalah besar, Yudha!" Jawab Melody.


Masalah besar seperti apa sih? Yudha tak begitu paham arah pembicaraan Melody.


"Memang kenapa?" Tanya Yudha.


"Tidur berdua itu hanya akan membuat sempit tempat tidur!"


Yaelah, kirain apaan? Ternyata hanya masalah sempit atau tidaknya ranjang tidur.


"Kau bisa tidur di sofa jika kau merasa sempit." Kata Yudha sambil menunjuk sofa yang ada di kamar pengantin mereka.


Melody manyun. "Tega sekali. Masak aku harus tidur di sofa? Aku kan cewek!"


"Lalu siapa yang bilang jika kau itu laki-laki?"


Melody menghentakkan kakinya kesal karena ia selalu kalah jika berdebat dengan Yudha.


Tak lama setelah itu, ia memejamkan kedua matanya.


Yudha hanya memandangi Melody yang tertidur pulas. Bibirnya tersenyum tipis. Entah apa yang tengah ia fikirkan, melihat Melody yang terlihat begitu cantik hari ini membuatnya merasa senang.


"Cepat sekali dia tertidur? Perasaan baru saja ia mengoceh kesal padaku." Batin Yudha heran.


.


.


.


Yudha tidak berniat beristirahat, setelah menyelimuti tubuh Melody yang sedang tertidur pulas, Yudha berjalan keluar kamar untuk menemui semua teman-teman bisnis kakeknya dan teman-teman lamanya yang sudah datang ke acara pernikahannya. Tak lupa ia menyuruh Ayane agar menjaga Melody.


"Hoi pengantin baru, akhirnya kau melepas masa lajangmu juga ya. Selamat ya.." Kata seorang laki-laki berambut jigrak mirip durian dengan cengkiran khasnya.


"Kalian datang juga." Kata Yudha.

__ADS_1


"Tentulah, inikan hari bahagiamu! Semua pasti akan datang!"


"Terima kasih."


Teman Yudha itu meneguk minuman yang ia pegang. "Jiaah, dulu siapa yang bilang tidak ingin menikah muda? Nanti bisa A, bisa B, inilah, itulah. Berlagak seperti kakek-kakek yang menasehati cucu-cucunya." Lanjutnya.


"Berisik, kau Nao. Aku menikahinya bukan karena cinta! Ini karena keinginan kakek!" Tanggap Yudha.


Laki-laki yang memiliki nama asli Nao itu hanya tersenyum cerah. Ia sudah biasa beradu mulut dengan Yudha. Nao adalah putra tunggal keluarga Namikaze dan masih bersaudara dekat dengan keluarga Mia.


Mereka sepupuan.


"Jika kau tidak mau, kenapa kau tidak menolaknya? Dasar Yudha-brengsek. Padahal, aku yang berencana menikah mudah dengan Ayumi, tapi kenapa kau malah mendahuluiku, hah? Ini semua gara-gara kakak Ayumi yang super protektif itu. Menyebalkan." Geramnya.


"Apa katamu? Dasar muka kucing!" Sahut kakak Ayumi yang tak terima dirinya mendapat predikat seperti itu dari sang 'calon' kakak ipar, Tachibana Neil.


"Muka kucing, heh? Musang!"


Nao memiliki peliharaan seekor musang di rumahnya.


"Heeii. Sudahlah. Ocehan kalian membuat kepala Yudha semakin pusing. Kita datang untuk memberi ucapan selamat kepada sahabat kita, Yudha." Kata si muka mayat dengan senyuman palsunya, Miura Sai, pelukis muda yang sangat terkenal di dunia seni lukis.


"DIAAM KAU, MAYAT HIDUP!" Benatak Nao dan Neil bersamaan.


Yudha hanya diam maklum melihat pertengkaran heboh teman-temannya. Yudha memang terkenal sering sendiri, meski ada Shuhei yang satu-satunya menjadi temannya.


Tapi sebenarnya, dia menjalin persahabatan dengan Nao, Neil, dan juga Sai. Mereka bersahabat sejak kecil, mereka bahkan pernah sekolah di Sekolah Dasar yang sama. Hanya saja, ketika kelas lima SD, mereka mulai perpencar karena urusan bisnis keluarga mereka masing-masing.


Nao ikut ayahnya ke Inggris, Neil ikut ayahnya ke Amerika, dan juga Saipun harus ikut ayahnya ke Italy. Sedangkan Yudha sendiri, ia masih setia dengan Jepang. Yudha tidak pergi kemana-mana.


Mereka jarang bertemu, mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali mereka bisa bertemu satu sama lain. Tidak dalam keadaan selengkap ini.


Nao Namikaze, selain menjadi ahli waris Namikaze Corp, dia sedang sibuk dngan kuliahnya di bidang manajemen bisinis. Meski ia bodoh atau tak sepintar Yudha, tapi ia tipe sangat berhati-hati dan tidak ceroboh dalam mengambil keputusan. Hal ini membuatnya cukup mumpuni dalam perannya sebagai pemegang saham di perusahaan ayahnya sendiri, Namikaze John.


Tachibana Neil, kakak kembar Tachibana Ayumi. Sosok sister complex yang setipe dengan Yudha, cuek dan dingin. Sangat tidak menyukai Nao, selalu rebut dengan Nao untuk memperebutkan Ayumi. Meski begitu, dia adalah sosok sahabat yang baik. Dia juga akan mewarisi Tachibana Group.


Miura Sai, pelukis muda terkenal yang sudah melakukan banyak sekali pameran internasional. Memiliki galeri seni pibadi di Italy dan Jepang, masih dalam proses pembuatan. Tidak pandai bergaul, hal ini membuatnya selalu aneh ketika tersenyum. Sahabat-sahabatnya selalu menganggap jika senyumnya itu palsu, ditunjang dengan warna kulit pucatnya yang seperti mayat, membuat Sai cukup misterius.

__ADS_1


__ADS_2