MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kurang Tepat


__ADS_3

YUDHA’S POV.


Aku memijat kakinya yang semakin memerah saja. Dia berteriak kesakitan. Terang saja, terkilir itu sangat menyakitkan meski pada dasarnya bukan luka yang nampak mata.


Tapi sungguh..


Sungguh, kakinya sangat mulus, putih dan jenjang.


Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya.


Sebelum ini dia juga pernah terkilir saat di Okinawa musim panas yang lalu. Sudah dua bulan berlalu rupanya. Dasar ceroboh, baru ganti musim ia sudah terkilir lagi. Syukurlah, terkilirnya saat ini tak lebih parah dari yang sebelumnya. Setelah diurut, dia akan bisa beraktifitas.


Nah kan, suara rintihannya mengecil, bukankah ini sudah jauh membaik?


Apa benar aku ini bakat menjadi tukang pijet seperti kata Melody dulu? Astaga, aku ingat, dia bilang jika kata itu adalah pujian. Seumur-umur baru kali ini aku mendapatkan pujian paling absurd dari orang.


Aku menatapnya, dia menunduk sambil menatap setiap jengkal gerak tanganku yang memijat kakinya. Dia juga membantu memijat daerah sekitar yang aku pijat, gerakkannya begitu hati-hati.


Rambutnya basah berantakkan, muka polosnya masih sama, jidatnya masih tetap lebar. Tapi, apa dia selalu nampak seperti ini? Maksudku, setiap kali aku melihat wajahnya, rasanya ada peningkatan sedikit demi sedikit darinya, dia, dia semakin..


Oke.


To the point saja, maksudku, gampangnya dia semakin oke, ca-cantik.


Njirr, aku mengucapkannya.


Aku benar-benar mengakuinya.


.


.


.


Ada sesuatu yang hangat memeluk dadaku, sensasi ini, sensasi yang begitu sulit ditangani, aku bahkan bisa kehilangan diriku sendiri jika aku mencoba melawannya. Semakin aku mencoba melawannya, maka sensasi itu justru akan semakin besar dan semakin berkuasa akan diriku. Dia akan menguasai hatiku dan menyingkirkan pikiran warasku.


Namun..


Jika aku tak mencoba melawannya, sama saja, perlahan tapi pasti, sensasi itu mulai membesar, memaksa untuk diterima olehku, jika tidak, rasanya aku menjadi sangat tersiksa, sulit bernafas, sesak, berat, dan pengap.


Sensasi itu semakin lama semakin menggila saja!


Aku bahkan tak sadar jika tanganku kini sudah memegang pergelangan tangannya.


Dia sepertinya kaget dengan gerakan tanganku yang tiba-tiba memegang pergelangan tangannya. Dia menatapku dengan tatapan bingung.


Mungkin saat ini dia sedang berfikir, apa yang sedang Yudha lakukan? Apa Yudha tak mengijinkanku membantu memijat kakiku sendiri?


Oh Tuhan..


Wajah polosnya, rambut berantakkannya, jidat lebarnya, hidungnya, mulutnya yang sedikit menganga, bibir tipisnya, bibirnya.


Bibirinya.. bibirnya.. bibirnya..


Sial, apa sih yang ingin aku jabarkan?


Bibirnya terlihat lembut dan memucat, dia kedinginan?


Tangannya terasa lumayan dingin, benar juga, dia hanya memakai piyama handuk saja, dia baru mandi.


Aku membalas menatapnya intens. Ah, dia tak berkutik dengan tatapanku, dia bahkan tak berkeddip di waktu yang lumayan lama ini. Jangan bermain game denganku, Melody, kau tahu, kau selalu kalah olehku! Adu tatapan seperti inipun kau juga akan kalah.


Aku ingin melihat sampai kapan kau bertahan dengan adu tatapan ini.


Aku kan menunjukkan padamu siapa pemenang mutlaknya.


.


.


.


Aku mendekatkan wajahku kepadanya, terus dan terusa mendekat.


Dia terdiam di tempat, terpaku? Terpedaya? Tak bisa bergerak? Terantai? Terbelenggu? Ho, apa hanya segini saja kekuatan dan tekadmu, Melody?


Wajahku dan wajahnya semakin dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan nafas hangatnya di wajahku. Mungkin dia juga bisa merasakannya, nafasku yang beradu dengan nafas miliknya.


Nafasnya harum, apa ini bau mintz pasta giginya?


Kami kembali beradu hembusan nafas. Aku bisa merasakan semakin lama hembusan nafasnya menjadi tak beraturan, jauh lebih cepat dari sebelumnya, apa dia gugup? Takut? Mungkin juga deg-degan?


Ahh, jarak sedekat ini memang jarak pas untuk menikmati keindahannya.


Tunggu, keindahannya?


Apa ini?


Perasaan ini kembali menyeruak.


Sensasi ini semakin aneh saja. Sial!

__ADS_1


Aku..


Aku..


Siaall.


Aku tak bisa mengendalikannya!


.


.


.


Cupp.. 💏


.


.


.


Aku kalah.


Aku..


Aku mencium bibirnya.


END OF YUDHA’S POV


.


.


.


Yudha mencium bibir Melody. Melumattnya perlahan-lahan.


Ini gila! Seperti kehilangan kendali diri.


Semakin menggila ketika Melody membalas ciuman darinya. Seperti mendapatkan akses ijin untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Mereka melepaskan tautan mereka untuk mengambil nafas kehidupan, wajah mereka saling memanas, memerah, bahkan Yudha mengakui jika saat ini wajah memerah Melody terlihat sangat menggoda. Aura cantik Melody semakin memancar.


Ia kembali menarik Melody dan menciuminya lagi, mereka melakukan ciuman yang jauh lebih berani dari tadi, tak hanya ******* tapi juga menjamah lebih dalam lagi, lagi, lagi, dan lagi.


Sudah!


Sudah tak tahan!


Tak kuasa membendung hasrat dan sensasi aneh tapi luar biasa ini.


Semakin lama semakin menguat, semakin harus dituruti.


.


.


.


Yudha mendorong pelan tubuh Melody di kasur, dia lalu mendindih tubuh istrinya itu. Kembali, mereka saling tatap dan melakukan adegan ciuman panas lagi untuk yang ke sekian kalinya.


Suara burung gereja mengalun ria di luar jendela seolah tak masalah dengan suasana pagi yang lumayan dingin. Menggugah diri penuh semangat. Yudha dan Melody terpedaya oleh semangat kiasan itu. Nyanyian burung yang mengiringi setiap sentuhan yang semakin menggila.


.


.


.


Mereka melepaskan tautan ciuman mereka lagi, saling tatap lagi, tak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Sudah berapa kali mereka saling beradu tatapan? Susah berapa kali mereka beradu ciuman? Satu yang mereka pahami, mereka sama-sama menuntut lebih. Lebih dan lebih! Begitu menyakitkan jika harus berakhir begitu saja.


Sensasi aneh ini memang aneh, bisa menghilangkan dan mengesampingkan pikiran yang lain. Memaksa menguasai dan bertahta saat ini juga. Akal normal semakin tersingkir. Jarang menampakkan diri, tapi sekali nampak, maka habislah sudah. Akal sehat, pikiran normal, semua akan tersisih lenyap. Semua akan tersisih musnah.


Mungkin saat ini sensasi aneh ini salah bertahta, bukan waktu yang tepat, bukan saat yang tepat.


Namun, aturan itu tak berlaku bagi sensai aneh itu, bisa datang semaunyanya, menjerat, memeluk erat, dan memaksa dituruti.


Ya, itu adalah kewajiban, lawan saja jika ingin menderita.


Bisakah kau melawan hasrat nafsu yang sudah menguasai?


Yudha, Melody, mereka enggan merasakannya, begitukah? Menderita adalah perasaan yang menyakitkan.


.


.


.


“Ahh..” Melody mendesah saat Yudha mencium leher nya.

__ADS_1


Suara desahan itu terdengar begitu sexy di telinga Yudha. Seperti mendapatkan semangat dan apresiasi dari usahanya. Lagi, bukan pilihan yang salah, kan?


“Ahh, Yudhahh.” Melody menjambak rambut raven Yudha ketika dirinya kembali mendapatkan sengatan sexy di lehernya.


Melody mendesah, menggelinjang hebat dengan sentuhan-setuhan dari Yudha.


.


.


.


Sudah berapa kali Yudha menciumi Melody seperti ini? Sudah berapa kali ia menyentuh kulit halus Melody seperti ini? Mencengkram jemarinya, menempelkan dada bidangnya, memangkas jarak antaranya. Sudah berapa kali?


Otak jenius Yudha masih bisa berfikir, ia ingat bagaimana akhir-akhir ini ia merasa ada jarak yang semakin jauh antara dirinya dengan Melody. Ia ingat, bagaimana saat ia tidur sendirian ranjangnya terasa sangat luas.


Sangat luas dan begitu dingin, sepi..


“Sa-sakit, Yud-Yudhaah.” Yudha meninggalkan jejak-jejak petualangannya.


Nikmat, sungguh nikmat. Hasrat dituruti, hasrat dipenuhi.


Sangat nikmat, seperti waktu itu.


Benar, seperti waktu itu, musim panas. Ulang tahun Yudha, Okinawa.


Memori dua bulan yang lalu itu masih membekas di memori otak mereka. Bagaimana mereka kehilang akal sehat mereka dan terperdaya dengan hasrat yang menyesatkan. Mereka ingat betul bagaimana hasrat menyesatkan mereka. Membawa mereka ke kenikmatan sesaat dan sakit setelahnya. Mereka ingat bagaimana kisah semalam itu begitu manis namun menduri setelahnya.


Ya, pengaruh obat rangsang yang luar biasa.


Melody penasaran dengan banyaknya takaran dosis yang Nao cs gunakan. Pasalnya, ia merasaka jika hasratnya saat itu begitu meledak-ledak. Ia merasakan jika Yudha sungguh tak mengampuninya semalaman suntuk. Ia merasakan jika saat itu dia bisa melepaskan segalanya, segala yang ia punya tanpa memikirkan sebuah penyesalan di belakangnya.


Bandingkan dengan saat ini..


Ada yang berbeda, kenikmatan saat ini bukan karena pengaruh obat perangsang hadiah dari Nao cs yang memiliki efek mutlak terangsang hingga membuatnya kehilangan segalanya dalam sekejap.


Beda.


Beda jauh dengan saat ini. Ini murni karena bebas pengaruh obat, apa ini atas keinginan mereka berdua? Entahlah.


Namun..


Sepertinya bukan. Mereka saling sadar jika posisi mereka saat ini sedang tidak tepat. Ini menyakitkan karena hal seperti ini bisa terjadi. Mereka sedang dalam posii yang tidak baik. Sedang penuh kecanggungan. Sedang ada masalah. Sedang ahh, seperti tidak mungkin untuk melakukannya.


Rumit.


Sentuhan ini memang memabukkan. Sentuhan ini memang sangat nikmat. Sentuhan ini memang menggoda, menggairahkan, memaksa untuk lebih banyak lagi, lebih lama lagi. Tapi, sentuhan ini juga sangat menyengat, sampai di hati nurani, begitu menusuk, begitu menyakitkan, begitu menyesakkan, begitu menyedihkan.


Melody menangis saat Yudha memasuki relung hatinya.


Luar dan dalam rasanya terkoyak, sakit, sakit sekali.


Teriakkan tertahan, terkecik di leher. Suara paraunya menghilang karena ketidak mampuannya menahan luka.


.


.


.


________________________________________


 


**Kapok bersambung**..


\*\*AHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH\*\*


\*\*HAHAHAHAHAHHAHAH\*\*


\*\*HAHAHAHAHA\*\*


\*\*HAHAHAH\*\*


\*\*HHA\*\*


\*\*HA\*\*


 


.


.


.


PIYE? RATED T SOALNYA. Tapi rada erotis juga ya, hahahah. Ya kan bahasanya rada disensor, dipilih, kalo bisa memahami mendalam, di akhir cerita pasti mudeng itu kemana, astaga, aku mesyuumm.


Aku aja baca ulang senyum-senyum sendiri. kenapa aku bikin jadi kayak gitu ya? Lagi sedang tidak baik hubungannya tapi bisa berakhir di atas ranjang itu gimana ceritanya? Tolong, jangan marah, authornya lagi sedeng, lagi weng.


Oh iya, bentar lagi puasa. Semangaat!!

__ADS_1


__ADS_2