
Di kamar Melody, rumah sakit Kazehaya International, lantai 16...
"Kenapa, Mel? Mual?" Tanya Mikan ketika melihat Melody berhenti makan dan menutup mulutnya.
Melody menggeleng. "Seperti ada yang nyangkut di gigi. Maaf, Ibu." Kata Melody.
"Astaga, ibu kira kenapa. Kau membuat ibu khawatir."
Melody tersenyum. Dalam hati ia sangat bersyukur pada Tuhan karena sudah mendapatkan mertua super baik hati dan penyayang seperti Mikan. Bagi menantu perempuan, nikmat mana lagi sih yang harus didustakan dari anugerah mendapatkan mertua yang menganggap menantu seperti anaknya sendiri?
"Cara khawatir Ibu mirip dengan cara khawatir Yudha. Kekuatan gen memang luar biasa." Kata Melody.
"Benarkah? Apa laki-laki kaku seperti Yudha bisa sepertiku? Meski aku adalah ibunya, tapi Yudha itu terlalu kaku jadi orang. Antara khawatir dan tidak peduli itu nampak sama dari dirinya." Kata Mikan.
Melody menggeleng. "Yudha itu manusia super perhatian, Bu. Meski banyak ngeselinya, tapi Yudha itu pandai melakukan sesuatu agar orang lain keluar dari kesulitan. Yudha itu tak perlu berkata jika dirinya sedang khawatir, dia hanya perlu bertindak untuk menenangkan."
"Anak itu memang seperti itu sejak dulu. Lebih banyak bertindak daripada bicara. Untunglah dia bertemu dan menikah dengan dirimu, kau yang memiliki sifat berlawanan dengannya membuat dia berani keluar dari zona nyamannya. Membuat dia lebih bisa terbuka akan keberagaman. Ibu saja kaget saat tahu ternyata Yudha bisa bicara panjang lebar, bercanda, tertawa terbahak-bahak, dan menanggapi ocehan kecilmu." Kata Mikan.
"Memangnya Yudha dulu tidak seperti itu?" Tanya Melody penasaran.
"Yudha itu kaku, Mel. Irit bicara dan datar. Anaknya cukup dingin jika harus berhadapan dengan orang lain." Jawab Mikan.
"Ah, benar juga, Yudha dulu memang seperti itu. Sakit hati kalau ingat." Kata Melody.
Melody jadi ingat ketika awal-awal bertemu dengan Yudha, memang benar sih, Yudha itu tidak memiliki banyak ekspresi. Yudha bahkan bisa berkata pedas kepadanya. Nylekit kata-katanya sampai ke hati. Awal pertemuan dengan Yudha adalah pengalaman yang menyiksa batin.
"Yudha itu lebih mirip kakekmu dari pada ayahnya, Kazehaya Yoga." Kata Mikan.
"Eh? Masak, Bu? Bukannya harusnya mirip ke ayahnya? Namun kenapa harus dengan kakek? Memang ayah mertua seperti apa?" Tanya Melody.
Ia mengingat peringatan keras Yudha. Ia langsung menutup mulutnya lagi dan cepat-cepat meminta maaf pada ibu mertuanya itu.
"Maafkan aku, Ibu! Maaf, bu-bukan apa-apa. Tolong jangan pikirkan apa yang baru saja aku katakan!" Kata Melody.
"Kenapa, Mel? Soal ayah mertuamu, ayahnya Yudha, ada apa dengan hal ini? Sesuatu mengganggu pikiranmu?" Tanya Mikan.
"Ano, Yudha menyuruhku untuk tidak membahas soal ayah mertua di depan ibu. Yudha bilang, ibu akan bersedih jika teringat mengenai ayah. Ibu, tolong maafkan aku! Bukan maksudku membuat ibu bersedih dan tidak nyaman karena tiba-tiba aku bertanya soal ayah mertua." Kata Melody.
"Jika kau seperti ini, kau bisa tersedak makananmu. Ini, minumlah dulu dan baru berbicara dengan panjang lebar!" Kata Mikan, ia mengangkat gelas berisi air mineral dan memberikannya kepada Melody.
Melody menerima gelas berisi air itu dan meminumnya. Berhubung ia sudah selesai makan, maka air minum ini adalah pembersih tenggorokannya.
Mikan kemudian menyingkirkan bekas makan Melody. Ia menaruhnya di atas meja seperti sebelumnya.
"Hah, aku tak tahu apa saja yang sudah Yudha doktrinkan kepadamu. Namun soal ayah mertuamu, percayalah, ibu bisa mengatasinya dengan baik." Lanjut Mikan.
"Jadi benar, ibu akan bersedih jika menyangkut soal ayah mertua?" Tanya Melody hati-hati.
Mikan memejamkan kedua matanya dan mengangguk. "Ibu yakin kau sudah mendengar garis besarnya dari kisah pernikahan ibu dengan ayah mertuamu dari Yudha."
"Ya. Yudha sudah pernah mengatakannya padaku saat aku dan dia awal-awal menikah dulu. Kita membahas hal ini di malam yang larut, sebelum tidur." Kata Melody.
"Pernikahan ibu dengan ayah mertuamu itu membawa banyak luka." Kata Mikan.
"Apa aku dan Yudha contoh yang indah dari kisah perjodohan?" Tanya Melody.
"Ibu selalu berdoa jika kalian berdua tidak mengalami apa yang ibu alami. Ibu selalu meminta pada Tuhan agar Yudha hanya memiliki satu wanita yang dicintainya saja. Ibu tak ingin kalian mengalami perih dan pedihnya berbagi cinta, cinta sepihak, atau cinta tak terbalas... Maka dari itu Mel, meski saat ini harusnya kau beristirahat karena baru saja pulang dari Chiba, namun, tolong dengarkan apa yang ingin ibu katakan padamu. Apa yang akan ibu ceritakan padamu... Ini tidak cukup di tulis dalam selembar kertas, meski membosankan, ibu akan tetap menceritakannya. Meski ini membuatmu mengantuk, tetap dengarkanlah!" Kata Mikan.
Merasa jika sang ibu mertua sedang menatapnya penuh harap, Melody menjadi tidak tega untuk menolak. Ia pun bersedia untuk mendengarkan kisah ibu dan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Aku akan mendengarkannya, Ibu." Melody lalu mengambil sebuah toples berisi camilan. Lalu menunjukkannya pada ibu mertuanya. "Ada teman untuk mengobrol panjang lebar." Senyumanya.
Mikan tak kuasa menahan tawa kecilnya. Melody itu sangat menggemaskan. Ibu hamil memang memiliki nafsu makan yang bisa lebih, dulu ia juga menyimpan banyak camilan di kamar ketika mengandung Yudha.
"Kemarilah, duduklah kembali, Mel!" Pinta Mikan.
Melody duduk kembali di rajang sambil memangku toples berisi camilan kripik kentang gurih rasa balado. Tidak terlalu pedas. Ayane yang membelikannya. Ia ingat, meski usia camilan ini sudah lebih dari seminggu, tapi tak masalah, sedikit melempem pun asal belum kadaluarsa, tidak apa-apa, kan?
"Ibu akan bercerita semuanya, bukan hanya soal kisah ibu dan ayah mertuamu, tapi sesuai perkataan ibu sebelumnya, ibu juga akan membahas kisah masa lalu dimana ikatan karma buruk ini menghantui keluarga Kazehaya seperti sebuah kutukan yang tak kunjung usai." Kata Mikan.
Melody tidak membalas perkataan Mikan. Ia hanya ingin menjadi pendengar. Ia juga sudah tak sabar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga suaminya ini. Mungkin saja setelah ia tahu masa lalu dari ibu mertuanya, maka ia bisa melakukan sesuatu setelahnya.
Mikan mengambil nafas dalam-dalam dan mengrmbuskannya. Ia juga memejamkan matanya dalam beberapa detik.
"Tak mengapa. Melody adalah anakku juga. Aku akan baik-baik saja. Ini hanya sebuah cerita, dia sudah meninggal, dan aku sudah baik-baik saja." Batin Mikan.
Mikan lalu membuka kedua matanya yang terpejam. Ia menatap Melody dan mantap untuk bercerita mengenai kisah masa lalu yang di dalamnya terdapat kisah pernikahannya dengan Kazehaya Yoga juga.
.
.
.
FLASHBACK'S ON
Mikan, Yoga, dan Orion sudah mengenal sejak lama. Mereka menjadi sangat dekat karena kedua orang tua mereka saling
berhubungan sebagai teman dan juga rekan bisnis. Cerita perkenalan para orang tua penyandang Old Money ini sudaj terjadi dari daman dahulu jauh sebelum Mikan lahir.
Akan sangat sulit untuk anak dari keluarga biasa saja masuk ke dalam lingkaran teman sepermainan yang Mikan, Yoga, dan Orion jalin.
Sesuai yang sudah diketahui, Orion kecil mulai mencintai Mikan, Mikan mencintai Yoga, dan Yoga, laki-laki ini sebenarnya juga mencintai Mikan dalam beberapa kondisi. Hanya saja ia tak begitu menunjukkannya pada Mikan. Mengingat mereka bersahabat sejak kecil, maka sesuai yang terlihat mata, Yoga menyayangi Mikan maupun Orion.
Yoga itu tipe laki-laki yang melindungi. Ia akan bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Ia juga akan menjaga Mikan maupun Orion. Sifat-sifat seperti inilah yang sudah nampak semenjak ia kecil.
Ada selisih usia di antara mereka bertiga. Apa bila Yoga berusia 10 tahun, maka Mikan berusia 8 tahun dan Orion akan berusia 5 tahun.
Kehidupan masa kecil mereka berlalu dengan indah seperti para anak kecil pada umumnya dimana kehidupan mereka di dominasi bermain, bermain, dan bermain. Namun, semua menjadi berubah ketika kedua orang tua dari Mikan dan orang tua dari Yoga dan Orion membicarakan soal perjodohan tepat di usia Mikan yang ke 12 tahun.
Alasan sebagai pemererat jalinan persahabatan antar keluarga dan untuk memperkokoh dominasi dua keluarga besar adalah menjadi alasannya.
"Yoga, mulai saat ini Mikan akan menjadi tunaganmu dan akan menjadi istrimu ketika kau dewasa nanti." Kata Kakek Wijaya.
Mikan masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas bagaimana kedua belah keluarga memutuskan masa depannya dan masa depannya Yoga, sahabat kecilnya.
Dalam hatinya, ia tak mempermasalahkan hal ini karena memang ia sendiri memiliki perasaan pada Yoga, perasaan lebih dari sekedar sahabat. Meski usianya baru menginjak 12 tahun, tapi ia menyayangi Yoga dan memiliki keinginan untuk selalu bersama dengan Yoga. Bersama seperti ayah dan ibunya. Itulah bagaimana cara Mikan menatap Yoga.
Mikan mengintip sekilas ke arah Yoga untuk melihat bagaimana ekspresi dari Yoga ketika mendengar kabar ini. Ada ekspresi yang begitu bisa Mikan pahami. Ia menilik lebih dalam dan mencari tahu arti dari ekspresi yang Yoga tunjukkan itu.
MIKAN'S POV
Aku hari ini diberitahu jika Yoga adalah calon suamiku di masa depan. Aku belum paham lebih dalam soal konsep pernikahan. Namun, yang aku tahu, menikah itu adalah sama seperti ayah dan ibu yang hidup bahagia bersamaku.
Aku masih 12 tahun. Aku tak begitu tahu banyak hal terutama urusan orang dewasa.
Saat aku mendengar jika aku dan Kak Yoga akan dijodohkan, aku sangat bahagia. Aku ini sudah sejak lama menyukai Kak Yoga. Dia orangnya sangat baik dan pernah menolongku ketika tersandung. Kak Yoga menggendongku dari taman sampai ke rumah.
Namun apa ini? Aku tak tahu, tapi melihat Kak Yoga menampilkan ekspresi itu, rasanya aku menjadi sedih.
__ADS_1
Apa itu artinya kak Yoga tidak menyukai perjodohan ini? Apa itu artinya kak Yoga membeci perjodohan ini? Kenapa muka dia seperti itu? Bukankah kak Yoga itu selalu menemaniku saat keluarga kami bertemu. Bahkan di sekolah juga aku sering bermain dan makan bersama. Itu artinya kak Yoga menyukaiku, kan? Itu artinya kak Yoga tidak membenciku, kan?
Lalu, tatapan mata kak Yoga membuatku tak mengerti. Aneh, ini seperti orang yang bingung dan tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ini seperti tatapan yang aku berikan ketika aku memecahkan gelas mahal milik ibu, tapi takut dimarahi, akhirnya tak berani bilang padahal dalam hati merasa bersalah.
Ahhh, pusing.
Wakaranaiyo!
Aku tidak mengerti!
Akhirnya, aku hanya diam saja. Begitu pula dengan kak Yoga. Ia juga tidak menanggapi apapun soal pembicaraan orang dewasa ini.
Siang itu, tawa dan canda memenuhi kediaman Yamaguchi. Namun aku dan kak Yoga hanya bisa diam tak mengerti harus bersikap seperti apa.
Ruapanya, hanya aku sendiri yang bahagia akan kabar perjodohan ini.
Mulai detik ini, aku menjalani kehidupanku sebagai tunangannya kak Yoga.
Waktu terus saja berlalu, sekolah dasar aku lalui tanpa masalah. Kisah harian yang mengimbanginya juga berlangsung lancar. Semua berjalan dengan baik. Memasuki SMP pun juga tak jauh berbeda. Aku masih berhubungan baik dengan dua generasi keluarga Kazehaya, kak Yoga dan adiknya, Orion.
Kak Yoga itu 2 tahun di atasku, sedangkan Orion 3 tahun di bawahku.
Kami berbaur dengan baik meski memiliki perbedaan yang ketara. Terutama Orion, dia anak yang manis dan sangat baik juga terhadapku. Dia akan belari dengan senyumannya ketika melihatku datang berkunjung ke kediaman Kazehaya.
Berbeda dengan kak Yoga, semakin dia dewasa, dia semakin dingin kepadaku. Apa ya, intinya dia tidak banyak bicara seperti dulu saat bersamaku.
Kak Yoga juga tak lagi mau bermain denganku. Mungkin karena saat ini dia sudah SMA, makanya dia berpikir jika bermain-main sudah tidak pantas dimainkan oleh remaja seperti dirinya.
Aku pun mulai melakukan hal yang sama. Aku tak lagi main petak umpet di taman belakang rumahku ataupun rumahnya. Aku tak lagi menangkap capung dan kupu-kupu.
Maaf Orion, aku menolak ajakkanmu lagi.
Kasihan juga melihat Orion yang mengajakku bermain, tapi aku menolaknya. Sudah waktunya untuk berubah. Aku remaja awal yang akan segera menginjak jenjang sekolah menengah atas. Banyak hal yang berubah dalam hidupku. Termasuk caraku bermain.
Aku kelas satu SMA, kak Yoga kelas XII SMA, dan Orion kelas VII SMP.
Hubunganku dengan kak Yoga seperti tidak memiliki kemajuan. Orang bilang aku ini tunangannya, tapi aku lebih terlihat seperti pengekornya. Hanya aku yang menganggap serius soal pertunangan ini. Aku bahkan rela berhati-hati dalam memilih teman.
Dan lagi-lagi, sepertinya memang kak Yoga sama sekali tidak tertarik denganku. Lama-lama sakit juga ketika mencoba berdiri tegar meski diabaikan olehnya.
Aku tak mengerti kenapa seperti ini. Yang aku tahu, dia mulai seperti ini karena dijodohkan denganku. Dia tak menyikai perjodohan ini. Dia tak mengharapkan menikah denganku di masa depan.
Aku memikirkannya. Aku sudah menyimpulkannya dan menjadikannya sebagai hasil dari olah pikiranku.
Sepertinya memang aku juga tak ingin melihat kak Yoga yang seperti ini. Aku tak ingin diabaikan olehnya, aku pun memiliki keinginan untuk membatalkan saja perjodohan ini.
Meski sangat disayangkan, tapi aku tak ingin melihatnya menderita akan beban perjodohan ini.
END OF MIKAN'S POV
END OF FLASBACK
.
.
.
Untuk beberapa chapter ke depan akan fokus menceritakan masa lalu dari Mikan. Dari sudut pandang Mikan tentunya. So, mari sejenak kita pisahkan kisah romantis mbak Melmel dengan Mas Yudha terlebih dahulu. Keep reading ya.. Setia menunggu aku ucapkan terima kasih. Semangat.
__ADS_1