MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pulang


__ADS_3

Hari kepulangan Yudha dari Kanada tiba. Hari ini adalah hari senin. Hari yang cerah meski musim gugur semakin membuat cuaca mendingin.


Cukup banyak aktivitas Melody hari ini. Dia sibuk ke kampus sampai jam 2 siang. Hari ini ia full sendirian, tanpa Ayane yang mengawasi seperti biasanya. Ia bahkan tidak meminta diantar saat berangkat kuliah. Mia menjemputnya.


Selama di kampus, Melody bungkam jika Mia bertanya soal isu skandal antara Yudha dan Yura. Meski Mia memaksa Melody untuk bicara, tetap saja, Melody tidak menceritakan apapun pada Mia. Mia mencoba mengerti, ini memang bukan urusannya, tapi ia tidak akan berhenti mencampuri urusan sahabatnya jika sahabatnya disakiti.


"Melody, apa benar tentang berita itu?"


"Melody, kau pasti mengalami waktu yang berat."


"Melody-san, kalau Yudha menyakitimu, aku akan selalu ada untukmu." Ini Kiba-fans Melody.


"Menyebalkan, model itu keterlaluan."


"Yudha juga keterlaluan, Melody itu gadis yang baik."


Rupanya Melody mendapatkan pembelaan dari teman-teman satu kelasnya. Ia hanya bisa tersenyum membalasnya. Ia merasa berterima kasih karena nyatanya selama ini ia sangat diperhatikan oleh teman-temannya.


Sudah seminggu berlalu, tapi sahabatnya masih saja menanyainya. Tidak masalah, nyatanya berita di media selalu masih menyangkut isu Yudha dan Yura. Sampai ke depan yang entah kapan, ia akan dijejali pertanyaan yang intinya sama seperti itu.


"Aku tidak ingin membahas mengenai skandal Yudha dengan Yura! Aku berterima kasih karna kalian semua menghawatirkanku, tapi jika kalian terus saja menanyainya, dadaku semakin engap. Dadaku semakin sesak. Aku menjadi sulit tidur, sulit bernafas. Aku berusaha keras meyakinkan diriku jika semua itu hanyalah gosip. Jadi kumohon, berhentilah membahas mereka di hadapanku! Aku tidak ingin mendengarkannya!"


.


.


.


Yudha keluar bandara langsung dikerubungi wartawan. Wartawan sangat banyak, datang dari berbagai media. Cetak maupun elektronik. Entah bagaimana para wartawan bisa tahu kapan Yudha akan kembali dari Kanada.


Pukul 09.30 pagi, Yudha memakai stelan jas hitam dengan dalaman kemeja putih tanpa dasi. Terlihat ia juga memakai kaca mata hitam. Sangat tampan, seperti sudah seharusnya dari sosok seorang keturunan Kazehaya.


"Bagaimana pendapat Anda dengan isu kedekatan anda dengan Anamiya Yura?"


"Bagaimana dengan foto-foto yang beredar itu? Apakah itu asli?"


"Apakah Anda memiliki hubungan serius dengan artis itu?"


"Saya pernah melihat Anamiya Yura dalam pernikahan Anda, apakah hubungan Anda dengan dia sudah terjalin lama?"


"Kazehaya-san, kenapa Anda bungkam dengan masalah ini?"

__ADS_1


"Kazehaya-san, kenapa Anda ke Kanada tanpa didampingi istri Anda?"


"Apakah memang hubungan Anda dan istri Anda sudah mengalami keretakkan?"


"Pagi ini kami tidak melihat istri Anda menjemput Anda. Apa itu artinya memang ada masalah serius antara Anda dengan istri Anda?"


"Apakah benar desas-desus keretakkan hubungan rumah tangga Anda dengan istri Anda itu benar adanya?"


"Apakah memang Anda tidak memiliki perasaan apapun pada istri Anda sehingga Anda memilih berselingkuh dengan Anamiya Yura? Bukankah model sekaligus artis itu jauh lebih sexy dari istri Anda yang hanya dari kalangan biasa?"


Pertanyaan terakhir dari wartwan itu membuat Yudha membuka kaca mata hitamnya. Ketika ia hendak membuka mulutnya, Shuhei menyelanya dengan cepat.


"Sebagai wartawan seharusnya Anda bisa memilih kata-kata yang bijak saat bertanya! Anda bahkan tidak pantas menjadi seorang wartawan. Menyingkirlah, urusan pribadi Tuan Mudah bukan urusan kalian! Terima kasih."


Shuhei lalu merangkul Yudha dan mengajaknya masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu tak jauh dari tempat mereka berdiri. Beruntung ada banyak body guard yang sepertinya sudah disiapkan oleh Aron.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Yudha tidak menemukan anggota keluarga di mansion Kazehaya yang super mewah itu. Ibu dan neneknya ke Jerman lebih awal dan akan datang saat ia wisuda.


Ibu dan neneknya tidak ada di rumah, lalu bagaimana dengan yang lain?


Sang kakek sudah jelas berada di kantor. Alvin sudah mulai magang di rumah sakit, sementara Melody- yang ia tahu jika Melody sedang berada di kampus. Ia memang tak mengetahui jadwal kuliah terbaru Melody, tapi saat ini, ia hanya bisa menyimpulkan hal itu.


Rupanya jadwal senin Melody begitu padat sampai-sampai Melody tak menjemputnya di bandara. Apa memang karena jadwal?


"Bocah itu kemana sih? Tidak menyempatkan waktu untuk menjemputku."


Pulang ke rumah, mandi, istrirahat sebentar, lalu makan. Itu yang Yudha lakukan, setelah selesai ia kembali istirahat di kamarnya.


"Sudah lama aku tak kembali ke kamar ini."


Tik tok tik tok, sudah pukul lima sore. Ia tak menyangka jika akan tertidur nyenyak, efek jetlag memang tak bisa ia bendung. Sekuat apapun dirinya, nyatanya ia memang harus mengalah dengan apa yang dinamai sebagai 'lelah'.


Ya inilah faktanya, ia memang hanyalah manusia biasa.


Yudha duduk di ranjangnya. Ia mengambil ponselnya dan menyalakannya. Menatapnya pelan. Tidak ada apa-apa. Ya, tidak ada apa.

__ADS_1


No messages, no miss call, no email.


Kenapa Melody tak menelponnya? Mengirim pesan kepadanya? Setidaknya mengabarinya? Bukankah harusnya Melody itu tahu jika saat ini ia sudah kembali ke Jepang? Ayane pasti sudah memberitahukannya kan? Shuhei pasti juga melakukan hal yang sama.


Tunggu.


Bukankah memang selama ia berada di Kanada, ia memang tak pernah mendapatkan kabar langsung dari Melody? Hari pertama ia memang masih sempat mendapatkan email masuk dari Melody, ucapan syukur karena sudah mendarat di Kanada dengan selamat. Setelah itu, sama sekali tidak ada! Melody tak mengabarinya.


Apa benar jika kabar kedekatannya dengan Yura itu sangat mengganggu pikiran Melody?


Jika iya, apa yang sebaiknya ia lakukan?


Menjelaskannya?


Ayolah, rasanya ia tak melakukan hal yang salah.


Wartawan saja yang berlebihan.


Apa memang seperti itu?


Hari ini adalah puncak rasa lelahnya. Ia lelah untuk melanjutkan pembahasan seperti ini. Namun, Melody sampai sesore ini belum juga kembali. Merasa heran, ia lalu mencari Ayane yang rupanya sedang berada di rumah. Ia bertanya kemana Melody pergi. Ayane memberitahukannya.


"Melody-sama jika memiliki waktu senggang, nona akan pergi ke rumah sakit. Setiap hari nona melakukan itu. Hari libur maupun kuliah sekalipun. Di sana nona bermain dan menghibur anak-anak yang sedang dirawat di rumah sakit."


"Apa terjadi perubahan pada Melody selama aku berada di Kanada?"


"Tidak ada, nona Melody tertawa lepas saat di rumah sakit. Saat di rumah, nona bersikap biasa saja, tapi nona lebih suka di kamar. Nona bahkan hanya makan pagi saja saat di rumah, makan siang dan malam, nona lakukan di luar. Paling sering di rumah sakit."


"Kau tidak menemaninya?"


"Maafkan saya, Tuan muda. Hari ini, nona pergi bersama nona Mia. Nona Melody meminta saya untuk menyelesaikan skripsi S2 saya saja."


"Begitu ya?"


"Hai, sumimasen."


"Tidak apa-apa, yang penting dia tidak pergi sendirian."


Hai, sumimasen: Iya, maaf.


Merasa kurang puas mendapatkan informasi tentang Melody, akhirnya Yudha menyambar kunci mobilnya dan langsung tancap gas menuju rumah sakit.

__ADS_1


Ada rasa yang menyeruak di dalam dadanya. Sudah pukul enam sore lebih, Melody belum juga kembali. Jika benar kata Ayane, maka Melody pasti akan pulang malam.


Kenapa Melody tak ijin padanya jika Melody memiliki kegiatan di rumah sakit? Kenapa ia tidak diberi tahu? Lalu kenapa juga Ayane tidak memberitahunya? Bodoh, harusnya ia bertanya pada Shuhei. Shuhei adalah sumber informasi terbaiknya!


__ADS_2