
Normal time...
Pembicaraan antara menantu dengan mertuanya masih berlangsung. Membicarakan kisah masa lalu itu adalah fakta dan sejarah, sementara masa depan adalah impian dan khayal. Dua manusia beda usia ini membahas keduanya. Namu, kisah masa lalu yang saat ini masih mendominasi pembicaraan.
Kisah masa lalu adalah alasan untuk kehidupan yang berlangsung saat ini dan besok, lalu masa depan.
"Kau ingin bertanya soal Kurenai, kan?" Tebak Mikan.
Melody kaget karena ibu mertuanya bisa menebak isi kepalanya, ibu mertuanya bisa menebak apa yang ingin ia pertanyakan, ibu mertuanya bisa menebak apa yang paling membuatnya penasaran.
Mengenai kemunculan Kurenai di tengah kisah cinta ibu dan ayah mertuanya yang menurutnya itu sangat romantis seolah terasa tidak mungkin untuk 'disusupi' oleh orang lain.
Bagi Mikan sendiri, melihat gelagat Melody yang ragu-ragu ketika ingin bertindak tentulah memiliki sebuah alasan dan ia tahu apa alasan itu. Karena dari kisah masa lalu yang dialaminya dengan Yoga, Kurenailah yang menorehkan goresan tajam, dalam, hitam pekat, dan sulit terhapuskan. Kurenailah yang membuat kisah masa lalunua menjadi begitu sangat rumit dan seolah deritanya tak berujung.
Masa lalu yang membawa luka dalam. Masa lalu yang membawa dendam. Masa lalu yang membawa karma yang belum bisa terbalas dengan lunas. Masih terus berputar di dalam lingkarannya. Berputar, berputar, berputar seolah tak memiliki batas dan ujungnya.
Membuat diri sangat frustasi karena sampai saat ini, detik ini pun lingkaran karma itu belum juga usai. Ia sedang berusaha keras untuk memotongnya, namun karma itu malah justru berlanjut menimpa Yudha, Melody, dan Alvin.
Sebagai orang tua dan sekaligus mertua untuk menantunya, Melody, ia tidaklah tutup mata, ia tidaklah bodoh hanya sekedar hidup tanpa berpikir. Ia tahu apa yang terjadi saat ini dimana kisahnya dengan Yoga dan Kurenai kembali terulang. Ia tahu jika Alvin memiliki perasaan dalam pada Melody.
Namun yang berbeda adalah bagaimana nasib di posisikan saat ini. Dimana Alvin itu sama seperti dirinya, mencintai dengan sangat tulus tapi tidak mendapat balasan.
Loh?
Bukannya diceritakan jika dirinya dan Yoga itu sangat saling mencintai? Bukankah kisah cinta yang berlangsung ketika sekolah menengah dan kuliah juga sangat manis? Ia berkencan dengan Yoga ke pantai, ke taman hiburan, ke pusat pembelanjaan, atau yang murah di perpustakaan. Manis, kan? Lalu kenapa bisa seperti ini? Perasaanya pada Yoga tak terbalas?
Itu hanya kesimpulan dari kisah yang akan ia ungkapkan beberapa saat lagi.
.
.
.
FLASHBACK ON
MIKAN'S POV
Kehidupan kuliahku mendekati akhir. Kak Yoga sudah lulus dan kini sedang bekerja tetap di perusahaan milik keluarganya, Emperor Group yang perkasa itu, yang saat ini sudah menjadi raksasa bisnis ternama di Jepang di bidang properti dan kontruksi.
Kak Yoga menjadi sangat sibuk dan jarang bisa meluangkan waktu untuk bersama denganku. Tak mengapa bagiku, aku tahu seberapa sibuknya ia di kantor. Aku pun sempat ikut magang di Emperor Group saat PKL waktu itu. Selain jam istirahat, sulit sekali untuk bersantai. Aku muntah beberapa kali karena lelah dan stress berlebihan. Aku bahkan sampai tidak bisa menyelesaikan PKL-ku sesuai jadwal. Harusnya sebulan, tapi aku hanya mampu tiga minggu.
Jahat memang, aku dimudahkan karena aku adalah calon menantu pemilik perusahaan tempatku magang. Untuk mahasiswa lain, aku mohon maaf. Maaf karena sudah menyalai aturan yang ada dan ketidak adilan ini.
Oke kembali ke kisahku dan kak Yoga, karena dia sibuk, aku menjadi tak bisa bertemu dengannya seenak jidatku seperti dulu saat masih sekolah atau kuliah. Bahkan, untuk saat ini, aku pun mulai jarang mendapatan balasan pesan darinya. Setidaknya dia akan membalas di hari berikutnya. Ya, tak mengapa sih, yang penting balas. Kadang kirim pesan pagi, malamnya batu mendapat balasan.
Dan itu berlangsung cukup lama selama kurang lebih setengah tahunan. Mungkin ada yang mengatai jika itu waktu yang sebentar atau berlebihan sekali sikapku dalam menanganinya. Namun aku juga wanita biasa yang dimabukan oleh cinta. Aku masih muda dan mendambakan kisah manis yang penuh dengan nuansa lope-lope, bunga, dan latar berwarna pink.
Jangan katakan jika aku ini aneh! Aku tak terima karena aku yakin jika kalian sedang jatuh cinta, maka kalian juga akan menunjukkan sikap yang tak jauh beda denganku.
.
.
.
Setelah enam bulan aku dan dia menjalani hubungan yang minim komunikasi, apakah setelahnya hubungan kami membaik karena susah bisa kembali berkomunikasi lagi?
Jawabannya adalah TIDAK! TIDAK SAMA SEKALI!
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun yang aku tahu, hubunganku dengan kak Yoga itu malah semakin memburuk. Ini lebih buruk dari merenggangnya hubunganku dengannya sewaktu usai mendengar jika kami ini dijodohkan.
Sungguh, aku tak mengerti kenapa bisa seperti ini. Kenapa harus terjadi lagi padahal aku sudah berharap lebih akan hubungan kami yang membaik saat sekolah menengah atas waktu itu.
Semakin hari semua menjadi semakin sulit.
Hah, aku lelah juga jika aku terlalu banyak kirim pesan padanya. Dikira aku terlalu over dalam menanggapi sesuatu. Lagian, aku juga memiliki harga diri. Sebesar apapun aku mencintainya, tapi jika hanya aku sendiri yang memperjuangkan, rasanya menyakitkan.
Mungkin sebaiknya break dulu saja. Aku akan menikmati hal lain dan lebih mencintai diriku sendiri dulu. Aku harap jika aku melakukan hal ini, aku menjadi lebih dewasa dalam menghadapi banyak hal ke depannya.
Oh iya, aku baru ingat jika hari ini aku harus ikit menjemput Orion di Bandara. Bocah nakal itu akhirnya kembali juga ke Jepang. Sebagai orang yang selalu bersamanya sejak kecil, saat pisah lama seperti ini, aku menjadi sangat merindukannya.
Uhh, apa dia setampan di foto?
Sudah lama sekali ya...
__ADS_1
.
.
.
Dan ya, dengan menghabiskan sekitar hampir setengah juta ke bandara naik taxi, aku pun sudah menunggu di pintu keluar bandara International Narita.
Penerbangan internasional Jepang sebagian besar ditangani oleh Bandara Internasional Narita yang dulunya disebut sebagai Bandara Internasional New Tokyo hingga tahun 2004. Kemudian pada tahun 2010, Bandara Haneda juga membuka penerbangan internasional. Jika kedua bandara tersebut digabungkan maka Jepang akan memiliki sistem bandara terbesar ke-3 di dunia setelah New York City dan London.
Bandara yang menurutku selalu saja membuatku kagum dengan design arsitektur bangunannya. Aku selalu penasaran bagaimana orang-orang dengan kempuan ini saat bekerja, menggambar dan memperhitungkan rangka bangunannya. Imajinasi dan insipirasinya itu juga dari mana. Aaah, semoga saja anakku nanti ada yang menjadi seorang arsitek. Meski bukan arsitek besar kelas bandara atau gedung pencakar langit, asal dia bisa membuat rumahnya sendiri, aku sudah akan bangga kepadanya.
Hm, jika aku memasukkan anakku ke sekolah arsitek, apa aku akan menjadi orang tua yang terlalu memaksakan kehendak kepada anaknya?
Belum jadi orang tua saja, aku sudah heboh sendiri. Astaga. Kuliah lulusin dahulu, menikahlah, dan miliki anak beberapa setelahnya! Kerja? Tentu juga aku akan berkerja!
Sudahi imajinasiku ini! Aku harus segera menemui Orion!
"Mikan!" Panggil seorang wanita yang sudah aku kenal dengan baik. Aku sampai hafal suaranya. Dia adalah Kazehaya Chiyo, calon mertuaku.
"Bibi Chiyo, apa kabar. Sudah lama ya?" Sapaku. Tak lupa aku juga memamerkan senyuman terbaikku.
"Kau sudah lama tak main ke rumah lagi. Apa tugas kampusmu itu sangat sibuk sehingga sulit bagimu untuk mengunjungiku?" Tanya Bibi Chiyo.
Aku hanya meringis dan tersenyum sebaik yang aku bisa lakukan.
Masalahnya bukan hanya sibuk tugas kuliah, nyatanya aku memang sudah masuk semester akhir yang disibukkan dengan laporan skripsi dan tesis. Namun ada hal lain juga yang tak bisa aku ceritakan pada bibi Chiyo, terutama soal hubunganku yang merenggang dengan kak Yoga.
.
.
.
Bibi Chiyo tak lagi di luar negeri ketika Orion sudah mampu hidup mandiri. Dia hanya akan menjenguk Orion ketika bocah itu tak bisa pulang ke Jepang.
Dan aku melupakan sesuatu yang seharusnya penting walau aku coba menepisnya.
Ada kak Yoga yang menemani bibi Chiyo dalam menjemput Orion. Kalau paman Wijaya sepertinya tidaklah mungkin karena rutinitas kantor yang sudah pasti membuat paman Wijaya sebagai founder dan sekaligus CEO Emperor Group itu menjadi sangat sibuk.
Kenapa aku seperti ini? Bukankah yang aku lakukan selalu mencarinya saat dia sedang sibuk dan mengabaikanku? Kini dia sudah di hadapanku, aku harusnya merasa bahagia, kan? Akhirnya setelah sekian lama bisa bertemu juga. Namun, fisikku tak sejalan dengan pemikiranku.
Bodo amatlah..
Aku hanya ingin segera bertemu adik kecilku yang manis itu, Orion. Aku akan mengajaknya makan ramen di tempat langganan kami saat kami masih kecil dulu.
Toh, kak Yoga juga tidak berinisiatif bertanya apa kek kepadaku. Ya sudah, buat apa aku peduli, kan?
.
.
.
Aku menghadap ke arah jauh pintu keluar bandara di depanku. Memfokuskan mataku untuk mencari laki-laki muda tampan dan lebih kecil dariku.
Tidak ada?
Katanya sudah sampai?
Kenapa lama sekali? Bukankah rombongan pesawat dari Amerika sudah datang? Aku mendengarkannya dari suara pengumuman bandara.
Mungkin ke toilet dulu?
Jangan bilang dia masih tak bisa kencing di toilet pesawat? Hahaha. Jika iya, maka aku akan tertawa.
"Memikirkanku yang tidak-tidak ya? Aku tahu kau pasti melakukannya!" Suara laki-laki terdengar di telingaku.
Aku batu sadar jika di hadapanku saat ini sedang berdiri sosok laki-laki dengan memakai kaca mata hitam, rambut coklat, dan sangat modis dengan pakaiannya. Celana jeans dan hodie baseball.
Dia menatapku dari balik kaca mata hitamnya.
Dare ka ano otoko?
Siapa laki-laki ini?
__ADS_1
"Melupakanku?" Dia membuka kaca mata hitamnya. Seketika itu aku langsung berteriak.
"ORION?" Tanyaku.
Dia mengangguk. Aku langsung memeluknya dengan sangat erat. Ya ampun aku sungguh tak mengenalinya.
Kami melepaskan pelukkan. Aku menatap bibi Chiyo dan meminta maaf karena sudah terlalu heboh bereaksi. Beliau bilang tak mengapa karena aku dan Orion sudah lama tak bertemu.
Aku hanya tersenyum saja ketika Orion secara bergantian memeluk ibu dan kakaknya.
"Kau sangat berbeda, Orion! Sejak kapan kau bisa setinggi ini? Aku bahkan kini hanya sedadamu! Apa yang kau makan di luar negeri sih? Kau juga semakin tampan dan atletis badannya. Apa kau pergi ke gym?" Tanyaku tanoa henti.
Habisnya aku masih tak menyangka jika perubahan Orion akan sedratis ini. Sumpah demi apa, dia itu menjadi sangat tampan. Dia juga lebih tinggi dari kak Yoga.
"Jika kakakku bisa semakin tampan dan kau semakin cantik, kenapa aku harus terlihat burik rupa terus sama seperti wajahku terkena lumpir saat kita pergi menangkap katak kecil sewakyu kita masih sekolah dasar?" Senyum Orion yang diselingi tawa dari kami.
.
.
.
Waktu terus berlalu, selama Orion di Jepang, aku menjadi tidak kesepian. Aku dan dia selalu pergi main bersama dan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik dan makanan-makan enaknya.
Hariku menjadi semakin berwarna setelah Orion datang menghiburku. Sejenak aku melupakan masalahku dengan kak Yoga.
Nyatanya lagi, dia juga tak mengatakan apapun padaku. Tidak pula dengan mengirimkan pesan lagi kepadaku. Sudah lama sih, dia seperti ini. Ya sudah, toh aku juga tak mengirimkannya pesan, aku tak memiliki sesuatu yang harus aku bicarakan denganny.
Dan semua terlewat begitu saja.
Hingga pada suatu hari, tiba-tiba paman Wijaya menjadikan kak Yoga sebagai ahli warisnya dan sekaligus CEO Emperor Group.
Aku yang tak tahu apa-apa yang bisa kaget dan tak mengerti aku harus bertindak bagaimana. Masalahnya, selama ini aku tak di samping kak Yoga, dia juga tak menceritakan hal ini kepadaku.
Dianggap saja mungkin tidak, anak ingusan belum lulus kuliah sepertiku pasti hanya akan mengganggu di matanya. Aku magang saja tidak lengkap sampai sebulan, apa lagi dengan urusan bisnis yang lebih mendalam, kan? Jadi intinya aku bukanlah orang penting yang bisa memahami dunianya yang penuh dengan bisnis dan kesempatan atau peluang.
Jelasnya aku tak paham. Namun satu hal yang pasti, setelah mendengar kabar itu, rasanya banyak hal menjadi berubah. Banyak hal menjadi tak sama seperti dulu lagi. Rasanya seperti masuk ke dalam lautan dekat kutub selatan, dimana mendingin meski hanya ada di permukaannya.
Apa yang terjadi pada keluarga Kazehaya dan Emperor Group sebenarnya?
Apa yang sudah aku lewatkan?
Bukankah aku ini calon menantu keluarga Kazehaya?
Kenapa aku sama sekali tidak mengenali keluarga ini?
Rasanya menjadi sangat asing. Rasa dingin ini sungguh membuatku merasa kurang nyaman. Aku menjadi tidak betah.
Keluarga Kazehaya adalah keluarga yang hangat. Keluarga yang tiap harinya penuh dengan kebahagiaan dan tawa oleh penghuninya.
Namun, apa yang terjadi sih?
Aku tak ingin berkata kasar dan tak formal, tapi ini membuatku jengkel karena semu menjadi sangat rimut dan di luar kendali.
WHAT THE HELLL IS THAT, HUH?
Aku butuh mengumpulkan nyawaku terlebih dahu sebelum semuanya aku telan mentah-mentah tanpa pengawasan. Aku tak mau salah ambi keputusan lagi.
Namun apa saya...
Sepertinya aku baru saja kehilangan hal berarga yang selama ini sudah aku jaga sejak dulu kala.
Aku menangis mendapati diriku tidur tanpa pakaian dengan kak Yoga.
END OF FLASHBACK.
.
.
.
"I-ibu? Su-sungguh?" Tanya Melody gugup dan tak percaya.
Mikan pun hanya mengangguk saja.
__ADS_1