
Ruang tamu kediaman Kazehaya menjadi sangat rame. Ada empat orang berkunjung, ditambah Melody dan Yudha maka totalny menjadi enam orang. Enam orang itu sudah cukup untuk bermain basket, tapi sayang kali ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan permaian basket.
Ini saat yang tepat untuk mengobrol dengan teman lama.
Yudha meraih tangan Melody ketika Melody beranjak meninggaljan ruang tamu. "Kau mau kemana?" Tanya Yudha.
"Membuat minuman untuk tamu-tamumu.." Jawab Melody.
"Jangan, biar para maid saja yang melakukannya!" Larang Yudha.
"Yaelah, cuma membuat minuman juga. Itu tak seberapa kok. Aku bisa melakukannya dengan cepat! Aku ini kan mantan pelayan cafe, aku sudah terbiasa." Kata Melody.
"Tapi lau istriku. Mana mungkin aku membiarkanmu melakukan pekerjaan seperti itu sementara banyak maid di rumah ini."
"Apa ada yang salah dengan seorang istri Tuan Muda yang kaya raya membuat minuman untuk tamunya? Tidak ada, Yudh!".
"..." Yudha masih menahan tangannya.
Yudha itu memang pemilik pikiran yang super sulit untuk dipahami. Melody hanya bisa menghela nafasnya.
"Aku akan meminta para maid untuk membantuku, setuju, kan?" Tanya Melody.
Yudha mengangguk. "Aku ingin kopi pahit."
Melody tak sadar mengacak-acak rambut Yudha. "Iya. Aku akan membuatkannya."
Senyuman super tipis Yudha sunggingkan di ujung bibirnya.
"Jangan lama-lama!" Pinta Yudha. Ia cukup senang dengan perlakuan Melody terhadapnya. Biasanya ia yang mengacak-acak rambut Melody, tapi kini sebaliknya.
Apa rasanya senyaman ini?
"Iya, aku akan cepat.."
Yudhapun melepaskan tangan Melody dan Melody langsung pergi menuju dapur.
Dan kini, empat teman lama Yudha itu cengo dengan menampilkan ekspresi yang beragam. Senyum-senyum sendiri, mangap, tak menyangka, dan ikut bahagia.
Yudha santai menghadapi tatapan aneh teman-teman lamanya itu. Ia malah duduk menyilangkan kakinya dan menggunakan tangan kirinya untuk menyangga dagunya.
"Silahkan duduk!" Kata Yudha.
Nao melihat bekas gigitan yang ada di tangan kiri Yudha.
"Bahkan sampai ada bekas gigitan, senakal apakah istrimu itu?" Tanya Nao. Yang lain ikutan penasaran.
"Ah Melody ya? Dia sangat nakal.." Jawab Yudha ambigu.
Jawaban Yudha yang ambigu itu memunculkan spekulasi-spekulasi tidak jelas di benak empat orang teman lama Yudha.
Dan biarlah kesenangan ini berakhir diimajinasi masing-mading!
.
.
__ADS_1
.
Beberapa saat kemudian, Melidy kembali dengan senampan minuman. Dibantu oleh maid kediaman Kazehaya yang membawa berbagai jenis cemilan.
"Ha-hajimemashite, watashi wa Tachibana Ayumi desu." Kata Hina si gadis indigo yang terlihat kaku dan malu-malu.
Hajimemashite, watashi wa: Salam kenal, saya adalah..
Desu: sebuah akhiran tanpa makna. Bahasa formal Jepang diakhiri dengan akhiran ini.
"Tachibana Neil desu, kembaran Ayumi." Kata Neil.
Melody yakin jika Neil itu setipe dengan Yudha. Memiliki mata yang dingin. Tapi Ayumi dan Neil adalah anak kembar membuat Melody tak percaya, pasalnya sikap mereka jauh berbeda.
Satu hal yang perlu Melody catat, setiap orang memang memiliki karakter yang berbeda-beda, tak akan ada yang sama, tak terkecuali mereka yang kembar sekalipun.
"Miura Sai desu." Kata Sai si muka mayat dengan senyuman yang meragukan?
Rasanya terjebak di ruangan berdua dengan orang ini akan mengerikan, itu yang Melody bayangkan.
"Dan aku adalah Namikaze Nao. Yang paling tampan dari yang tampan!" Si rambut jigrak durian yang khas dengan senyuman lebarnya.
Eh, Melody yakin ini yang membuatnya menggali kembali setumpukkan memori di otaknya itu. Melody pernah bertemu Nao sebelumnya!
"Kenapa kau hanya diam saja saat aku memperkenalkan diri, Melody-chan? Sebelumnya kau tersenyum saat yang lain memperkenalkan diri mereka. Apa aku kurang heboh?" Tanya Nao.
Melody menggeleng cepat. "Bu-bukan seperti itu."
Yang lain hanya memperhatikan pembicaraan Melody dan Nao tanpa ada niat menyela pembicaraan yang sepertinya terdengar cukup serius.
Melody membulatkan matanya. Benar, ingatannya memang tak salah begitupun yang Nao katakan padanya. "Ya, Dean Hwang itu ayahku."
"Jika kau melupakanku, aku benar-benar akan merasa sedih." Nao berpura-pura sok terlihat sedih dan kecewa.
Melihat Nao yang terlihat lesu seperti itu membuat Melody berusaha keras mengingat kembali masa lalunya.
"Nao-kun desu ne? Nao-kun yang suka makan ramen itu, kan?" Tebak Melody yang sangat yakin akan tebakannya itu.
Desu + ne: bisa diartikan ya dalam katanya tanya. Misal, Mas Nao ya?
"YA, YA, ITU AKU! SYUKURLAH MELODY-CHAN, KAU MASIH MENGINGATKU. Aku senang sekali. Sudah lama ya, Melody-chan. Aku benar-benar merindukanmu." Nao yang kegirangan tanpa ragu memeluk erat tubuh Melody. Tak hanya memeluk saja, tapi Nao juga membuat Melody menari gembira bersamanya.
Muter-muter seperti itu.
"Ya Nao-kun, aku juga senang dan merindukanmu." Kata Melody.
Memeluk erat di depan mata yang lain, di depan mata Yudha yang notabene adalah suami Melody.
SUAMI MELODY!
Sai, Neil, dan Ayumi melebarkan mata mereka bersamaan.
Berani sekali Nao itu.
Yudha?
__ADS_1
Yudha baru saja melihat istrinya dipeluk laki-laki lain, kemudian istrinya justru bilang juga sangat senang dan merindukan laki-laki lain itu.
Lalu..
Tunggu sebentar!
-kun?
Melody menambahkan suffix –kun di belakang nama Nao. Itu artinya hubungan mereka dekat ya? Sangat dekat sepertinya. Ia baru sadar jika sedari awal Naopun selalu memanggil
Melody dengan tambahan suffix –chan padahal ia yakin, ia belum mengenalkan Melody kepada teman-temannya secara langsung.
Suffix –kun itu menunjukkan adanya hubungan yang dekat. Ditambah lagi, mereka berdua saling memanggil nama belakangnya, nama kecilnya. Itu tak hanya sok dekat atau memang dekat, tapi pasti sangat dekat sekali.
ITU TIDAK PENTING BAGI YUDHA!
Ikatannya dengan Melody justru jauh lebih dekat. Ia suaminya Melody, kan?
KAZEHAYA YUDHA ADALAH SUAMI MELODY HWANG- bukan ralat, KAZEHAYA MELODY!
Pertanyaannya, kenapa Melody tidak menambahkan suffix apapun di belakang namanya? Melody memang memanggil nama belakangnya, nama kecilnya, tapi tanpa embel-embel apapun!
Memikirkan hal kecil seperti itu rasanya membuat kesal saja.
Iri juga?
Ada rasa kesal?
YA!
Iri?
YA!
Yudha mengakuinya, tapi sedikit. Hanya sedikit! Ingat hanya sedikit!
Sedikit dalam takaran Yudha itu seberapa? Jawabannya hanya Yudha saja yang tahu.
"Melody, hentikan tarian konyolmu itu! Kakimu masih bengkak!" Kata Yudha akhirnya.
Melody dan Nao lantas menghentikan acara temu kangen mereka. Bagi mereka berdua, hal itu sih biasa saja. Toh pada dasarnya mereka berdua memang sudah saling mengenal sejak lama.
Hanya saja, hal seperti itu cukup mengganggu di mata Yudha. Bagaimanapun Melody itu istrinya, sudah sewajarnya seorang istri menjaga jarak dari laki-laki lain manapun. Itu peraturannya, kan?
Memang seperti itu atau sebenarnya rasa kesal karena istrinya dipeluk laki-laki lain itu adalah sebuah rasa alamiah dari seorang suami?
Semua orang pasti tahu apa itu.
Cemburu?
Cemburu?
Yudha cemburu?
Ayolah, Yudha hanya tidak suka saja jika 'mainannya' dibagi dengan orang lain.
__ADS_1
Bukan, itu hal sewajarnya yang harus dilakukan dari seorang Kazehaya Yudha!