MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Hurt


__ADS_3

Selama di perjalanan pulang ke mansion Kazehaya, mereka hanya saling terdiam. Yudha fokus mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Seperti balapan.


Melody sampai meremas seatbeltnya. Ia takut setengah mati, Yudha terlihat sangat marah. Ia tak tahu jika Yudha akan menyusulnya sampai ke apartemen milik Alvin. Apakah tadi Yudha melihatnya saat di rumah sakit, lalu mengikutinya sampai ke apartemen Alvin?


Rupanya salah, Melody hanya tidak tahu jika Yudha memasang GPS di HP Melody. Semenjak Melody hilang di Okinawa, Yudha lebih berhati-hati lagi.


Yudha memeriksa kemana perginya Melody secara berkala. Seminggu tak mengecek aplikasi GPSnya, ia sudah kecolongan. Melody tidak menginap di rumah Mia!


Jadi selama ini Melody membohongi dirinya?


Ia sudah mencoba percaya jika Melody menginap di rumah Mia. Bahkan Mia juga memastikan keadaan Melody bagaimana. Tapi kebenaran aplikasi GPSnya itu tak bisa disanggah.


Semua sudah membohonginya!


Melody, Mia, bahkan Alvin yang sangat dipercayainya juga bekerja sama.


Apa mereka menganggap dirinya itu begitu bodoh untuk dibohongi?


Sial.


Hanya dengan memikirkannya sudah membuatnya sangat kesal. Iapun menginjak gas mobilnya dan menambah kecepatan. Ia ingin segera pulang ke rumah dan membuat perhitungan pada Melody.


Menginap di tempat Alvin?


Tanpa sepengetahuannya?


Selama seminggu?


Gila!


Itu sangat gila!


"Aku memberimu izin untuk menenangkan diri. Tapi apa yang kau lakukan ini benar-benar melukai batas sabar dan toleransiku. Dari semua hal yang bisa kau lakukan untuk menenangkan diri, kenapa kau harus memilih apartemen Alvin? Bukankah ada banyak hotel mewah di Tokyo! Aku memberimu banyak uang, itu lebih dari cukup untuk menginap berbulan-bulan sekalipun! Kenapa kau memilih kakakku? Untuk bersamanya? Untuk bermesraan dengannya seperti tadi?"


Yudha memukul kasar stir mobilnya.


Melody kaget dan tak mengerti akan sikap Yudha yang seperti itu. Bukankah sedari tadi Yudha hanya diam saja? Apakah ia melakukan kesalahan lagi? Melakukan kesalahan yang tak ia ketahui?


Aura gelap penuh amarah itu menyesakkan dada Melody. Ia tak punya apa-apa untuk mencari perlindungan. Ketika Yudha menggila dengan kecepatan mobilnya, ia hanya bisa pasrah.


.


.


.


Tangan kiri Melody memegangi perutnya, sementara tangan kanan meremass erat seatbelt di dadanya.


Apa Yudha berniat mati bersama?


Ia takut mengendarai mobil dengan kecepatan seperti ini. Meski jalanan Tokyo tak begitu ramai, tapi kemungkinan kecelakaan itu ada.

__ADS_1


Apa Yudha tak memikirkan keselamatan anak-anaknya?


"Aku takut setengah mati. Kumohon, tolong berhenti! Aku tidak ingin naik mobil secepat ini! Aku tak akan kabur! Aku janji! Aku akan kembali ke rumah Kazehaya! Meski aku harus jalan kaki sekalipun dan membuat kakiku lecet, aku tetap akan kembali. Jadi tolong, kumohon, berhentilah!"


Melody memejamkan matanya dan menangis.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Yudha langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah. Ia tak mau berlama-lama menuju garasi mobil.


Ia membuka pintu mobil. "Keluar!"


Melody gemetaran dan mencoba membuka tautan kunci seatbeltnya. Susah. Ia kesusahan melakukannya. Ketakutan masih mendera seluruh jiwa dan raganya.


Yudha mendecih kesal. Iapun membantu Melody melepaskan tautan itu.


Melody yang ketakutan hanya bisa menunduk. Ia tak bisa, tepatnya ia tak berani menatap balik mata Yudha.


Setelah melody keluar dari mobilnya, Yudha kembali menyeret Melody menuju kamar mereka. Ia lalu mengunci Melody di kamar.


BAAMM.


“YUDHA, BUKA PINTUNYA! AKU TIDAK SUKA KAU PERLAKUKAN SEPERTI INI! YUDHA BUKA!” Teriak Melody dari dalam kamar.


Sampai tangannya memerah. Sakit pasti, tapi ia bisa menahannya.


Dikurung itu mengerikan!


“AKU TIDAK AKAN MENGELUARKANMU SAMPAI KAU MERENUNGI KESALAHANMU!” Yudha memukul keras daun pintu kamar mereka.


Melody terperanjat dan langsung diam. Yudha marah besar padanya.


Ia hanya bisa bersandar lemah di depan pintu dalam kamar. Ia memegangi perutnya. Ia kembali menangis.


“Aku tahu apa yang aku lakukan itu salah. Tak sepantasnya aku yang sudah menikah pergi ke rumah laki-laki yang bukan suaminya. Tapi tak bisakah kau memperlakukanku lebih baik lagi? Kau bahkan tidak memikirkan kondisi kehamilanku. Kau jahat Yudha, kau keterlaluan!”


Melody memukul-mukul pelan pintu kamar yang terkunci itu. Tenaganya melemah karena berkelut dengan kecepatan mobil Yudha tadi.


Apa lagi amarah Yudha yang menghancurkan pertahanannya. Tenaganya menghilang entah kemana.


"Aku salah, Yudh.. Aku mengakui kesalahanku! Tolong buka pintunya! Aku tidak mau dikurung! Yudha!"


Melody kembali memukul pelan pintu itu. Berulang kali dengan harapan jika Yudha akan meluluh dan membukanya.


"Yudha.. Yudha.. Buka pintunya!"


Ia bahkan menangis cukup keras. Menangis untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


.


.


.


Yudha bersandar di pintu luar kamar mereka. Ia mengambil bungkus rokok dari dalam saku celananya. Di dalam bungkus itu masih tersisa sebatang puntung rokok, ia mengambil rokok itu dan membuang asal sampah bungkusnya.


Mengambil korek api dan membakar rokoknya. Ia menyesapnya perlahan, menikmati setiap detik rasa asap yang masuk ke dalam mulutnya.


Hisap.. lepas... hisap... lepas.


Akhir-akhir ini ia menjadi sering merokok. Padahal sebelumnya tidak pernah sama sekali melakukan hal yang merusak kesehatannya seperti ini.


Satu hal yang ia pahami, rokok adalah teman setia dan begitu memahami dirinya. Saat ia merasa masalahnya begitu berat, rokoklah penolong jiwanya. Ia menjadi lebih tenang.


Tapi ia tak bodoh, ada pengorbanan yang perlu ia bayar dengan ketenangan yang ia peroleh. Ia membayar dengan kesehatannya.


Cukup adil?


Tidak, yang ia tahu, ia yang akan selalu dirugikan. Tidak ada yang baik dari rokok. Tidak ada. Kenikmatan itu hanya sesaat. Terasa semu.


Hanya orang bodoh yang menganggap rokok itu teman setia. Hanya pengecut yang selalu membenarkan kenikmatan merokok.


Seperti dirinya?


“Maaf Melody, hanya ini yang bisa aku lakukan saat ini. Semua menjadi begitu rumit.”


.


.


.


Melody lunglai. Ia duduk di depan pintu kamar dalam. Ia belum berniat beranjak dari sana. Ia masih berharap jika Yudha akan berubah pikiran dan membuka pintu untuknya.


"Seberapa besar perasaanku padamu, kau tak akan pernah bisa memahaminya. Kau sungguh egois! Kau sungguh jahat! Kau sangat keterlaluan padaku! Namun meski begitu, aku masih saja tetap mencintaimu... Anak-anak dalam kandunganku menguatkanku untuk bertahan dari perihnya cinta yang tak terbalas... Hukumlah aku sesukamu, toh aku sudah sakit sebelum ini. Aku sudah menderita karena cintaku padamu. Sejak dulu, sejak aku tahu tidak akan pernah ada tempat untukku di hatimu. Setitik kecilpun itu, aku tahu, itu tidak ada... Namun, jangan kau kurung aku seperti ini untuk merenungi segala kesalahanku! Aku tahu menginap di tempat kakak ipar itu tidaklah benar. Aku tahu aku tak izin padamu. Tak bisakah kau mendengar alasanku terlebih dahulu? Semenit saja, aku pasti akan memanfaatkannya sebaik mungkin... Sial, aku melemah karenamu."


________________________________________


“Aku kudu piye, Mas Yudha? Aku hamilpun, njenengan tetep seneng mbi wanito liyo.” – Melody Jawa.


Hahhahahah..


😎😎😎


Like


Komen


Share

__ADS_1


Vote lebih keren 😈


__ADS_2