
Ruangan itu lalu dipenuhi oleh tamu Yudha. Terlihat banyak yang sedang asyik mengobrol tentang pertumbuhan bisnis masing-masing. Melody? Ia lebih banyak diam karena ia sadar betul jika pembicaraan teman-teman Yudha bukanlah ranahnya bicara.
Teman-teman Yudha itu sangat pengertian, mereka tidak mau membuat Melody merasa tidak nyaman berada di kumpulan orang-orang macam mereka. Meski mereka tahu asal usul keluarga Melody itu bagaimana, tapi karena mereka adalah teman –sahabat Yudha, maka sudah seharusnya mereka memperlakukan dan menerima baik sosok Melody.
"Ternyata kalian teman lama?" Tanya Neil.
"Ya begitulah. Dulu waktu masih di Hokaido, Ayah Melody itu karyawan kepercayaan ayahku. Melody juga berhasil menolongku dari kejaran anjing galak yang mengejarku saat itu." Kata Nao.
"Mengejar anjing galak?" Tanya Sai.
"Iya, waktu itu Nao-kun berlari dikejar anjing galak sambil menangis ke arahku. Aku sedang pulang membeli beberapa cup ramen. Aku mengambil kayu yang ada di dekatku untuk mengusir anjing galak itu. Beruntung anjing itu langsung pergi, tapi Nao-kun tak henti-hentinya menangis, aku kasih dia ramen yang aku bawa." Sambung Melody.
"Aku menerima ramen cup dari Melody-chan, lalu di rumah aku memakannya dan itu enak sekali.. Mulai saat itu aku menjadi maniak ramen. Aku juga berteman baik dengan Melody-chan. Hingga pada akhirnya, aku mendengar jika ayah Melody-chan mengundurkan diri dari perusahaan ayah dan sejak itu, aku tak lagi bisa menemui Melody-chan."
Nao tidak tahu jika tak lama setelah itu, ayah Melody meninggal dunia.
"Gomen Nao-kun, banyak hal yang terjadi pada keluarga kami."
"Melody-chan, aku senang akhirnya Nao-kun berhasil menemukanmu kembali. Kau tahu, Nao-kun selalu menceritakan tentang teman masa kecilnya kepadaku. Aku kira ia hanya menghayal, tapi ternyata Nao-kun memang benar. Nyatanya, saat ini, di hadapanku, sosok teman masa kecil Nao-kun sedang tersenyum manis. Tapi aku sedikit kecewa juga." Kata Ayumi.
"Hee? Kenapa, apa aku menyakitimu, Ayumi-san?" Tanya Melody.
Yang lain juga lumayan penasaran.
"Kita ini pernah berkenalan, kita pernah masuk di kelas yang sama, di SMP Kantou, ya walau hanya sebentar karena aku harus pindah sekolah." Jawab Ayumi.
"Ya ampun, ternyata tingkat kebodohanku separah ini. Kenapa aku susah sekali mengingat masa laluku sih? Ayolah, jangan buat dirimu itu terkesan jahat, Melody!" Batin Melody.
Sepertinya ia memang harus berusaha lebih keras. Beban nama Kazehaya rupanya sangat berat untuk ia tanggung.
"Hee? Kau Tachibana yang itu, yang dulu rambutnya pendek?" Tanya Melody.
__ADS_1
"Hm, tentu saja! Siapa lagi Melody-chan."
"Gomen, aku terlambat menyadarinya. Maaf, habisnya kau terlihat jauh berbeda."
"Manusia kan memang bisa berubah. Contohnya Melody-chan yang dulu cantik sekarang semakin cantik. Hei Yudha, apa kau tahu?" Tanya Ayumi.
"Apa?" Jawab ketus Yudha.
Ia rada kesal karena Melody terlihat mengabaikannya karena sibuk membalas pertanyaan teman-temannya. Kenapa Melody begitu laris sih?
Teman-teman dekatnya itu tertarik dengan Melody easy going.
"Melody-chan dulu jadi incaran anak se-SMP loh, terutama senior-senior kelas tiga. Bahkan Melody-chan pernah ditembak sehabis upacara sekolah. Di hadapan banya siswa dan guru-guru lagi." Kata Ayumi.
Itu adalah fakta. Kisah itu melegenda setidaknya selama dua tahun sekolah di sekolah menengah pertama dengan Melody.
Melody dulunya tak hanya cantik, tapi juga sangat imut, wajar saja menjadi incaran banyak siswa di sekolah. Mulai dari seangkatan dan kakak kelas. Saat naik kelas dua, adik angkatan juga banyak yang menyukai Melody.
Indahnya masa muda.
Mendengar fakta baru mengenai Melody, Yudha hanya diam saja. Banyak hal yang tak ia ketahui tentang masa lalunya Melody. Pengetahuannya kalah dengan Nao dan Ayumi.
Tunggu? Ditembak? Dikejar-kejar anak sesekolah menengah pertama? Kenapa kesal lagi saat membayangkannya?
"Melody-chan kan memang cantik, wajar saja jadi incaran." Sela Nao yang diamini Sai dan Neil.
"Intinya, dunia memang sempit ya. Kita dipertemukan di rumah ini. Yudha-kun, arigato, kau membuat kami semua bertemu teman masa kecil kami." Kata Ayumi.
"Benar itu."
Yudha hanya mengangguk saja. "Padahal aku tak melakukan apa-apa. Itu ulah kakek. Kalau bukan karena kakek, kalian tidak akan bisa bertemu dengan Melody." Batin Yudha.
__ADS_1
Sudahlah. Anggap saja ini adalah kebaikkan dari Tuhan. Anugrah dimana diri bisa bertemu dengan teman lama dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
"Oh iya, Melody, Yudha, maaf ya waktu kalian menikah aku tidak bisa datang, ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa aku tinggalkan. Tapi, Nao-kun melakukan video call denganku, aku jadi bisa melihat acara pernikahan kalian yang sangat meriah itu. Kalian benar-benar terlihat seperti pasangan pangeran dan tuan putri dari negeri dongeng." Kata Ayumi.
"Ah tidak apa-apa, Ayumi-san."
Ayumi tersenyum senang. Lalu ia mengambil sebuah kotak cukup besar dari tas yang ia bawa.
"Ini, hadiah untuk pernikahanmu, Melody-chan." Kata Ayumi.
Melody menerima hadiah itu. "A-arigato gozaimasu. Aku sangat senang."
Oh ya, Melody ingat jika ia juga menerima kado dari sahabat tersayangnya, Mia. Kado itu belum ia buka sampai sekarang. Sepertinya ia jadi penasaran dengan isi kotak bercover cantik dengan hiasan pitah warna warni itu.
"Ini isinya apa?" Tanya Melody.
Ayumi hanya tersenyum. "Bukalah nanti saja, Melody-chan! Tidak enak kalau di buka di sini. Hafiah dariku tak seberapa kok.."
Kini giliran Nao menyodorkan bingkisan kado yang cukup besar kepada Yudha.
"Dan ini dari kami bertiga, Yudh! Kado spesial untukmu." Kata Nao semangat.
Yudha menerimanya dan sedikit menggoyangkannya untuk menerka kira-kira isinya apa. Namun Nao berteriak dan meminta Yudha agar tak menggoyangkannya.
"Kado buatmu lebih besar dari punya Melody! Jadi stop memandangi kami dengan tatapan cemburumu itu!" Kata Nao.
"Aku sampai merinding karena kau lebih menyeramkan dari biasanya." Kata Sai.
"Yudha kalau cemburu membuat suasana mencengkam." Lanjut Neil.
"Cih, siap juga yang cemburu? Apalagi soal kado." Sanggah Yudha.
__ADS_1
Cemburunya bukan soal kado, tapi cemburu dengan teman-temannya yang tahu lebih banyak mengenai Melody. Jauh beda dengan dirinya yang tak mengetahui masa lalunya Melody padahal ia adalah suami resmi Melody.
"Ini kado apaan sih? Cukup berat dan lumayan mencurigakan. Apa lagi hasil patungan tiga sahabatku ino. Mereka bertiga itu trio absurd, kado ini jadi meragukan. Haruskah ia melihatnya nanti?" Batin Yudha.