
"Sayang, kau masuklah ke dalam! Di sana kau bisa bermain dengan laptop yang ada di mejaku. Pakailah laptop yang berwarna hitam, jangan yang putih! Yang putih laptop untuk kerja. Jangan kemana-mana! Tetaplah menungguku sampai selesai! Aku yakin itu tidak akan lama." Kata Yudha.
Yudha meminta Melody untuk menunggunya di dalam kantor kerjanya karena ia akan mengikuti rapat pemegang saham istimewa sebentar lagi. Ia tidak bisa membawa Melody ikut serta karena Melody tak memiliki saham di Emperor Group.
"Iya, aku akan menunggumu. Kau tak usah khawatir!" Kata Melody.
"Jika butuh apa-apa, aku bisa memanggil Zakki, Yuuichi, atau Kouki. Orang-orang yang tadi sudah aku kenalkan padamu. Kau tahu mereka, kan?"
Melody mengangguk. "Hn. Aku mengerti. Sudah sana pergi ke dalam ruangan rapatnya! Aku tak apa-apa kok sendirian." Kata Melody.
Yudha terlihat tidak tega meninggalkan sendirian istrinya itu.
"Aku akan baik-baik saja, Yudh!" Kata Melody meyakinkan Yudha.
"Di dalam ruangan kerjaku ada kulkas. Di sana banyak buah, ada apel sekai ichi kesukaanmu. Maaf, jambu bijinya tidak ada, Shuhei tak dapat menemukannya di toko buah. Ada cemilan kue juga. Toilet ada di sebelah kiri dari meja kerjaku. Kalau kau ingin tidur, kau cukup masuk ke dalam ruangan yang ada di belakang meja kerjaku. Aku meninggalkan kuncinya di sana." Kata Yudha.
Nada khawatir Yudha yang berlebihan itu membuat Melody menyunggingkan senyumannya. Yudha adalah suami terbaiknya. Satu dan selamanya.
"Iya, my limited husband! Aku akan memakan semuanya nanti. Anggap saja itu cemilan pembukan buat makan malam bersama kita nanti." Katan Melody.
Yudha tak canggung mencium bibir Melody di tempat umum. Bahkan ketika dari arah kanan Alvin datang bersama 'pasukannya'.
Alvin berjalan dengan gagahnya dengan ibunya merangkul lengan Alvin. Terlihat juga ada Uchiyama Azumane, Tuan Kang, Tuan Park, dan para petinggi Emperor Group dari fraksi oposisi penentang kakek Wijaya.
"Hal tak sopan seperti itu tidaklah pantas untuk dilakukan oleh seorang wakil CEO Emperor Group!" Kata Kurenai yang merasa jijik dengan kelakuan Yudha dengan Melody.
Adegan ciuman Yudha dan Melody memang disaksikan semua orang yang ada di situ.
"Yang tidak sopan itu mencoba merebut milik orang lain, ibu Kurenai!" Kata Yudha.
Kurenai kesal. Ia tahu betul maksud dari perkataan Yudha. Yudha sedang menyindir dirinya dan anaknya, Alvin.
"Aku mencium istri sahku. Adakah hal yang salah dari kelakuanku? Yang salah itu ketika aku mencium bukan istriku lalu fotonya diambil diam-diam dan masuk ke dalam headline berita. Setelah itu dunia akan tahu jika cucu Emperor Group dan putra sah Kazehays Yoga adalah seorang tukang selingkuh." Lanjut Yudha.
"Dan boom, harkat dan martabat Yudha-senpai langsung tercoreng harga dirinya. Lalu imbasnya, Yudha-senpai mulai mendapatkan nama buruk di Emperor Group." Sambung Melody. Melody kemudian sok menata jas yang Yudha pakai. "Aduh Senpai-ku yang malang, hanya karena ulah manusia iri dan pengecut, yang beraniya hanya main di belakang, kau jadi menderita seperti ini. Sini Kohei-mu peluk!"
Senpai-kohei: Senior-junior.
Yudha dan Melody saling bekerja sama untuk menyindir orang-orang dari fraksi oposisi penentang kakek Wijaya.
Yudha mencoba menyindir Kurenai mengenai skandal foto selingkuhnya dengan Yura. Sementara Melody, ia mencoba menyindir Alvin dengan memanggil Yudha seperti yang biasa ia lakukan kepada Alvin. Ia menambahkan sufix senpai pada belakang nama Yudha.
Yudha sudah tahu siapa yang mengambil foto diam-diamnya. Ia sudah tahu siapa wartawan yang terlibat dalam penyebaran berita palsu yang sangat merugikannya. Ia juga sudah tahu siapa saja dalang dari semua masalah berita skandal perselingkuhannya. Semua dari fraksi oposisi penentang kakeknya.
"Alvin, setelah kau menjadi CEO Emperor Group, sebaiknya kau mendisiplinkan orang-orang seperti mereka!" Pinta Kurenai.
"Sebaiknya kau mengaca sebelum bertindak, Kurenai-san! Kau pikir dirimu itu pantas menyuruh orang lain untuk mendisiplinkan diri? Kau yang perlu mendisiplinkan akhlakmu!" Kini Mikan, ibunya Yudha menimpali.
Kurenai adalah salah satu pemegang saham Emperor Group dengan total saham yang sama dengan milik Alvin. Selain ia memang membeli saham Emperor Group dengan uangnya sendiri, ia juga mendapatkannya dari mendiang sang suami, Yoga Kazehaya.
Saham sebesar lima persen inilah yang sangat diinginkan oleh Kurenai. Saham peninggalan Yoga.
"Ibu, sudah!" Pinta Alvin yang memilih tak mau menanggapi lebih lanjut pembicaraan orang-orang di hadapannya ini. Membuat kepalanya semakin pusing saja.
"Tapi, Vin... Mereka sangat keterlaluan!" Kata Kurenai yang belum ikhlas karena sedari tadi selalu mendapatkan penekanan dari kubu Yudha.
"Biarkan saja mereka bersenang-senang sebelum kalah perang!" Kata Alvin.
Alvin mencoba menekan Yudha, tapi sepertinya tak berhasil. Yudha terlampau santai menanggapinya. Yudha malah kembali berciuman mesra dengan Melody tanpa memperdulikan suasana ramai di lorong itu.
Ada rasa kesal di dalam dada. Jelas. Sangat jelas rasanya bagaimana jantungnya terasa sangat terbakar karena melihat orang yang sangat dicintainya bermesraan dengan laki-laki yang bukan dirinya. Semakin lama, semakin dalam luka yang ia terima. Iapun memilih untuk langsung menuju ruangan rapat pemegang saham.
.
.
.
Sepeninggal Alvin dan pasukkannya, Melody langsung mencubit kencang pinggang Yudha. Membuat Yudha mengaduh kesakitan.
"Sakit, Mel! Kau ini, hamil tapi tenaganya tidak main-main!" Kata Yudha. Ia mengusap-usap bekas cubitan dari Melody.
"Kira-kira dong kalau mau manas-manasi orang! Mereka itu orang-orang yang usianya jauh lebih tua darimu! Sopan dikit kenapa sih sama orang tua!" Omel Melody.
Kesal. Sudah pasti ia sangat kesal karena perlakuan Yudha tadi. Bayangkan saja, ia harus berciuman bibir cukup panas dengan Yudha di hadapan banyak orang. Jika itu mertuanya, ia masih bisa tahan malu, tapi ini di hadapan Alvin, Kurenai, dan para petinggi-petinggi Emperor Group! Ia memiliki batas malu juga.
"Mereka saja banyak yang suka bercinta di kantornya." Kata Yudha.
Melody melebarkan matanya tak mengerti. "Ma-maksdmu dengan bercinta?"
"Ngesexlah, apalagi mememangnya?"
"Hah? Bisa seperti itu? Di kantor?" Melody masih tak percaya dengan penuturan Yudha.
"Bisalah. Dunia bisnis juga kelam, Mel. Selingkuh ataupun protistusi juga bisa masuk ke dalamnya. Wanita-wanita yang menginginkan uang akan rela menjadi wanita simpanan bossnya agar hidupnya terjamin. Kantorpun buat ajang bercinta ketika waktu luang menyapa." Jelas Yudha.
__ADS_1
Melody pernah mendengar kisah seperti itu dimana para wanita cantik rela jual diri pada atasan kerjanya demi mencukupi kebutuhan hidupnya yang glamor.
"Awas saja kalau kau melakukannya! Aku tak segan-segan untuk mengulitimu!" Ancam Melody.
"Menyeramkan! Kau menyeramkan, Mel! Ibu hamil tak pantas berkata keji seperti itu! Apa lagi mengancam menguliti papanya anak-anak." Kata Yudha.
"Ya asal kah tak melakukannya, maka semua akan aman-aman saja!" Kata Melody.
"Aku ingin melakukannya sekali-kali." Celetuk Yudha.
"APA? BERANI KAU MELAKUKANYAN MATI KAU!" Ancamana Melody meningkat dari menguliti menjadi membunuh.
Yudha tertawa renyah. Melody menggembungkan kedua pipinya kesal.
"Aku ingin melakukan sex di kantor denganmu sekali-kali. Bukankah itu akan seru? Aku pasti tidak akan bosan seharian di kantor, ne Melody-chan?" Goda Yudha mesum.
Melody merah padam. Yudha kalau menggoda suka kelewat gila.
"Ehem-ehem.. Sepertinya ibu tua ini seperti batu prasasti yang tertimbun tanah ribuan tahun ya?" Kata Mikan, ibunya Yudha.
Melody dan Yudha refleks menoleh pada sang ibu. Mereka lupa jika saat ini mereka sedang tidak berduaan. Ada ibu di sana. Ada Shuhei, Zakki, Yuuichi, dan Kouki juga?
Sejak kapan mereka di sana?
Bukankah tadi hanya ibu saja?
Melody dan Yudha sama-sama merah padam. Yang baru saja mereka lakukan pasti sangat tidak senonoh untuk dilihat.
Ah bodo amat, sudah terlanjur malu, disekaliankaj saja dah!
Itu pemikiran Yudha!
Itu Yudha yang bilang, bukan Melody! Yakin dah!
Yudha kembali mencium bibir Melody dengan jauh lebih ganas dari yang tadi. Zakki, Yuuichi, dan Kouki memejamkan mata mereka masing-masing agar tak melihat apa yang Tuan Muda mereka lakukan. Sementara Mikan, ia memilih untuk mengabadikan moment panas anak dan menantunya ini ke dalam kamera ponselnya. Ia juga membaginya dengan Tsuchiya, ibunya Melody.
.
.
.
Di dalam ruang kerja milik Yudha.
Melody tiduran di kamar pribadi milik Yudha yang ada di dalam ruangan kantor kerja. Ia sangat malu tak terkira.
"Sebenarnya, cintaku padanya itu memang benar-benar cinta atau nafsu semata sih? Sial, apapun bekas sentuhan Yudha di kulitku rasanya menjadi sangat panas."
Melody memeluk dirinya sendiri.
"Yudha, kapan kau selesai rapat? Aku ingin memelukmu dengan segera."
.
.
.
Acara rapat saat ini sedang berlansung. Yudha dan fraksinya duduk di barisan di sebelah kiri, sedangkan Alvin dan fraksinya duduk di barisan sebelah kanan. Pertama-tama pembawa acara rapat pemegeng saham istimewa melakukan pembukaan dengan sangat baik.
Ada dua calon kandidat yang bakal menggantikan Kakek Wijaya untuk menjadi CEO dari Emperor Group.
Kazehaya Yudha dan Kazehaya Alvin.
Dua keturunan darah Kazehaya ini saling berebut tahta tertinggi Emperor Group. Alvin terlihat jelas melakukan banyak gebrakkan nyata untuk mendapatkan banyak dukungan para pemegang saham. Jauh berbeda dengan Yudha yang justru terlalu banyak masalah karena cinta.
Bukan seperti itu juga, intinya Yudha lebih fokus ke menyelesaikan atas fitnah-fitnah yang mencoreng nama baiknya. Tak hanya berusaha melindungi diri dari upaya pembunuhan, tapi juga dari gempuran orang-orang yang ingin merobohkan harga diri dan kepercayaan para pemegang saham Emperor Group.
"Sayang, tegapkan dadamu! Hari ini adalah tahtamu!" Kata Kurenai menyemangati anaknya.
"Iya, Bu."
Kurena terlihat sangat percaya diri saat ini. Apa lagi fraksi pendukungnya. Wajah licik nan bahagia itu sama sekali tak bisa disembunyikan padahal rapat pemegang saham istimewa saja belumlah selesai.
"Yudha, jangan mainan ponsel kenapa sih? Hormati acara rapatnya!" Pinta Mikan karena anaknya sedari tadi hanya melihat foto-foto di galeri ponselnya.
Foto itu tentu saja fotonya Melody dan diri Yudha.
"Ibu, Melody cantik, tidak?" Yudha malah mengabaikan ucapan sang ibu. Ia lebih memilih memperlihatkan foto Melody saat sedang tertawa.
"Iya sangat cantik. Dari dulu Melody kan memang sangat cantik, Yudh! Baru menyadarinya?" Tanya sang Ibu.
"Ya aku tahu dia memang cantik, tapi semakin ke sini semakin cantik. Kenapa ya?"
__ADS_1
"Mungkin kalian akan memiliki anak perempuan? Biasanya kan seperti itu."
"Benarkah?"
"Iya. Memang kalian belum melakukan USG? Bukankah sudah bisa dilihat kelaminnya?"
Yudha menggeleng. "Aku dan Melody memutuskan untuk tidak melakukannya, Bu. Kami ingin mendapatkan kejutannya saja saat dia lahiran nanti."
"Haha. Kalian ini. Memang benar sih, kejutan itu jauh lebih indah dan membuat deg-degan." Mikan tersenyum.
Mikan merasa bersyukur karena pada akhirnya Yudha akan menemukan cinta yang tulus. Tidak seperti dirinya yang harus merasakan cinta yang pahit di masa lalu.
"Dokter Aizawa bilang, kelahiran kembar bisa saja mempercepat kelahirannya. Jadi kami diminta siaga ketika masuk usia tujuh bulan." Kata Yudha.
"Yang penting kalian kalau ada apa-apa, terbuka saja. Katakan apapun yang dirasa. Kalian akan mengalami masa-masa dimana kalian akan segera menjadi orang tua. Nikmati hidup kalian. Jangan terlalu memikirkan pekerjaan, apa lagi mengenai Emperor Group!" Kata Mikan.
"Iya, Bu. Aku mengerti."
Acara kembali dilanjutkan. Saat ini dimulailah acara inti, yaitu membuat voting.
Setiap pemegang saham menuliskan nama yang diinginkan untuk menjadi CEO Emperor Group untuk menggantikan kakek Wijaya pada secarik kertas yang sudah disediakan oleh panitia rapat. Setelah selesai, mereka melipat secarik kertas itu dan memasukkannya ke dalam wadah akrilik bergembok.
Semua orang yang hadir dalam undangan rapat itu sudah mengumpulkan suara mereka. Kini waktunya penghitungan suara.
"Shuhei, setelah ini berakhir, tolong catat siapa saja orang selain fraksi oposisi penentang kakek yang tiba-tiba mendukung Alvin!" Bisik Yudha pada Shuhei.
"Baik, Yudha-sama." Kata Shuhei.
Pembawa acara membuka gembok kotak suara yang terbuat dari akrilik bening itu. Ia lalu membacakan nama pemegang saham dengan siapa yang didukungnya.
"Uchiyama Kurenai, saham 0.2% memilih Kazehaya Alvin." Kata Pembawa Acara.
Seorang panitia lainpun membuat angka satu di belakang nama Kazehaya Alvin di papan putih.
"Kazehaya Yudha, saham 10% memilih Kazehaya Alvin." Kata Pembawa Acara.
Semua terdiam.
Bahkan sang pembawa acara rapatpun juga melongo dengan apa yang baru saja ia baca.
Kazehaya Yudha memilih Kazehaya Alvin untuk menjadi CEO Emperor Group selanjutnya?
Lelucon macam apa ini?
Yudha adalah lawan main Alvin untuk merebutkan kursi CEO Emperor Group. Dengan saham yang jauh lebih besar dari miliknya Alvin, kenapa Yudha malah justru memilih Alvin?
Jika Yudha memilih Alvin, secara otomatis Alvin akan menang telak meski rapat tidak dilanjutkan sekalipun.
Kesal.
Itu sangat mengesalkan!
Alvin sampai bangkit dari duduknya lalu menggebrak mejanya. Ia menoleh dan menatap tajam mata Yudha.
Ia kemudian berjalan dan mendekat ke Yudha yang sedang duduk santai di kursinya.
"Apa maksudnya ini? Apa-apaan, kau bosan hidup, hah?" Tanya Alvin menahan emosinya yang sudah sampai ubun-ubun.
"Aku hanya sedang memilihmu, kakakku." Jawab Yudha woles.
Alvin menarik kerah jas yang Yudha pakai. "Kau mencoba mempermalukanku?"
"Melody bilang padaku jika perutnya sakit, aku ini hanya mempercepat jalannya acara rapat pemegang saham saja." Kata Yudha.
"Kau.." Geram Alvin.
Yudha menyingkirkan tangan Alvin dengan kasar. Ia lalu berdiri dan mengajak sang ibu serta fraksi pendukungnya untuk ke luar dari ruangan rapat.
"Selamat ya, Kak. Selamat atas kemenangannya. Akhirnya impianmu sudah terwujud! Lindungi Emperor Group dengan segenap jiwa dan ragamu!" Kata Yudha. Ia bahkan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Alvin.
Namun Alvin menghempaskan tangan Yudha dengan jauh lebih kasar dari yang Yudha lakukan.
Yudha, sang ibu, dan fraksinya berjalan menuju pintu keluar ruang rapat yang super besar itu karena mampu menampung lebih dari seratus lima puluh orang.
Sebelumnya, mereka berhenti di depan Kurenai dan ayah tiri Alvin, Uchiyama Azumane.
"Anakku sudah melakukan tindakkan yang mulia, bukan? Ia bahkan tak masalah memberikan tahta yang seharusnya menjadi miliknya pada anak haram keluarga Kazehaya." Kata Mikan.
"..." Kurenai hanya bisa mematung mendengar pernyataan dari Mikan.
Ia tidak bisa berkata-kata dan membiarkan Mikan dan orang-orangnya pergi meninggalkan ruangan rapat itu.
Kini kebingungan sedang melanda sepeninggal Yudha, Mikan, dan para fraksi pendukungnya. Sang pembawa acara rapat lalu mengumumkan asal jika Kazehaya Alvin adalah CEO baru Emperor Group.
"Yudha ban9sat! Jadi intinya dia mau membuat opini seolah aku ini mendapatkan tahta karena kebaikan dari Yudha? Aku tidak akan memaafkanmu!" Batin Alvin sangat kesal.
__ADS_1