
Di usianya yang sudah tak lagi muda, Kazehaya Wijaya merupakan salah seorang pria tersukses di Jepang. Ia memiliki status terpandang, kekayaan melimpah, koneksi yang luas, dikelilingi banyak orang yang memujanya. Bahkan yang iri dan ingin menyingkirkannya juga sama banyaknya.
Kaya dan sempurna memang tak menjamin diimbangi keselamatan diri.
Kazehaya Wijaya menyukai percaturan dunia dimana ia suka bermain game dalam hidupnya. Inilah yang menjadikannya petaruh sejati. Dirinyalah sang penjudi dalam hidupnya. Menang atau kalah adalah dua kemungkinan yang bisa ia dapatkan. Tidak menyukai hasil akhir seri, rasanya seperti tidak menyelesaikan permainannya sampai tuntas.
Ada beberapa hal yang membuat Kazehaya Wijaya tidak puas. Salah satu hal tersebut adalah kedua anaknya. Anak pertamanya, Kazehaya Yoga yang kini sudah meninggal memiliki kepribadian dan sifat yang membuatnya sakit kepala. Anak keduaya, Kazehaya Orion yang berusia 5 tahun di bawah sang kakak, hanya tahu cara berfoya-foya dan menghamburkan uang tanpa bisa diajak bekerja keras.
Orion sejak dulu sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis yang ia bangun. Orion membenci Emperor Group.
Dua putranya selalu saja membuat masalah.
Contohnya saja Yoga, putranya yang kurang ajar ini lebih memilih meninggalkan istrinya yang tidak lain merupakan putri bungsu keluarganya Mikan. Tidak hanya itu, anaknya ini kemudian lebih memilih wanita tuna susila yang tidak memiliki apapun! Itu membuanya murka!
Hal ini membuat seluruh keluarganya Mikan membencinya dan menghentikan kerjasama di antara mereka.
Apakah anaknya ini masih memiliki otak?
.
.
.
Ruang rawat Kazehaya Wijaya...
Pagi hari yang cerah dimana langit sedang bersih ketika sang surya memamerkan senyuman terbaiknya. Hangat ketika menyentuh permukaan kulit. Silau cahaya pagi memasuki ruangan lewat cela bangunan. Nampak jelas ketika masuk lewat kaca jendela dan ventilasi kaca kamar rawat milik kakek Wijaya.
"Ohayou gozaimasu, Wijaya-san. Berhenti memasang wajah masam! Aku masih di sini setia menemanimu. Hari ini, besok, lusa, dan seterusnya aku akan selalu berada di sini untuk menemanimu. Rasa lelahku tak akan membuatku menyerah menjagamu." Istrinya Kazehaya Wijaya yang bernama Chiyo menyapa sang suami.
Ia baru saja membersihkan badan sang suami dengan air hangat. Ia melakukan hal ini sendirian tanpa dibantu oleh suster atau perawat lain. Ini seperti wujud dari pengabdiannya pada Kazehaya Wijaya. Ia selalu berusaha menjadi istri yang baik meski sekarang usianya tak lagi muda.
Ia sudah menjalani hidup yang sangat lama dengan suaminya. Banyak kisah yang sudah mereka lalui bersama. Semuanya tak mudah. Banyak rasa yang tercipta. Suka dan duka. Canda dan tawa. Semua seperti indahnya pelangi yang muncul usai hujan turun. Kenangan yang begitu banyak yang menguatkan dirinya untuk selalu setia lada kepala keluarga Kazehaya itu.
"Kau nampak tampan pagi ini, cobalah untuk membuka matamu! Aku ingin melihat kedua mata senjamu!" Senyum Nenek Chiyo.
Ia hanya bisa menghela pasrah karena suaminya itu kembali tidur. Padahal baru saja selesai mandi, tapi malah mengantuk. Alhasil ia membiarkan suaminya tetap tertidur. Hingga pada akhirnya, Alvin dan Kurenai datang berkunjunga.
"Wah, wah, wah, baru pukul setengah sembilan, tapi cucu dan ibunya sudah datang menjenguk. Kalian memang ibu dan anak yang sangat perhatian." Kata Nenek Chiyo.
Di telinga Kurenai, ini terdengar seperti sedang meremehkan. Atau kasarnya jika kedatangannya dengan Alvin itu sama sekali tidak diharapkan oleh nenek Chiyo. Membuat jengkel dan sakit hati saja.
"Selamat pagi, Nenek!" Sapa Alvin.
"Selamat pagi, cucuku." Kata Nenek Chiyo.
"..." Kurenai diam saja.
Nenek Chiyo tahu betul bagaimana kisah masa lalu dulu dimana wanita ini merusak semua tatanan yang sudah terjalin rapi di dalam kehidupan anak-anaknya. Semua kisah manis yang ia susun untuk anak-anaknya lenyap ketika Kurenai si wanita penghibur laki-lako hidung belang ini masuk ke dalam kehidupan keluarganya yang damai itu.
Mata tuanya melirik ke arah Kurenai yang terlihat angkuh dan sombong. Bagaimana bisa anaknya menyukai perempuan seperti itu? Apakah selera anaknya memang sangat rendahan? Kurenai itu wanita yang susah dicicipi banyak laki-laki, tapi anak sulungnya masih saja berpihak pada wanita menjijikkan ini.
Ia menatap Kurenai lekat-lekat. Wanita seusia Mikan ini sama sekali tak mengucapkan sepatah kata apapun kepadanya! Tidak hanya masa lalu yang membuatnya kesal, tapi peringai Kurenai juga membuat paginya memburuk.
"Kau menginginkan orang tua ini menyapamu duluan?" Tanya Nenek Chiyo. Suaranya pedas di telinga. Alvin maupun Kurenai jelas tahu apa maksudnya ini.
"Ah, selamat pagi, Chiyo-sama." Sapa Kurenai. Sekesal apa pun dirinya saat ini, ia memang masih sulit untuk mengimbangi Nenek Chiyo.
"Belajarlah tata krama, kasihan Azumane-kun jika sampai kau mendapatkan kritikkan ketika menemaninya temu klien." Kata Nenek Chiyo.
"Nenek peyot ini sangat suka sekali mencari-cari kesalahanku. Dari duku dia tak pernah berubah. Dia juga selalu saja membanding-bandingkanku dengan Mikan. Jika Alvin tidak menyayangi dia, aku sudah meminta Tuan Han untuk membunuhnya. Atau jika tidak, terbaring tak berdaya seperti Wijaya-sama sepertinya juga akan lebih menarik... Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi sampai semuanya menjadi milikku. Saat aku memiliki tahta nanti, maka aku akan bisa melakukan apa pun yang aku inginkan. Aku kan menendeng keluar wanita tua ini. Lihat saja nanti, aku pasti akan melakukannya! Aku pasti akan balas dendam dengan semua perlakuan yang sudah wanita tua ini lakuka kepadaku." Batin Kurenai.
__ADS_1
Kurenai tidak akan pernah cocok dengan neneknua Alvin. Penolakan secara masiv nampak nyata di kedua mata nenek Chiyo. Ini bukan kali pertama. Sakit hati itu pasti ada, tapi jika ia menunjukkan betapa sakit hatinya saat ini, maka ia akan nampak lemah di hadapan nenek Chiyo, dan ia tak mau ini terjadi. Bagaimana pun, dirinya itu lebih kuat dari siapapun. Dirinya sudah banyak mengalami pengalaman hidup yang berat sejak dulu. Ia bisa tahan hanya unyuk menghadapi nenek Chiyo yang menurutnya tak berbahaya seperti sang suami, Kazehaya Wijaya yang terkenal sangat kuat itu.
"Terima kasih atas sarannya, Chiyo-sama." Kurenai lebih memilih untuk tidak menambah masalah dengan nenek Chiyo. Ia dan Alvin datang ke sini untuk menanyakan sesuatu. Ini jauh lebih penting dari sekedar menanggapi ocehan nenek Chiyo.
Nenek Chiyo tersenyum. "Pagi-pagi sudah di sini, pasti bukan kebetulan semata, kan?"
"Ya, ada yang ingin aku tanyakan kepada nenek." Kata Alvin.
Mereka bertiga duduk di kursi tamu yang ada di ruang inap kakek Wijaya.
Ada 3 gelas teh hangat yang disediakan oleh nenek Chiyo. Kebetukan ia tiap pagi minum teh hangat, di meja ada teko berisi teh hangat dan emoat gelas kecilnya. Ini yang membuat adalah Mikan, menantu yang sangat perhatian pada mertuanya.
Mereka meminum teh hangat itu untu melegakan tenggorokan mereka.
"Nah, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, Vin!" Pinta Nenek Chiyo.
"Langsung saja, Nenek. Ini perihal saham 30% miaterius itu. Bisakah Nenek katakan padaku siapa pemiliknya?" Tanya Alvin.
Nenek Chiyo meletakkan gelas minumnya ke tasa meja. Ia menatap Alvin sekilas. "Kenapa kau bertanya soal itu? Bukankah saat ini kau sudah memiliki banyak sekali saham? Saham yang kau miliki itu hampir mendekati milik kakekmu. Lalu kau bertanya soal siapa pemilik saham 30%? Kau ingin membuat pemiliknya berpihak pasamu? Ataukan kau ingin memiliki sajam 30% itu?" Kata Nenek Chiyo.
"Jika bisa aku ingin memilikinya." Kata Alvin jujur.
"Hoo, cucuku lebih tamak dari yang aku kira."
"Nenek, tolong katakan padaku! Siapa pemiliknya? Semua dokumen para pemegang saham Emperor Group sama sekali tidak memiliki info apapun soal dia. Semisterius apakah dia? Kenapa sama sekali tidak ada yang tahu siapa dia? Sia pemegang saham tertinggi sejak dulu, namun eksitensinya diragukan mengingat dia sama sekali tidak pernah sekalipun hadir dalam rapat pemegang saham Emperor Group."
"Jangankan kau yang baru beberapa bulan memegang Emperor Group, nenek yang menemani Emperor Group dari bukan apa-apa sampai menjadi besar dan luar biasa saja tidak tahu siapa pemilik saham 30% itu. Dia terlalu misterius. Ada yang bilang dia sudah meninggal jadi sahamnya ditaguhkan karena tidak ada penerusnya."
"Nenek tidak bohong, kan?"
"Kenapa nenek harus berbohong pada cucunya sendiri?"
Alvin menatap sang nenek. "Maafkan aku, Nek. Aku hanya terlalu penasaran saja."
"Itu hasil pemikiranku, Nek. Ya sudah, aku dan ibu mau kembali ke kantor. Nenek jaga diri, jangan sampai kelelahan! Jangan sampai sakit!"
"Ya."
Alvin dan Kurenai berpamitan. Kini tinggallah nenek Chiyo sendiri. Ia kembali mendekati sang suami yang sedang tertidur.
"Seharusnya kau tidak membiarkan Yoga memilih wanita murahan itu!" Gumam Nenek Chiyo.
Rasa kesal ketika melihat Kurenai sama sekali tak bisa ia sembunyikan. Jika ia melihat Kurenai, ingatan soal Yoga yang sudah meninggal menusuk hatinya.
"Kenapa kau tak melakukannya dulu? Kenapa kau membiarkan anak sulung kita meninggal begitu saja?"
Ia akui dirinya terlalu memanjakan kedua anaknya sejak kecil sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang tidak berguna. Tidak berguna di sini dalam takaran kakek Wijaya. Beda dengan nenek Chiyo, semengecewakan apa pun anak-anaknya, ia tak akan menganggap anak-anaknya tidak berguna.
Yoga sudah pergi 15 tahun yang lalu. Tidak dapat diputar balik untuk menebus segala kesalahan yang dulu pernah terjadi. Menangis darah pun, Yoga juga tak akan kembali hidup lagi.
Anaknya kini tinggal Orion. Tapi Orion main gila dengan membahayakan diri menjadi seorang yakuza. Memang ya buah kalau jatuh tidak jauh dari pohonynya. Orion meniru ayahnya menjadi seorang yakuza.
"Di usianya yang ke 40 tahun, Orion sama sekali belum menikah. Dia belum juga memiliki keturunan. Sebagai orang tua, aku sangat menghawatirkannya. Aku takut dia tidak bisa melakukan apapun ketika tua nanti. Tidak ada yang merawatnya karena tidak memiliki keturunan. Namun, kadang aku juga bersyukur akan hal itu. Setidaknya Orion tidak akan dihantui oleh anak-anaknya yang berebut warisan dan kekuasaan…"
Nenek Chiyo tak ingin membanding-bandingkan anak-anaknya, tapi inilah yang terjadi.
"Yoga dan Orion, mereka berduan sangat berbeda. Unggul dalam bidangnya masing-masing."
"Berhenti membanding-bandingkan aku dengannya." Ujar Orion dengan raut wajah tidak suka.
Ia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa di sadari oleh Nenek Chiyo.
__ADS_1
"O-Orion? Sejak kapan kau berdiri di situ?" Tanya Nenek Chiyo yang kaget.
Sejak ibu bilang aku laki-laki 40 tahun jones dan tak punya keturunan." Jawab Orion santai.
"Maafkan ibu!" Nenek Chiyo merasa tak enak pada Orion. Sebenarnya itu adalah topik yang sensitif untuk dibahas.
"Ah, sudahlah, Bu! Aku aku memang selalu membuat ibu khawatir. Tidak seperti Kak Yoga yang membawa prestasi baik untuk keluarga. Sukses di usia muda dan memiliki dua anak, dua wanita pula." Senyum Orion.
"Kau ini.. Kemarilah! Ibu ingin mendapatkan pelukkan hangat darimu!"
Orion mendekat dan memeluk ibunya. Memeluk hangat. Meski susah dewasa, tapi hubungan ibu dan anak ini sangatlah dekat. Maklum, anak bontot.
Meski Orion berusaha tersenyum demi sang ibu, jauh di dalam hatinya ia sering terluka akan perkataan dari sang ibu dan juga ayahnya. Ia tidak suka jika mendengar ada orang yang membanding-bandingkannya dengan sang kak, Kazehaya Yoga. Dibanding-bandingkan itu sangat nenyakitkan.
"Ibu dengar, Fraksi pendukung Alvin mengadakan sebuah pesta? Pesta untuk mengokohkan posisi Alvin?" Tanya Nenek Chiyo
Tamiko mencemooh. "Aku juga tidak berharap banyak. Mereka hanyalah sekumpulan orang-orang angkuh yang ingin memanfaatkan Alvin."
Orion tak paham ranah bisnis Emperor Group, tapi ia tahu jika Emperor Group terbagi menjadi banyak kubu. Dan dari semua kubu itu, mereka ingin menjatuhkan satu dengan yang lainnya.
"Kau tak ingin membantu keponakanmu?" Tanya Nenek Chiyo.
"Keponakan yang mana? Aku memiliki dua keponakan." Tanya Orion.
Nenek Chiyo tersenyum. "Jadi kau rupanya sudah mengakui Alvin sebagai keponakanmu juga?"
"Darah lebih pekat dari air."
"Kau benar. Itu memang fakta yang tak bisa dibantahkan. Nenek menyerah soal ini. lagi pula, Alvin tak bisa memilih siapa orang tuanya."
"Aku akan selalu di pihak Yudha. Aku tak bisa meninggalkan bocah itu. Dia selalu dalam bahaya." Ini adalah keputusan Orion.
"Begitu ya..?"
"Hn."
"Sama sekali tak mau memihak pada Alvin?"
"Tidak."
"Meski sekali-kali untuk membantunya?"
"Aku tak akan melakukannya."
"Hah, ibu bisa apa kalau sudah begini."
"Ibu sebaiknya tidak ikut main! Ibu dilarang memihak pada Alvin! Ibu sendiri yang membenci Kurenai, kenapa malah membantu anaknya? Ingat Bu, kak Yoga meninggal itu karena ulah wanita yang menjadi ibunya Alvin!"
"Ibu tahu, tapi ibu tak bisa apa-apa karena Alvi juga merupakan darah keturuan Yoga. Alvin cucu ibu."
"Ibu bahkan sampai menyerahkan saham milik ibu untuk Alvin. Apa Alvin berencana ingin menguasai Emperor Group seutuhnya?"
.
.
.
Kamar Melody...
Melody memejamkan matanya. Ia lalu membukanya secara perlahan.
__ADS_1
"Yudha menyuruh untuk berhati-hati pada nenek. Catatat-catatan dari olah penyelidikan, Yudha mencurigai nenek yang menjadi pendukung Alvin... Apa yang nenek rencanakan? Lalu, kenapa paman Orion ingin menemuiku pagi-pagi ini?"