
Yudha berulang kali menatap layar ponselnya. berulang kali menekan menu panggil pada kontak Melody.
Berkali-kali!
Sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya. 10, 20, aah, mungkin sampai 80 kali!
Sangat fantastis bukan? Bagi seorang Yudha yang miskin nomor kontak di ponselnya itu hal yang sangat luar biasa! Bagaimana dengan pesan singkat? Ya elah, Yudha mengirimnya berkali-kali meski itu Cuma kata 'dimana kau?'
'Dimana kau?'
Siapa yang dimana?
Melody!
Benar, jawaban dari pertanyaan siapa yang dimana itu adalah Kazehaya Melody! Istri sah Kazehaya Yudha yang Yudha nikahi setengah tahun yang lalu!
Mengingat arti kata 'dimana' adalah menanyakan sebuah keberadaan, itu artinya Yudha memang ingin tahu dimana Melody saat ini.
Gampangnya.
Melody menghilang!
Kenapa bisa? Apa yang terjadi? Entahlah, itu pertanyaan yang ada di otak jenius Yudha. Jika ia tahu, ia tidak mungkin sepusing, sepanik, dan sekalut ini karena mencari keberadaan Melody.
Sungguh, ia tak tahu apa yang sedang terjadi pada Melody yang tiba-tiba saja menghilang. Pergi tanpa kabar, tanpa mengangkat telepon, tanpa membalas pesan.
Pergi begitu saja tanpa ada yang mengetahuinya.
Bagaimana ia tidak sadar jika Melody pergi? Yakinlah, setajam mata milik Yudhapun nyatanya ia hanyalah manusia biasa yang tak bisa menjangkau luas pandangannya hanya untuk Melody. Melody itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang perlu diawasi.
Namun, kini Yudha harus kembali mengkaji ulang apakah ekpektasinya soal kedewasaan Melody itu benar atau tidak.
Melody sudah dewasa? Yang benar saja!
Jika Melody memikirkan suaminya, seharusnya meminta ijin terlebih dahulu, kan? Apapun itu, kemana itu, Yudha harus tahu!
Ia kan suami sah Melody. Ia bertanggung jawab penuh akan Melody.
'Yudha, kau tahu, kau sama kekanak-kanakannya dengan Melody.'
Ya, kata Nao dan Sai yang mencibir tingkah uring-uringan Yudha yang tak kunjung juga menemukan Melody.
Sudah tiga jam lebih Melody belum kembali, jam tangannya menunjukkan pukul sembilan malam lewat tujuh menit, dua detik, eh tiga.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Melody?—Lagi, ia hanya bisa menggumamkan pertanyaan itu di sepanjang trotoar jalan yang cukup jauh dari Hotel tempat menginap.
.
.
.
Mencari kesana kemari dengan bantuan teman-temannya, nyatanya tetap saja tidak ada yang mengetahui keberadaan Melody.
Shuhei dan Nao menyisir utara dan timur hotel, Sai dan Alvin sebelah barat Hotel, sementara Yudha mengikuti arah selatan yang berbatasan tak jauh dari pantai.
__ADS_1
Neil?
Baru ingat dengan pemilik nama ini. Sahabat dekat Yudha yang belum juga menunjukkan batang hidungnya padahal sudah janji akan datang untuk liburan bersama di Okinawa.
Rupanya, Neil baru OTW malam ini.
"Jika ketemu nanti, aku akan membuat perhitungan dengannya! Bisa-bisanya dia melakukan hal itu? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Malam semakin larut.. Sial, pandanganku terbatas." Gerutu Yudha karena malam mulai semakin gelap.
.
.
.
From: Shuhei
'Yudha-sama, apa Anda melakukan sesuatu yang membuat Melody-sama marah? Ayumi-san memberitahuku jika seorang wanita tiba-tiba menghilang pasti ada sesuatu hal yang membuatnya marah, bisa saja datang dari laki-laki terdekatnya. Ehm, maksud saya.. bukan berarti saya menyalahkan Anda. Gomenasai.'
Yudha menyimpan kembali ponselnya setelah membaca pesan dari Shuhei.
Ia membuat Melody marah? Itu inti pesan dari shuhei, pengawal pribadi dan sekaligus sahabatnya.
Marah arena apa?
Ayolah diingat Yudha!
Pagi ini, seperti biasa, bercengkrama ringan, mandi, dan mereka makan bersama dengan teman-teman lainnya.
Berhubung misi bisnis sudah usai, jadi dua hari sisa ini akan dijadikan untuk full liburan.
Saat makan pagi juga tidak ada masalah. Malah Melody terlihat senang karena makan lobster super besar untuk pertama kalinya. Ya memang bukan berarti belum pernah makan lobster sebelumnya, tapi pagi itu lobsternya memang sangat besar, seperti bukan ukuran normal.
Siang hari saat bertemu di makan siang juga nyatanya Melody baik-baik saja, selalu ceria dan cerewet seperti biasanya.
Jika itu karena kejadian semalam kemarin yang membuat ia hampir mencium Melody, apa Melody marah karena itu? Apa Melody tahu jika ia hampir melihat milik.. ano.. itu.
TIDAAK!
Melody tertidur pulas saat itu! Mana mungkin karena itu, lagian setelah itu Melody bersikap biasa saja padanya. Biasa, seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang canggung.
Lalu apa?
Ayo Yudha, berfikirlah lebih dalam lagi!
Insting seorang Ayumi itu luar biasa, apalagi Shuhei yang sangat dipercayainya mendukung teori Ayumi. Pasti terjadi sesuatu dengan Melody.
Bagaimana dengan kegiatan setelah makan siang?
Yudha ingat jika ia dan teman laki-laki, Nao, Shuhei, Sai, dan Alvin berkumpul bersama. Itu artinya, ia mengabaikan Melody? Yudha geleng-geleng, tidak, Melody diseret oleh Mia dan Ayumi. Mereka bilang mau mencari pakaian di boutique sekitar Hotel.
"Melody, kau ada dimana?"
Yudha terus mencari.
Tunggu, Yudha mengingat sesuatu.
__ADS_1
Jika jalan-jalan di sekitar hotel, harusnya mereka bertiga tidak pergi terlalu jauh. Tapi nyatanya, Melody tidak pulang bersama Mia dan Ayumi. Ada Yura juga.
Yura?
Bukankah mereka tidak berangkat bersama? Mereka bertemu di jalan? Apa Yura tipe yang suka berjalan di tempat seperti itu?
Maksudnya, tempat belanja bukan langganannya?
Yura.
Yura.
Kemana Yura?
Apa Yura tahu sesuatu?
Yudha bahkan belum menanyainya.
.
.
.
Yudha's calling.
Panggilan dari Yudha namapak di layar ponsel. Lagu Hello milik Adele menjadi backsoundnya.
Cukup terganggu dengan bunyi nada deeingnya, Yura menatap layar ponselnya itu. Nama Yudha terpampang jelas di layar. Yurapun tersenyum penuh arti.
"Baru diabaikan sebentar sudah seperti ini. Ini sangat dirimu sekali, Yudh." Gumam Yura.
Yura sedikit mengabaikan dan pada panggilan ke tiga, ia baru mengangkatnya.
Yudha sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari Yura. Yudha paham bagaimana cara Yura mengangkat telepon darinya. Dalam panggilan ke 3, Yura baru akan menjawabnya.
Yura tersenyum. "Hal.."
"Yura, kau tahu kemana Melody pergi? Bukankah kau tadi bersamanya? Kalian pergi bersama kan? Bersama Ayumi dan Mia juga?" Tanya Yudha di telepon tanpa jeda.
Yura langsung berubah ekspresi.
Di saat seperti inipun harapannya tak terwujud. Senang rasanya Yudha menghubunginya setelah sekian lama, tapi nyatanya bukan tentangnya, tapi tentang orang lain.
"Yura! Jawab!"
"Ya, tadi aku bertemu mereka saat belanja, tapi Melody menyuruh kami untuk pulang duluan. Dia mengatakan itu kepada kami! Cukup membantu jawabanku?" Rasa kesal itu selalu muncul jika menyangkut wanita rambut pink itu.
"Ya. Bye." Yudha menutup teleponnya.
Yura menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia lalu membantingnya cukup keras di ranjangnya. Kenapa selalu seperti ini? Bukankah mereka awalnya sangat dekat? Bahkan ucapan terima kasih saja lupa Yudha ucapkan.
We were always be together before.
"Kau begitu mengkhawatirkannya ya, Yudha-kun? sampai-sampai orang yang dulu selalu kau ikuti terabaikan?"
__ADS_1
Yura mengusap air matanya yang mengalir. Ia lalu tersenyum.
"Aku akan menunjukkan bagaimana seharusnya.."