MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 2


__ADS_3

"Alvin-sama, kita sudah sampai.." Kata Daisuke, sekretaris Alvin.


Daisuke Ishikawa adalah sekretaris Alvin yang mulai bekerja sekitar sebulan yang lalu. Seorang lulusan terbaik di salah satu universitas terbaik di Jepang, Keio University.


Daisuke tak terlalu banyak bicara. Ekspresinyapun sulit dibaca. Alvin pikir, Daisuke adalah orang terdatar tanpa emosi berati yang pernah ia temui.


Agak sulit juga untuk berkomunikasi dengan Daisuke. Alvin butuh beberapa hari untuk terbiasa. Bagaimana dengan saat ini? Sudah terbiasa? Tidak juga. Namun jauh lebih baik dari seminggu yang lalu.


"Ini tempatnya?" Tanya Alvin. Ia melirik ke arah luar lewat jendela kaca mobilnya.


"Ya, ini adalah tempat pertemuannya, Alvin-sama." Jawab Daisuke.


Alvin merapikan kemeja bajunya. Ia juga menata dasi garis miring merah-putihnya. Kemudian ia ke luar dari mobil miliknya itu setelah Daisuke membukakan pintu mobil untuknya.


Tak lupa Alvin juga memakai jas pelengkap yang sedari tadi ia tenteng di tangannya. Hari ini adalah pertemuan yang amat sangat penting, ia harus berpenampilan formal dan sopan layaknya seorang keturunan Kazehaya.


Usai memakai jasnya dan memastikan penampilannya baik, Alvin kembali menatap gedung yang akan ia gunakan untuk menghadiri pertemuan. Sebuah gedung yang cukup tinggi menjulang tepat di hadapannya.


Daisuke memandu Alvin masuk ke dalam gedung. Sebuah gedung yang didesain cukup elegan ketika masuk ke dalamnya. Itu yang bisa Alvin simpulkan pertama kali. Ada kekaguman atas kemampuan arsitek dari desain gedung itu. Itu sungguh kerja yang bagus. Jika memiliki kesempatan bertemu, ia ingin meminta untuk dibuatkan sebuah desain rumah minimslis dua lantai untuk Melody.


Di depan lift, Daisuke menekan tombol up. Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift pun terbuka. Ia mempersilahkan Alvin masuk ke dalam lift dan ia mengikuti setelahnya. Kemudian, ia menekan tombol close yang ada di dalam lift, lalu menekan di angka tujuh belas. Lift pun bergerak menuju lantai tujuh belas.


Sesampainya di lantai tujuh belas, Alvin dan Daisuke langsung berjalan menuju ruangan yang akan digunakan untuk pertemuan penting itu.


"Silahkan masuk, Alvin-sama!" Kata Daisuke. Ia sudah membukakan pintu untuk Alvin.


"Terima kasih, Daisuke-san." Kata Alvin.


Daisuke membungkuk dan kembali menutup pintu setelah Alvin masuk ke dalam ruang pertemuan.


"Kau tidak membiarkannya masuk, Alvin-sama?" Tanya seorang laki-laki paruh baya. Usia mendekati empat puluh lima tahun, Kang Il Woo atau lebih akrab disapa Tuan Kang.


"Dia?" Gumam Alvin.


"Sekretaris barumu." Kata laki-laki satunya yang seumuran dengan Tuan Kang, Park Ji Joo, atau lebih dikenal sebagai Tuan Park.


"Kalian tidak takut dengannya? Dia adalah sekretaris pemberian dari Tuan Besar Kazehaya yang agung itu." Kata Alvin.


"Meski dia adalah orang tua bangka itu, tapi itu tidak berarti apa-apa untuk sekarang ini." Kata Tuan Kang.


"Orang yang sekarat tidak akan bisa berbuat apa-apa." Lanjut Tuan Park. Dan mereka semua tertawa sumringah.


Alvin hanya menyunggingkan senyuman tipisnya. "Benar, jangankan melakukan sesuatu, hanya untuk sekedar membuka mata saja sudah tidak bisa." Kata Alvin. Dan mereka kembali tertawa.


Pada akhirnya orang-orang yang ingin menghancurkan dominasi kakek Wijaya bisa sampai pada tahap yang sangat ditunggu-tunggu. Kecelakaan yang menimpa kakek Wijaya membuat kakek Wijaya koma untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Menilik kondisi luka di kepala kakek Wijaya, mereka yakin jika kakek Wijaya akan membutuhkan waktu yang lama untuk sadar.


"Alvin-sama, ini adalah data-data para pemegang saham yang ada di dalam fraksi kami. Jika Anda sungguh bersedia menjadi pemersatu dari kami, maka Anda akan mudah mendapatkan segalanya." Kata Tuan Kang. Ia memberikan sebuah map berisi file daftar pemegang saham.


Alvin menerima file itu dan membacanya sekilas. Ia tersenyum setelahnya.


"Anda akan mudah mengalahkan Yudha-sama. Tanpa sokongan dari Tuan Besar Wijaya, Yudha-sama tidak memiliki pengaruh apa-apa lagi." Timpal Tuan Park.


"Bukankah Yudha masih memiliki banyak kepercayaan dari banyak pemegang saham? Bukankah mereka cukup solid dan tetap setia pada kakekku?" Tanya Alvin. Ia ingin tahu lebih banyak lagi mengenai orang-orang di belakang kakek Wijaya yang terkenal sangat loyal itu.


"Alvin-sama, Anda tidak perlu khawatir mengenai hal ini." Kata Tuan Park. "Semua sudah diatur sedemikian rupa sejak lama. Uang jaman sekarang bisa digunakan untuk membeli kesetiaan." Lanjutnya.


"Rupanya kakekku berdiri dengan jutaan panah yang menghujam punggungnya." Alvin tak asing dengan fakta ini. Nyatanya dunia bisnis itu memang sangat kejam.


"Alvin-sama, Anda sudah setengah jalan. Anda sudah tidak bisa mundur lagi. Semua anggota fraksi kita mempercayakan masa depannya pada Anda. Kami akan membuat Anda menjadi raja di Emperor Group." Kata Tuan Kang.


"Jika semua berhasil dan kami mendapatkan kembali perusahaan yang sudah diambil alih oleh Emperor Group, maka urusan kami sudah selesai." Lanjut Tuan Park.

__ADS_1


"Hanya itu yang kalian inginkan?" Tanya Alvin.


"Ya hanya itu saja, Alvin-sama. Kami tidaklah serakus itu." Jawab Tuan Kang.


Alvin tersenyum. "Ya, sebaiknya memang kalian tak perlu serakus itu." Kata Alvin dengan nada mengancam.


"Anda bisa mempercayai kami, Alvin-sama." Kata Tuan Park.


"Baiklah. Aku akan tetap menjadi calon CEO dari fraksi kalian. Kalian lakukanlah sesuka hati, tapi jangan pernah menyentuh Melody! Berani kaluan menyentuhnya meski hanya sehelai rambutnya, kalian akan merasakan neraka dunia dariku. Kalian tahu kan ada aliran dana tak wajar di mega proyek Miyagi? Aku memiliki semua buktinya." Ancam Alvin.


Alvin tak ingin bernasib yang sama dengan sang kakek. Ia harus membuat pertahanan diri untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Orang-orang dalam dunia bisnis memang tak bisa ia percayai begitu saja. Semua bermain licik. Jika ia ingin merasa aman, maka ia juga harus bisa mengikuti alurnya. Ia harus bermain licik juga.


Tuan Kang dan Tuan Park berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Mereka tak menyangka jika mereka akan dipermainkan oleh anak ingusan seperti Alvin. Anak muda yang belum lama terjun ke dalam dunia bisnis. Kini mereka semakin percaya dengan darah Kazehaya yang melegenda itu, Alvin memang mewarisinya.


"Tentu saja kami tidak akan melakukan apapun pada Nona Melody. Kami tidak tertarik menyakiti wanita lemah yang sedang mengandung." Kata Tuan Kang.


"Tuan Kang benar, tanpa menyentuh Nona Melody pun, posisi Anda saat ini sudah di atas angin. Tinggal menunggu perusahaan kolaps dan rapat mendadak pergantian CEO dimulai. Anda akan menjadi raja setelahnya." Kata Tuan Park.


Tuan Kang dan Tuan Park yakin akan hal ini. Segala kerja keras Alvin untuk Emperor Group membuat Alvin memiliki nama yang baik di kalangan petinggi Emperor Group. Sementara Yudha justru mencederai nama baiknya sendiri.


Ya, memang semua sudah direncanakan sejak awalnya. Mereka harus mengalahkan dominasi Yudha yang sangat kuat itu. Menghancurkan nama baik Yudha adalah cara lebih cepat daripada menghilangkan nyawa Yudha.


Nama baik Yudha sudah tercemar. Mulai dari isu percobaan pembunuhan kepada Amamiya Yura, isu perselingkuhannya, dan Yudha yang mulai kurang fokus bekerja di kantor karena sibuk mengurusi rumah tangganya.


Meski saat ini Yudha sedang berusaha bangkit, tapi Alvin sudah mengambil alih posisinya. Posisi kepercayaan orang-orang kantor mulai tertuju pada Alvin. Memang hanya tinggal menunggu waktu maka semua akan sesuai rencana.


Mereka menyudahi pertemuan penting itu. Alvin pamit pulang. Setelah memastikan Alvin meninggalkan ruangan itu, Tuan Kang dan Tuan Park menikmati secangkir kopi yang mulai mendingin.


"Anak yang naif." Kata Tuan Park.


"Dia pikir, dia bisa mengendalikan kita? Dia hanya harus bergerak sesuai dengan keinginan kita. Dasar orang-orang bodoh!" Kata Tuan Kang.


"Boneka akan tetap menjadi boneka." Lanjut Tuan Park.


"Bagaimanapun, orang itu jauh lebih menakutkan."


"Ya, orang itu tak hanya menakutkan, tapi juga mengerikan. Orang yang bisa tersenyum setelah menghilangkan nyawa orang lain."


.


.


.


Rumah sakit Kazehaya International..


Usai makan di kantin, Melody meminta Shuhei untuk mengantarkan Mia pulang ke rumahnya. Sebenarnya Mia enggan pulang, ia masih ingin menemani Melody, tapi Melody tidak ingin Mia kelelahan karena dirinya. Setelah meyakinkan Mia, akhirnya Mia menyentujuinya dengan catatan besok ia akan datang menjenguk.


Bukankah Mia adalah sahabat yang baik?


Melody dan Mikan kembali ke kamar inap kakek Wijaya. Melody menemani sang nenek makan dengan makanan yang ia bawa. Onigiri isi tuna. Makanan sederhana yang mudah cara menikmatinya. Sementara Yudha dan sang ibu duduk menunggu kakek Wijaya.


Usai sang nenek makan, Yudha mengantarkan ibu dan neneknya ke kamar khusus yang biasa Melody gunakan untuk menginap saat di rumah sakit. Yudha meminta dua bidadarinya itu untuk beristirahat sementara ia dan Melody gantian menunggu kakek Wijaya di kamar inap.


Melody menatap wajah kakek Wijaya. Ada perban di kepala. Ada banyak alat medis yang kakek Wijaya gunakan. Tentu saja Melody tidak tahu apa namanya. Yang ia tahu, alat itu pasti sangat penting agar nyawa kakek Wijaya tetap aman.


Melody kembali ke masa dimana awal-awal ia bertemu dengan kakek Wijaya. Ia menemukan kondisi kakek Wijaya yang sekarat dengan luka tusuk di perut. Dengan modal hati nuraninya sebagai manusia, iapun menolong kakek Wijaya dengan darahnya.


Pertemuan yang tak pernah ia sangka dalam hidupnya itu membawanya pada masa ini. Ia memejamkan kedua matanya. Kenapa kakek Wijaya harus mengalami hal seperti ini lagi? Kenapa kakek Wijaya harus sekarat lagi? Kenapa luka kakek Wijaya jauh lebih parah dari luka penusukkan dulu?


Koma itu mendekati kematian.

__ADS_1


Hidup tapi tidak hidup. Seperti mati tapi sebenarnya tidak mati.


"Kakek, sebaiknya kakek baik-baik saja. Kakek harus bangun! Yudha, nenek, dan ibu saat ini sedang bersedih. Bangunlah, Kek! Sadarlah, buka mata kakek! Kakek, jika kakek butuh darahku, aku pasti akan dengan ikhlas memberikannya." Kata Melody.


"Yang akan memberikan darah untuk kakek, biarkan kali ini aku yang melakukannya. Tak hanya kau yang memiliki golongan darah yang sama dengannya, tapi aku juga." Kata Yudha yang datang dari arah belakang Melody.


"Yudha, kau datang tiba-tiba dan mengagetkanku!" Protes Melody. Yudha selalu saja membuat jantungnya kaget.


"Maaf.. Kau kaget rupanya."


Melody menggembungkan kedua pipinya. "Nah Yudh, tadi kau sok keren nyuruh orang untuk makan, sekarang giliranmu aku suruh untuk makan!"


"Nanti saja, Mel. Aku belum lapar."


"Kalau kau menundanya, sampai besok kau pasti tidak akan makan, kan?"


"..."


Melody bangkit dari duduknya. Ia lalu menghampiri Yudha. Ia memeluk Yudha sekilas. Tubuh Yudha menghangat.


"Yudh, jika kau tak makan, kau akan sakit. Jika kau sakit, aku dan semua bagaimana? Aku hanya bisa mengandalkanmu. Aku sangat bergantung padamu." Melody menatap Yudha. Ia lalu memegang kedua pipi Yudha. "Kau harus makan! Aku akan menemanimu." Lanjutnya


Yudha mengangguk. Ia memegang kedua tangan Melody yang ada di kedua pipinya. Ia merasakan tangan Melody yang menghangat. Melody pasti juga kelelahan sama seperti dirinya.


"Baiklah, aku akan makan. Tapi suapi ya?" Kata Yudha.


"Kau ini, seperti anak kecil saja!" Kata Melody terkekeh pelan. "Jika ini bisa membuatmu lebih baik, maka aku akan melakukan itu. Aku juga akan melakukan apapun agar kau bisa kuat, Yudh. Aku akan menjadi pendukungmu."


"Kau pandai berkata manis juga ya rupanya."


"Aku serius, Yudh! Tidak bercanda!"


Kini Yudha yang gantian terkekeh pelan. Ia mencubit hidung mancung Melody. "Aku tahu, arigato ne, Melody."


"Sama-sama."


Mereka berdua duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Seperti ruang tamu. Melody membuka bungkusan makanan yang tadi ia beli di kantin. Yudha meneguk air mineralnya.


"Aa, Yudh! Buka mulutmu!" Kata Melody yang sudah siap dengan sesendok nasi dengan lauknya. Telor ceplok dan karage atau ayam goreng.


Melody niat tulus menyuapinya. Yudha bersyukur akan hal itu. Ini adalah yang pertama. Ia tidak akan menyia-nyiakan moment-moment seperti ini dengan Melody.


Yudhapun membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari Melody. Rasa tentu saja hambar mengingat perasaannya yang sedang kalut, tapi Melody tetap berada di sampingnya sambil terus tersenyum, perasaannya menjadi lebih baik. Ia bersyukur akan hal itu.


Ia bersyukur memiliki Melody. Ia bersyukur menikahi Melody.


Dalam beberapa kali kunyahan, sesuap nasi dari Melody akhirnya bisa tertelan juga. Yudha kembali menatap Melody. Ada yang bergejolak dari dalam dadanya. Tak terasa ia meneteskan air mata.


Menangis?


Seorang Kazehaya Yudha menangis?


Melody refleks langsung memeluk Yudha. Yudha menenggelamkan wajah tampannya di lehernya.


"Kukira aku akan benar-benar kehilangan kakek. Kukira kakek akan meninggal. Kukira semua mimpi buruk itu akan terjadi. Namun syukurlah, meski koma, tapi kakek masih hidup. Kakek masih bernyawa." Kata Yudha.


Rapuh.


Kesimpulan yang bisa Melody ambil saat ini. Suaminya sangat rapuh, seperti bunga dandelion yang mengering siap tertiup angin.


Sebagai istri ia hanya bisa terdiam dan memberikan dirinya untuk Yudha bersandar. Sambil sesekali ia mengusap punggung Yudha.

__ADS_1


"Aku pasti akan melindungimu, Yudh! Aku tak tahu bagaimana caranya, tapi aku pasti akan bisa melakukannya. Aku tak akan tinggal diam. Aku akan bergerak. Meski aku selalu meminta kau melindungiku, tapi aku tak ingin menjadi bebanmu." Batin Melody.


__ADS_2