
Time skip, seminggu kemudian. Akhir bulan Maret, tanggal 28 Maret tepatnya, hari dimana ulang tahun pernikahan yang pertama Melody dengan Yudhapun tiba.
Sesuai dengan rencana sang paman, Orion, pesta ulang tahun pernikahan itupun dilaksanakan di hotel Imperium milik Emperor Group. Banyak tamu undangan yang hadir di dalam acara tersebut. Mulai dari para pemegang saham, kolega, sahabat, kerabat, dan keluarga besar Kazehaya.
Musik klasik Eropa mendominasi ruangan yang sangan luas itu. Gaun-gaun yang indah, jas yang mahal, serta makanan dan minuman mewah ada di sana. Acara dansa bersama, menyanyi, dan bermain piano atau biola juga ada.
Dikatakan jika pesta ulang tahun pernikahan Melody dan Yudha adalah ulang tahun pernikahan yang sangat meriah dan elegan. Dengan kekuatan uang dan kekuasaan, pesta seperti ini akan sangat mudah diciptakan. Orion tak mengapa menghabiskan hampir tiga milyar hanya untuk mempersiapkan ini semua. Sekali lagi, ini demi keponakannya.
"Duduklah, kau pasti lelah!" Kata Yudha.
Melody duduk di kursi yang memang sudah disediakan untuknya. Mengingat beban kandungannya yang sudah semakin berat, ia memang menjadi mudah lelah.
Ayane memberikan minuman berupa jus buah kepada Melody.
"Nenek dan ibu sudah kembali lagi ke rumah sakit ya?" Tanya Melody.
"Iya, Shuhei baru saja mengantarnya. Maaf tidak sempat pamit, kau tadi sedang ke toilet. Ibumu juga titip salam." Jawab Yudha.
"Hmm, begitu ya?"
"Ada apa? Kau bosan?"
Melody menggeleng. "Aku hanya tak nyaman dikerumunan orang-orang seperti itu, Yudh. Terasa sesak. Ego untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat sangat terasa tekanannnya. Hei Yudh, kau baik-baik saja?"
"Sejujurnya aku jenuh dan lelah, Mel.."
"Benar, kan?" Melody meraih tangan Yudha. "Kau sudah bekerja sangat keras, Yudh. Aku banggap padamu. Rahangmu pasti capek kan karena sedari tadi harus pura-pura senyum?"
"Hn, sangat capek. Pegal dan kaku juga. Apa senyuman palsuku begitu ketara?" Tanya Yudha. Ia memamerkan senyumannya pada Melody.
"Ketampananmu lebih menarik dari senyumanmu, Yudh. Kulihat kau sangat menikmati bercengkrama dengan putri-putri para kolega Emperor Group ya? Ada yang bening-bening di depan mata. Banyak lagi. Seru ya? Asyik ya? Wah, sampai lupa waktu."
"Kalau kau cemburu, aku semakin cinta."
"Jiaah, hei aku tahu kau hanya akan mencintaiku." Kata Melody. "Apa mereka biasa saja menawarkan putrinya untuk menjadi wanita simpananmu?" Lanjutnya.
"Demi uang dan tahta, apa yang tidak mungkin, Mel? Mengorbankan putrinya sendiri itu sangat menjijikkan." Kata Yudha.
"Sampai matipun, aku tak akan pernah memaafkanmu kalau kau berani mendua!" Ancam Melody.
"Siap, Calon Mama! Jangan khawatir! Aku sudah sangat sulit memperjuangan cintaku padamu. Itu sangat berharga."
"Calon Papa, kau manis sekali sih?"
"Aku tahu aku ini manis, Calon Mama!"
"Idih, narsis."
"Memang aku tidak manis, Mel?"
"Manis kok, sangat malahan."
"Tampan tidak?"
"Iya, tampan sekali."
"Arigato, aku mencintaimu."
"Aku juga, Yudha-kun."
Yudha mencium kening Melody.
__ADS_1
"Tuan Muda, Melody-sama, pipi saya tiba-tiba menjadi panas." Kata Ayane. Ia memegangi kedua pipinya.
Yudha dan Melody langsung menoleh ke arah Ayane yang berdiri di sebelah Melody. Jujur saja, mereka berdua lupa diri jika di situ ada Ayane.
Alhasil mereka berdua hanya tertawa aneh karena malu.
"Di depan umum kalian tak malu ya menunjukkan kemesraan kalian?" Kata Nao yang datang sambil menggandeng Ayumi.
Ayumi membawa paperbag berisi kado di tangan kanannya. "Mereka hanya pasangan yang sedang kasmaran, Nao-kun."
Neil menarik tangan kiri Ayumi yang digandeng Nao. "Dan kau tak usah ikutan Yudha untuk sok menunjukkan kemesraanmu dengan adikku!"
"Hei kakak ipar, kau terlalu berlebihan! Aku dan Ayumi itu pasangan lope-lope!" Kata Nao.
"Sejak kapan aku bersedia menjadi kakak iparmu, heh?" Kesal Neil.
"Hei Bang, lambat laun kau akan mengakuinya diacara pertunanganku dengan Ayumi nanti!" Kata Nao.
"Kalian bisa diam tidak, sih? Berisik sekali sih?" Kata Ayumi.
Perempatan muncul di kening Yudha. Kenapa tamunya malah berisik? "Jika kalian datang hanya untuk ribut, pulang saja sana!"
"Hei Yudh, jangan seperti itu! Tidak sopan. Medeka sudah menyempatkan untuk datang ke pesta kita." Kata Melody.
"Melody-chan jauh lebih baik dari Yudha-chan." Kata Nao.
Yudha mendelik karena Nao menambahkan akhiran -chan di belakang namanya. "Mau cari mati?"
"Sabar, bosku! Sabar!"
Ayumi memberikan paperbag berisi kado itu kepada Melody. "Melody-chan, Yudha-kun, selamat atas ulang tahun pernikahannya yang pertama. Semoga kalian bahagia selalu."
Melody menerima paperbag dari Ayumi. "Terima kasih, Ayumi-chan."
"Hei, mau apa kau?" Tanya Yudha ketika Nao berusaha melakukan hal yang sama seperti Ayumi.
"Ciuman dua pipilah, ngapain lagi memangnya?" Kata Nao.
"Aku tidak mengizinkanmu!"
"Nao-kun, Yudha cemburu, bodoh!" Kata Ayumi.
Nao langsung nyengir karena aura Yudha tiba-tiba berubah mencengkam seolah ingin memburunya. "Hei Tuan, harusnya kau berterima kasih padaku karena ulahku dan juga yang lain, kau jadi bisa seperti ini dengan Melody!"
Melody dan Yudha ingat apa itu. Ya, kejadian di Okinawa bulan Juli tahun lalu dan obat perangsang.
"Cih, aku bisa menyetubuhi istriku meski tanpa bantuanmu dan yang lain!" Kesal Yudha.
Melody merah padam karena ucapan Yudha yang kelewat vulgar itu.
"Oh ya? Masak? Kau tahu, hubunganmu dengan Melody waktu itu seperti jalan di tempat! Tidak ada kemajuan sama sekali!" Kata Nao
"Kata siapa tidak ada kemajuan sama sekali? Aku dan Melody sedang berusaha menjalani kehidupan pernikahan kami."
"Berusaha yang bagaimana? Setengah tahun kau dan Melody hanya itu-itu saja! Yang aku lihat, kau dan Melody penuh dengan kesalah pahaman. Membuat gatal di mata saja!"
Oke, Melody, Ayumi, dan Neil lebih memilih diam menyaksikan dua sahabat karib yang sedang adu argumen ini. Apalagi Ayane yang notabene tidak punya hak untuk ikut campur. Lagian, menyelapun sepertinya tidak bisa. Sulit.
"Aku sudah berciuman beberapa kali dengan Melody!" Kata Yudha.
Beberapa kali?
__ADS_1
Melody sejenak berpikir. Ciuman beberapa kali dengan Yudha sebelum bulan Juli?
"Pol-pol paling cuma ciuman, kan? Pasti juga bukan keinginan keduanya!" Tebak Nao.
Jika diingat, kata Nao itu benar adanya. Ciuman sebelum bulan Juli adalah ciuman kecelakaan. Satunya ciuman pipi yang ia lakukan juga karena perasaan yang entahlah, saat itu ia hanya spontan melakukannya. Itu yang Melody pikirkan.
"Tidaklah! Aku beberapa kali menciumnya! Mana mungkin kau tahu jika aku melakukannya berkali-kali!" Kata Yudha.
"Yudha.." Panggil Ayumi pelan.
"Ada apa?" Tanya Yudha.
Ayumi menunjuk ke arah Melody.
Yudha menatap Melody. Ada aura hitam keluar dari tubuh Melody.
"Selain ciuman waktu rebutan kado aneh dari Mia, kita tak pernah sekalipun ciuman lagi sampai malam itu, Yudh!" Kata Melody.
Yudha baru saja sadar. Sampai hari ini, ia tak pernah bercerita jika ia pernah mencium bibir Melody diam-diam saat Melody tidur. Jika ia menarik kata-katanya, maka Nao akan di atas angin. Namun jika ia mengakui soal ciuman itu, maka Melody pasti akan sangat marah padanya.
Bagaimanapun itu perbuatan tidak etis.
"Itu..." Yudha bingung bagaimana ia harus menjelaskannya. Melody pasti akan mikir jika dirinya itu sangat bejat yang berusaha melecehkan istrinya sendiri. Masalahnya, tak hanya menciumi Melody, tapi beberapa kali ia hampir kehilangan akal karena ingin menggrayangi Melody.
Neil sadar jika percakapan ini akan membuat dua pasangan yang sudah menikah ini malah bertengkar. Ia harus mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong soal kado, Yudha kau sudah mencoba kado-kado pernikahanmu dari kami belum?" Tanya Neil.
Bodohnya, Nao malah ikutan tertarik dengan topik baru yang Neil bawa. "Iya, kado-kado harta karun itu!"
Melody mengerutkan dahinya. Ia melirik ke arah Ayumi, tapi ayumi mengedikan kedua bahunya, ayumi tidak tahu menahu soal kado yang Neil maksud. "Kado yang mana?" Tanyanya.
"Tanya saja pada Yudha, Mel! Itu kado untuk kalian berdua." Kata Nao. "Spesial dariku, Neil, dan Sai."
Melody menoleh ke arah Yudha. Jika itu kado buat dirinya juga, kenapa Yudha tak pernah memberitahu isinya kepada dirinya?
"Kado apa, Yudh?" Tanya Melody penasaran.
Kini Yudha yang gantian merah padam. "Kau tak perlu tahu isinya, Mel. Itu benda yang tak pantas untuk kau ketahui."
"Jelaskan saja, Yudh! Kasihan istrimu penasaran." Kata Neil.
Neil itu sama saja dengan Nao, berusaha menggoda Yudha. Asyik juga. Kesempatan langka. Rupanya Melody adalah kelemahan Yudha!
"Kalian berhentilah berbicara yang tidak-tidak!" Pinta Yudha.
Melody meraih celana Yudha agar Yudha menatapnya. "Bilang saja isinya apa, aku tidak akan memintanya darimu! Kau boleh memilikinya sesukamu."
"..."
"Anggap saja kado ulang tahunku atau kado ulang tahun pernikahan kita! Maka beritahu diriku, Yudh!"
Yudha bersimpuh dengan menekuk kakinya. Ia mengisyaratkan Melody agar mendekat. "Isinya alat bantu hubungan intim, video porno, panduan bercinta. Kalau kau ingin mencobanya, aku tak masalah melakukannya denganmu." Bisik Yudha.
Melody mendelik. Lalu menatap Yudha untuk mencari kebenarannya.
"Seperti itu isi kadonya." Kata Yudha.
"Sudah dikado harta karun seperti itu, tapi kau tak melakukan apa-apa selama setengah tahun pernikahanmu, Yudh. Dasar cupu!" Ejek Nao.
Sejujurnya gerah juga. "Yudha tidak cupu kok, Nao-chan! Dia sangat hebat di ranjang!" Kata Melody yang ingin segera mengakhiri percakapan tak biasa ini.
"Wah, hebat juga kau Yudh ternyata. Berapa lama dia bermain denganmu, Melody-san?" Tanya Sai yang tiba-tiba nimbrung di antara mereka.
__ADS_1
Sai berjalan sambil menggandeng Amamiya Yura.
"U-ulat ge-genit..." Batin Melody kaget.