
Sepuluh menit berlalu begitu cepatnya. Tak terasa, jauh berbeda dengan rasa lelah yang tak berlalu juga. Semakin beristirahat justru rasanya lelah itu semakin terasa saja.
Yudha melihat ke samping, melihat apa yang sedang istrinya lakukan. Melody sudah tidak tiduran lagi. Melody sibuk memijat pergelangan kakinya.
Yudha mengesampingkan rasa lelahnya, ia bangkit dari tidurannya dan menghampiri Melody. Ia lantas duduk di samping Melody.
"Perlihatkan kakimu!" Perintah Yudha yang langsung menarik pelan kaki Melody.
Melody yang tak sadar akan kehadiran Yudha di sampingnya hanya bisa terdiam, mengikuti apa yang Yudha lakukan padanya. Ia pasrah saat Yudha memijat pelan kaki kirinya yang baru ia sadari jika kakinya berada di pangkuan paha Yudha.
Melody terpaku dengan perlakuan Yudha. Ia menikmati wajah serius Yudha yang sedang memijat kaki kirinya. Gerakan lembut Yudha membuatnya serasa melayang, melupakan rasa sakit yang menerjang kakinya.
Tarikkan kecil menarik bibir manis Melody. Entah apa, ia tersenyum senang saat itu. Rasanya ia sedang berlarian di padang rumput yang luas. Angin sejuk memanjakan tubuhnya…
Yudha menggerakkan tangannya, mencoba menyusuri kaki Melody. Mencari letak sumber sakit di kaki Melody.
"Aaah, sakit. Pelan-pelan, Yudha! Itu benar-benar sangat sakit." Pekik Melody saat tangan Yudha menekat sumber sakit di kakinya.
"Apa kau selalu seperti ini jika memakai high heels?"
"Kalau kelamaan sih iya. Contohnya waktu pernikahan kita. Kalau saat ini memang tidak begitu lama aku memakainya. Tapi karena aku memakainya untuk belajar menari dansa, waktu satu setengah jam latihan rasanya seperti seharian memakai heels."
"Maaf, kau harus melakukan hal-hal seperti ini. Tapi, bagaimanapun kau harus tetap melakukannya."
"Aku tahu itu, Yudha. Tidak apa-apa, semua memang asing bagiku. Semua terasa baru untukku, tapi rasanya semua yang baru itu cukup menyenangkan."
"Kau ini.. Besok aku akan meminta libur agar kau bisa istirahat. Manfaatkan benar-benar waktu istirahat besok biar kakimu lekas membaik!"
"Iya, Yudha-sama." Melody tersenyum senang.
Suaminya memang pengertian, ya wakau banyak menyebalkannya. Apa sih yang membuat Yudha terlihat baik akhir-akhir ini? Melody penasaran akan hal itu.
"Anno, Yudha cocok loh jadi tukang pijat. Pinjatannya enak sekali." Lanjut Melody dengan polosnya.
"Hah?" Mendengar ucapan Melody yang seperti itu membuat Yudha memijat lebih keras.
"SAKIIT, YUDHA, SAKIT, BAKA!"
"Aku lelah berdebat denganmu, Melody."
"Haha, iya-iya, maaf, hanya bercanda."
Mereka terdiam sejenak. Bukankah tadi pagi terjadi insiden yang memalukkan? Dimana Melody tak sengaja memperlihatkan sebagian tubuh indahnya pada Yudha, pada suaminya itu?
"Yang warna hitam tolong lupakan itu! Please.." Pinta Melody.
__ADS_1
"Apapun yang sudah masuk ke otakku itu sulit dilupakan! Kenapa sih memangnya? Aku kan hanya melihat pakaian dalammu? Itu sama seperti aku membuka almari dan mendapati pakaian dalammu ada di sana." Kata Yudha.
"Tapi kan aku malu, Yudh! Tadi pagi aku bertindak berlebihan dan sama sekali tidak sopan. Bagaimana aku bisa duduk di perutmu seperti itu?"
"Perutku masih bisa menampung berat badanmu. Aku ini sering olah raga! Aku tak selemah itu!"
"Benarkah kau tak apa-apa?"
"Iya.."
Rupanya keduanya masih sangat polos. Sebenarnya Yudha merasakan hal yang berbeda. Darahnya mendidih panas ketika Melihat kemolekkan tubuh Melody.
Baru terekspos sedikit saja sudah membuat tak karuan, bagaimana jika dirinya melihat tubuh Melody seutuhnya?
Perasaan apa ini?
Mengingatnya saja sudah membuat panas.
"Maaf tadi aku menggigit tangamu." Kata Melody. Ia merasa samgat bersalah. Bekas gigitannya tak akan hilang dalam waktu sehari, kan?
Yudha memperlihatkan luka gigitan Melody. "Tidak sedalam itu kok, santai saja."
"Katakan sesuatu agar aku bisa merasa lega! Aku pasti akan melakukannya!"
"Cium aku!" Kata Yudh asal. Ia hanya ingin tahu seperti apa reaksi Melody.
"Ih apaan sih, Yudh? Garing deh.." Gerutu Melody.
Yudha tertawa. "Bercanda kok. Punggungku pegal, kau mau memijatnya? Aku akan senang kalau kau bersedia."
Melody tersenyum, iapun menuruti permintaan Yudha untuk memijat punggung Yudha.
"Bagaimana rasanya? Kurang keras tidak?" Tanya Melody.
"Sudah cukup. Ini pas, enak rasanya." Jawab Yudha.
Melody tesenyum senang. Iapun memijat dengan penuh semangat lagi. Selain rasa bersalahnya, ia juga ingin membalas budi karena Yudha sering memijatnya saat kakinya bengkak karena terlalu lama memakai sepatu berhak tinggi.
"Coba bagian leher, Mel! Leherku sangat kaku." Pinta Yudha.
Melody pindah memijat leher Yudha. Tengkuk yang putih bersih.
"Gila, tengkuk Yudha bersih sekali. Kata orang, jika seseorang, terutama laki-laki memiliki tengkuk yang lebih bersih dari mukanya, maka sudah bisa dipastikan jika orangnya itu sangat menjaga kebersihan. Ini seperti toilet, menilai pemilik rumah itu rajin bersih-bersih atau tidak, cukuplah lihat toiletnya. Jika toiletnya bersih, maka semuanya akan bersih! Huwa, aku malah menyamakannya dengan toilet. Jika Yudha tahu, habislah aku!.. Tapi, aku menyukai tengkuk bersihnya." Batin Melody.
.
__ADS_1
.
.
Masih di tempat yang sama, Melody dan Yudha sedang menikmati minuman pelepas dahaga mereka setelah melewati acara 'les' dansa mereka.
Jus jambu biji dan jus tomat adalah minuman favorit mereka berdua. Bisa dikatakan jika mereka maniak akan ke dua buah itu.
"Wuaakhhh, segar sekali rasanya." Teriak Melody.
"Kecilkan suara cemprengmu itu Melody!" Kesal Yudha.
"Iya, iya, Mr. Tomato."
"Good job, Mrs. Guava."
"Dibalas. Ah, tidak apa-apa toh nyatanya aku memang menyukainya."
"Ho ho ho, pasangan pengantin baru kita sedang bermesraan siang-siang begini. Tak puaskah lembur di kamar pengantinnya?" Kata Nao yang muncul dari arah pintu diikuti Sai, Neil, dan seorang gadis berambut panjang sampai pantat.
Rasanya Melody mengenali salah satu di antara mereka.
Teman Yudha? Hal itu yang terlintas di otak pas-pasan Melody.
Lalu apaan itu? Lembur di kamar pengantin? Mengerjakan tugas akuntansi?
"Berisik kau, Nao." Kata Yudha.
"Kalau tidak berisik, bukan gayaku. Haha. Hi, Melody-chan, konichiwa." Sapa Nao.
"Ko..Konichiwa."
Melody hanya tersenyum manis, ia masih belum mendapatkan ingatannya dari setumpuk memori yang memenuhi kapasitas otaknya.
"Mereka temanku, Melody. Kalian perkenalkan diri kalian!" Pinta Yudha.
Konichiwa: Selamat siang. Kadang bisa diartikan halo juga.
________________________________________
Jangan pelit like, komen, share, sama votenya ya. Itu penting buatku. Popularitas temtunya.
Alur sinetron always on. So ini bakal sangat lambat. Tapi ini proses karena aku ingin membuat kisah cinta di antara dua orang yang menikah tanpa cinta. Tidak mungkin kan tiba-tiba jatuh cinta begitu saja?
Butuh tahapan matang untuk kesana. Butuh permainan kata-kata untuk mengekspresikan perasaan dan juga bagaiman pemain sampingan lain ikut terlibat di dalamnya. Itu butu sinkronisasi.
__ADS_1
Gambare!