MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Melody Bertemu Yudha


__ADS_3

Alvin menyodorkan akta pindah kepemilikkan saham pada Melody.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Melody.


"Kau ingin menjual saham milik Yudha, kan? Jual padaku! Aku akan membelinya dengan harga 2 kali lipat!" Jawab Alvin.


"Hah? Ha ha ha ha ha. Hei, kau berusaha bermuka dua dengan mencoba menolongku, heh?" Kata Melody meremehkan. "Kau itu di kubu yang sama dengan Tuan Han! Menjual saham Yudha kepadamu atau dirinya juga sama-sama akan menghancurkan Yudha! Tidak usah sok suci dan sok baik kepadaku dan Yudha! Apa yang akan aku lakukan itu bukan urusanmu! Lebih baik kau tak usah lagi muncul di hadapanku!" Tambahnya. Ia menepis dokumen akta pindah kepemilikkan saham yang disodorkan kepadanya.


Melody berjalan meninggalkan Alvin. Tapi Alvin menahan langkah Melody dengan memeluk Melody dari belakang.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Melody dingin.


"Meski kau jijik karena aku mencintaimu, tapi jangan memberiku bahu dinginmu! Aku mohon! Jangan seperti itu! Rasanya begitu sangat menyakitkan." Kata Alin.


"Rasanya menyakitkan sampai kau ingin mati pun, aku sama sekali tidak peduli!" Bentak Melody.


Sakit.


Sampai ingin mati pun, Melody sama sekali tak akan peduli. Melody yang Alvin kenal dulu rasanya sudah tak ada. Sudah menghilang, sudah lenyap. Melody yang ada di depannya saat ini adalah Melody yang keras dan menatapnya penuh kebencian. Suka berujar kasar dan tak betah berada di sisinya.


"Singkirkan tanganmu atau aku akan membencimu sampai ke tulangku?" Melody lagi-lagi mengancam kasar Alvin.


Dibenci Melody sampai ke tulang itu hal yang tam mau Alvin alami. Ia melonggarkan dekapannya pada Melody dan akhirnya melepaskan tangannya dari sana.


"Melody..." Gumam Alvin yang melihat Melody berlalu meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun kepadanya.


Alvin memukul tembok gedung sebelahnya untuk melampiaskan rasa berkecamuk di dalam hatinya. Sampai terluka tangannya. Berdarah dan memar.


.


.


.


"Melody-sama, apakah Anda sudah menyiapkan dokumen akta pindah kepemilikkan saham yang saya pinta?" Tanya Tuan Han lewat panggilan telepon. Video Call tepatnya.


"Ya saya baru saja selesai mengurusnya. Saya akan pergi ke notaris untuk membicarakan hal ini selanjutnya... Bolehkah saya melihat suami saya?" Kata Melody.


"Ya, tentu saja."


Kamera ponsel mengarah ke arah pasien yang Melody kenali sebagai suaminya. Tuan Han memberi privasi Melody dan Yudha untuk berbicara.


Melody menangis ketika ia melihat hari ini Yudha sudah sadar. Tidak seperti kemarin yang koma.


"Yu-Yudha-kun?" Gumam Melody. Air matanya terus saja keluar di sela pipinya. Ia menyentuh layar ponselnya.


"Melody..." Kata Yudha lemah.

__ADS_1


"Hiks.. Yudha... syukurlah, syukurlah kau sudah sadar... Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa ada yang sakit? Pusing tidak? Sudah makan belum?" Tanya Melody yang khawatirnya sangat-sangat.


"Jangan menangis, Mel! Kepalaku semakin pusing saat melihatmu menangis!"


Melody menghapus air matanya seketika. Tapi air matanya masih terus keluar. "Aku tak mau menangis lagi, tapi air mataku tidak mau menurutiku, Yudh... Doushiyo? Bagaimana ini? Bagaimana kalau kau semakin sakit karena melihatku menangis?"


Bukan itu yang dimaksud Yudha. Ia hanya ingin Melody tidak bersedih karena melihat keadaannya. Namun ia paham, Melody hanya terlalu menghawatirkannya saja.


"Hei, hei, dengar, aku akan baik-baik saja! Jangan turuti perintah Tuan Han. Pertahankan saham apa pun yang terjadi, oke?"


"Dan membiarkan mereka membunuhmu? Tidak, aku tidak mau! Aku tidak mau jadi janda! Anak-anak kita bahkan belum melihatmu, Yudh. Masak kau memilih mati sih? Kau tidak menghargai perjuanganku untuk membuat kita berkumpul kembali."


"Kau tahu berapa besarnya uang dari saham 10%? Itu sangat banyak, Mel. Dan kau mau memberikannya dengan gratis pada Tuan Han? Aku akan jatuh miskin, Mel. Memangnya kau mau hidup bersama laki-laki miskin tak punya tahta dan harta berlimpah? Kau akan kehilangan para maid dan pelayan-pelayan rumah juga."


"Kau mengatakannya sambil senyum, kenapa aku harus takut hidup miskin denganmu? Yang harus kau khawatirkan itu dirimu sendiri, Yudh! Aku ini asalnya dari orang miskin, aku terbiasa hidup keras. Namun bagaimana dengan dirimu? Kau yang lahir dengan sendok emas di tangan kan tak pernah hidup kekurangan. Memang kau bisa makan tahu tiap hari tanpa daging?"


"Kalau makan tahu sambil menatapmu, rasa tahu akan berubah menjadi rasa daging."


"Apa saat ini waktu yang tepat untuk menggombal?"


"Aku kangen."


"Aku juga."


"..."


"Maaf..."


"I want to hug you."


"I know. Me too."


"I want to kiss you."


"I know. Me too."


"I want to you."


"I know. Me too."


Yudha menatap sendu Melody. Istrinya itu saat ini sedang mewek dan sulit diajak bicara. Banyak hal yang ingin diungkapkan, tapi Melody hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Sampai terbatuk-batuk dan suaranya serak. Kembang kempis dan sulit bernafas.


Berpisah cukup lama dengan luka di sekujur tubuhnya pasti membuat Melody khawatir dan ketakutan. Sebagai suami yang sangat mencintai istrinya, Yudha memahami dan memaklumi ini. Meski dirinya sudah meminta Melody untuk jangan menangis pun, Melody pasti kesulitan melakukannya.


Wanita identik dengan air mata, kan? Bahagia saja bisa menangis, apa lagi saat sedang sedih? Sedihnya sangat lagi. Dirinya yang laki-laki saja berasa ingin ikutan menangis karena tak tega melihat Melody menangis tersedu-sedu seperti itu. Hanya saja ia tahan. Ia tak mau Melody semakin bersedih saat melihatnya menderita.


Yudha mendengar setiap suara tangisan yang keluar dari bibir Melody. Mendengarnya dengan sabar tanpa menyela. Ia membiarkan Melody meluapkan semua rasa yang membuat Melody sesak. Setelah Melody puas menangis, ia berharap jika Melody akan lekas membaik.

__ADS_1


Melody menghapus air matanya. "Tuan Han cukup baik dengan membiarkan kita berdua berbicara privat seperti ini."


"Ruangan ini ada CCTV-nya, dia tak perlu menghawatirkan dengan apa yang kita bahas."


"Hmm, benar juga."


"Sudah merasa lebih baik?"


"Iya. Aku sudah meras lebih baik. Jauh malahan. Yudha-kun, arigato ne."


"Aku tak melakukan apa-apa, Mel. Kau saja yang sangat kuat. Kau luar biasa kalau kau tahu itu."


"Semua karena Yudha."


"Sebegitu mencintai diriku ya?"


"Iya. Memang Yudha tidak cinta lagi padaku?"


"Hei, bicara apa kau ini? Tentu saja aku sangat mencintaimu! Kau tahu itu bagaimana kau sangat aku dewikan dalam hidupku. You are my lady and i'm your man, Mel."


"I love you."


"I love you too."


"Yudha, aku ingin bertemu!"


"I know. Aku juga ingin bertemu denganmu. Kau harus kuat dan sehat demi aku dan anak kita, mengerti?"


Melody menangguk. "Aku akan jaga diri dan aku juga ingin meminta maaf karena sebagai walimu, aku malah menyerakan saham milikmu kepada Tuan Han. Nati kalau kita bertemu, kau bisa memarahiku."


"Iya, nanti aku bisa memarahimu di ranjang."


"Jangan bercanda, Yudh!"


"Aku hanya sedang rindu kebersamaan kita."


Melody dan Yudha menghabiskan waktu bersama. Telponan cukup lama itu tak bisa mengobati rasa rindu di keduanya. Masih belum puas, masih ingin lagi dan lagi. Namun harus terputus karena Tuan Han tidak mengizinkannya.


.


.


.


Usai teleponan dengan Yudha, Melody pun menelpon sang paman, Orion.


"Paman, aku menyerahkan saham milik Yudha kelada Tuan Han."

__ADS_1


"Kerja bagus, Mel." Seringia Orion.


__ADS_2