
Mobil yang dikendarai Melody, Shuhei, dan Ayane akhir sampai di Tokyo hampir pukul tujuh malam. Jarak Tokyo-Shizuoka dilaju bolak-balik memang membutuhkan waktu yang lama.
Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga berjalan menuju ke dalam rumah sakit, ke ruang inap kakek Wijaya tentunya.
Di depan pintu kamar kakek Wijaya, Yudha sudah menunggu Melody sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia bersandar pada tembok.
"Mampuss, mas bojo sudah menunggu.." Batin Melody.
"Melody-sama..." Gumam Ayane. Ia menggandeng tangan Melody karena Melody cukup kelelah setelah mengalami perjalanan yang sangat jauh itu.
Melody melepas gandengan tangan Ayane. Ia memegang pundak Ayane. "Ayane-nee, Shuhei-san, kalian berdua masuklah dulu dan temui nenek Chiyo!" Pinta Melody. Ia menepuk pundak Ayane dan Shuhei pelan.
Ayane menatap khawatir Melody, ia tahu bagaimana Yudha itu. Yudha tak suka dibohongi dan saat ini, mereka bertiga ketangkap basah berbohong dan saling bekerja sama untuk memuluskan kebohongan.
"Sudah, tak apa. Aku bisa menangani Yudha." Bisik Melody.
Shuhei dan Ayane akhirnya hanya menuruti apa yang Melody pinta. Mereka berjalan menunduk sesaat setelah melewati Yudha di depan pintu kamar inap. Berasa seperti sedang izin masuk pada singa lapar. Apa lagi ada dua bodyguard berbadan gempal dan memakai kaca mata hitam berdiri di kanan dan kiri pintu kamar inap itu.
Usai memastika Shuhei dan Ayane masuk ke dalam kamar inap, Melody pun berjalan mendekati Yudha.
"Aku pergi ke Tulip House hari ini dan mengambil harta karun milik Aron-san, lalu aku berhasil pulang dengan selamat." Cengir Melody berkata semanis mungkin. Ia tahu suaminya itu sedang menahan amarah yang tak terkira.
"Siapa yang memberimu izin untuk ke sana lagi?" Tanya Yudha.
Melody terus mempertahankan cengiran garingnya agar emosi Yudha tidak meledak. "Tidak ada.."
"Pergi tanpa izin suami itu salah. Kau tahu itu?"
Melody mengangguk. "Tahu.."
"Kau izin tidak pada suamimu?"
Melody memalingkan wajahnya. Ia memainkan jemari tangannya sendiri. "Tidak... Tadi lupa membawa ponsel."
"Menambah kebohongan lagi?"
Melody memanyunkan mulutnya. "Kau pasti tidak akan mengizinkanku. Kalau aku membawa ponsel kau akan melacakku. Lalu kau akan marah-marah dan menyuruhku untuk pulang dengan segala ancamanmu."
Itu benar. Apa yang Melody katakan itu benar adanya. Yudha pasti akan melakukan hal itu.
"Lalu apa pantas kau seperti ini? Membahayakan dirimu!" Kesal Yudha.
"Maaf..."
__ADS_1
"Tatap mataku!" Pinta Yudha.
Melody menatap Yudha takut-takut. "..."
"Kau istriku, aku suamimu, imammu! Sosok yang harus kau ikuti dan patuhi adalah diriku! Kenapa kau seperti ini, Mel? Istri macam apa kau ini, hah?" Yudha tak bisa menahan emosi lagi.
Lalu kini hati Melody juga mulai ikutan kesal. Apa-apaan itu maksud Yudha.
Istri macam apa?
Pertanyaan konyol abad mana itu? Zaman renaisan?
"Aku tahu aku salah. Aku sudah minta maaf dan mengakui kesalahanku. Namun, kau masih saja marah-marah. Dasar suami tidak peka! Bukannya menyambutku dengan baik malah membuat sesak dada. Aku ini lelah! Butuh pelukkan! Butuh sambutan sayang!" Omel Melody.
Melody masa bodoh dengan Yudha yang sedang marah terhadapnya. Ia memutuskan untuk membiarkan Yudha dan berjalan menemui sang kakek di kamar inap. Lagian, ia ingin segera melihat kakek Wijaya yang sudah sadar.
Belum sempat membuka pintu, masih memegang gagang pintunya, Melody merasakan pusing luar biasa. Tiba-tiba pandangannya terasa kabur. Ia ambruk. Namun Yudha yang ada di sampingnya langsung sigap menahan tubuhnya.
"Mel? Melody? Kau tak apa-apa?" Tanya Yudha khawatir.
Melody memegangi keningnya. Ia memejamkan kedua matanya karena merasa jika sakit kepalanya menjadi-jadi. "Pusing sekali, Yudh.." Jawabnya.
Dua bodyguard yang juga sigap itu langsung membukakan pintu kamar inap kakek Wijaya. Yudha membopong Melody masuk ke dalam dan membaringkannya ke sofa panjang yang ada di kamar inap itu.
Seisi kamar inap itu cukup heboh, terutama Mikan dan Tsuchiya. Shuhei langsung berlari ke luar kamar untuk mencari dokter.
Beberapa saat kemudian..
"Nona Melody kekuarangan cairan. Ibu hamil memang mudah lelah. Jadi tolong ke depannya perhatikan asupan air putihnya." Kata Dokter Aizawa. Dokter kandungan yang khusus menangani kehamilan Melody.
"Apa Melody perlu perawatan lanjut?" Tanya Mikan.
Dokter Aizawa menggeleng. "Jika cairan infusnya habis, semua akan baik-baik saja. Andai kata tak sesuai harapan, maka Nona Melody akan mendapatkannya."
"Baiklah, Dok. Terima kasih banyak." Ucap Mikan.
Dokter Aizawa tersenyum lalu pamit keluar.
Keadaan terkendali, Yudha menyuruh Shuhei dan Ayane menemani Mikan, Tsuchiya, dan nenek Chiyo untuk makan malam. Ia hanya meminta dibungkuskan makanan untuknya dan Melody.
Berhubung kakek Wijaya sedang tidur, kini Yudha hanya berduaan dengan Melody. Mereka masihlah di ruangan yang sama dengan kakek Wijaya. Melody duduk di sofa sambil menunggu infusnya habis.
"Jika kau tak nyaman dalam posisi ini, aku akan meminta perawat untuk mengirim ranjang pasien untukmu." Kata Yudha.
__ADS_1
Melody menggeleng. "Tak usah, Yudh. Aku baik-baik saja. Pusingku mulai hilang juga kok."
"Hm, kau yakin?" Yudha ingin memastikannya.
"Iya..."
Yudha menyelimuti Melody dengan jaket yang ia pakai. Meski tak berhasil menutupi seluruh tubuh Melody, tapi lumayan membantu menghangatkan.
"..." Yudha mengelus pipi Melody. Ia menyingkirkan rambut Melody yang berantakkan.
"Aku seperti ini, kau masih marah padaku ya? Kau tak berniat menyudahi amarahmu meski aku sudah minta maaf dan hampir pingsan tadi?" Tanya Melody lemah.
Yudha mengambil tangan kanan Melody, ia menciumnya. "Tentu saja sudah usai. Aku hanya sangat menghawatirkanmu, Mel. Kau sudah tahu alasannya kenapa, kan?"
"Iya aku tahu. Apa yang aku lakukan tadi memang sangat berbahaya. Namun, jika kau yang pergi, justru itu akan semakin berbahaya. Aku tak tenang jika kau jauh dariku."
"Dan akupun juga tak tenang jika kau jauh dariky. Aku kalang kabut setelah pulang dari kantor tak menjumpaimu di kamar kakek maupun paman Aron. Aku mencarimu ke kamar kita di lantai enam belaspun, kau juga tak ada. Ponselmu tertinggal. Aku bertanya pada ibu, mereka hanya bilang jika kau sedang jalan-jalan dengan Shuhei dan Ayane. Saat aku menelon Shuhei, dia mengabaikanku." Kata Yudha.
"Shuhei menyetir, akan sangat bahaya jika ia mengangkat telepon. Lagian, tadi dia harus fokus nyetir agar cepat sampai ke sini. Maaf Yudh, maafkan aku!" Melody menangis.
Efek kehamilan dan tentu saja pengakuan rasa bersalah yang tulus pada Yudha. Ia tak ingin mempermainkan titah Yudha sebagai suaminya.
Yudha mengelus pucuk kepala Melody. Ia lalu mendaratkan kecupan ringan di sana.
"Aku bisa mengerti. Maaf juga tadi sudah berkata kasar. Namun, ke depan, tolong jangan lakukan hal berbahaya seperti ini lagi!" Pinta Yudha serius.
"Iya, aku berjanji."
Yudha tersenyum dan mengacak-acak rambut Melody.
"Rambutku semakin berantakan, Yudh!" Kata Melody. Yudha hanya kembali tersenyum. "Nah Yudh, bagaimana keadaan kakek? Kakek sudah siuman, kan? Kakek sudah sadar, kan?" Tanya Melody antusias meski tubuhnya terasa masih sangat lemas.
Ekspresi wajah Yudha berubah sendu, dan Melody menyadarinya.
"A-ada apa, Yudh? Se-sesuatu yang tak diinginkan terjadi?" Tanya Melody.
"Kakek sudah siuman itu benar adanya." Kata Yudha.
"La-lalu?"
"Namun, lumpuh total. Kakek hanya bisa mengedipkan kedua matanya saja." Lanjut Yudha.
"A-apa?" Kaget Melody tak terkira.
__ADS_1
Ini seperti cahaya harapan yang menyala harus kembali padam karena terpaan badai yang menghantam.