
Tamu undangan saling mengucapkan selamat pada Alvin atas keberhasilannya membuat Emperor Group merambahkan bisnisnya ke wilayah Kyoto yang selama ini terkenal sulit untuk dimasduki pengusaha luar selain dari warga Kyoto sendiri. Mereka mengungkapkan betapa bangganya mereka pada Alvin sang CEO baru Emperor Group.
"Terima kasih atas ucapannya! Saya senang sekali mendengarnya. Ini baru awal dari sepak terjang saya. Saya masih harus berjuang lebih keras lagi. Kyoto itu lahan baru dan saya pun masih orang baru yang perlu banyak belajar. Untuk ke depannya, tolong dukung saya! Tolong bantu saya!" Kata Alvin.
"CEO muda dan berbakat seperti Anda tentulah akan membuat tetua dan petinggi-petinggi Emperor Group mempercayai Anda. Kami semua tidak segan-segan untuk membantu Anda. Tolong katakan apa pun yang Anda inginkan, asal demi keuntungan Emperor Group, kami siap membantu Anda!"
"Itu benar, Alvin-sama. Anda adalah pemimpin yang terbaik untuk Emperor Group saat ini."
"Kami akan mendukung Anda!"
"Kami berada di pihak Anda!"
"Tolong jangan sungkan-sungkan!
Semua mendukung Alvin. Meski Alvin tahu jika banyak juga yang bermuka dua di depannya. Namun setidaknya, dukungan terhadapnya bertambah. Ia menjadi bisa semakin kuat mempertahankan posisinya di kursi nomor satu Emperor Group.
"Terima kasih banyak semuanya. Terima kasih atas dukungannya!" Kata Alvin. Tak lupa dengan senyuman menawannya.
Usai bertegur sapa dengan para kolega kerjanya, Alvin dihampiri oleh Daisuke.
"Alvin-sama, waktunya minum obat!" Kata Daisuke.
"Hn. Nanti aku akan meminumnya." Kata Alvin.
"Anda tidak boleh telat meminumnya! Tolong jangan menyepelekan minum obat, Alvin-sama! Anda ini dokter, Anda tahu apa yang terbaik untuk diri Anda sendiri!"
"Aku senang kau menghawatirkanku!" Senyum Alvin.
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai sekretaris Anda."
"Meski itu hanya kau anggap tugas semata, tapi aku senang ada yang memperhatikanku. Apa lagi soal kesehatanku. Terima kasih, Daisuke."
"Saya akan menyiapkan makan malam untuk Anda, tolong ikuti saya!"
Alvin pun mengikuti Daisuke. Jujur saja, saat ini pun ia juga sedang sangat lapar. Ia tak bisa menyembunyikan rasa laparnya itu. Kegiatan pesta ini sangat menguras tenaganya. Jika ia tak makan dan minum obat, ia pasti akan segera tumbang setelah ini.
Alvin masuk ke dalam salah satu kamar hotel. Ini beda lantai dengan kamar hotel yang digunakan oleh Melody istirahat saat tadi. Ia tak mau Melody menatapnya kesal karena harus bertemu dengan dirinya. Tahu kok, hubungannya dengan Melody itu sama sekali tidak baik. Ia sangat memahaminya lebih dari siapapun.
Ah, dengan mudahnya otaknya mengingat nama wanita yang ia puja-puja ini. Melody memang terlalu melekat erat di dalam hatinya.
"Alvin-sama, silahkan duduk! Saya akan menyiapan makan yang sudah saya pesan untuk Anda." Kata Daisuke.
"Hn." Alvin duduk di kursi yang ada di dalam kamar hotel itu.
Daisuke memberikan Alvin teh hangat selagi ia menyiapkan makan malamnya Alvin. Alvin pun menunggu sambil minum teh hangat. Menyesap perlahan untuk membuat tubuhnya hangat. Rasa dingin yang sedari tadi memeluk tubuhnya perlahan-lahan mulai menghilang.
"Apa aku menyukai teh seperti ibu? Apa kebiasaan seperti itu bisa diturunkan? Hmm, nyatanya banyak orang di dunia ini yang memang menyukai teh. Minum teh adalah yang paling cocok dalam segala suasana hati. Aku menjadi lebih baik setelahnya." Batin Alvin. Ia mengendus bau dari aroma teh.
"Alvin-sama, makanan Anda sudah siap. Tolong nikmati makan malam Anda!" Kata Daisuke.
"Makanan sehat lagi. Kapan aku akan memberiku daging panggang?" Tanya Alvin.
"Maaf Alvin-sama, Anda dilarang makan makanan seperti itu!"
"Kau terlalu protektif! Aku sudah lama tidak memakannya, sekali-kali kan tidak apa-apa mencobanya."
"Tidak, Alvin-sama! Anda tetap tidak diizinkan untuk makan makanan seperti itu! Selama saya yang mengawasi Anda, Anda hanya boleh makan makanan sesuai rekomendasi dr. Taka. Tolong bertanggung jawablah pada diri Anda sendiri!"
Alvin tertawa. "Daisuke, kau cerewetnya melebihi ibu Mikan. Ibu Mikan juga sangat cerewet meski hanya ingin membuatku makan makanan buatannya. Ketika aku flu, dia juga sangat sibuk membuatkanku makanan yang baik untuk penderita flu. Bahkan ibuku sendiri tak terlalu memikirkannya. Mungkin di dalam benakkya apa yang aku derita hanyalah flu biasa."
"Ibu Anda pasti juga memikirkan Anda, Alvin-sama. Setidaknya ia akan berdoa demi kebaikan Anda."
"Ya, semoga saja." Gumam Alvin. "Walau sesungguhnya aku tahu jika ibuku semakin ke sini, semakin asing untukku. Pelukkannya tak lagi sehangat yang dulu. Aku kadang sampai tak mengenali ibuku sendiri." Batin Alvin.
Alvin menatap berbagai macam makanan sehat di hadapannya. Daisuke pasti memesankannya sejak tadi. Makanan ini butuh proses untuk memasaknya dan saat ini, semua makanan itu aydah tertata rapi di hadapannya. Ini bukan tugas yang mudah untuk dilakukan. Ia harus berterima kasih pada sekretarinya itu.
"Aku tak mau makan kalau kau tak menemaniku makan!" Kata Alvin.
"Alvin-sama, Anda kekanak-kanakkan!" Kata Daiauke.
"Meski kekanak-kanakkan pun tak masalah. Justru jika bisa aku ingin kembali ke masa kecilku... Jadi, tolong temani aku makan! Aku tak bisa menghabiskannya sendirian."
Akhirnya Daisuke pun menemani Alvin makan. Ia juga belum makan juga sih.
Tak lama kemudian, telepon ponsel milik Alvin berbunyi. Ia melirik siapa yang menelponya jam-jam seperti ini. Ia yak kaget, hanya siap untuk berhati-hati.
"Alvin-sama, Anda mau kemana? Makanan Anda masih dan Anda sama sekali belum meminum obat Anda!" Cegah Daisuke.
"Aku mau angkat telepon penting. Aku akan kembali dan meminum obatnya." Alvin mencoba meyakinkan.
"Anda tidak bohong, kan?"
"Iya. Aku pasti kembali."
"Baiklah. Silahkan jika Anda ingin mengangkat telpon! Saya akan menunggu Anda di sini."
"Oke. Aku keluar terlebih dahulu."
"Baik, Alvin-sama."
__ADS_1
Alvin izin ke luar aula pesta untuk mengangkat telepon. Ada panggilan penting untuknya. Itu dari tuan Han yang malam ini pulang cepat dari acara pesta itu. Tuan Han memiliki sesuatu yang harus di urus.
"Tenang saja, asal semua yang aku minta kau penuhi, aku bisa melakukan apa pun yang kau mau, Ayah." Kata Alvin.
"Kau memang anakku, Vin! Sifat jahat dan licikmu mirip denganku. Kau rela melakukan apa saja demi menjadi raja." Kata Tuan Han di tempat yang jauh. "Kau bahkan berani mengirim Yudha sebagai hadiah." Tambahnya.
"Aku sudah siap bertahta di atas mayat adikku itu." Kata Alvin.
"Aku senang kau berani mengambil semua resiko yang ada. Ingat, tekan istrinya Yudha untuk menjual saham milik Yudha kepadaku! Setelah itu, ayah akan berhenti mengincar wanita pujaanmu. Sampai nanti."
"Ya."
Alvin mengakhiri sambungan teleponnya. Ia berbalik dan ingin kembali ke aula pesta. Namun, saat ia sedang melangkahkan satu kakinya, wanita yang selalu ia rindukan tengah berdiri di hadapannya.
Dan plaaaak...
Sebuah tamparan yang sangat keras terasa di pipi kirinya.
Kazehaya Melody sang pujaan hati menamparnya.
"Pembohong!" Kata Melody.
"Me-Melody?" Kaget Alvin.
"Kau pembohong!"
Melody melotot. Membuat lingkaran pupil indah cerahnya terekspos dengan sangat jelas.
Melody mendengar pembicaraanya dengan Tuan Han? Sejauh mana Melody mendengarnya?
Beranikah dirinya melihat ke arah Melody? Meski ragu, dengan sangat pelan Alvin memberanikan diri menatap ke tempat di mana Melody berada.
Melody menatapnya! Tajam dan dingin!
Alvin menelan dengan susah payah. Entah perasaannya saja atau mata Melody memang menjadi lebih gelap dibandingkan kali pertama ia melihatnya? Ia bisa merasakan semua mata Melody mengarah kepadanya.
"Kau jahat, Vin!"
"..."
"YUDHA ITU ADIKMU!"
"..."
"KENAPA KAU MENGIRIMNYA KE TEMPAT YANG BERBAHAYA, HAH?"
"..."
"..."
"KAU MEMBOHONGIKU! KAU BILANG APA PUN YANG KAU LAKUKAN DEMI UNTUK MEMBUATKU BAHAGIA. SUMBER BAHAGIAKU ITU YUDHA DAN KAU... KAU MALAH MENYAKITI SUMBER BAHAGIAKU! KAU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU. AKU TAK BISA LAGI PERCAYA PADAMU. AKU SUDAH TERLALU LELAH DENGANMU... AKU MEMBENCIMU!"
Melody melangkah pergi untuk menghampiri Aron yang sedang mengambil mobil.
Alvin mencoba mengejar dan meraih tangan Melody, tapi Melody menghempaskannya.
Melody bahkan mengusap-usap bekas pegangan tangan Alvin.
"I'm so done with you! So please just syay away from me as far as you able to do it! When you try yo come closer, i will hate you even more! Got it?" Kata Melody.
"Mel.. Melody, aku bisa menjelaskannya!" Kata Alvin. "Perasaanku kepadamu itu nyata! Aku sungguh sangat mencintaimu. Apa yang aku lakukan saat ini demi untuk membahagiakan dirimu!" Tambahnya.
"Kau hanya pecundang gila yang tak paham apa itu cinta! Jangan lagi katakan kau mencintaiku karena itu SANGAT MENJIJIKKAN! Aku tak mau mendapatkan cinta dari orang seperti dirimu!"
Sangat menjijikkan?
Perasaannya kepada Melody, cintanya kepada Melody, Melody anggap sebagai hal yang sangat menjijikkan? Saking menjijikkannya sampai-sampai Melody tak mau dicintai oleh dirinya?
Alvin mematung di tempat. Kakinya membeku seketika. Ia tak memiliki kekuatan untuk mengejar Melody.
Ia hanya bisa melihat wanita yang amat sangat dicintainya itu menghilang di dalam mobil.
"Melody.. gomenasai.."
.
.
.
Di dalam mobil..
Aron menyadari air mata Melody yang terus keluar meski beberapa kali Melody mencoba menghapusnya. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi ia sempat melihat Alvin dari balik kaca mobilnya.
"Dugaan kita benar, Yudha ada di Kyoto. Orang di balik lancarnya Emperor Group menembus wilayah Tokyo-lah yang menculi Yudha... Cepat Aron-san, cepat bawa aku ke Next In Co!" Kata Melody.
"Baik, Melody-sama."
Mobil itu melaju ke perusahaan yang Yudha bangun dengan usaha kerasanya sendiri dibantu oleh Shuhei. Next In Co. Next Inovation Company. Perusahaan yang fokus pada teknologi robotik dan software yang mencangkup game juga.
__ADS_1
.
.
.
Sesampainya di gedung Next In Co, ia menggunakan ponsel milik Yudha untuk masuk. Ada kode akses di dalam ponsel Yudha. Berwujud barcode.
Ini sudah malam, tapi kantor masih beroprasi di beberapa tempat. Itu yang Melody pikirkan. Belum lagi, konsep ruang kerja yang seperti kamar pribadi membuat Melody terkesima untuk beberapa saat, termasuk Aron.
Bekerja sambil rebahan? Pada dasarnya isinya memang orang yang sedang bermain komputer.
Aron tak menyangka jika Tuan Muda yang ia asuh sejak kecil bisa merintis perusahaan sesuai impian Yudha dulu.
Ketiak Melody masuk ke dalam gedung itu, semua orang yang ada langsung menoleh ke arahnya.
"Istrinya Boss!"
Itu adalah kata-kata yang Melody dengar. Rupanya ia cukup terkenal juga. Padahal ini kali pertama ia mengunjungi Next In Co.
"Kon-konbanwa.." Sapa Melody.
"Konbawa.."
Mereka berbisik-bisisk mengagumi betapa cantiknya istri dari boss mereka itu. Lagi hamil lagi. Bossnya masih muda tapi topcer juga.
Oke, maklum, kebanyakan yang masih stay di kantor itu para otaku game, jadi cinta terlalu jauh dalam hidup mereka. Boss mereka, Yudha itu juga maniak game dan software, tapi kehidupan normalnya masih tetap berjalan dengan baik. Bisa tetap menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Menikah muda lagi.
Melody tidak bisa menjelaskan maksud kedatangannya malam ini kepada semua pekerja. Ia meminta diantarkan saja ke ruang kerja milik Yudha.
Mereka menuruti permintaan Melody.
.
.
.
Melody duduk di kursi kerja milik Yudha. Ia meneteskan air mata. Di meja Kerja milik Yudha terdapat frame foto duduk yang isinya adalah foto-fotonya dan juga foto pernikahannya. Ada juga foto hasil USG.
"Aron-san, Yudha akan menjadi suami dan ayah yang baik, kan? Lihatlah semua ini, dia yang kata orang kaku itu bahkan sampai melakukan hal ini. Mungkin ini bisa jadi ulah Shuhei-san, tapi tahu jika Yudha membiarkannya tetap di sini, aku sudah yakin akan bagaimana perasaan Yudha. Ia hanyalah laki-laki yang mencintai keluarga kecilnya. Cinta yang sederhana tapi memiliki pondasi yang kokoh." Kata Melody.
"Anda benar, Melody-sama. Yudha-sama memang laki-laki yang sangat mencintai keluarganya, termasuk keluarga yang Yudha-sama bina dengan Anda." Kata Aron. Ia juga baru saja melihat-lihat ke sana kemari di ruang kerja milik Yudha.
Di sini, ia maupun Melody, bisa melihat sosok asli Yudha itu bagaimana dengan cara Yudha menata ruang kerja miliknya.
"Aku seolah tahu jika Yudha di sini bisa menjadi dirinya sendiri. Syukurlah. Syukurlah dia bisa membangun perusahaan seperti impiannya. Perusahaan yang membuatnya bahagia." Melody menghapus air matanya.
Ini adalah air mata sedih, bahagia, dan juga bangga. Perasaannya campur aduk.
Ia lalu membuka ponsel milik Yudha yang Yudha berikan kepadanya ketika berpisah di motel daerah Chiba.
"Aku baru mempelajari ponsel milik Yudha ini. Aku kira ini ponsel biasa. Tapi ruapanya ini adalah ponsel ajaib yang bisa melakukan banyak hal. Ponsel canggih yang Yudha kembangkan sendiri. Sulit dilacak orang dan memiliki banyak kegunaan. Ini ponsel adalah kunci. Kunci dari semua hal yang Yudha kerjakan. Kunci dari semua jerih payah Yudha. Kunci dari komputer milik Yudha yang Yudha gunakan untuk menyuruh 4 hacker peliharaannya!" Kata Melody.
"Ada juga benda sehebat itu. Seperti mustahil." Kata Aron. Untuk percaya memang tak ia ragukan.
Masalahnya ini adalah Yudha! Ia tahu betul bagaimana Yudha itu. Sosok yang penuh kejutan dan terencana.
"Mari kita buktikan sehebat apa ponsel ajaib milik Yudha ini!" Kata Melody.
Ia lalu membukan laptop milik Yudha yang ada di meja kerja milik Yudha.
For your info, ruang kerja milik Yudha yang bisa masuk hanya Yudha, maksudnya dengan akses perintah milik Yudha. Selama memiliki akses perintah itu, mereka bisa masuk. Sampai hari ini, pemegang akses perintah masih Yudha dan Melody.
Melody mempelajari banyak file yang ada di dalam laptop. Yudha cukup rapi karena menatap rapi file-filenya dengan memasukkan ke dalam folder terntentu. Menyebalkannya, setiap folder memiliki akses sandi untuk membukanya.
"Aron-san, Yudha tak ada di sini saja masih membuatku kesal! Haaah.. Sandi lagi, sandi lagi!" Keluh Melody.
"Di otak Yudha-sama, setengahnya adalah Anda, hari pertama kalian melakukan hubungan intim pasti adalah passwordnya!" Kata Aron.
"Hah?" Melody jawdrop. "Astaga, Aron-san ja-jangan bercanda!" Kata Melody.
"Coba saja, Melody-sama! Jika salah, kita bisa menerka-nerka kode yang lain."
Tak mau ambil pusing, lagian malu juga membahas hal ini dengan pengawal sekaligus paman angkatnya ini. Akhirnya, Melody menekan tanggal 2407 lalu mengenternya dan.. ya.. benar.. berhasil masuk.
Meldoy tepok jidat. Tidak, ia hanya memegangi jidatnya saja.
"Yudha itu bodoh atau apa sih? Malam pertama pertama digunakan untuk password? Hah."
Meninggalkan perasaannya atas pemilihan konyol password yang Yudha pakai, Melody pun membuka satu per satu isi folder itu.
Ia dan Aron mempelajarinya sampai malam, sampai dini hari, sampai fajar tiba. Aron meminta Melody untuk istirahat, tapi Melody enggan melakukannya.
Akhirnya, Melody bersandar lelah di kursi kerja milik Yudha.
Ia geleng-geleng tak percaya dengan apa saja yang ia temukan dengan Aron.
"Yudha memiliki rekapan aliran para paus. Pantas saja tiap hari yang ia bahas ingin menangkap paus besar. Dan lagi.. Semoga Sai-san dan Amamiya-san selamat dan sukses menjalankan misi." Gumamnya.
__ADS_1
Melody dan Aron saling tatap dan merek tersenyum bersama.