
Tok... tok... tok..
Suara pintu kamar diketuk. Melody ingin membukanya, tapi Mikan mengatakan biar dirinya saja yang membukanya. Melody sedang hamil besar, geraknya terbatas. Kasihan juga, Melody mulai kesulitan bangun atau duduk. Resiko ibu hamil.
"Sebentar..." Kata Mikan. Mikan membuka pintu kamar dan mendapati ibunya Melody, besannya sedang berdiri di depan kamar. "Tsuchiya-san?" Lanjutnya.
"Mikan-san ternyata ada di sini. Aku kira kemana soalnya di kamar Tuan Besar sama sekali tidak ada." Kata Tsuchiya.
"Aku merindukan menantuku dan banyak berbicara dengannya. Bagaimana, sudah makan siangnya?" Tanya Mikan.
"Sudah. Tadi menu di kantin rumah sakit ada sushi salmon. Astaga, ini rumah sakit apa hotel sih?" Jawab Tsuchiya dengan tak lup tersenyum.
"Benarkah? Aku jadi ingin memakannya!" Mikan menyukai ikan salmon. Apalagi dibuat sushi seperti itu. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya ngiler.
"Kebetulan sekali, ini aku membeli cukup banyak..." Tshuchi menunjukkan kresek yang berisi sushi salmon. "Kau dan Melody bisa memakannya bersama." Tambahnya.
Mikan tersenyum bahagia. Besannya ini sangat pengertian. "Huwaahh, ini pasti sangat lezat. Terima kasih, Tsuchiya-san!" Mikan menerima kresek berisi sushi salmon yang dibeli Tsuchiya. "Ayo masuk, kami sedang bercerita seru!" Ajaknya.
"Bercerita seru?" Gumam Tsuchiya.
"Iya, soal masa laluku dan keluarga Kazehaya."
Tsuchiya berhenti melangkah. Membuat Mikan terheran.
"Tsuchiya-san, ada apa?" Tanya Mikan.
"Jika bercerita soal masa lalu dan keluarha Kazehaya, sepertinya aku tidak pantas mendengarkannya, kan? Ano, maksudku, aku ini orang luar yang tak terlibat langsung dengan urusan pribadi keluarga Kazehaya." Jawab Tsuchiya hati-hati.
Tsuchiya cukup tahu diri akan posisinya. Meski ia adalah besan keluarga Kazehaya, tapi ia merasa tidak nyaman ketika harus terlibat ke dalam hal-hal seperti ini.
"Lupakan soal hubungan perbesanan di antara kita, Tsuchiya-san. Kau ini sekarang sudah menjadi temanku. Anggap saja ini sebagai seorang teman yang ingin curhat dengan temannya sendiri. Ne? Mau ya?" Kata Mikan.
Tsuchiya berpikir sejenak dan ia pun menyetujuinya. "Baiklah, Mikan-san... Ah, maksudku temanku."
Dan mereka saling tersenyum satu sama lain. Mikan dan Tsuchiya memiliki kemistri yang cocok sebagai teman. Mereka berdua saja berharap andai saja bisa dipertemukan sejak awal, maka kecanggungan tidak akan pernah ada. Mereka berdua pasti akan menjalin persahabatan dengan baik.
"Ibu, pas sekali waktunya. Aku dan ibu mertua sedang membahas kisah cinta ibu mertua loh." Kata Melody. "Ibu nanti cerita juga ya bagaiman ibu bertemu dengan ayah, ok?" Lanjutnya.
Tsuchiya mengambil kursi dan meletakkannya di dekat tempat tidur. Melody dan Mikan di ranjang, sementara dirinya duduk di kursi.
"Tidak ada yang seru dengan pertemuan ibu dengan ayahmu, Mel. Kau ini tak bosan-bosannya ya bernya soal itu? Bukankah ibu sudah sangat sering menceritakannya kepadamu? Jangan bilang kau lupa?" Kata Tsuchiya.
"Tidaklah Bu, aku ini suka saja ketika ibu menceritakannya. Dari nada ibu bicara, aku merasa jika ibu itu sangat mencintai ayah." Kata Melody.
"Hah kau ini, sudah pasti ibu ini sangat mencintai ayahmu. Kau adalah wujud dari cinta kami!" Kata Tsuchiya.
"Hmm, sepertinya besanku memiliki kisah cinta yang seru juga. Bagaimana jika aku mendapatkan sedikit bocoran?" Sela Mikan yang tak mau hanya jadi pendengar saja.
"Ayolah Bu, ceritakan sedikit saja. Untuk selingan karena sebentar lagi, ibu mertua akan bercerita hal menarik." Kata Melody.
"Ayolah Tsuchiya-san..." Kata Mikan dengan sedikit menggoda. Ia butuh hiburan sebelum mentalnya terhantam dari kisah masa lalu yang membuat sesak di dada. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya setelah bercerita nanti. Maka dari itu, saat ini, ia ingi merasakan kebahagiaan terlebih dahulu meski hanya sedikit.
Tsuchiya menghela nafas. "Haah, baiklah. Aku akan meceritakannya. Intinya, aku dan ayahnya Melody, Dean, bertemu di taman bermain. Masing-masing dari kami itu datang berkelompok. Hanya saja sewaktu mau naik biang lala, kami berdua menjadi sisa yang tak bisa diangkut oleh sangkar burung yang hanya muat 4 orang saja itu. Akhirnya, kami yang memang antriannya terakhiran, mau tidak mau harus masuk di sangkar burung yang sama, dan ya, kami pun berkenalan di tengah kecanggungan karena berdua di dalam sangkar burung." Cerita Tsuchiya. Ia menahan malu. Bercerita hal seperti ini dengan Melody sih biasa, tapi ini? Ia malah sedang bbercerita dengan besannya.
Lihatlah itu, sebenarnya, apa Mikan memiliki mata yang berbinar-binar hanya dengan mendengarkan kisah masa lalu? Nampak antusias dan penasaran.
"Romatis... Ya ampun, takdir Tuhan unik ya... Ini jika kadi FTV, maka judulnya adalah Jodoh di Sangkar Burung Bianglala." Kata Mikan.
Melody dan Tsuchiya langsung tertawa. Mikan bisa saja.
.
.
.
Mengawali dengan senyuman, membuat semuanya harusnya merasa lebih baik. Namun, kisah yang akan Mikan ceritakan ini adalah yang paling menyakitkan.
Delapan tahun usia pernikahannya dengan Yudha, 7 tahun usia Yudha dan Alvin, Kazehaya Yoga meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Dalam kisah masa lalaluku didominasi luka yang menganga. Meski terselip kebahagiaan yang banyak pula. Namun, luka ini terlalu menyayat hati dan meninggalkan bekas luka sayatan yang tak bisa menghilang. Ini seperti lubang di hati yang tak bisa tertutup kembali. Ini seperti luka yang tak bisa terobati. Mengikis jiwa dan raga secara perlahan. Apabila aku wanita lemah, maka sudah dipastikan jika aku akan akan kehilangan jati diriku sendiri. Aku pasti bisa gila saat itu... Wahai diriku yang sejati, maafkan aku, kau harus kembali merasakan lukanya. Aku tak tahan hanya menikmati luka ini sendirian. Aku butuh teman untuk mendengarkanku. Aku butuh teman untuk menguatkanku karena lama-lama cahaya penerangan itu semakin meredup. Aku siap menceritakan semua masa lalu dari sudut pandangku sebagai Kazehaya Mikan." Batin Mikan.
Dengan keseriusan Melody dan ibunya, Tsuchiya-san, kisah masalalu pun dimulai.
FLASHBACK ON
MIKAN'S POV
Sudah seminggu aku dan Yudha meninggalkan rumah. Selama seminggu ini, kak Yoga sama sekali tidak menghubungiku. Ya sudah, lagi-lagi memang harus ya sudahlah.
Sebenarnya dia masih cinta tidak sih denganku? Masak dia tidak peka sih? Aku loh sudah memberi kode, tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Sial, sial, sial. Kenapa aku malah yang menjadi orang jahat? Aku meninggalkan rumah padahal statusku sebagai istri sah.
Aku memang harus kembali!
Biarpun aku keras kepala seperti ini, aku tetap harus menghadapi kak Yoga. Bagaimana pun dia adalah suamiku. Aku tak bisa selamanya seperti ini, kan?
Ini bukan pertengkaran yang pertama. Semua akan membaik seperti sedia kala, sama seperti yang sudah-sudah. Ya, akan seperti itu. Aku yakin. Aku dan kak Yoga bisa baikkan.
__ADS_1
.
.
.
Apa yang aku harapkan ternyata salah. Rupanya aku ini hanya terlalu percaya diri dimana aku meyakini semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginanku. Namun lihatlah saat ini, aku kembali bertengkar dengan kak Yoga.
"Kau sudah yakin dengan keputusanmu ini, Yoga-san?" Tanya diriku.
"Panggil aku seperti biasanya, Mikan! Aku menyukai ketika kau memamggilku dengan sebutan kakak." Kata kak Yoga.
"Kita akan segera menjadi orang asing, aku hanya sedang belajar sopan untuk membiasakan diri saat di masa depan, kita mungkin saja akan bertemu lagi. Aku harap sih tidak, lagi pula aku juga akan segera melupakanmu dalam waktu yang dekat. Orion akhir pekan akan datang. Aku bisa bermain dengan Orion dan Yudha sampai semalaman suntuk." Kataku.
"Kau sudah bukan anak kecil lagi! Jangan manja seperti itu! Banyak hal yang sudah kita lalui, teganya kau berkata sekasar ini?" Kata Kak Yoga.
"Sukanya protes dan banyak bacot. Belum puas? Aku pun selalu menjadi pihak yang akan kau salahkan separah apapun itu. Kau yang akan meninggalkanku dengan Yudha, harusnya aku yang marah? Bukan drimu!" Kataku sarkastik.
Kesal.
Aku sangat kesal.
Kak Yoga itu seperti orang yang tukang ngatur, baperan, dan suka membuat jengkel. Dia itu yang menyakitiku dan Yudha, kenapa dia yang marah-marah tidak jelas?
Apaan coba dengan barang-barang mewah yang ada di kamarku dan juga kamarnya ini?
"Mikan.. dengarkan aku dulu!" Pinta kak Yoga.
"5 menit!" Kataku dingin.
"Terlalu sedikit, Mikan!"
"Ya sudah kalau kau tidak mau, aku juga tak mau mendengarkanmu."
"Mikan!"
"Kak Yoga!"
Aku berani membalas perkataanya. Dia memakai nada yang keras, maka aku juga bisa jauh lebih keras dari kak Yoga.
"Mikan, aku mohon. Tolong dengarkan aku!" Pinta Kak Yoga.
"Ya sudah, cepet cerita!" Pintaku kasar.
Aku melihat kak Yoga menghela nafas panjang. Setelah seminggu tak jumpa, bukannya baikan, tali malah semakin memburuk.
Jika berada di posisiku, apa yang sebaiknya dilakukan?
Bertengkar beberapa kali, pisah ranjang, pisah rumah, saat kembali, eh diajak pisahan.
Plot cerita macam apa itu?
Kenapa menghampiriku? Apa memang aku ini selalu sial?
Berpisah dengan kak Yoga ya?
.
.
.
Kak Yoga mengajakku duduk di ranjang. Dia memegangi pundakku. Tanpa aku duga, dia mencium bibirku. Aku langsung menampar keras pipinya.
Apa-apaan dia itu?
Dia pikir aku ini apa, hah?"
Dia marah kepadaku, dia mengajak pisah denganku. Lalu ini? Dia menciumku!
Gila!
Tidak waras.
Kak Yoga pasti sudah gila!
Aku tak perlu menceritakan apa yang terjadi setelah itu, kan? Terlalu miris, aku sampai malu untuk menceritakannya.
Ya, dia meminta jatah padaku sebagai seorang istri yang harus melayani suaminya kapanpun suaminya butuh.
Menjijikkan.
Ini seperti pemaksaan.
.
.
__ADS_1
.
Aku menangis sekeras yang aku bisa di balik selimutku. Aku terlalu bingung memaknai dengan apa yang sedang aku alami saat ini. Tak berpakaian, tubuhku remuk, mataku sembab. Sangat buruk dan mengerian.
Aku berusaha berontak ketika kak Yoga ingin memelukku. Namun aku kalah tenaga, ia berhasil memelukku dalam dekapannya sambil tiduran.
"Aku sudah mengurus semuanya. Termasuk ahli warisku. Aku memutuskan untuk melanggar persyaratan darimu. Gomen, pada akhirnya aku ini hanya memanfaatkanmu." Kata kak Yoga.
"Ada alasan yang lebih masuk akal?" Tanyaku.
Kak Yoga tidak langsung menjawabnya. Tapi dia menanggapinya dengan polah. Aku merasa jika pelukkannya terhadapku semakin erat saja. Aku tidak melihat kedua matanya. Namun sepertinya aku tahu rasa ini. Rasa yang tak asing. Bukanlah rasa baru. Ini adalah rasa kepiluan yang amat dalam.
Karena kak Yoga memelukku dari belakang, maka aku bisa merasakan jika tengkuk leher belakangku itu basah.
Eh, basah?
Apakah itu artinya ada sesuatu yang terjadi yang dengannya?
Setelah menyetubuhiku, dia menangis? Dan ya, haruskah aku tertawa? Tambah terbahak-bahak.
Karena sudah lama tidak berhubungan intim, maka sekali melakukan sakitnya minta ampun?
Huwa, harusnya itu aku yang merasakannya bukan dia!
Dasar laki-laki aneh!
Aku sama sekali tidak bisa memahaminya saat ini. Meski aku mencoba menerka-nerka sebisa yang aku bisa, yang aku dapatkan hanya mungkin saja dia sedang sangat merindukanku karena sudah lama tak bertemu. Mungkin baginya seminggu itu adalah waktu yang sangat lama untuknya.
Jujur saja, aku pun juga merindukannya. Aku... aku sangat merindukannya.
Okelah jika aku akan dijuluki orang dengan penuh kontradisi karena apapun yang aku lakukan itu selalu bertentangan denga apa yang aku pikirkan.
Aku mencoba jauh dari kak Yoga, padahal aku sendiri sulit tanpanya. Aku sendiri menderita jika jauh dengannya.
Aku bilang aku membencinya, namun kenyataannya cintaku padanya justru semakin besar setiap harinya.
Setelah apa yang terjadi dengan rentetan kisah penuh luka antara aku dengannya, harusnya memang aku lebih baik berhenti melihatnya. Berhenti mencintainya. Sepertinya antara aku dan kak Yoga itu sama sekali tidak memilili kecocokan. Kami sering bertengkar. Ya aku juga sih yang keras kepala. Emosiku meluap-luap. Namun ini apa? Hanya dengan sentuhan darinya seperti ini, aku luluh dengannya.
Apakah semurah ini harga diriku?
"Kenapa kau menangis, Kak Yoga? Aku sudah melayanimu meski kau melakukannya dengan kasar. Aku tak menolakmu menyentuhku." Tanya Mikan.
"Aku merindukanmu." Gumam Kak Yoga.
Hangat. Mendengar jawaban darinya seperti ini, rasanya sangat hangat. Cih, cintaku padanya sedalam ini rupanya.
"Hanya merindukanku sampai menangis seperti ini rasanya tidaklah mungkin. Sesuatu sedang terjadi denganmu? Bukankah kau memiliki banyak waktu luang untuk bersama wanita itu dan Alvin? Aku kan tidak melarangmu. Kau bebas sesuka hatimu untuk menemui mereka." Kataku.
"Jika kau berkata seperti ini, aku menjadi semakin bersalah. Tolong jangan dingin terhadapku meski sebenarnya jika kau membenciku saat ini maka itu akan jauh lebih baik." Kata Kak Yoga.
Membencinya?
Apa yang sebenarnya sedang cona dia bicarakan sih? Bukankah selama ini dia selalu memintaku untuk tidak membencinya? Hal yang paling ditakutkannya adalah jika aku membencinya? Kenapa sekarang malah memintaku untuk membencinya?
Apa kak Yoga sedang dalam fase kontradisi seperti yang aku alami?
Aku tak mengerti.
Aku sama sekali tidak mengerti. Aku tak bisa membaca arah pikirannya.
Aku berbalik badan untuk menatapnya. "Apa maksudmu itu, Kak Yoga? Kau ingin aku membencimu? Kau yakin akan hal itu?" Tanyaku.
Ah, matanyanya penuh genangan air mata.
Apa sesakit ini? Aku yang hanya menatapnya saja bisa melihat jika itu adalah sakit yang amat sangat.
"Aku tak mau dibenci olehmu, tapi jika kau membenciku maka itu jauh lebih baik." Jawab Kak Yoga.
Sial, aku masih bingung.
"Kenapa membuat statment seperti itu?" Tanyaku yang penasaran.
"Karena..." Aku melihat kak Yoga sedang berpikir keras.
Alasan apa sih yang bisa membuatnya seperti ini?
"Karena jika kau membenciku, maka kau akan cepat melupakanku. Kau tidak akan merasakan lukanya dalam waktu yang lama." Jelas Kak Yoga.
Oh..
Oke, aku sepertinya sudah paham arah pembicaraannya.
"Kau sungguh akan meninggalkanku rupanya ya?" Tebakku.
"Ya." Jawabnya singkat.
Tatapanku mendingin seketika kepadanya. Ternyata seperti ini akhir dari kisahku dengan kak Yoga ya?
__ADS_1