MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kembali ke Kisah Normal


__ADS_3

Ringkasan Flashback Versi Umum yaitu bahwa Kurenai membohongi Tuan Han perihal ayah kandung Alvin. Ia melakukan ini untuk melindungi Alvin. Tentulah Tuan Han percaya karena ia sendiri juga sering melakukan hubungan intim dengan Kurenai di awal-awal sebelum akhirnya bisa menjebak Yoga.


Mungkin bagi Tuan Han ini adalah kebodohan yang paling besar dalam hidupnya. Sesempurna apapun itu, tetap akan memiliki celah. Kesalahan-kesalahan itu akan selalu ada dan akan menjadikannya cacat.


Kurenai juga berbohong pada Yoga soal ancaman pembunuhan itu. Sebenarnya Tuan Han hanya menyuruhnya membujuk Yoga agar keluar dari Tokyo dan meminta Yoga memastikan Alvin sebagai ahli warisnya Yoga.


Harapan Kurenai bisa menyingkirkan Tuan Han karena berseteru dengan Kazehaya Wijaya. Namun Tuhan membawa takdir lain, malam bulan purnama berdarah itu justru merenggut nyawa Yoga.


Itu sama sekali tak pernah ia pikirkan. Dan ia akui, ia termasuk penyebab Yoga meninggal. Andai saja ia tak ngotot kembali ke Tokyo karena ternyata Yoga memilihnya dengan Alvin dengan meninggalkan semua tahta dan kekuasaannya, mungkin saja Yoga tidak akan meninggal. Mungkin saja tidak akan berakhir tragis.


Semua sudah terjadi, itu masa lalu. Kini, ia sedang menjalankan rencananya. Ia sangat senang karena akhirnya, Kazehaya Yudha sosok yang kemungkinan besar ada di dalam surat wasiat Yoga sebagai ahli waris sah Emperor Group sudah berada dalam genggamannya.


Yudha pingsan dengan luka di kepala dan lengan.


Kurenai menatap penuh senyum sosok Yudha yang tak berdaya dari balik pintu.


"Pastikan dia jangan sampai mati!" Kata Kurenai.


"Baik, Nyonya!"


Kurenai berjalan ke ruang tengah untuk menemui Tuan Han. Ia dengan ceoat mengubah mimik wajahnya. Ia akan memerankan perannya dengan sangat baik. Tuan Han adalah sosok yang harus ia tangani dengan hati-hati. Salah-salah malah tinggal nama. Salah ambil langkah, kiamat sudah.


"Kau nampak bahagia." Kata Tuan Han. Ia sedang menikmati wine miliknya. Ia melirik ke arah Kurebai yang berjalan mendekatinya.


"Saya selalu berharap jika Alvin itu satu-satunya yang diakui sebagai keturuan Yoga. Jika Yudha mati, maka semua akan sangat mudah. Alvin akan menjadi kanditat utama sebagai penerus dan ahli waris tahta Emperor group dan keluarga Kazehaya. Tua bangka itu pun sudah tak bisa apa-apa." Kata Kurenai.


Membuat Yudha mati?


Itu ide menarik, tapi tunggu dulu. Membuat Yudha mati itu gampang, tapi itu sama sekali tidak menarik. Jika sudah mati maka akan selesai begitu saja. Titik. Tidak seru, kan? Bagaimana dengan menyiksa secara perlahan? Menikmati setiap sakit dan penderitaan Yudha bukankah akan lebih mengasyikkan?


"Aku mengerti keinginanmu yang menggebu-gebu itu. Namun aku memiliki rencanaku sendiri. Aku akan membuat keluarga Kazehaya merasakan sakit secara perlahan-lahan. Aku ingin mereka tak bisa menentukan cara mereka mati meski mereka ingin mati sekalipun. Sebaiknya kau tak bergerak di luar kendaliku, kau pun bisa aku bunuh kapanpun aku mau." Kata Tuan Han.


Perkataan yang membuat merinding. Terdengar sangat serius dan tidak main-main. Kurenai tahu bagaiman sifat asli Tuan Han. Sosok Master yang memenjarakan jiwanya ini lebih dari sekedar iblis dimana nyawa di hadapannya sama sekali tak bernilai. Ini seperti seenggok daging busuk yang di buang ke tong sampah begitu saja.


Termasuk nyawanya sendiri.


Kurenai tahu, jika sudah sepah, sudah tak manis lagi, maka Tuan Han pasti akan membuangnya. Membuang masih mending, sepertinya dibunuh adalah kemungkinan terbesar.


Namun kembali lagi, ia akan kembali memerankan perannya untuk bertahan di dalam pertarungan hidupnya yang keras.


Ratu acting atau ratu drama, katakanlah artis yang bisa memainkan banyak peran, silahkan nilai sendiri. Ia sama sekali tak keberatan akan hal itu. Itu justru akan membuat perjuangannya lebih mulus.


Apapun yang terjadi, Tuan Han harus bisa ia kendalikan.


Kurenai hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Tuan Han. "Mana mungkin saya berani melawan Anda, Tuan Han. Saya ini cukup sadar diri dengan posisi saya. Saya hanyalah sekedar budak Anda. Anda memperhatikan saya hanya karena saya ini adalah ibu dari anak Anda, tidak lebih dari itu.." Kata Kurenai sok merendah.


Dan sepertinya Tuan kemakan omongannya. Tuan Han terlihat jumawa ketika ia mengucapkan kata budak. Tuan Han memang tipikal laki-laki yang ingin dianggap superior. Dalam hati ia menyeringai, semengerikan apapun laki-laki di dunia ini, tetaplah akan memiliki kekurangan, dan saat diri tahu apa kelemahannya, maka tak sulit untuk mengendalikannya. Yang dibutuhkan hanya perlu memiliki pola pikir cerdik dan licik.


"Baguslah, kau awasi saja suamimu itu, diam-diam orang-orangnya menyelinap ke Kyoto. Aku tak ingin Kyoto disusupi yakuza lain seperti yakuza Macan Selatan." Kata Tuan Han.


Dugaannya benar, Tuan Han lumayan terganggu dengan gerak-gerik dari suaminya, Uchiyama Azumane. Jujur saja, meskia sudah menikah dengan Azumane tapi ia sama sekali tidak memahami laki-laki ini.


Namun, jika Azumane membuat masalah dengan Tuan Han, sepertinya akan bagus juga untuknya. Ini seperti, biarkan saja mereka bertarung sampai mati, lalu pihak yang melihat tinggal menikmati hasilnya saja.


"Ya, saya akan mengawasi dia. Lalu, apakah benar jika Alvin kini bisa menjajaki bisnis di Kyoto? Bukankah dia yang berperan penting dalam tertangkapnya Yudha? Itu syarat yang kau ajukan kepadanya, kan?" Tanya Kurenai.


"Jika dia berani ambil langkah, maka sudah dipastikan jika dia akan menjajaki bisnis di Kyoto. Anak itu sangat cerdas. Ingat, dialah yang menyembunyikan Melody ketika kita ingin menculiknya. Aku masih belum benar-benar percaya dengan anak ini." Kata Tuan Han.

__ADS_1


Tuan Han mengerti jika Alvin tak tumbuh dan besar dalam pengawasannya. Alvin akan memasuki usia 23 tahun bulan ini. Alvin akan bisa memutuskan keputusan sesuai dengan cara berpikirnya. Katakanlah Alvin sudah cukup dewasa untuk berdiri di kakinya sendiri.


Tuan Han tidak bisa serta merta memepercayai Alvin sebelum ia yakin benar-benar sudah mengendalikannya.


"Aku harus membuat Tuan Han berhenti mencurigai Alvin. Bisa gawat jika dia tahu yang sesungguhnya terjadi... Cih, bocah itu selalu saja sulit melupakan wanita bunting itu." Batin Kurenai. "Wine di gelas Anda sudah kosong. Apakah Anda ingin minum lagi?" Tanya Kurenai.


"Hn. Boleh." Kata Tuan Han.


Kurenai menuangkan wine ke dalam gelas yang kosong milik Tuan Han. Ia menuangnya sampai tiga per empat dari gelas itu. Suara air yang mengalir terdengar mendominasi ruang tengah yang menghasilkan suara gema itu.


Tuan Han menggoyangkan gelas wine miliknya itu. Ia kemudian meminumnya. Wine buatan tahun 1998, wine tua dan harganya sangat mahal. Semakin tua umur wine, kadar alkoholnya akan semakin tinggi. Harganya juga akan mengikuti.


"Alvin itu sangat mencintai Melody, tak bisa melupakannya meski Melody sudah menikah dengan Yudha dan bahkan sedang hamil juga." Jelas Kurenai.


Kurenai sendiri sama sekali tidak paham bagaimana Alvin bisa sangat tergila-gila pada Melody. Melody sudah menikah dengan Yudha dan sedang mengandung anak Yudha pun, Alvin masih tetap sangat mencintai wanita itu. Menurutnya, wanita yang jauh lebih cantik dari Melody di luar sana masih banyak. Model, pramugari, artis, atau putri keluarga kaya-raya juga masih banyak. Namun Alvin sama sekali tidak tertarik. Di kepala Alvin, wanita yang dicintai hanyalah Melody seorang.


Kurenai sudah lelah untuk menyadarkan Alvin. Ia sampai kesal sendiri jika mengingatnya. Ujung-ujungnya ia justru akan bertengkar dengan putra semata wayangnya itu.


"Dasar laki-laki bodoh. Dia itu bisa melakukan apapun untuk mendapatkan wanita yang lebih dari Melody. Yang bisa melakukan apapun yang disuru. Lha ini? Masak iya wanita hamil dikejar-kejar." Kata Tuan Han tak habis pikir.


Bandingkan dengan dirinya. Dirinya itu sangat mudah mendapatkan wanita-wanita yang ia inginkan. Meski sekelas artis sekalipun. Lalu bagaimana bisa Alvin yang ia ketahui sebagai anaknya itu justru hanya jatuh cinta pada seorang wanita? Sudah hamil lagi. Dengan ketampanan Alvin, mudah baginya untuk memilih satu atau sepuluh wanita sesuai keinginannya.


Sebenarnya Tuan Han ingin tertawa juga. Apa ya, Alvin itu sangat berkebalikan dengannya.


"Alvin bilang dia bersedia jadi raja asal Melody bisa dimilikinya. Saat ini ia sedang mati-matian bertarung untuk merebutkan tahta dari Emperor Group." Kata Kurenai.


Alvin bersedia jadi raja asal Melody menjadi milik Alvin?


Tuan Han meletakkan wine yang tadi diminumnya. Alvin rupanya laki-laki dengan tujuan yang jelas. Ia tak akan meremehkan laki-laki dengan pola pikir seperti ini.


"Ho, jadi jika aku bisa memanfaatkan Melody dengan baik, maka Alvin akan menuruti semua keinginanku. Haha. Ide menarik, bukan?" Seringai Tuan Han.


Itu sangat mengerikan!


"Aku jadi penasaran dengan Melody. Sehebat apa dia sehingga Alvin sampai rela melakukan banyak hal untuknya." Kata Tuan


Han.


Tuan Han kembali menyeringai. Ia tersenyum tipis ketika mengingat beberapa waktu sempat berjumpa dengan Melody. Ia akui, wanitanya Yudha itu memiliki aur yang tak biasa. Ia merasa seperti tersedot ke dalam aura yang Melody pancarkan itu.


Aura yang membuatnya haus darah.


"..." Apa Tuan Han akan mengincar Melody lagi? Atau mungkin Tuan Han memiliki rencana lain lagi?


"Ada yang aneh ketika aku menatap Melody. Rasanya aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Rasanya aku sangat marah padanya dan ingin sekali menebas lehernya." Kata Tuan Han. Ini benar adanya. Tak hanya haus darah, tapi seperti mengingatkannya pada kejadian masa lalu.


Sungguh, ini membuatnya sangat penasaran.


"Mungkin saja Anda pernah bertemu dan memiliki masalah dengannya sebelum ini?" Tebak Kurenai asal.


"Siapa sih dia? Asal usulnya saja tidak cukup menarik untukku. Lahir dari kalangan biasa yang beruntung masuk ke dalam keluarga Kazehaya. Ini hanyalah perasaanku saja." Gumam Tuan Han.


"Tuan Han, mungkin Anda memang memiliki keinginan untum menebas leher Melody. Namun, sebaiknya Anda jangan pernah melakukannya. Jika sampai Melody meninggal, sudah bisa dipastikan Alvin akan sangat sulit dikendalikan. Dia akan menghancurkan semua yang menyakiti Melody."


Tuan Han tersenyum. "Aku mengerti apa resiko dari langkah yang aku ambil. Aku tak akan gegabah sebelum semua berada di dalam genggamanku. Tinggal menunggu kabar dari tim yang mencari Shuhei dan stempel itu. Aku belum bisa santai."


"Terakhir mereka bilang jika mereka berhasil menemukan mobil yang dipakai oleh Shuhei di dalam sungai. Harusnya tak lama lagi kita akan mendengar kabar dari mereka."

__ADS_1


Tuan Han menggoyang-goyangkan wine yang ada di dalam gelas. "Hal paling menyenangkan ketika memiliki kekuasaan adalah duduk santai di atas kursi tahta dan menunggu hasilnya. Biarkan mereka yang bekerja dan aku hanya perlu menikmatinya." Ia lalu meneguk habis wine itu.


"Anda ingin tambah, Tuan Han?" Tawar Kurenai.


Tuan Han menyodorkan gelas kosong miliknya. Kurenaipun menuangkan kembali wine ke dalam gelas itu. Ini sudah beberapa kali, tapi Tuan Han sama sakali belum menunjukkan gejala mabuk atau apa. Tuan Han adalah peminum yang baik.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain, Melody terbangun dari tidurnya. Ia mimpi buruk. Ia sudah meyakinkan diri jika itu hanya mimpi belaka. Namun nyatanya ia tetap sulit untuk tidur kembali.


Ia memegangi dadanya. Rasanya sesak dan sangat sakit sekali.


"Ini hanya mimpi tapi nyerinya nyata. Ya Tuhan, tolong lindungilah Yudha dimana pun dia berada saat ini! Aku harap dia baik-baik saja. Aku harap di selamat dan tak kenapa-kenapa... Hikss, berat. Ini sangat berat, Yudh.. Kenapa aku lagi-lagi harus berjuang melalui malam tanpamu sih? Aku tak bisa terus seperti ini! Aku harus melakukan sesuatu! Maafkan aku, Yudha! Maaf, karena aku tak akan menurutimu. Aku akan bergerak dan menyelamatkanmu!"


"Kenapa kau terbangun, Mel?" Tanya Tsuchiya.


Melody tidur ditemani oleh ibunya. Ibunya memutuskan untuk tinggal di rumah sakit menemani putri tercintanya itu. Ia tak bisa, ia tak mau melihat Melody berjuang sendirian tanpa ada dukungan dari sosok seorang ibu. Mungkin Melody tidak mengharapakannya, Melody cukup kuat secara mental. Namun bagaimana pun dirinya adalah ibu dari Melody. Ia sangat menghawatirkan Melody lebih dari siapa pun.


"Maaf, ibu terbangun ya? Maaf sudah mengganggu tidur ibu." Kata Melody.


Tsuchiya mengusap rambut Melody. Melody sampai keringat dingin seperti itu.


"Kau mimpi buruk?" Tebak Tsuchiya.


Melody tak bisa menyembunyikan apapun pada ibunya. Meski ia berusaha berbohong pun lama-lama juga ibunya akan mengetahuinya.


Akhirnya ia pun mengangguk. Ia memang sedang mimpi buruk. Mimpi buruk tentang Yudha.


"Aku bermimpi Yudha dan aku terpisah jurang yang sangat dalam, Bu. Aku dan dia ingin bersatu, tapi jurang itu semakin lebar dan semakon lebar memisahkan kami. Aku sangat takut jika aku dan Yudha tidak akan bisa bersama lagi. Aku tak bisa tanpa Yudha, Ibu. Yudha.. Yudha.. Yudha adalah hidupku saat ini, Bi.." Tangis Melody.


Tsuchiya memeluk Melody dengan sangat erat. Ia membiarkan anaknya menangis di dalam pelukkannya. Ia tidak akan meminta Melody untuk berhenti menangis. Karena menurutnya dengan menangis maka beban yang dirasa akan semakin berkurang.


"Mimpi buruk kebanyakan hanya kembang tidur. Yudha berpisah denganmu dan terjebak dalam bahaya. Kau memikirkannya, sangat memikirkannya jadi secara tidak langsung kau sangat khawatir. Khawatir yang besar akan terbawa sampai ke alam bawah sadar. Kau pun jadi memimpikan dirinya." Jelas Tsuchiya.


"Iya. Aku memang sedang kepikiran soal Yudha. Aku khawatir jika hal-hal buruk akan menimpa dirinya. Ibu, aku sangat mencintainya. Apa ini artinya perasaanku terhubung dengannya."


"Ya. Dua orang yang saling mencintai itu perasaannya akan terhubung. Bisa saling berbagi rasa meski raga terpisah. Jika kau sangat menghawatirkannya, berdoalah pada Tuhan dan memohonkan keselamatan untuknya! Saat ini, hanya Tuhan yang mampu menolongmu dalam suasana kekalutan hatimu."


Melody mengangguk. Semua memang akan kembali pada Tuhan. Ia hanya bisa memohon pada Tuhan agar Yudha dilindungi dari segala mara bahaya yang menghadang.


Tsuchiya mengambil air mineral yang ada di meja kamar. Ia memberikannya kepada Melody. "Minumlah dulu agar kau tenang!" Kata Tsuchiya.


Melody meminum air mineral pemberian dari sang ibu. Rasa dingin dari air mineral itu membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.


"Terima kasih banyak, Ibu. Aku merasa jauh lebih baik."


Tsuchiya tersenyum. "Sekarang, sebaiknya kau kembali tidur! Ini masih terlalu malam untuk terjaga. Ingat, meski kau tak bisa berhenti menghawatirkan Yudha, tapi saat ini kau mengandung anaknya Yudha. Ada dua nyawa yang harus kau jaga. Dengan menjaga tubuhmu, kau sudah menjaga anak-anakmu juga."


Melody mengusap perutnya. Sudah sangat besar. Berisi dua nyawa hasil dari hubungannua dengan Yudham


"Aku mengerti, Bu. Aku akan menjaga baik diriku ini sampai Yudha pulang nanti. Aku percaya jika suamiku itu akan pulang dan kami akan kembali berkumpul lagi seperti dahulu. Seperti sedia kala dimana kami akan tertawa bersama penuh dengan canda dan tawa. Aku sangat mempercayai kekuatan cinta kami." Senyum Melody.


Tsuchiya kembali ikutan tersenyum. "Anakku itu lebih kuat dari siapa pun. Gambare, Melody-chan!"

__ADS_1


"Hai, Okaa-san. Arigato gozaimasu."


__ADS_2