
Another side...
Melody hampir menangis kebingungan tidak jelas. celingak-celinguk kesana kemari. Keringat mengalir cukup banyak di pelipisnya. Nafasnya kembang kempis.
"Ini dimana?" Gumamnya. "Bukankah seharusnya jika aku berjalan di jalan ini aku akan kembali ke hotel? Kenapa jalan ini gelap sekai? Tunggu, kenapa jalannya seperti tidak berujung? Itu hutan, kan? Banyak pepohonan, bebatuan, lalu jurang? Astaga, apa artinya. Aku tersesat?"
Auuwwww.
Auuwwww.
Suara serigala terdengar dari jurang hutan di sisi jalan. Melody menggenggam erat rok pendeknya. Sunggguh, ia tidak menyukai ini. Sangat menakutkan.
"Aku harus lanjut berjalan. Aku yakin akan menemui halte, setidaknya telepon umum."
Terus, dan terus berjalan mengikuti jalan raya setapak itu. awalnya ia bisa melihat saat di area terbuka, namun, entah mengapa, semakin ia berjalan maju, jalan itu mulai gelap karena rindangnya pepohonan hutan yang memayungi jalan. Seolah menutupinya.
Jika di siang hari jelas akan sejuk, karena menopang panas matahari, tapi dengan malam hari? Cahaya bulanpun samar-samar.
Gelap.
Menakutkan.
Suara alunan serigala menambah merinding tubuhnya.
Sungguh.
Melody merasa sangat ketakutan. Ia bahkan tidak bisa melangkahkan kakinya lebih cepat karena jalanan agak menanjak. Ia sudah lelah berjalan. Ia yakin, lebih dari sejam berjalan, itu artinya sudah dua kilo lebih ia lalui.
Pasti lebih mengingat kakinya yang sudah sangat pegal dan lelah.
Sangat haus lagi.
Kakinya yang terasa pegal kesulitan untuk digerakkan. Ia bahkan sampai terjatuh tersungkur.
Ia meringis kesakitan. Memegangi ke dua lututnya yang lecet karena terjatuh. Ia merasa menyesal telah memakai rok pendek. Luka lecet di lutut sangatlah sakit. Parahnya lagi, pergelangan kakinya terkilir.
Ia benar-benar menangis sesegukkan.
"Yudha. Tatsukete kudasai! Selamatkan aku!" Melody sedikit memijat pergelangan kakinya yang lecet.
Tatsukete kudasai: Selamatkan aku.
.
.
__ADS_1
.
Melodi Cinta.
.
.
.
"Sai, aku akan mencoba menyusuri jalan itu. Kau lanjutkan saja jalan ini. Mungkin saja Melody mengambil jalan itu." Alvin menunjuk jalan raya yang cukup lebar itu.
"..." Sai menatap jalan yang ditunjuk Alvin.
"Mia bilang dia dan Ayumi mengajak Melody ke festifal musim panas di desa seberang. Aku akan mencarinya di sana."
"Kau yakin, Alvin? Sudah jam segini, kurasa Melody sudah kembali karena bus di Okinawa hanya sampai jam 9 malam."
Kata Sai.
"Kau benar, tapi apa salahnya memeriksa? Aku hanya ingin memastikan saja."
Sai melihat lagi ke sepanjang jalan yang dimaksud Alvin.
"Jalan itu adalah jalan panjang jarang penduduk. Jurang dan hutan! Apa menurutmu Melody lewat jalan seperti itu?" Kata Sai. "Lagian, bagaimana caramu kesana? tidakkah sebaiknya kita bersama-sama?"
"Aku akan membeli sepeda di toko itu." Alvin menunjuk sebuah toko. Nampak sepeda parkir dari balik kaca toko.
"..." Ide Alvin lumayan juga pikir Sai.
"Kalau kita berpencar, kita akan lebih cepat menemukan Melody."
Kata Alvin yakin.
Sai sejenak berfikir. "Baiklah, tapi berhati-hatilah. Jalanan malam hari cukup berbahaya. Hubungi aku jika terjadi sesuatu!"
Alvin mengangguk dan keluar dari mobil Sai. Ia menyeberang jalan dan membeli sebuah sepeda dengan boncengan di belakang. Sepeda cewek?
Ia tidak perduli. Rasanya ia ingin segera menemukan Melody.
Sungguh, hatinya benar-benar sangat khawatir. Ia gusar dan tidak tenang.
Ia tahu betul bagaimana Melody itu. Melody buta arah jika di lingkungan yang baru. Melody juga tak begitu pandai mengingat tempat baru.
Sebelumnya, Melody juga pernah tersesat.
__ADS_1
Saat itu di hutan. Kemah waktu SMA. Melody menangis terisak saat ditemukan. Alvin bisa mengingat dengan sangat jelas wajah ketakutan Melody saat itu.
Sebagai seniornya di SMA dan sekaligus kekasih Melody saat itu, tentu saja, rasa khawatir luar biasa ia tunjukkan. Bahkan saat inipun, meski hubungannya dengan Melody sudah berbeda, tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menyembunyikan rasa khawatirnya itu.
Sai bahkan memikirkan tentang betapa khawatirnya Alvin akan menghilangnya Melody. Sempat terlintas banyak opini di otak Sai, tapi Sai mencoba mengesampingkan. Rasanya ia harus fokus mencari Melody. Melody harus segera ditemukan agar Yudha tidak mencak-mencak seperti kebakaran jenggot.
Hubungan antara Melody dan Alvin di masa lalu, hanya Mia yang tahu.
.
.
.
Ayumi dan Mia juga tak tinggal diam. Mereka berdua menyisir tempat-tempat yang sempat mereka kunjungi. Mia kesal setengah mati karena mendapat amarah dari Yudha. Tapi ia juga ingin tertawa karena Yudha bisa out of character seperti itu karena Melody menghilang.
Sepanjang jalan, ia dan Ayumi tak hentinya membahas bagaimana ekpresi khawatir dari Yudha. Mereka berdua berniat menceritakannya pada Melody. Mungkin saja Melody akan senang?
Harus, kan? Seorang suami menghawatirkan istrinya?
Mia berharap jika saat ini yang ia lihat adalah sebuah kemajuan.
"Jika Melody menyuruh kita untuk pulang duluan, dia harusnya menyusul pulang, kan? Tapi, ini sudah lewat dari tiga jam, dan dia belum juga kembali! Bodohnya aku, kenapa aku membiarkannya pergi sendirian? Jika akan terjadi seperti ini, tadi aku akan menemaninya!" Kata Mia.
"Mia sudah.. Jangan menyalahkan diri seperti ini. Tenangkan dirimu!" Pinta Ayumi. Ia juga harus tenang.
"Itu bocah kemana saja, hah? Ponsel tidak aktif, jika batre habis, bukankah bisa numpang ngecas di toko atau warung makan? Apa dia tidak punya pikiran seperti itu? Dan lagi, kenapa Yudha tidak mendengar penjelasan kita lebih lanjut. Dia langsung menyelonong pergi begitu saja. Dia bahkan menyebar semua teman-temannya untuk mencari Melody. Padahal, bukankah sebaiknya mencari Melody di tempat yang tak jauh dari pertama kali dia menghilang?" Gerutu Mia.
"Mia-chan sangat menghawatirkan Melody ya. Aku sudah mengirim pesan pada Yudha jika kita tadi pergi agak jauh dari hotel. Aku juga memberitahunya jika kita naik bus ke tempat itu. Tenang saja, entah kenapa aku yakin jika Melody akan segera ditemukan." Ayumi mencoba menengankan Mia lagi.
Wajar saja jika Mia khawatir. Ini adalah hal yang memang sewajarnya dilakukan oleh seorang sahabat.
"Dulu dia pernah tersesat di hutan sewaktu SMA. Dia sangat ketakutan. Aku bisa merasakannya. Dia memelukku dengan sangat erat. Tubuhnya bergetar hebat dan tentu saja aku yakin dia akan ditemukan, yang kita bicarakan di sini adalah suaminya, aku yakin Yudha akan mengerahkan pasukkannya, kepolisian, atau bahkan media massa untuk mencari Melody jika sampai besok Melody tidak ditemukan.. Tapi, aku hanya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Melody. Okinawa memang destinasi wisata, tapi masih banyak daerah bulak alas kosong yang sepi. Jika Melody sampai ke daerah itu, aku sungguh tidak tahu harus bagaimana."
Ayumi mencoba mengerti. Ia juga sama khawatirnya dengan Mia. Melihat kekhawatiran Mia, Ayumi yakin jika Mia adalah sosok sahabat luar biasa bagi Melody. Melody itu sangat baik, bukan suatu hal mengejutkan jika Melody memiliki sahabat yang bisa diandalkan seperti Mia.
.
.
.
"Festival musim panas? Apa-apaan mereka itu? Meminta ijin belanja baju tapi malah mengunjungi festival musim panas di daerah pedesaan? Jarak hotel dengan daerah itu sekitar empat-enam kilometer atau bahkan lebih. Jika naik bus membutuhkan waktu sekitar 20 menit, harusnya Melody bisa dengan mudah kembali. Tapi ini sudah 3 jam semenjak Mia dan yang lain kembali. Sial, bus di sini bukan seperti di Tokyo yang datang setiap saat. Apa artinya Melody tidak menemukan bus? Jalan kaki pasti nyampai! Tapi, kasihan juga kalau jalan. Haaahhh. Otakku bual, Melody kau dimana?"
Yudha yang kelimpungan kembali melanjutkan pencarian Melody. Beruntung atau bagaimana, nyatanya ia berjalan sudah cukup jauh dan pas sekali dengan tempat yang Ayumi beritahu. Di depannya ada pertigaan, ambil kanan, maka ia akan bertemu dengan daerah pencarian Sai dan Alvin.
__ADS_1
Setahunya, di sana ada jalan menuju desa tempat festival musim panas yang Ayumi maksud.