MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Standar Bahagia


__ADS_3

Pulang PKL, Melody dan Mia berjalan bersama. Berjalan perlahan-lahan sambil menikmati senja yang menguning. Matahari sore kota Miyagi nampak indah karena langit sedang cerah.


Kuning keemasan, jingga kemerahan, biru keunguan, putih dan sedikit semburat merah. Bukankah Tuhan sudah melulis langit dengan sangat indahnya?


Jika mengalami hal seperti ini dan sampai detik ini masih bernafas, tolong sempatkan diri untuk bersyukur kepada-NYA! Tolong sempatkan diri untuk berterima kasih kepadanya!


Maha karya Tuhan memang tak ada duanya. Tuhanlah yang pemilik dunia ini dengan segala isinya. Tuhan Maha Pencipta. Tuhan Maha Kuasa.


"Langit senja sangat indah ya?" Kata Melody. Ia tak henti-hentinya memandang langit.


"Iya, kau benar. Langit senja ini memang nampak indah." Kata Mia yang ikutan memandang langit serta mengaguminya.


"Jadi kangen Yudha." Gumam Melody.


"Jiah! Jangan bilang kau melihat wajah Yudha di atas langit sana!"


"Sayangnya aku memang mrlihatnya. Astaga, dia tersenyum padaku!"


"Cih. Lebay deh! Jangan halusinasi soal Yudha terus kenapa sih, Mel?" Kadang Mia merasa jika Melody justru menderita karena terlalu merindukan Yudha. Ia menjadi khawatir karena ujung-ujungnya Melody malah seperti menyakiti dirinya sendiri.


"Rindu yang berat. Efek kehamilanku benar-benar merepotkan. Sebenarnya aku ingin biasa saja, tapi terlalu sulit mengendalikan emosiku. Apa semua ibu hamil seperti yang aku alami, Mia?"


Mia menatap Melody. Benar, meski menurutnya itu berlebihan, tapi ia tahu jika saat ini Melody hanya sedang jatuh cinta pada Yudha, dan kehamilannya itu mempengaruhi emosi dan mood-nya Melody.


"Aku tidak paham, tapi, sepertinya sedikit belajar untuk tidak terlalu merindukan Yudha! Kau menjadi kesulitan kan jika terlalu merindukannya?" Saran Mia.


Melody mengangguk-angguk. "Baiklah, aku akan mencoba saran darimu. Aku akan mencoba menguatkan hatiku. Jadi meski aku sangat merindukannya, aku menjadi bisa menahan rasa rinduku." Kata Melody. "Ayo kembali ke kost!" Ajak Melody kemudian.


"Iya, Mel. Gambarimasho! Ayo pulang!"


Mereka berdua lanjut jalan pulang ke kost. Ketila baru beberapa kaki melangkah, tiba-tiba Melody sempoyongan. Melody limbung.


"Astaga Mel, kau tidak apa-apa?" Tanya Mia khawatir.


Melody hampir saja terjatuh jika tangan Mia tidak sigap menangkap lengan Melody.


"Aku tidak apa-apa, Mia. Hanya sedikit pusing." Jawab Melody. Ia memilin keningnya.


"Tadi benar-benar sangat bahaya. Coba Mel, kita duduk di bangku itu dulu!" Kata Mia.


Melody mengangguk dan mengikuti Mia duduk di kursi yang ada di pinggir trotal jalan. Mia lalu memberikan air mineral yang selalu ia bawa kepada Melody. Dengan perlahan, Melody meminum air mineral pemberian Mia itu.


Rasa hambar tapi segar air mineral itu membasahi mulut dan kerongkongan yang mengering.


"Dari kemarin kau seperti ini terus, Mel. Apa perlu aku hubungi Yudha?" Tanya Mia.


Melody kembali memilin keningnya. "Tidak perlu Mia, terima kasih. Aku hanya anemia ringan saja kok. Biasalah, ibu hamil. Kau tahu itu."


"Tapi ini terlalu sering, Mel. Bukannya ibu hamil itu justru lebih mudah terkena darah tinggi? Kenapa kau malah mudah terkena anemia?"


"Aku kan banyak kegiatan, jadi mudah lelah. Sudahlah, nanti juga akan membaik."


Mia mencari sesuatu yang mengganjal di mata Melody. "Kau sedang kepikiran apa?"


"Tidak.."


"Jangan bohong, Mel! Aku tahu kau memikirkan sesuatu yang cukup serius. Aku tak ingin memaksamu, tapi bisakah kau membaginya padaku?"


Masalah akan terasa lebih ringan saat bisa menceritakannya pada sahabat. Apakah konsep seperti itu bisa diterapkan kepada Mia? Melody sangat mengenal Mia. Sahabatnya yang satu ini adalah sahabat yang luar biasa untuknya. Sahabat yang Tuhan kirimkan langsung dari surga. Jika saat ini kegundahan hati sedang menyapa, apakah Mia sosok yang tepat untuk sekedar menghiburnya?


Hei, pantaskah ia meragukan Mia yang sudah begitu berjasa dalam hidupnya? Jika iya, maka itu sungguh tidak sopan!


"Mia, aku ini jahat ya?" Kata Melody yang akhirnya memilih untuk buka suara.


"Jahat bagaimana?" Tanya Mia.


"Aku dulu jahati Yudha dan Yura karena pernikahan perjodohan ini. Saat ini, aku jahati Alvin-senpai. Aku menyadari banyak hal akhir-akhir ini, Mia." Jawab Melody.


Mata lelahnya menatap ke depan. Menatap ke jalanan utama perfektur Miyagi. Ada cukup banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan. Beruntung, tidak terlalu bising di telinganya.


"Tentang kau yang memilih menikah dengan Yudha?" Tebak Mia.


Melody mengangguk. "Ya.."

__ADS_1


"Apa kau akan memilih tidak menikahi Yudha seumpama dulu kau tahu jika mereka bersaudara?" Tanya Mia.


"Tentu saja, tidak! Meski awalnya aku menikah dengan Yudha karena bisnis, meski pada saat itu juga aku tahu dia bersaudara dengan Alvin-senpai sekalipun, aku akan tetap akan memilih Yudha sebagai suamiku." Jawab Melody.


"Kenapa kau bisa seyakin itu padahal Yudha asing buatmu? Sementara Alvin-senpai adalah orang yang sangat menyayangimu. Kau bahkan tahu itu dengan pasti."


"Karena saat aku memilih Alvin-senpai, aku akan semakinn menyakitinya."


"Melody, jadi benar perasaan cinta itu tidak ada untuknya?"


"Tidak ada. Maafkan aku.."


Jujur Mia tidak begitu kaget akan fakta ini. Sekali lagi, ia memang sangat mengenal Melody. Sewaktu Melody memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Alvin secara tiba-tiba, ia sadar, Melody tersiksa akan rasa bersalah karena tidak bisa membalas ketulusan perasaan Alvin.


"Karena saat ini kau merasa sedang menjahati Alvin, apa itu artinya kau seolah-olah memberi harapan palsu pada Alvin akan semua tingkahmu saat kau sedang bertengkar dengan Yudha?" Tanya Mia.


"Iya. Seharusnya aku tak lari pada Alvin ketika aku dan Yudha sedang bertengkar. Ne Mia, aku ini memang sangat jahat ya? Sukanya datang saat membutuhkan saja."


"Ya, kau memang sangat jahat, Mel!"


Melody menangis. "Lalu aku harus bagaimana, Mia? Semua sudah terlanjur. Kata maaf saja pasti tidak akan pernah cukup."


"Tegaslah!"


"Eh?"


"Tegaslah pada Alvin!"


"Itu akan semakin menyakitinya, Mia."


"Ini nih, sikapmu yang setengah-setengah justru akan semakin menyakitinya. Perlahan tapi pasti, luka yang torehkan saat ini lama-lama pasti akan membunuhnya!"


Melody berpikir keras. Tarik-ulur perasaannya pada Alvin itu memang tak termaafkan. Sudah tahu tidak memiliki rasa, tapi apa-apa lari mencari Alvin yang jelas-jelas memiliki perasaan dalam terhadapnya.


"Jika aku tegas, maka aku akan membunuhnya dalam sekali waktu." Simpul Melody.


"Itu jauh lebih baik daripada kau membunuhnya berkali-kali." Kata Mia.


"Kau benar. Aku bahkan sudah membunuhnya berkali-kali sebelum ini."


Melody sudah berhasil menulis kisah cinta yang manis dengan Yudha.


Namun, meski ia senang karena keberhasilan Melody saat ini, rupanya kisah cinta yang tertulis itu tidak semudah yang dibayangkan. Akan banyak kerikil yang menghadang. Akan banyak pula para karakter lain yang terlibat. Ujian dalam kisah cinta itu sangat beragam. Manis dan pahit. Asam dan hambar. Ataupun asin dan gurih. Semua melebur menjadi satu.


Jika karakter lain berkuasa dan memegang alur kendali kisah cinta yang tertulis, maka sudah dipastikan, kisah cinta yang tertulis rapi akan memiliki ending yang berbeda.


Akankah Alvin berkuasa dan memegang alur kendali suatu saat nanti?


Itu bisa saja terjadi jika Alvin tak bisa mengendalikan diri. Bisa terjadi jila Alvin ngotot egois. Bisa terjadi jika Alvin enggan move on. Bisa terjadi jika perasaan Alvin ke Melody itu semakin menggila. Bisa terjadi jika Yudha tak bisa mempertahankan Melody.


"Apa yang sedang kau khawatirkan, Mel? Bukankah kau bersedia tegas akan perasaanmu pada Alvin-senpai? Bukankah itu sama halnya dengan kau siap memutus hubungan karmikmu dengan dia?" Tanya Mia.


"Iya, aku sudah berencana berkata baik-baik pada Alvin tentang apa yang aku rasa. Aku sudah mendiskusikan ini dengan Yudha juga. Namun kau tahu Mel? Yudha dan Alvin sedang betengkar saat ini. Mereka saling diam." Jawab Melody.


"Hah? Kau tidak bercanda, kan? Bukankah hubungan mereka itu sangat dekat? Aku saja ngeship mereka."


Ngeship?


Apa itu artinya Mia sedang berusaha membias Yudha dan Alvin sebagai pasangan gay? Parah. Sangat parah cara berpikir Mia! Ah, Melody hanya harus mengerti, penyuka manga memang sukanya seperti ini. Berandai alay bak kaum fujoshi. Itu mengerikan!


________________________________________


Fujoshi (腐女子, lit. "wanita/gadis busuk")adalah istilah Jepang yang digunakan untuk menyebut penggemar wanita manga dan novel yang menampilkan hubungan romantis antara laki-laki (yaoi). Fujoshi menikmati membayangkan apa yang akan terjadi jika karakter laki-laki dari manga dan anime, dan pemain laki-laki kadang-kadang kehidupan nyata juga, saling mencintai. (wiki)


________________________________________


"Mereka normal, Mel! Tidak seperti yang kau bayangkan!" Kata Melody.


Mia tertawa. "Ya tahulah mereka normal, orang dua-duanya merebutkan dirimu. Yang satu mantan, yang satunya malah sudah sampai menghamili. Jelas banget mereka bukan gay. Aku hanya iseng saja."


"Jangan terlalu vulgar kenapa sih? Yudha kan laki-laki, saat dia menyentuhku, sudah pasti kemungkinan hamil itu akan terjadi, dan benar saja, aku sudah mengandung anak-anaknya."


"Haha, aku jadi penasaran, Yudha menyentuhmu berapa kali sih? Bukankah kalian sering bertengkar? Tidak mungkin kalian melakukan hubungan intim saat sedang bertengkar, kan?" Tanya Mia.

__ADS_1


Melody merah padam. Kenapa Mia malah bertanya seperti itu? Bukankah sedang membahas Yudha dan Alvin yang sedang bertengkar? Lalu lagi, melakukan hubungan intim saat bertengkar? Tidak mungkin? Mia tidak tahu saja siapa yang dibicarakan kali ini. Itu Yudha yang dibicarakan. Kazehaya Yudha!


Sosok yang katanya sangat sopan buronan mertua itu tak seperti mata biasa memandang. Nyatanya, Yudha bisa dengan santainya menyentuhnya meski sedang bertengkar. Dengan pemaksaan memang. Jadi ingat waktu itu. Sial, itu sangat sakit sekali.


"Mel, kenapa diam saja? Jangan bilang Yudha menyentuhmu saat kalian bertengkar? Kau menerimanya saja? Wah, tak aku sangka jika nafsu bisa mengalahkan semuanya." Kata Mia.


"Tidaklah, aku dipaksa olehnya!" Bantah Melody.


Mia mangap. "Ja-jadi kau pernah di-dianu... di-di.." Mia terbata.


"Diperkosa oleh Yudha." Kata Melody enteng.


Mia melebarkan kedua matanya. "Kapan itu terjadi? Kenapa aku tidak tahu ada kisah seperti ini?" Tanya Mia.


"Sebelum ulang tahun Amamiya-san. Aku dan dia kan marahan, bertengkar hebat begitu. Aku juga sering membantah dia, alhasil aku dilempar ke ranjang dan diperkosa olehnya." Cerita Melody. Masih sangat kesal jika teringat hal itu.


"Yudha ternyata bisa seperti itu ya?" Tanya Mia tak menyangka.


"Makanya jangan mudah percaya karena modal tampang. Lihat saja kelakuan mantan idolamu itu! Jika dia memperkosaku saat aku belum menikah dengannya, apa kau akan tetap mengidolakannya?" Tanya Melody.


"Tetaplah." Jawab Mia singkat.


"Hah?" Melody cengo.


Bagaimana bisa Mia yang sudah ia anggap sebagai sahabat sejatinya bisa memiliki pemikiran seperti itu? Lebih memilih Yudha meski Yudha sudah memperkosanya? Lebih memilih Yudha karena loyalitas sebagai seorang fans?


Mia kembali tertawa. Tampang cengo Melody itu sangat lucu dan menggemaskan. Kini ia tahu kenapa Yudha bisa begitu betah berlama-lama dengan Melody. Yudha pasti menyukai mimik wajah Melody yang suka berubah-ubah. Penuh warna dan tidak membosankan.


"Kenapa malah tertawa sih? Dasar bebek jones!" Kesal Melody.


"Aku tidak jones!" Mia ikutan kesal. Meski sebenarnya lama-lama kesepian juga karena sudah lama menyandang sebagai jomblo lapuk dan lumutan.


Terakhir pacaran bahkan sewaktu di SMP dulu. Siapa dulu mantannya? Ia bahkan sudah lupa. Yang ia ingat, dulu ia bertemu dengan cinta pertamanya saat sedang mengunjungi kebun binatang.


Jangan bilang tiba-tiba kisah masa lalu ini akan menjadi drama FTV dengan judul 'Cinta Monyet di Kandang Monyet'?


Tidak!


Sayang sekali waktu bertemunya bukan di kandang monyet, tapi di kandan buaya! Belum lama pacaran setelah itu, Mia mendapati mantannya selingkuh. Cih, benar-benar laki-laki buaya!


Karena peristiwa itupula, Mia memutuskan untuk berhati-hati dalam memilih cinta. Kisah cinta pertama tak menyenangkan mempengaruhi cara berpikirnya mengenai urusan cinta.


"Haha, tapi Mia, aku selalu berharap kau akan menemukan kisah cintamu dengan sosok pangeran yang sangat kau dambakan, dan tentunya juga membalas perasaanmu." Kata Melody.


Mia memeluk Melody. Meski banyak ngeselinnya, tapi Melody tahu cara membuat hangat hati dan perasaannya.


"Tapi kau tahu, Mel? Orang yang aku dambakan itu tidak membalas perasaanku. Jangankan itu, dia pasti juga tidak akan pernah menyadarinya. Aku memilih bungkam akan perasaanku dan dia, dia memiliki sosok yang sangat dicintainya. Sosok yang bahkan tak akan bisa aku gantikan meski aku mengerahkan segala kemampuanku untuk mendapatkan perhatiannya. Sosok yang begitu melekat dalam segala ingatan dan hatinya. Aku mencintainya sangat besar dan membuatku tak bisa apa-apa. Itu sungguh sangat menyakitkan. Maaf Mel, kau hamil malah kupeluk seerat ini." Batin Mia. Rasanya ia menjadi ingin menangis.


Melody menyadari ada perubahan yang pilu ketika Mia memeluknya dengan sangat erat. Semakin ert dan semakin erat. Iapun mengusap-usap punggung Mia.


"Aku merasa sudah menjadi orang paling dekat denganmu, tapi aku membuta akan dirimu. Nah Mia, karena aku tak mudah peka memaknai perasaan, maka, kuharap suatu saat nanti kau akan terbuka akan perasaanmu terhadapku. Bila waktu itu tiba, aku pasti tidak akan bosan mendengarkan ocehan keluh kesahmu." Batin Melody.


Rupanya, ia juga sudah sangat jahat pada Mia. Ia tak memikirkan perasaan Mia. Mia pasti sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Cukup lama berpelukkan, merekapun saling melepaskan.


"Meski mereka sedang bertengkar, kau tetaplah kuat pada pondasi awalmu. Kau menikah dengan Yudha, kau mengandung anaknya, lebih penting lagi, kalian sudah saling cinta. Fokuslah untuk tetap memutus hubungan karmik dengan Alvin! Kau tidak bisa memilih semua bahagia. Akan ada pihak yang terluka, termasuk Alvin." Kata Mia.


Melody paham apa maksud setiap perkataan yang keluar dari mulut cantik Mia.


"Iya kau benar, Mia. Aku memang tak bisa memilih kisah dimana semua orang bisa berakhir bahagia. Pada dasarnya cara bahagia setiap orang itu berbeda-beda. Aku tak bisa memaksakan standar bahagiaku pada mereka ataupun Alvin." Kata Melody.


"Kau sudah semakin dewasa, Mel. Aku jadi terharu."


"Cih, apaan sih?"


"Hehe.." 😁


"Tapi Mia.."


"Ya?"


"Terima kasih banyak." 😊

__ADS_1


Bukankah memiliki sahabat yang dapat dipercaya dan diandalkan itu sangat beruntung? Tidak semua sahabat atau teman yang bisa seperti Mia. Dari jaman sekolah, hanyalah Mia yang selalu ada di samping Melody. Mia selalu memahami apa yang Melody rasakan.


Jika ada kehidupan lain nanti, Melody memohon kepada Tuhan untuk menjadi saudara kandung Mia.


__ADS_2