
Mereka semua berjalan menuju ke hotel tempat mereka menginap.
"Lelahnya.." Teriak Mia. Melody dan Ayumi menyetujuinya.
Bermain di pantai memang sangat melelahkan. Untung saja pantainya indah, harga yang sepadang untuk bertukar dengan rasa lelah dan letihnya.
"Enaknya malam ini bakar-bakaran seafood! Aku ingin merasakan cumi-cumi bakar khas Okinawa!" Kata Ayumi senangat.
"Benar kata Ayumi, cumi-cumi laut Okinawa itu yang terbaik! Sangat enak dan memiliki rasa gurih alami dari alam Okinawa. Membayangkannya saja sudah membuatku menelan saliva!" Mia menyetujuinya. Orang bilang, makanan laut Okinawa memang sangat lezat, terutama cumi-cumi.
"Benarkah itu?" Tanya Melody, ia menjadi penasaran dibuatnya.
"Iya benar. Hei Mel, minta suamimu buat traktir seafood! Itung-itung pajak pengantin baru." Goda Ayumi.
"Ha-Hah? Kita sudah bukan pengantin baru lagi. Sudah hampir setengah tahun aku dan dia menikah!" Kata Melody. Apaan coba si Ayumi itu.
"Tapi kan kita belum mendapatkan pajak nikah dari kalian berdua! Lagian, suamimu itu kaya raya! Hanya untuk mentraktir seafood se-Okinawa tidak akan membuatnya bangkrut!" Kata Mia.
"NE YUDHA, KAU DENGAR PEMBICARAAN KITA, KAN?" Teriak Ayumi sambil menoleh ke arah belakang.
Rupanya, tak jauh dari mereka bertiga, Yudha berjalan bersama dengan Alvin dan Shuhei. Mereka mengekor di belakang Melody dkk.
"Terserah kalian saja." Kata Yudha.
Mia dan Ayumi bersorak kegirangan karena Yudha menyetujui permintaan mereka. Sementara Melody hanya meringis ria karena kikuk sendiri. Tentu saja ia merasa tidak enak pada Yudha. Meski Yudha adalah suaminya, tapi ia dan Yudha masih banyak kecanggungan.
"Tunggu senbentar!" Kata Mia.
"Ada apa?" Tanya Melody.
"Kaca mataku sepertinya tertinggal di bangku pantai deh." Jawab Mia.
"Mau kutemani untuk mengambilnya?" Tawar Ayumi.
"Boleh, thanks Ayumi."
__ADS_1
"Aku ikut." Kata Melody.
"Baiklah, ayo!" Ajak Mia.
Mereka bertiga beranjak pergi kembali ke pantai dimana mereka bermain tadi. Namun Yudha tiba-tiba menghentikan langkah mereka.
"Mau kemana kau?" Tanya Yudha, suaranya terdengar sedikit kasar.
"Kembali ke tempat tadi, kaca mata Mia tertinggal di sana." Jawab Melody. Melody tahu pertanyaan itu ditujukan kepada dirinya. Itu tidak mungkin Yudha tujukan pada Mia maupun Ayumi.
Yudha memincingkan matanya mencari kejujuran. Ia mengamati Melody sekilas, lalu ia membenarkan letak resletting jaket miliknya yang dipakai Melody. Ia menarik ke atas resletting itu. Membuat Melody serasa tercekik lehernya.
"Kau mau membunuhku ya?" Tanya Melody. Ia berusaha menurunkan sedikit resletting jaketnya, tapi Yudha menahannya.
Melody menyerah, mata Yudha menatapnya sangat tajam.
"Setelah ketemu, langsung kembali ke hotel! Tidak pakai acara menikmati sunset segala!" Kata Yudha. Tegas. Seperti perintah atasan pada bawahannya.
"I-iya aku tahu, berisik deh!"
"Kau membantah?"
"Ti-tidak! Aku mengerti dan akan segera kembali ke hotel setelah kaca mata milik Mia ketemu!" Melody jadi kesal sendiri. Kenapa Yudha moodnya berubah-ubah hari ini?
Menyebalkan.
Sementara yang lain hanya terdiam menanggapi pasangan suami-istri muda itu. Tidak bisa menyela sedikitpun.
"Suamimu sepertinya kesal karena kau pergi-pergi terus. Jadi ingat, di pantai seharian kau bersama kami! Harusnya kau menghabiskan harimu berdua dengan Yudha." Kata Mia.
"Apaan sih? Dia juga sibuk sama Nao-kun dan Shuhei-san. Bahkan juga dengan Alvin-senpai dan Miura-san. Akan lebih menyenangkan bermain dengan kalian berdua. Lebih ramai!" Kata Melody.
"Tapi lihat kan tadi bagaimana expresinya? Seperti siap memangsa apapun yang ada di depannya!" Ayumi sampai bergidik ngeri. Tak menyangka jika Yudha bisa seperti ini juga. Kenapa ia yang sudah lama kenal, tapi baru mengetahuinya?
"Bodo amatlah.. Ayo segera cari itu kaca mata dan kembali ke hotel!" Melody tak ingin ambil pusing akan sikap Yudha hari ini.
__ADS_1
Yudha moodnya sering berubah-ubah, Melody terlalu lelah untuk menanggapinya. Sebenarnya tidak juga begitu, hanya saja, lagi, ia kesal sendiri karena tidak bisa memahami arah pikiran Yudha.
Lobi Hotel...
Sembari menunggu Melody dan Mia serta Ayumi yang sedang mengambil kaca mata milik Mia yang tertinggal di pantai, terlihat Alvin, Shuhei, dan Yudha sedang asyik berbincang. Asyiknya gaya orang jenius mereka memang berbeda. Lebih santai dan terkesan elegan. Yaelah, gaya bicaranyapun sesuatu.
Mereka membicarakan hal yang sangat penting rupanya. Sangat penting dan begitu berarti untuk Yudha dan Alvin khususnya.
"Yudha, diakui sebagai Kazehaya saja aku sudah bahagia. Itu lebih dari cukup." Kata Alvin. Ini yang ia rasakan.
Diakui, dianggap, dua kata yang memiliki arti sama itu luar biasa di telinganya.
"Tidak, aku menginginkanmu menjadi pemilik rumah sakit rancanganku itu. Aku juga berharap kau membantuku dan kakek di perusahaan sebelum kau resmi menjadi dokter nanti." Kata Yudha.
Alvin menghela nafas. Ini sudah terlalu lama hanya sekedar membahas hal yang sama. "Aku lelah." Kata Alvin.
"Jika kau lelah, maka terimalah! Kakek sendiri yang memutuskannya. Aku rasa, ini awal yang bagus untuk memperbaiki hubunganmu dengan kakek." Kata Yudha.
"Tapi Yudh.." Alvin terlihat kesulitan. Keputusan Yudha itu membuatnya berada di posisi yang sulit ia jelaskan bagaimana rasanya, dan bagaimana pula ia harus mengambil sikap.
"Saya akan mendukung Anda berdua, Yudha-sama, Alvin-sama juga. Anda berdua bisa saling bekerja sama untuk semakin memajukan perusahaan Emperor Group." Timpal Shuhei.
"Berhentilah berbicara sopan! Kita ini teman!" Kata Yudha dan Alvin bersamaan.
Dan mereka tertawa bersama. Sepertinya Alvin tak lama lagi akan masuk dalam bisnis keluarga Kazehaya. Jika sudah seperti itu, rasanya game akan semakin menarik dan level kesulitan akan semakin bertambah.
Alvin. Kira-kira dia pion yang akan dikorbankn oleh siapa? Kakek Wijaya, Yudha, atau Kurenai?
Ataukah...
Mungkin saja malah Alvin akan membuat permainan sendiri dengan dirinya sendiri yang menjadi pemain utamanya nanti?
Hm.. siapa yang tahu?
Jauh di ujung sana, kakek Wijaya sedang tersenyum penuh arti mengamati papan catur yang ada di depannya. Di sana ia sedang memperhatikan kuda berwarna putih.
__ADS_1
"Kakek akan mengikuti alur kalian. Sebaiknya persiapkan strategi mumpunimu, bocah."