
Setelah membuat Yura terdiam membatu, Melody lantas berjalan meninggalkan Yura. Ia menuju toilet. Mencoba menenangkan jantungnya yang hampir copot. Ia tak menyangka jika ia bisa berucap seperti itu dan menang melawan debat Yura.
Jujur, itu bukan darinya, tapi ajaran Ayane yang memprediksi garis besar pembicaraannya dengan Yura. Dan beruntungnya, prediksi Ayane benar adanya. Untung ia blajar ekspresi juga tadi, walau hanya sebentar, tapi lumayan ampuh.
Ayane adalah penjaga, pelayan, dan sekaligus guru privatenya. Saiko!
Saiko: Keren.
Selain itu, ia juga harus berterima kasih pada kakek Wijaya yang sudah membuka gerbang keberaniannya. Sepulang dari Korea nanti, ia akan membuat kare untuk sang kakek.
“Huwaa, aku hampir mati tadi. Gila, gila, aku tak menyangka bisa mengimbangi cara bicaranya, bahkan.. aku menang, kan? Ayane-nee honto ni arigato...” Gumam Melody.
Honto ni arigato: Benar-benar berterima kasih.
Melody lalu membuka scraff yang menutupi bahu dan lehernya. Setelah itu, ia menatap dirinya di cermin toilet. Ia melihat ada bekas kiss mark Yudha yang cukup banyak. Leher putihnya penuh dengan warna merah, ungu abu-abu dengan bentuk yang abstarct.
“Ayane-nee mengetahui bekas kissmark ini berarti dia tahu dong jika semalam aku dan Yudha... iya yayyaya... memalukan.. haissshhh.”
Dengan sangat cepat, Melody membenarkan kembali scraffnya.
"Hah, sudah berapa kali aku menghela nafas? Helaan lega, helaan malas melakukan sesuatu. Ada juga helaan memahami beberapa hal. Lalu helaan apa kali ini? Aku harap ini suatu kelegaan, tapi sayang, ini bukan helaan lega. Ini adalah helaan malas melakukan sesuatu. Ya, habis ini masih ada pesta yang belum dimulai acara intinya. Aku harus berbaur dengan orang-orang asing. Aku tak mengenal siapa-siapa di sini. Sial, andai Yudha bersamaku.. Cih, mati saja sana! Ogah amat aku sama orang gila itu."
Usai menenangkan diri di toilet, Melodypun keluar dari toilet dan melangkah menuju tempat pesta.
Baru beberapa langkah, ia berhenti sejenak. Ia memegangi keningnya. Panas. Sangat panas. Suhu badannya meninggi. Kepalanyapun juga terasa sangat sakit.
"Diriku, bertahanlah! Tinggal sedikit lagi. Aku ingin menyelesaikannya malam ini juga. Ada hal yang harus aku lakukan. Ganbatte Kazehaya Melody! Ganbatte!"
.
.
.
Pesta sudah mulai banyak pengunjung. Terlihat banyak yang seumuran dan tak beda jauh usianya. Jika menilik, mungkin saat ini Melody sendiri yang paling muda.
Ada rasa sedikit minder karena tamu undangan Yura terlihat sangat elegan dan berkelas. Jauh berbeda dengannya. Ia mersa tidak cocok menghadiri acara seperti ini. Ia lebih suka merayakan ulang tahun dengan menjaili temannya, menipuk pakai telur, dan menceburkannya ke kolam ikan di kampusnya.
Itu jauh lebih seru, habis itu langsung palak ke restoran lesehan. Lebih berkesan dan lebih menjalin keakraban karena kenangan yang unik dan konyol.
“Hanya di toilet saja lama sekali, sedang apa saja sih kau ini?”
Kata Yudha.
__ADS_1
Yudha sedang menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia bersandar di tembok untuk menopang tubuhnya. Kemeja putih dan celana bahan hitam itu terlihat sangat pas di tubuh Yudha.
Ketampanan Yudha yang hanya muncul setiap 100 tahun sekali itu benar adanya.
Melody tak ingin membantah fakta itu. Nyatanya, suaminya itu memang sangat tampan. Apapun yang Yudha kenakan pasti terlihat sanga cocok.
“Yu-Yudha?” Kaget Melody karena tiba-tiba suara baritone khas suaminya menyapanya.
“Jangan bilang kakimu bengkak lagi?”
Tanya Yudha.
Yudha khawatir atau apa sih? Melody tak mengerti dengan nada ketus Yudha. Jika bertanya dengan nada suara yang lebih baik, mungkin akan lain cerita.
Kenapa Yudha tak bisa berinisiatif untuk menyenangkan hatinya sih?
“Mau bengkak, mau memar, kaki-kakiku sendiri. Sakitpun aku yang merasakan, bukan urusanmu!” Jawab ketus Melody. Melebihi nada ketus Yudha.
Yang bisa Melody lakukan kali ini, Yudha ketus, ia akan lebih ketus. Yudha kesal, ia akan lebih kesal. Yudha marah, ia akan seratus kali lebih marah dibandingkan dengan Yudha.
“Sebaiknya kau perbaiki tutur bahasamu saat berbicara dengan suamimu! Kau akhir-akhir ini sering membantahku dan memilih kata buruk saat berbicara denganku.”
Selalu itu. Yudha selalu menuntut kesopanan dan penghormatan darinya. Kenapa Yudha selalu protes dengan pemilihan kata yang ia ambil?
Itu mengesalkan. Yudha bisa berbicara kasar, kenapa ia tidak bisa?
Melody melangkah meninggalkan Yudha.
Sahutan tangan Yudha menghentikan langkahnya. “Belajar darimana kosa katamu itu? Aku tak melarangmu marah padaku, tapi bukan seperti ini!”
Melody berusaha menghempaskan tangan Yudha dengan kasar. “Aku lelah berdebat denganmu, Yudha...-san!”
“-san?” Yudha mencengkram lengan Melody dengan sangat kencang.
Melody menatap tajam Yudha. "Ya, Yudha-san. Ada masalah? Yudha-san?"
“Ku kira kita sudah semakin dekat, tapi kini kau berniat menjauh dengan menambah sufix –san seperti saat pertama kali kita bertemu? Apa-apaan kau ini, hah? Aku suamimu!”
Yudha meninggikan suaranya. Raut muka kesal dan kecewa tak dapat ia tutupi.
“Aku berusaha menghomatimu, apa itu salah? Kau adalah suamiku, maka aku menghormatimu, suamiku!"
"Bicaramu enteng seperti kapas!"
__ADS_1
"Kapas kalau sekarung juga berat!"
"Melody!"
"Aku lelah, aku lelah berdebat denganmu!"
"Kalau kau lelah, maka berhentilah berbicara seperti itu padaku! Jadilah istri yang penurut!"
Istri penurut? Yudha meminta dirinya menjadi istri penurut? Penurut yang bagaimana? Bukankah selama ini ia sudah melakukan yang terbaik?
"Aku punya hati untuk merasa dan otak untuk berpikir. Aku tak mau menjadi anjin9 penurut bodoh yang hanya patuh pada majikan yang seenaknya saja!"
"Aku tidak seenaknya saja! Penurut di sini bukan seperti yang kau maksud, Mel."
"Penurut yang seperti apa, hah? Aku tak mengerti takaran penurut dalam kamus hidupmu, Yudha!"
"Kau hanya perlu sedikit memahamiku."
Memahami Yudha? Sebagai istri yang baik, ia sudah melakukannya, kan? Ia mengizinkan Yudha menghabiskan waktu lebih banyak dengan Yura daripada dengannya yang sudah jelas istrinya Yudha. Kurang apa lagi?
"Aku ini bodoh, aku tidak bisa memahamimu dan jangan pernah coba-coba memintaku memahamimu! Kepalaku sakit. Kumohon, aku ingin sendiri!”
Melody memegangi kepalanya. Sungguh, ia tidak berbohong jika kepalanya saat ini terasa sangat nyeri.
Yudha meraih tangan Melody.
"Jangan pegang-pegang!" Bentak Melody.
“Aku akan mengantarkanmu pulang.” Suara Yudha melembut.
“Tidak perlu!”
Dingin.
Sangat dingin.
Suara dingin Melody melemahkan otot Yudha. Ia terpaku di pijakkannya ketika tangan Melody melepaskan diri darinya.
Yudha hanya bisa melihat Melody yang berjalan menjauhinya. Ia melihat Melody yang berjalan sempoyongan dan tertatih seperti menahan sakit. Ia tahu sakit itu darinya, tapi ia tidak bisa memperbaiki keadaan. Melody terus melakukan penolakan akan dirinya.
________________________________________
Yudha kesal karena dipanggil dengan sufix-san di belakang namanya. Artinya, Melody menghormatinya di tingkatan yang berbeda. Manggil dengan nama kecil/bukan marga itu sudah termasuk dekat, harusnya berubah ke -kun/ Yudha-kun, tapi malah -san/ Yudha-san, makanya Yudha marah, ia merasa menjadi orang asing di mata Melody.
__ADS_1
________________________________________
"Tangannya sangat panas. Kesehatannya memburuk... Kenapa dia yang awalnya begitu penurut menjadi suka berontak seperti ini? Cih, sial, ada rasa berkecamuk di dalam dadaku."